SUAMIKU MENGALAMI KECELAKAAN SAAT HENDAK MENEMUiku UNTUK

“Orang yang meminta kami merahasiakan semuanya adalah ibumu sendiri, Rani.”

Suara Nadira terdengar begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Ibuku?”

Nadira mengangguk.

“Beliau bilang kalau kamu sampai tahu, ada seseorang yang akan kehilangan segalanya.”

Aku tertawa hambar.

“Jadi sekarang kalian mau menyalahkan ibuku?”

Arga mencoba bangkit dari ranjang, tetapi langsung meringis karena nyeri pada bahunya.

“Rani, duduk dulu. Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Nggak perlu menyuruhku duduk, Mas. Lima tahun aku menjadi istrimu. Kalau memang ada sesuatu yang harus kuketahui, katakan sekarang.”

Arga memandang Nadira.

Perempuan itu menghela napas panjang, lalu meminta rekan-rekan kerja yang berada di ruangan untuk keluar.

Setelah pintu tertutup, Nadira mengambil ponselnya.

“Tiga bulan lalu, ibumu datang ke kantor kami. Beliau mencari bagian pengaduan karena menemukan sejumlah dokumen atas namamu.”

Aku mengerutkan kening.

“Dokumen apa?”

“Pengajuan pinjaman.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku bekerja sebagai guru sekolah dasar. Selama lima tahun menikah, aku tidak pernah mengajukan pinjaman besar.

“Berapa jumlahnya?”

Arga menjawab dengan suara serak.

“Delapan ratus lima puluh juta rupiah.”

Aku membeku.

“Mas bercanda?”

Arga menggeleng.

“Pinjaman itu diajukan dengan menggunakan identitasmu dan jaminan rumah peninggalan ayahmu.”

Aku merasa seluruh tubuhku melemas.

Rumah itu merupakan satu-satunya peninggalan almarhum Ayah. Sertifikatnya sudah atas namaku sejak dua tahun lalu.

“Siapa yang melakukannya?”

Arga menunduk.

“Kakakmu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Mas Bagas?”

Nadira mengangguk.

Menurutnya, Bagas menggunakan salinan KTP, dokumen rumah, dan tanda tanganku untuk mengajukan pembiayaan melalui sebuah perusahaan miliknya.

Dia mengaku telah mendapat persetujuan keluarga.

Namun, ketika pihak pembiayaan mencoba melakukan verifikasi, beberapa informasi tidak sesuai.

“Ibumu menemukan berkas itu di rumah Bagas,” kata Nadira. “Beliau datang meminta bantuan karena takut rumahmu bermasalah.”

Aku menatap foto di tanganku.

“Terus kenapa harus diam-diam bertemu kalian?”

Arga mengusap wajahnya.

“Karena ibumu meminta waktu untuk membujuk Bagas mengakui semuanya.”

Aku menggeleng.

“Dan kamu menurut?”

“Aku pikir kalau masalah itu bisa diselesaikan sebelum kamu tahu, kamu nggak perlu terluka.”

Air mataku langsung jatuh.

“Mas, siapa yang memberimu hak menentukan kebenaran mana yang boleh kuketahui?”

Arga terdiam.

Aku menatap Nadira.

“Lalu kenapa kamu ikut terlibat?”

“Perusahaan tempat kami bekerja memiliki unit penanganan krisis dan pendampingan dokumen untuk klien. Ibumu pernah menggunakan layanan itu. Arga mengetahui persoalannya ketika namamu muncul dalam berkas pengaduan.”

Aku mencoba memahami semuanya.

Namun, masih ada satu hal yang tidak masuk akal.

“Kalau kalian benar-benar sedang membantuku, kenapa setiap kali Arga pergi menemui ibuku, alasannya selalu kamu?”

Nadira terlihat ragu.

Kemudian dia berkata, “Karena beberapa kali aku yang diminta mengatur pertemuan. Ibumu nggak ingin Bagas mengetahui kalau Arga sedang membantu memeriksa dokumennya.”

Aku memejamkan mata.

Ternyata selama berbulan-bulan aku mencurigai perempuan yang salah.

Namun, kesadaran itu sama sekali tidak membuatku merasa lega.

Justru sebaliknya.

Suamiku, ibuku, bahkan mantan kekasihnya mengetahui ada ancaman terhadap rumah peninggalan ayahku.

Hanya aku yang tidak tahu.

“Kenapa Mas nggak cerita sejak awal?” tanyaku.

Arga menatapku dengan mata merah.

“Karena aku takut kamu bertengkar dengan keluargamu.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi lebih baik aku bertengkar dengan suamiku sendiri?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengambil kembali foto tersebut dan memasukkannya ke amplop.

“Kalau semua ini benar, kenapa kalian baru menjelaskan setelah aku menemukan fotonya?”

Arga menghela napas panjang.

“Karena ada perkembangan yang belum sempat kusampaikan.”

“Apa lagi?”

Nadira menunduk.

“Bagas sudah mencoba menggunakan dokumen itu untuk pengajuan kedua.”

Aku merasa darahku berhenti mengalir.

“Kapan?”

“Tiga hari lalu.”

Aku mencengkeram tepi meja.

“Dan kalian tetap diam?”

Arga menjawab pelan, “Aku berencana memberitahumu setelah pertemuan hari ini.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Mas, hari ini kita seharusnya membicarakan perceraian. Bukan menunggu kamu memutuskan kapan aku pantas mengetahui masalah rumahku sendiri.”

Aku mengambil tas.

Arga langsung memanggilku.

“Rani, jangan pergi dulu.”

Aku berhenti di depan pintu.

“Mas masih perlu dirawat. Aku akan memastikan keluargamu tahu kondisimu.”

“Kamu benar-benar tetap ingin bercerai?”

Aku menoleh.

“Aku belum tahu bagaimana menyelesaikan semua ini. Tapi aku tahu aku nggak bisa terus hidup dengan seseorang yang menganggap menyembunyikan kebenaran sebagai cara melindungiku.”

Aku meninggalkan ruangan sebelum air mataku kembali jatuh.

Sore itu, aku mendatangi rumah Ibu.

Beliau sedang menyiram tanaman ketika melihatku turun dari mobil.

“Rani? Bukannya kamu menemui Arga?”

Aku berdiri di hadapannya.

“Bu, Mas Bagas menggunakan sertifikat rumahku untuk mengajukan pinjaman?”

Seketika, selang air terlepas dari tangannya.

“Nak, kamu tahu dari mana?”

“Jawab saja.”

Ibu menutup mulutnya.

Kemudian mulai menangis.

“Ibu sebenarnya mau cerita.”

“Kapan, Bu? Setelah rumah Ayah disita?”

“Jangan bicara begitu!”

Aku menggeleng.

“Delapan ratus lima puluh juta, Bu. Itu bukan uang sedikit.”

Ibu terduduk di kursi teras.

Bagas ternyata mengalami kerugian besar setelah usaha distribusi bahan makanannya gagal. Dia memiliki utang kepada beberapa pemasok dan sempat meminjam uang dari kerabat.

Ketika tidak ada lagi orang yang mau membantunya, dia mulai menggunakan dokumen keluarga yang masih tersimpan di rumah Ibu.

“Dia bilang cuma memerlukan jaminan sementara,” ujar Ibu sambil terisak.

Aku menatapnya.

“Dan Ibu percaya?”

“Ibu takut kakakmu kehilangan semuanya.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi Ibu lebih rela aku yang kehilangan rumah peninggalan Ayah?”

Ibu menggeleng cepat.

“Bukan begitu, Nak.”

“Tapi itu yang terjadi kalau pengajuannya berhasil dan kewajibannya nggak dibayar.”

Ibu menangis semakin keras.

Aku mengambil napas panjang.

“Mas Bagas di mana?”

“Di rumahnya.”

Aku langsung menghubunginya.

Awalnya Bagas tidak mau mengangkat telepon. Namun, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya terdengar suaranya.

“Rani, ada apa?”

“Mas menggunakan sertifikat rumahku?”

Hening.

“Siapa yang bilang?”

“Mas, jawab.”

Bagas menghela napas.

“Aku cuma pinjam sebentar. Nanti kalau usahaku sudah jalan, semuanya beres.”

Aku memejamkan mata.

“Tanpa izin pemiliknya?”

“Rani, kita keluarga!”

“Justru karena keluarga, seharusnya Mas meminta izin.”

Bagas mulai meninggikan suara.

“Kamu nggak tahu rasanya punya utang dan harus menggaji karyawan!”

Aku menatap halaman rumah.

“Aku memang nggak tahu rasanya menjalankan usahamu. Tapi aku tahu rumah itu bukan milik Mas.”

Bagas tidak menjawab.

Aku kemudian mengatakan bahwa semua dokumen akan diperiksa melalui penasihat hukum dan dirinya harus menjelaskan penggunaan data pribadiku.

Dia langsung marah.

“Kamu mau melaporkan kakak sendiri?”

Aku menjawab pelan.

“Aku mau melindungi sesuatu yang Ayah tinggalkan untukku.”

Setelah menutup telepon, Ibu memandangku dengan kecewa.

“Kamu tega sekali sama kakakmu.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Selama bertahun-tahun, aku selalu menjadi anak yang diminta memahami keadaan orang lain.

Ketika Bagas membutuhkan biaya usaha, aku membantu semampuku.

Ketika Ibu sakit, aku mengambil cuti untuk menjaganya.

Namun, ketika hakku terancam, aku justru diminta mengalah demi menjaga perasaan keluarga.

Aku mengusap air mata.

“Bu, aku pulang dulu.”

“Rani…”

“Aku sayang Ibu. Tapi aku nggak bisa tinggal di sini dan terus merasa bersalah hanya karena ingin menjaga hakku sendiri.”

Malam itu, aku menghubungi seorang pengacara bernama Bu Ratih.

Kami segera mengirimkan keberatan kepada pihak pembiayaan dan meminta klarifikasi mengenai seluruh dokumen yang menggunakan namaku.

Dari pemeriksaan awal, ternyata pengajuan pertama belum sampai pada tahap pencairan.

Pengajuan kedua juga belum disetujui.

Aku menghela napas lega.

Namun, Bu Ratih mengingatkanku bahwa penggunaan identitas dan tanda tangan tanpa izin tetap harus diperiksa.

“Bu Rani, jangan menganggap masalah selesai hanya karena uangnya belum cair.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya, aku merasa ada seseorang yang membantu tanpa meminta aku mengorbankan diriku demi orang lain.

Tiga hari kemudian, Arga diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Dia datang ke apartemen tempatku sementara tinggal bersama sahabatku, Siska.

Tangannya masih menggunakan penyangga.

Aku menemuinya di ruang tamu.

“Bagaimana kondisimu?”

“Sudah lebih baik.”

Arga duduk perlahan.

“Rani, aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir dengan menyelesaikan masalah Bagas diam-diam, aku sedang melindungimu.”

Aku menatapnya.

“Mas, melindungi seseorang itu harus membuat dia lebih aman. Bukan membuat dia kehilangan kesempatan mengambil keputusan.”

Arga mengangguk.

“Aku tahu.”

Aku menghela napas.

“Dan aku masih ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kenapa Nadira selalu menjadi orang pertama yang kamu hubungi ketika ada masalah?”

Arga terdiam.

Kemudian dia menjawab dengan jujur.

“Karena dia memahami pekerjaanku. Kami sudah lama terbiasa menyelesaikan keadaan darurat bersama. Aku terlalu sering mengandalkannya.”

Aku mengangguk perlahan.

“Dan tanpa sadar, kamu membuat istrimu menjadi orang terakhir yang mengetahui masalah dalam hidupnya sendiri.”

Arga menunduk.

“Iya.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

Namun, sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ponselnya berdering.

Nama Nadira muncul di layar.

Kami sama-sama melihatnya.

Arga menatapku.

“Kamu mau aku angkat?”

Aku mengangguk.

Dia menyalakan pengeras suara.

“Ga, ada perkembangan penting,” kata Nadira.

“Apa?”

“Pihak pembiayaan baru saja menemukan bahwa salinan dokumen rumah Rani berasal dari berkas administrasi lama perusahaan kalian.”

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Maksudnya?”

Nadira terdengar terkejut mendengar suaraku.

“Rani? Kamu di sana?”

“Iya. Tolong jelaskan.”

Nadira menarik napas.

“Tiga tahun lalu, Arga pernah menyerahkan salinan dokumen rumahmu untuk keperluan verifikasi alamat keluarga ketika kalian mengurus fasilitas tertentu.”

Aku menatap suamiku.

Arga mengangguk.

“Aku ingat. Waktu itu untuk administrasi asuransi.”

Nadira melanjutkan.

“Salinan berkas tersebut ternyata masih tersimpan di sistem lama. Ada indikasi seseorang mengakses dan menyalinnya tanpa kewenangan.”

Aku membeku.

“Siapa?”

“Kami masih memeriksa jejak aksesnya. Tapi akun yang digunakan terdaftar atas nama seorang staf administrasi.”

Aku memandang Arga.

“Staf siapa?”

Nadira terdiam sesaat.

“Staf perusahaan Arga.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Jadi Bagas mungkin bukan bekerja sendirian.

Ada seseorang di perusahaan suamiku yang membantu mendapatkan dokumen pribadiku.

Dan selama ini, Arga tidak menyadarinya.

Beberapa hari berikutnya, pemeriksaan internal menemukan bahwa akun administrasi tersebut pernah digunakan untuk mengirimkan salinan dokumen kepada alamat surel pribadi Bagas.

Namun, pemilik akun mengaku tidak pernah mengirimkannya.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan bahwa kredensial akun tersebut pernah dipakai melalui perangkat yang tidak biasa digunakan staf tersebut.

Arga akhirnya menyerahkan seluruh informasi kepada bagian kepatuhan dan pihak berwenang.

Aku tidak langsung menyimpulkan siapa yang bersalah.

Namun, setidaknya kini ada dasar untuk menelusuri bagaimana dokumen pribadiku berpindah tangan.

Dua minggu kemudian, Bagas datang menemuiku.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

Dia duduk di hadapanku sambil menunduk.

“Rani, aku minta maaf.”

Aku diam.

“Aku memang mengambil salinan dokumenmu. Tapi aku nggak berpikir semuanya akan jadi sebesar ini.”

Aku memandangnya.

“Mas tahu aku nggak pernah memberi izin?”

Bagas mengangguk.

“Kenapa tetap dilakukan?”

Dia mulai menangis.

“Karena aku takut kehilangan usaha. Aku merasa kalau gagal, semua orang akan menganggapku nggak berguna.”

Aku menarik napas panjang.

“Mas, aku bisa memahami kamu takut. Tapi rasa takutmu nggak boleh menjadi alasan mengambil hak orang lain.”

Bagas mengusap matanya.

“Aku tahu.”

Aku mengangguk.

“Kalau Mas benar-benar menyesal, ikuti proses pemeriksaan dengan jujur. Jangan menyalahkan keadaan lagi.”

Dia menunduk.

“Aku akan bertanggung jawab.”

Aku tidak memeluknya.

Belum.

Ada luka yang membutuhkan waktu sebelum bisa disentuh kembali.

Sementara itu, hubunganku dengan Arga masih berada di persimpangan.

Kami mulai mengikuti konseling pasangan, bukan untuk memastikan pernikahan harus dipertahankan, melainkan untuk memahami apakah kepercayaan yang rusak masih mungkin dibangun kembali.

Dalam salah satu sesi, konselor bertanya kepadaku.

“Rani, apa yang paling membuat Anda terluka?”

Aku berpikir cukup lama.

Kemudian menjawab.

“Bukan karena Arga membantu keluargaku tanpa memberitahuku.”

Aku menoleh kepada suamiku.

“Yang paling menyakitkan adalah dia tahu aku sedang kehilangan kepercayaan terhadap hubungan kami, tetapi tetap memilih menyimpan rahasia yang menyangkut hidupku sendiri.”

Arga menunduk.

“Aku takut Rani akan semakin terluka kalau tahu kakaknya melakukan itu.”

Konselor bertanya, “Apakah dengan tidak diberi tahu, Rani menjadi lebih aman?”

Arga menggeleng pelan.

“Nggak.”

Aku menangis mendengar jawabannya.

Untuk pertama kalinya, Arga benar-benar memahami bahwa niat baik tidak otomatis membuat cara yang salah menjadi benar.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terkait penggunaan dokumen pribadiku terus berjalan.

Pengajuan pembiayaan yang menggunakan persetujuan tidak sah tidak dilanjutkan.

Rumah peninggalan Ayah tetap berada dalam kepemilikanku.

Bagas mulai menyelesaikan kewajiban usahanya melalui restrukturisasi dan penjualan sebagian aset pribadi.

Ibu akhirnya datang menemuiku.

Beliau membawa sepanci sayur asem kesukaanku.

“Rani, Ibu mau minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa, Bu?”

“Karena selama ini Ibu terlalu sering meminta kamu mengalah supaya kakakmu tidak kecewa.”

Air mataku langsung jatuh.

Ibu menggenggam tanganku.

“Padahal kamu juga anak Ibu. Kamu juga berhak dilindungi.”

Aku memeluknya.

Kami menangis cukup lama.

Namun, yang paling mengejutkan justru terjadi hampir setahun setelah kecelakaan Arga.

Suatu sore, aku menerima sebuah amplop dari rumah sakit.

Di dalamnya terdapat salinan laporan pemeriksaan kecelakaan yang sebelumnya diminta melalui prosedur resmi.

Selama ini, aku selalu mendengar bahwa Arga mengalami kecelakaan karena terburu-buru menemuiku untuk menandatangani surat cerai.

Namun, laporan tersebut menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan tidak sesederhana itu.

Arga mengalami kecelakaan setelah berusaha menghindari sebuah sepeda motor yang tiba-tiba berpindah jalur di depannya.

Tidak ada bukti bahwa dia mengemudi dengan kecepatan berlebihan karena ingin segera menemuiku.

Aku membaca laporan itu berkali-kali.

Ternyata selama hampir setahun, beberapa orang telah menyalahkanku atas sebuah kecelakaan tanpa mengetahui penyebab sebenarnya.

Aku teringat perempuan muda yang memarahiku di rumah sakit.

Tatapan para rekan kerja Arga.

Bisik-bisik keluarga.

Bahkan rasa bersalah yang sempat membuatku hampir membatalkan seluruh keputusanku.

Aku menutup amplop itu.

Kemudian menelepon Arga.

“Mas, aku baru membaca laporan kecelakaanmu.”

Arga terdiam.

“Oh.”

“Kenapa kamu nggak pernah menjelaskan kepada semua orang bahwa kecelakaan itu bukan karena aku?”

Dia menarik napas panjang.

“Aku sebenarnya sudah bilang kepada beberapa orang.”

“Tapi mereka tetap menyalahkanku.”

Arga terdiam.

Kemudian berkata pelan.

“Aku salah karena nggak menghentikannya dengan lebih tegas.”

Aku memandang jendela.

“Mas, aku nggak mau hidup dengan rasa bersalah atas sesuatu yang bukan tanggung jawabku.”

“Aku tahu, Ran.”

Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar memahami.

Beberapa hari kemudian, Arga mengirimkan penjelasan resmi kepada rekan kerja dan keluarga yang sebelumnya menyalahkanku.

Dia menegaskan bahwa kecelakaan tersebut merupakan peristiwa lalu lintas yang tidak boleh dijadikan alasan untuk menyudutkanku.

Aku tidak meminta dia melakukannya.

Namun, aku menghargai bahwa akhirnya dia mengambil tanggung jawab atas diamnya sendiri.

Enam bulan setelah itu, aku dan Arga membuat keputusan.

Kami tidak melanjutkan perceraian yang sebelumnya kurencanakan.

Bukan karena aku merasa kasihan setelah kecelakaannya.

Bukan pula karena tekanan keluarga.

Melainkan karena setelah melalui banyak percakapan sulit, pemeriksaan dokumen, dan konseling, kami mulai membangun cara berkomunikasi yang berbeda.

Arga tidak lagi menjadikan Nadira sebagai penghubung untuk urusan pribadiku.

Dia mulai memisahkan pekerjaan dari keputusan rumah tangga.

Dan yang paling penting, dia belajar mengatakan kebenaran meskipun kebenaran itu mungkin membuatku kecewa.

Aku sendiri belajar bahwa menjaga hubungan tidak berarti harus menelan semua rasa sakit sendirian.

Suatu malam, ketika kami duduk di teras rumah, Arga menggenggam tanganku.

“Rani, kamu masih menyesal pernah menikah denganku?”

Aku menatapnya.

“Aku pernah menyesal karena merasa menikah dengan orang yang nggak benar-benar mengenalku.”

Arga menunduk.

“Tapi sekarang?”

Aku tersenyum kecil.

“Sekarang aku merasa kita sedang belajar mengenal satu sama lain lagi.”

Dia mengangguk.

“Aku akan terus berusaha.”

Aku menatap matanya.

“Jangan cuma berusaha membuatku senang, Mas. Berusahalah untuk selalu jujur.”

Arga tersenyum.

“Aku janji.”

Malam itu, aku mengambil sebuah foto dari laci.

Foto yang dulu membuat semua orang terdiam di rumah sakit.

Foto Arga, Nadira, dan ibuku.

Aku memandangnya cukup lama.

Dulu aku menganggap foto itu bukti bahwa suamiku menyimpan kehidupan lain di belakangku.

Namun, sekarang aku memahami bahwa sebuah foto hanya menunjukkan satu potongan kejadian.

Di baliknya bisa ada rasa takut, kesalahan, niat baik yang dilakukan dengan cara buruk, serta keputusan-keputusan yang tidak pernah dibicarakan.

Aku menyimpan kembali foto tersebut.

Bukan untuk melupakan apa yang terjadi.

Melainkan untuk mengingat betapa berbahayanya ketika orang-orang yang saling mencintai berhenti berbicara dengan jujur.

Aku menoleh kepada Arga.

“Mas, kalau suatu hari ada masalah lagi, jangan mencoba menyelesaikannya sendiri demi melindungiku.”

Dia mengangguk.

“Kita hadapi bersama.”

Aku tersenyum.

Di luar, hujan mulai turun perlahan.

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Pernikahan kami tidak berubah menjadi sempurna.

Masih ada hari ketika kami berbeda pendapat.

Masih ada rasa takut yang kadang muncul ketika ponsel Arga berdering tengah malam.

Namun, kini aku tidak lagi memilih diam sambil menebak-nebak.

Aku bertanya.

Dan Arga menjawab.

Ternyata hal sesederhana itu pernah begitu sulit kami lakukan.

Aku pernah mengira rahasia terbesar dalam pernikahan kami adalah keberadaan seorang perempuan dari masa lalu suamiku.

Ternyata masalah sebenarnya bukan Nadira.

Bukan pula foto yang kusimpan dalam amplop cokelat.

Masalahnya adalah kebiasaan semua orang mengambil keputusan atas namaku tanpa pernah memberiku kesempatan memilih.

Ibuku melindungi Bagas dengan menyembunyikan kesalahannya.

Arga berusaha melindungiku dengan menyembunyikan kebenaran.

Dan orang-orang di rumah sakit merasa berhak menyalahkanku tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, dari semua kejadian itu, aku akhirnya memahami satu hal.

Cinta yang sehat bukan tentang menyembunyikan kenyataan agar pasangan tidak terluka.

Cinta yang sehat adalah keberanian menyampaikan kenyataan, menghormati hak pasangan untuk mengambil keputusan, dan tetap hadir ketika kebenaran itu sulit diterima.

Aku menatap Arga yang sedang menuangkan teh hangat ke gelasku.

Dulu, aku hampir kehilangan pernikahan karena terlalu banyak kebohongan yang disebut sebagai perlindungan.

Kini, kami berusaha membangunnya kembali dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Kejujuran.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika ponsel Arga berdering di atas meja, aku tidak lagi merasa harus menebak siapa yang menelepon atau apa yang sedang disembunyikannya.

Karena sebelum mengangkat telepon, dia menoleh kepadaku dan berkata,

“Rani, ini panggilan dari kantor. Kalau ada urusan yang menyangkut kita, aku akan cerita.”

Aku mengangguk.

Bukan karena semua ketakutanku sudah hilang.

Melainkan karena akhirnya aku tidak lagi harus menghadapi ketakutan itu sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang