“Kalau tanda tangan ini benar-benar milikku, kenapa tanggalnya bertepatan dengan hari ketika aku menemani Ibu operasi di Bandung?”
Pertanyaanku membuat Arga berhenti bergerak.
Kami berdiri di sebuah ruang pertemuan kecil di belakang ballroom. Musik pernikahan masih terdengar dari kejauhan, tetapi suasana di antara kami terasa begitu dingin.
Arga menatap dokumen yang kusodorkan.
Wajahnya perlahan memucat.
“Dinda, dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Jawab pertanyaanku.”
Dia mengusap wajah.
“Aku nggak pernah melihat dokumen ini sebelumnya.”
Aku tertawa hambar.
“Perusahaan itu kamu yang jalankan. Sebelas hari setelah meninggalkanku, sahamnya berpindah tangan. Sekarang kamu bilang nggak tahu?”
Arga menarik kursi.
“Duduk dulu. Aku akan jelaskan semuanya.”
Aku tetap berdiri.
Tiga tahun lalu, kami mendirikan PT Arunika Kemasan Nusantara dengan penuh harapan. Aku menyetorkan Rp150 juta dari tabungan pribadi, sementara Arga mengumpulkan Rp100 juta dari hasil menjual mobil peninggalan ayahnya.
Dalam akta pendirian, aku memiliki enam puluh persen saham dan Arga empat puluh persen.
Kami juga membuat perjanjian terpisah yang menjelaskan tanggung jawab masing-masing.
Aku mengurus pemasaran dan pengembangan pelanggan. Arga menangani distribusi dan operasional.
Karena itulah aku tidak memahami bagaimana sahamku bisa dialihkan tanpa persetujuanku.
“Din, waktu itu perusahaan hampir bangkrut,” kata Arga akhirnya.
Aku mengerutkan kening.
“Bangkrut?”
“Kontrak dengan pelanggan terbesar kita dibatalkan. Ada tagihan pemasok yang harus dibayar, sementara uang di rekening perusahaan hampir habis.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Arga menunduk.

“Karena aku panik. Dan karena Nabila menawarkan jalan keluar.”
Jantungku berdegup lebih keras.
“Nabila?”
“Dia memperkenalkan investor yang bersedia memasukkan dana untuk menyelamatkan perusahaan.”
Aku membuka dokumen di tanganku.
“Investor itu perusahaan miliknya sendiri?”
Arga mengangguk.
“PT Maheswari Kapital.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Dan syaratnya aku harus menyerahkan saham?”
“Investor meminta kepemilikan mayoritas dan kendali manajemen. Aku bilang keputusan itu harus dibicarakan denganmu.”
“Lalu?”
“Beberapa hari kemudian, Nabila datang membawa berkas yang katanya sudah kamu setujui.”
Aku terdiam.
“Dan kamu percaya?”
Arga menatapku.
“Dia menunjukkan surat kuasa dan salinan identitasmu. Katanya kamu ingin keluar dari perusahaan karena harus mengurus ibumu.”
Aku menggeleng tidak percaya.
“Kamu nggak meneleponku?”
“Aku mencoba, tapi waktu itu kamu sedang sulit dihubungi. Nabila bilang kamu sengaja menghindari pembicaraan bisnis karena kecewa kepadaku.”
Aku menatapnya dingin.
“Jadi kamu mempercayai Nabila daripada bertanya langsung kepada perempuan yang membangun perusahaan itu bersamamu?”
Arga tidak menjawab.
Aku mengeluarkan flashdisk dari tas.
“Ada apa di dalam ini?”
Arga langsung menggeleng.
“Aku nggak tahu.”
Aku memandang wajahnya cukup lama.
Untuk pertama kalinya, aku tidak bisa memastikan apakah dia sedang berbohong atau benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi.
Aku meninggalkannya di ruangan tersebut dan menelepon seorang teman lama bernama Raka, pengacara korporasi yang pernah membantu memeriksa akta pendirian perusahaan kami.
Setelah mendengar ceritaku, Raka langsung berkata, “Din, jangan menandatangani apa pun malam ini. Besok kita periksa dokumen resmi melalui notaris dan data perseroan.”
“Kalau tanda tanganku dipalsukan, apakah sahamku masih bisa kembali?”
“Kita harus melihat akta perubahan, dokumen pendukung, dan bukti pembayaran. Peralihan saham perusahaan tertutup nggak cukup dibuktikan hanya dengan fotokopi. Kalau persetujuan pemegang saham memang dipalsukan, ada dasar untuk menggugat keabsahannya.”
Aku menghela napas.
“Dan flashdisk ini?”
“Jangan langsung memasangnya di laptop pribadimu. Kita periksa isinya dengan aman dan pastikan sumber berkasnya.”
Aku mengangguk.
Setidaknya sekarang aku memiliki seseorang yang menjelaskan masalah tanpa memintaku mempercayai kata-katanya begitu saja.
Keesokan paginya, aku menemui Raka di kantornya.
Kami memeriksa isi flashdisk menggunakan komputer khusus yang disiapkan timnya.
Di dalamnya terdapat rekaman percakapan, salinan email, laporan keuangan, dan beberapa dokumen perusahaan.
Namun, satu berkas membuatku langsung membeku.
Sebuah rekaman kamera dari ruang administrasi rumah sakit di Bandung.
Tanggalnya sama dengan tanggal yang tercantum pada dokumen pengalihan sahamku.
Dalam rekaman itu, Nabila terlihat datang bersama seorang pria berkemeja putih.
Aku mengenali pria tersebut.
Pak Yudha.
Mantan kepala administrasi PT Arunika Kemasan Nusantara.
Dia pernah membantuku mengurus dokumen perusahaan ketika Arga terlalu sibuk mengawasi gudang.
Dalam rekaman, Nabila menyerahkan sebuah map kepada Pak Yudha.
Kemudian pria itu mengeluarkan beberapa halaman dan meletakkannya di atas meja.
Aku memperhatikan gerakannya.
Dia tidak sedang meminta seseorang menandatangani dokumen.
Dia justru mengambil sebuah map lain dari tasnya dan menukar beberapa lembar kertas.
Raka menghentikan rekaman.
“Din, kamu ingat pernah menandatangani dokumen apa di rumah sakit hari itu?”
Aku berpikir keras.
Kemudian ingatanku kembali pada kejadian tiga tahun lalu.
Saat itu Nabila datang menjenguk Ibu sambil membawa buah dan bunga.
Dia mengatakan Pak Yudha membutuhkan persetujuanku untuk memperbarui data kontak perusahaan.
Karena pikiranku sedang dipenuhi kekhawatiran terhadap operasi Ibu, aku hanya membaca sekilas berkas yang ditunjukkannya.
“Aku menandatangani formulir pembaruan alamat korespondensi,” kataku.
Raka menatapku.
“Apakah kamu menerima salinannya?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Raka menarik napas panjang.
“Kalau begitu, kita perlu membandingkan dokumen asli yang kamu tandatangani dengan berkas pengalihan saham yang kemudian digunakan.”
Aku memandangi layar.
Tiba-tiba semua terasa lebih jelas.
Nabila tidak sekadar memalsukan tanda tangan secara sembarangan.
Dia kemungkinan memanfaatkan dokumen yang pernah kutandatangani untuk membuat berkas lain terlihat sah.
Namun, siapa yang membantunya memproses perubahan tersebut?
Jawabannya muncul ketika kami memeriksa korespondensi berikutnya.
Ada email dari Pak Yudha kepada Nabila.
Subjeknya perubahan struktur kepemilikan.
Di dalamnya tertulis bahwa dokumen harus segera diselesaikan sebelum Dinda kembali aktif mengurus perusahaan.
Aku merasakan tangan menjadi dingin.
“Jadi mereka memang merencanakannya.”
Raka mengangguk.
“Setidaknya, email ini menunjukkan mereka mengetahui kamu belum dilibatkan secara langsung. Tapi kita tetap perlu menguji keaslian dan konteks seluruh bukti.”
Siang itu, Raka menghubungi notaris yang tercantum dalam salinan akta perubahan.
Notaris tersebut membenarkan bahwa kantornya pernah menangani perubahan kepemilikan PT Arunika Kemasan Nusantara, tetapi meminta waktu untuk memeriksa arsip sebelum memberikan penjelasan melalui prosedur yang sesuai.
Kami juga memperoleh informasi bahwa Nabila tidak langsung membeli seluruh saham perusahaan.
Struktur transaksi yang tercatat justru lebih rumit.
PT Maheswari Kapital menerima saham baru melalui penambahan modal, sehingga persentase kepemilikan pemegang saham lama berkurang.
Setelah itu, terdapat dokumen yang menyatakan bahwa aku menjual sisa saham milikku kepada perusahaan tersebut.
“Jadi ada dua transaksi?” tanyaku.
Raka mengangguk.
“Benar. Yang pertama penambahan modal. Yang kedua pengalihan saham milikmu.”
“Dan dua-duanya membutuhkan pemeriksaan keabsahan persetujuan sesuai anggaran dasar dan ketentuan hukum?”
“Iya.”
Aku menatap laporan tersebut.
Sekarang aku mengerti mengapa Nabila membutuhkan tanda tanganku.
Dia tidak bisa begitu saja mengubah kepemilikan perusahaan dengan pernyataan sepihak.
Dia memerlukan dokumen yang menunjukkan keputusan perusahaan dan pengalihan saham telah dilakukan secara sah.
Beberapa hari kemudian, Raka memanggilku kembali.
Kali ini dia membawa hasil penelusuran awal yang membuatku terdiam cukup lama.
Dana penambahan modal dari Maheswari Kapital memang pernah masuk ke rekening PT Arunika Kemasan Nusantara.
Namun, pembayaran untuk pembelian saham pribadiku tercatat dikirim ke rekening yang tidak kukenal.
Nama pemilik rekening itu adalah Dinda Prameswari.
Namaku sendiri.
Aku langsung berdiri.
“Nggak mungkin. Aku nggak pernah membuka rekening itu.”
Raka mengangguk.
“Kami sudah mengajukan langkah pemeriksaan melalui jalur hukum. Kalau rekening itu dibuka menggunakan identitasmu tanpa izin, persoalannya lebih serius daripada pemalsuan dokumen perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Berarti seseorang bukan cuma mengambil sahamku, tapi juga menggunakan identitasku?”
“Indikasinya begitu.”
Malam itu aku akhirnya memahami pesan misterius yang diterima saat pernikahan Nabila.
Seseorang akan datang menuntut hak atas saham menggunakan namaku.
Ternyata yang dimaksud bukan orang yang mengaku sebagai pemilik saham.
Melainkan seseorang yang sedang berusaha menagih pembayaran atau menyelesaikan kewajiban berdasarkan dokumen transaksi lama yang mencantumkan identitasku.
Dan jika aku tidak segera membuktikan bahwa rekening dan dokumen tersebut bukan milikku, namaku bisa terseret ke dalam persoalan hukum yang tidak pernah kusetujui.
Aku memutuskan menghubungi Nabila.
Kami bertemu di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan.
Dia datang mengenakan pakaian mahal dan membawa tas desainer.
Wajahnya terlihat tenang.
“Dinda, aku sudah menunggu teleponmu.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu memang yang mengirim kotak itu?”
Nabila tersenyum kecil.
“Bukan.”
Aku mengerutkan kening.
“Kalau begitu, siapa?”
Dia menatapku cukup lama.
“Orang yang akhirnya merasa bersalah karena sudah membantuku.”
Aku langsung teringat Pak Yudha.
“Pak Yudha?”
Nabila tidak menjawab.
Aku meletakkan salinan dokumen di meja.
“Aku tahu soal rekening yang menggunakan namaku.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Aku juga tahu soal surat kuasa dan perubahan kepemilikan perusahaan.”
Nabila menatap dokumen itu.
“Kamu nggak akan bisa membuktikan semuanya hanya dengan fotokopi.”
Aku tersenyum tipis.
“Karena itu aku nggak datang untuk berdebat soal dokumen.”
Dia mengangkat wajah.
“Aku datang untuk menanyakan satu hal.”
“Apa?”
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Nabila terdiam.
Kemudian tertawa hambar.
“Karena aku muak selalu dianggap kalah darimu.”
Aku membeku.
Dia melanjutkan.
“Sejak kuliah, semua orang selalu memujimu. Kamu pintar, mandiri, disukai banyak orang. Bahkan ketika kamu cuma bekerja di perusahaan kecil, orang-orang tetap membicarakan pencapaianmu.”
Aku menggeleng perlahan.
“Nabila, aku nggak pernah menganggap kita sedang bersaing.”
“Itulah masalahnya!” bentaknya.
Beberapa pengunjung menoleh.
Nabila menarik napas panjang.
“Kamu bahkan nggak pernah sadar aku berusaha mengalahkanmu.”
Aku menatap perempuan yang pernah kuanggap teman.
“Jadi kamu ingin mengambil perusahaan dan Arga dariku?”
Nabila tidak langsung menjawab.
“Awalnya aku cuma ingin membuktikan bahwa aku bisa membuat bisnis itu berkembang lebih besar daripada yang pernah kamu bayangkan.”
“Lalu Arga?”
Dia tersenyum pahit.
“Arga adalah orang yang paling ingin kamu pertahankan waktu itu.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Jadi kamu mendekatinya karena aku?”
“Awalnya iya.”
Aku memejamkan mata.
Nabila mengusap wajah.
“Tapi setelah kami sering bekerja bersama, aku benar-benar menyukainya.”
Aku tertawa kecil.
“Dan sekarang kalian sudah menikah.”
Dia menunduk.
Namun, ada sesuatu yang aneh.
Untuk pertama kalinya, Nabila tidak terlihat seperti perempuan yang baru saja memenangkan sesuatu.
Dia justru tampak ketakutan.
“Dinda,” katanya pelan, “ada hal yang nggak diketahui Arga.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Nabila menggenggam tasnya semakin erat.
“Arga memang tahu perusahaan membutuhkan investor. Dia juga tahu Maheswari Kapital akan masuk. Tapi dia nggak pernah tahu dokumen penjualan sahammu dibuat tanpa persetujuanmu.”
Aku terdiam.
“Dia percaya kamu benar-benar ingin keluar dari perusahaan.”
“Dan kamu membiarkannya percaya begitu?”
Nabila mengangguk.
“Aku juga yang membuat Arga mengira kamu sudah menerima pembayaran saham dan memilih pergi.”
Dadaku semakin sesak.
“Jadi itu alasan dia meninggalkanku?”
Nabila menunduk.
“Sebagian. Tapi dia juga memilih mengakhiri hubungan kalian karena merasa kamu tidak lagi mendukungnya.”
Aku menggeleng.
Tiga tahun lalu, aku menangis berbulan-bulan karena mengira Arga meninggalkanku demi mengejar masa depan yang tidak melibatkanku.
Sekarang aku mengetahui bahwa keputusan itu dipengaruhi kebohongan dan kesalahpahaman yang sengaja diciptakan.
Namun, aku juga menyadari sesuatu.
Nabila mungkin telah memanipulasi keadaan.
Tetapi Arga tetap memilih meninggalkanku tanpa pernah meminta penjelasan langsung.
Aku menatap Nabila.
“Kenapa kamu mengatakan semua ini sekarang?”
Air matanya mulai mengalir.
“Karena Pak Yudha sedang diperiksa terkait penggunaan dokumen identitas dalam beberapa transaksi lain. Dia bilang nggak mau lagi menanggung semuanya sendirian.”
Aku terdiam.
“Dan karena rekening atas namamu itu sekarang sedang ditelusuri. Aku takut semuanya terbongkar.”
Aku mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, bersikaplah jujur kepada pihak yang memeriksa.”
Nabila menatapku.
“Kamu akan memaafkanku?”
Aku menggeleng.
“Aku belum bisa.”
Dia menangis.
Aku berdiri.
“Tapi aku juga nggak datang untuk menghancurkan hidupmu. Aku hanya ingin hak dan namaku dipulihkan.”
Beberapa bulan kemudian, pemeriksaan terhadap perubahan kepemilikan PT Arunika Kemasan Nusantara memasuki tahap yang lebih serius.
Dokumen asli, catatan notaris, riwayat rekening, dan korespondensi perusahaan diperiksa oleh pihak yang berwenang.
Sejumlah temuan menunjukkan adanya penggunaan dokumen tanpa persetujuan yang dapat dibuktikan dariku.
Setelah melalui proses hukum dan negosiasi yang didampingi penasihat masing-masing, pihak-pihak terkait mencapai penyelesaian atas hak ekonomiku, sementara dugaan pelanggaran tertentu tetap ditangani melalui jalur yang sesuai.
Aku tidak meminta perusahaan dibubarkan.
Ada puluhan karyawan yang menggantungkan hidupnya di sana.
Aku juga tidak ingin mereka kehilangan pekerjaan akibat keputusan orang-orang yang pernah memimpin perusahaan secara tidak jujur.
Sebaliknya, aku meminta pengakuan atas hak dan kontribusiku yang dapat dibuktikan, serta penyelesaian yang adil atas kepemilikan saham yang pernah dialihkan tanpa persetujuanku.
Arga datang menemuiku setelah mengetahui sebagian besar kebenaran.
Kami duduk di sebuah kafe kecil yang dulu sering kami kunjungi ketika perusahaan baru berdiri.
Dia masih mengenakan jam tangan dengan tali kulit cokelat tua.
Goresan berbentuk bulan sabit di bingkainya tetap terlihat.
“Dinda, aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena aku pergi tanpa memberimu kesempatan menjelaskan.”
Aku tersenyum sedih.
“Kamu percaya Nabila begitu saja.”
Arga menunduk.
“Iya.”
“Dan sekarang?”
“Aku baru tahu bahwa banyak dokumen ternyata dibuat tanpa persetujuanmu.”
Aku mengangguk.
Dia menatapku.
“Kalau waktu itu aku bertanya langsung kepadamu, mungkin semuanya berbeda.”
Aku menarik napas panjang.
“Mungkin.”
Arga mengusap wajah.
“Aku masih menyimpan jam ini karena aku nggak pernah bisa melupakan saat kita membangun perusahaan dari nol.”
Aku memandang jam tersebut.
“Dulu aku memberikannya sebagai tanda bahwa kita akan berjalan bersama.”
Dia mengangguk.
“Tapi akhirnya aku meninggalkanmu.”
Kami terdiam cukup lama.
Kemudian Arga berkata, “Aku tahu sekarang sudah terlambat.”
Aku tersenyum kecil.
“Memang.”
Dia mengangguk.
Tidak ada permintaan untuk kembali.
Tidak ada janji baru.
Hanya dua orang yang akhirnya memahami bahwa masa lalu tidak bisa diubah meskipun seluruh kebenarannya sudah diketahui.
Setahun kemudian, aku menggunakan hasil penyelesaian hak ekonomiku untuk membangun perusahaan konsultan pemasaran dan distribusi khusus bagi usaha kecil.
Aku menamakannya Langkah Pertama.
Nama itu kuambil dari kalimat yang dahulu kuukir di jam tangan Arga.
Namun, kali ini maknanya berbeda.
Bukan lagi tentang mimpi yang kubangun bersama seseorang.
Melainkan tentang keberanian memulai kembali dengan kakiku sendiri.
Pada hari pembukaan kantor, Rani datang membawa bunga.
Dia memandang logo perusahaan yang terpasang di dinding.
“Din, kamu benar-benar memulai semuanya lagi.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
“Dan kali ini?”
Aku tertawa kecil.
“Kali ini semua dokumen kubaca sampai selesai sebelum kutandatangani.”
Kami tertawa bersama.
Namun, di balik candaan itu, ada pelajaran yang tidak akan pernah kulupakan.
Kepercayaan memang penting dalam hubungan.
Tetapi kepercayaan tidak boleh membuat seseorang menyerahkan seluruh haknya tanpa memahami apa yang sedang disetujui.
Aku pernah kehilangan pasangan.
Kehilangan perusahaan yang kubangun.
Dan hampir kehilangan kendali atas identitasku sendiri.
Namun, setelah semua kebohongan terbongkar, aku akhirnya memahami sesuatu.
Orang lain mungkin bisa mengambil kesempatan yang pernah kita miliki.
Mereka bisa membeli perusahaan.
Mengubah struktur saham.
Bahkan mengambil tempat kita dalam kehidupan seseorang.
Tetapi mereka tidak bisa memiliki kemampuan, keberanian, dan pengalaman yang membuat kita mampu membangun semuanya sejak awal.
Malam ketika aku datang ke pernikahan Nabila, aku mengira jam tangan di pergelangan Arga adalah pengingat tentang masa lalu yang gagal.
Sekarang aku tahu, benda itu justru membawaku kembali kepada kebenaran yang selama tiga tahun disembunyikan.
Dan ketika aku berdiri di kantor baruku, memandangi para karyawan yang sedang bekerja, aku tersenyum.
Karena akhirnya aku memahami bahwa langkah pertama yang paling penting bukanlah langkah yang kita bangun bersama seseorang.
Melainkan langkah ketika kita berani berjalan sendiri tanpa lagi takut kehilangan orang yang memilih pergi.
