Di Hari Pernikahanku, Tunanganku Justru Menikahi Kakakku. Namun, Permintaan

“Arga, jawab satu pertanyaanku. Tiga tahun lalu, ketika kamu pertama kali mengajakku berkenalan, apakah kamu sudah tahu siapa pemilik sebenarnya Prameswara Capital?”

Arga berdiri kaku di hadapanku. Jas pengantin hitamnya masih rapi, tetapi wajahnya sudah kehilangan warna.

Di belakangnya, Nadia menggenggam ujung kebayanya. Ayah memandangi surat peninggalan Ibu di tanganku, sementara Bu Ratih berdiri di sampingku tanpa mengatakan apa-apa.

Akhirnya Arga menjawab.

“Iya, Mira. Aku sudah tahu.”

Aku merasa sesuatu di dadaku runtuh.

Tiga tahun lalu, kami berkenalan di sebuah pameran arsitektur di Jakarta. Arga membantuku ketika tali tas tanganku putus dan seluruh dokumen pekerjaanku berserakan di lantai. Dia mengantarku membeli tas baru, lalu mengajakku minum kopi.

Aku mengira pertemuan itu kebetulan yang menyenangkan.

Ternyata tidak.

“Jadi kamu sengaja mendekatiku?”

Arga menunduk.

“Awalnya iya.”

Aku tertawa pendek, meskipun air mataku mulai mengalir.

“Awalnya?”

“Aku bekerja untuk sebuah perusahaan konsultan yang sedang mencari peluang investasi. Mereka memberiku informasi tentang keluargamu.”

“Perusahaan yang namanya ada di dokumen Ibu?”

Dia mengangguk.

Aku menatapnya seperti sedang melihat orang asing.

“Lalu kenapa kamu bertahan selama tiga tahun?”

Arga tidak langsung menjawab.

“Karena aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Aku menggeleng.

“Kalau kamu mencintaiku, kamu nggak akan menikahi kakakku pagi ini.”

Nadia tiba-tiba menangis.

“Mira, jangan salahkan Arga sepenuhnya.”

Aku menoleh.

“Kak, kamu tahu semuanya?”

Dia menggigit bibir.

Aku mendekatinya.

“Kamu tahu dia mendekatiku karena perusahaan Ibu?”

Nadia menunduk.

“Baru enam bulan lalu.”

Dadaku semakin sesak.

“Dan kamu tetap menjalani hubungan dengannya?”

Nadia tidak menjawab.

Ayah akhirnya membentak.

“Cukup! Masalah ini sudah terlalu jauh!”

Bu Ratih langsung berdiri di depanku.

“Pak Surya, justru sekarang waktunya menjelaskan semuanya.”

Ayah menatapnya tajam.

“Kamu hanya mantan sekretaris istriku!”

“Tapi saya menyimpan dokumen yang selama sebelas tahun Bapak harapkan tidak pernah dibuka.”

Ruangan menjadi sunyi.

Bu Ratih mengeluarkan satu berkas tambahan dari tasnya.

“Perusahaan yang disebut dalam surat almarhumah bernama Sentra Kencana Advisory. Dahulu perusahaan itu menjadi perantara dalam beberapa transaksi investasi Prameswara Capital.”

Aku mengingat nama tersebut. Arga pernah mengatakan sedang merancang gedung kantor untuk salah satu anak perusahaannya.

“Kenapa Ibu mencurigainya?” tanyaku.

“Karena ada transaksi bernilai besar yang tidak sesuai dengan persetujuan direksi. Ibumu meminta pemeriksaan independen dan menemukan indikasi bahwa sejumlah pembayaran dialihkan melalui perusahaan lain.”

Bu Ratih membuka halaman berikutnya.

“Di antara pihak yang tercatat dalam korespondensi lama adalah ayahmu dan seorang konsultan bernama Bastian Mahendra.”

Aku memandang Arga.

“Mahendra?”

Arga memejamkan mata.

“Bastian itu ayahku.”

Aku mundur satu langkah.

Tiga tahun kami bersama. Aku pernah bertemu ibunya, tetapi Arga selalu mengatakan ayahnya meninggal ketika dia masih kecil.

“Kamu bilang ayahmu sudah meninggal.”

“Dia memang meninggal lima tahun lalu. Tapi sebelum meninggal, dia meninggalkan banyak dokumen dan utang.”

Arga mengusap wajah.

“Ayahku pernah bekerja sama dengan ayahmu. Setelah transaksi lama itu diperiksa, perusahaan Ayah runtuh. Dia kehilangan hampir seluruh asetnya.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu menyalahkan ibuku?”

“Dulu aku percaya ibumu sengaja menghancurkan keluarga kami.”

“Siapa yang memberitahumu?”

Arga perlahan menoleh kepada Ayah.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Ayah langsung mengalihkan wajah.

“Pak Surya yang menghubungiku tiga tahun lalu,” lanjut Arga. “Dia mengatakan kalau aku membantu mendapatkan persetujuanmu atas perubahan pengendalian perusahaan, dia akan membantu menyelesaikan kewajiban keluarga ayahku.”

Aku menahan napas.

“Berapa?”

Arga terdiam.

“Berapa harga yang dijanjikan untuk mengkhianatiku?”

“Lima puluh miliar rupiah.”

Nadia menutup mulut.

Aku memandang lelaki yang pernah membicarakan nama anak bersamaku. Lelaki yang kupikir akan menjadi tempatku pulang.

Ternyata pada awal hubungan kami, seseorang telah menjanjikannya uang untuk mendapatkan kepercayaanku.

“Kenapa akhirnya kamu menikahi Nadia?”

Arga menatap kakakku.

“Karena enam bulan lalu Mira mulai membicarakan perjanjian pranikah dan pemisahan aset. Aku tahu perubahan pengendalian melalui pernikahan nggak akan berhasil.”

Aku merasa mual.

“Jadi kamu mencari jalan lain.”

Dia menunduk.

“Nadia punya hubungan dekat dengan Pak Surya. Kami pikir dia bisa membantu membujukmu.”

Nadia langsung menggeleng.

“Arga, kamu bilang setelah menikah kita bisa membantu Ayah menyelamatkan perusahaan!”

Aku menatapnya.

“Perusahaan siapa, Kak?”

Nadia menangis.

“Ayah bilang beberapa pinjaman pribadinya akan jatuh tempo. Kalau nggak diselesaikan, rumah dan usaha keluarga bisa disita.”

Aku menoleh kepada Ayah.

“Jadi semua ini untuk membayar utang Ayah?”

Ayah akhirnya terduduk.

“Ayah cuma berusaha menyelamatkan apa yang tersisa.”

Aku menggeleng.

“Dengan menggunakan perusahaan peninggalan Ibu?”

“Mira, kamu nggak memahami tekanan yang Ayah hadapi.”

“Ayah punya sebelas tahun untuk menjelaskan semuanya kepadaku.”

Tidak ada jawaban.

Bu Ratih kemudian memperlihatkan laporan lama yang disimpannya.

Dari sana, aku memahami bahwa Ibu telah membatasi akses Ayah terhadap perusahaan setelah menemukan transaksi mencurigakan. Setelah Ibu meninggal, Ayah tetap memiliki kepentingan bisnis pribadi, tetapi tidak memperoleh hak otomatis untuk mengendalikan saham milikku.

Aku menjadi pemilik saham pengendali melalui pengaturan warisan dan dokumen perusahaan yang kemudian diselesaikan sesuai hukum. Pengelolaan investasi dijalankan direksi profesional.

Nilai Rp38 triliun yang sering disebut keluarga merupakan estimasi aset konsolidasi perusahaan, bukan uang tunai yang bisa kutarik sesuka hati.

Namun, hak suara yang kumiliki tetap membuatku menjadi pengambil keputusan penting dalam struktur kepemilikan.

Itulah yang diinginkan Ayah.

Bukan sekadar uang.

Melainkan kewenangan untuk mengarahkan perusahaan agar menjamin dan mendanai kewajiban bisnis pribadinya.

Aku menatap dokumen pengalihan yang tadi dimintanya kutandatangani.

“Kalau aku menandatangani ini, siapa yang akan mengendalikan hak suaraku?”

Bu Ratih menjawab, “Perusahaan keluarga yang akan dipimpin ayahmu, dengan Arga sebagai salah satu pengelolanya.”

Aku terdiam.

Sekarang semuanya jelas.

Pernikahan Arga dengan Nadia bukan tindakan mendadak akibat kehamilan.

Itu menjadi cara untuk mempertahankan Arga di dalam keluarga setelah hubungan denganku tidak lagi bisa digunakan untuk memperoleh kendali.

Aku menarik napas panjang.

“Aku nggak akan menandatangani apa pun.”

Ayah mendadak berdiri.

“Kalau kamu menolak, utang keluarga bisa membuat kita kehilangan segalanya!”

Aku menatapnya.

“Kalau memang ada kewajiban sah, kita bisa memeriksanya dan menyelesaikannya sesuai kemampuan. Tapi aku tidak akan menyerahkan hak perusahaan untuk menutup keputusan bisnis yang disembunyikan dariku.”

Ayah terdiam.

Aku memasukkan surat Ibu ke tas.

Kemudian menatap Arga dan Nadia.

“Kalian sudah menikah. Itu keputusan kalian. Tapi jangan gunakan pernikahan itu untuk meminta aku menyerahkan perusahaan.”

Aku melangkah menuju pintu.

Nadia tiba-tiba memanggil.

“Mira, tunggu.”

Aku berhenti.

Dia menghampiriku dengan wajah basah oleh air mata.

“Aku memang salah karena menjalin hubungan dengan Arga. Aku tahu nggak ada alasan yang bisa membenarkannya.”

Aku diam.

“Tapi ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

Dia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah amplop medis.

“Aku nggak hamil.”

Aku membeku.

“Apa?”

Nadia mulai menangis keras.

“Aku berbohong.”

Arga langsung menoleh.

“Nadia!”

Dia menggeleng.

“Aku nggak sanggup lagi.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Ayah bilang kalau kamu tahu aku hamil, kamu akan mengalah. Dia menyuruhku menggunakan alasan itu supaya kamu nggak memperpanjang masalah pernikahan.”

Dadaku mendadak terasa kosong.

“Kamu rela berbohong tentang anak yang bahkan nggak ada?”

Nadia menutup wajah.

“Aku takut Arga meninggalkanku kalau rencana ini gagal.”

Aku menggeleng perlahan.

Selama ini aku mengira pengkhianatan terbesarnya adalah merebut tunanganku.

Ternyata dia juga bersedia menjadikan kebohongan tentang kehamilan sebagai alat untuk menekan adiknya sendiri.

Aku tidak lagi mengatakan apa pun.

Aku keluar dari gedung pernikahan dengan gaun putih yang terasa semakin berat.

Namun, kali ini aku tidak menangis.

Keesokan paginya, aku mengadakan rapat darurat bersama penasihat hukum independen, tim kepatuhan, dan perwakilan direksi Prameswara Capital.

Aku menyerahkan seluruh dokumen yang diberikan Bu Ratih.

Kami meminta pemeriksaan keaslian dokumen tambahan yang dibawa Ayah, meninjau transaksi terkait Sentra Kencana Advisory, serta mengamankan catatan perusahaan yang relevan.

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan menemukan bahwa tanda tangan Ibu pada dokumen pengalihan tambahan tidak sesuai dengan pembanding dan tidak memiliki catatan pengesahan yang memadai.

Dokumen tersebut tidak dapat digunakan untuk mengalihkan hak pengendalian perusahaan.

Sementara itu, transaksi lama yang melibatkan jaringan bisnis Ayah memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Aku menyerahkan temuan yang relevan kepada penasihat hukum untuk menentukan langkah sesuai ketentuan.

Ayah tidak lagi diperkenankan mewakili kepentinganku dalam urusan perusahaan.

Arga juga kehilangan kesempatan menjadi penasihat dalam rencana restrukturisasi yang selama ini disiapkannya.

Namun, aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa sangat lelah.

Sebulan setelah pernikahan itu, Nadia datang ke apartemenku.

Dia tidak membawa hadiah.

Tidak membawa bunga.

Hanya sebuah amplop putih.

“Aku datang bukan untuk meminta kamu memaafkanku,” katanya.

Aku mempersilakannya duduk.

“Aku ingin mengatakan bahwa aku sudah berpisah tempat tinggal dengan Arga.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Karena setelah semua ini terbongkar, aku baru sadar hubungan kami dibangun di atas kebohongan.”

Aku menatapnya.

“Bukankah kamu sudah tahu sejak awal?”

Nadia mengangguk sambil menangis.

“Aku tahu kami menyakitimu. Tapi aku terus membenarkan perbuatanku karena mengira Arga benar-benar mencintaiku.”

Aku menghela napas.

“Kak, orang bisa mencintai seseorang dan tetap melakukan hal yang salah. Perasaan itu nggak menghapus tanggung jawab.”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

Nadia meletakkan amplop di meja.

“Ini salinan percakapan Ayah dan Arga yang masih kusimpan. Aku sudah memberikannya juga kepada pengacaraku.”

Aku tidak langsung menyentuhnya.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena dulu aku terlalu takut kehilangan mereka. Sekarang aku lebih takut terus menjadi orang yang sama.”

Aku menatap kakakku cukup lama.

“Aku belum bisa memaafkanmu.”

Dia mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Tapi terima kasih karena akhirnya mengatakan yang sebenarnya.”

Nadia menangis pelan.

Kemudian pergi tanpa meminta apa pun.

Enam bulan berlalu.

Aku mulai kembali menjalani kehidupan yang selama ini kutinggalkan karena sibuk menghadapi persoalan keluarga.

Aku bekerja bersama direksi untuk memperbaiki tata kelola perusahaan, memperkuat pengawasan transaksi, dan memastikan keputusan investasi tidak dipengaruhi kepentingan pribadi anggota keluarga.

Namun, ada satu hal yang belum pernah kulakukan.

Mengunjungi rumah lama Ibu.

Suatu akhir pekan, aku akhirnya pergi ke sana bersama Bu Ratih.

Rumah itu berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sudah bertahun-tahun tidak kutempati, tetapi beberapa bagian masih dipertahankan seperti ketika Ibu hidup.

Di ruang kerja, aku menemukan meja kayu tempat beliau dahulu menyelesaikan laporan keuangan sambil menemaniku belajar.

Bu Ratih membuka sebuah laci.

“Ada satu benda yang almarhumah minta saya simpan di sini.”

Dia menyerahkan kotak kecil berwarna biru.

Di dalamnya terdapat foto kami berdua ketika aku masih kecil.

Di balik foto itu, Ibu menulis sebuah pesan.

Mira, Ibu membangun perusahaan ini bukan supaya kamu menjadi orang terkaya. Ibu ingin kamu memiliki kebebasan untuk menentukan hidupmu tanpa harus bergantung pada keputusan siapa pun.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Air mataku akhirnya jatuh.

Selama berbulan-bulan, aku merasa seperti sedang berperang mempertahankan harta peninggalan Ibu.

Namun, sekarang aku memahami bahwa yang sebenarnya sedang kupertahankan bukan angka Rp38 triliun.

Melainkan hak untuk memilih hidupku sendiri.

Setahun setelah pernikahan yang gagal itu, Prameswara Capital mengumumkan program investasi bagi usaha kecil yang dipimpin perempuan.

Aku menghadiri peluncurannya bukan sebagai pewaris yang ingin dipuji, melainkan sebagai pemegang saham yang ingin memastikan perusahaan memiliki manfaat nyata.

Setelah acara, seorang wartawan bertanya kepadaku.

“Bu Mira, apakah pengalaman pribadi setahun terakhir memengaruhi keputusan Ibu untuk lebih aktif dalam perusahaan?”

Aku tersenyum.

“Sangat memengaruhi.”

“Dalam hal apa?”

“Aku belajar bahwa kepercayaan harus dibangun melalui tindakan dan tanggung jawab, bukan semata-mata hubungan keluarga atau janji seseorang.”

Wartawan itu mengangguk.

“Dan bagaimana dengan rencana pernikahan Ibu?”

Aku tertawa kecil.

“Untuk sekarang, aku menikmati hidupku.”

Sore itu, ketika kembali ke rumah, aku menemukan sebuah pesan lama dari Arga yang belum pernah kuhapus.

Sampai ketemu di pelaminan, calon istriku.

Aku memandangnya beberapa detik.

Kemudian menghapus percakapan tersebut.

Bukan karena ingin menghapus seluruh masa lalu.

Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan janji itu untuk menentukan masa depanku.

Malam ketika Arga menikahi kakakku, aku mengira hidupku telah hancur.

Aku datang mengenakan gaun pengantin, membawa harapan untuk membangun keluarga, tetapi pulang dengan kenyataan bahwa orang-orang terdekatku telah bersekongkol memanfaatkanku.

Namun, justru pada hari itulah aku akhirnya memahami peringatan Ibu.

Jangan menyerahkan keputusan hidupmu kepada seseorang hanya karena dia mengatakan mencintaimu.

Karena cinta tanpa kejujuran bisa berubah menjadi alat untuk mengendalikan.

Dan kekayaan sebesar apa pun tidak akan melindungi seseorang yang tidak berani mempertahankan haknya sendiri.

Aku menatap foto Ibu yang kini berdiri di meja ruang kerjaku.

“Bu, Mira sudah mengerti.”

Di luar jendela, lampu Jakarta mulai menyala.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tenang.

Aku tidak mendapatkan pernikahan yang kuimpikan.

Namun, aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.

Kebebasan untuk menentukan siapa yang boleh berada dalam hidupku.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya hanya dengan sebuah janji manis.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang