Setiap Kali Pacarku Datang ke Rumah, Sepupuku Selalu Mendadak Butuh

“Foto itu bukan diambil diam-diam oleh orang asing, Nadine. Aku yang mengambilnya.”

Suara Papa membuat seluruh ruang makan mendadak sunyi.

Aku menoleh perlahan. Papa masih duduk di ujung meja, tetapi wajahnya terlihat berbeda. Lelaki yang biasanya tenang itu kini memandang ponsel Arga dengan ekspresi menyesal.

“Papa?” tanyaku. “Kenapa Papa punya foto aku dan Arga dari delapan bulan lalu?”

Papa menarik napas panjang.

“Hari itu Papa sedang makan siang bersama klien di restoran yang sama. Papa melihat kalian duduk dekat jendela. Karena kamu pernah bilang sedang dekat dengan seseorang, Papa memotret kalian dari jauh.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu kenapa fotonya sampai ke Rania?”

“Papa mengirimkannya ke grup keluarga. Papa cuma bercanda, bilang akhirnya Nadine punya teman makan siang.”

Aku langsung teringat grup WhatsApp keluarga besar yang hampir setahun lalu kubisukan karena terlalu banyak percakapan.

Rania juga menjadi anggota grup tersebut.

“Jadi bukan ada orang yang mengawasiku?” tanyaku.

Papa menggeleng.

“Tidak, Nak. Setidaknya Papa nggak pernah menyuruh siapa pun.”

Aku menatap Arga.

Dia langsung memeriksa kembali pesan dari Siska.

“Berarti foto itu bukan bukti ada orang yang sengaja memata-matai Nadine,” katanya. “Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.”

Rania yang sejak tadi menangis mengangkat wajah.

“Tuh, kan! Kalian dari tadi nuduh aku macam-macam!”

Aku menatapnya.

“Foto itu memang punya penjelasan lain. Tapi bagaimana dengan pesan-pesanmu tentang Dimas, Rio, dan rencanamu mendekati Arga?”

Rania langsung terdiam.

Arga meletakkan ponselnya di atas meja.

“Aku juga perlu menjelaskan soal rekaman tadi supaya nggak ada salah paham.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Sebelum datang ke sini, Nadine sudah menceritakan kejadian dengan dua mantan pacarnya. Aku kebetulan mengenal Siska dari komunitas pemasaran digital. Dua hari lalu, dia menghubungiku karena tahu aku sedang dekat dengan Nadine.”

Aku terkejut.

“Kenapa kamu nggak cerita?”

“Karena Siska baru menyampaikan dugaan, dan aku belum tahu apakah informasinya benar.”

Arga membuka percakapannya dengan Siska.

“Setelah aku bilang akan datang ke rumahmu malam ini, Siska mengirim pesan bahwa Rania pernah menceritakan rencana untuk mendekatiku. Aku memintanya menjelaskan berdasarkan hal yang benar-benar dia ketahui.”

Dia memperlihatkan sebuah pesan.

Siska menulis bahwa Rania pernah mengirim rekaman suara melalui WhatsApp ketika sedang membicarakan cara membuatku terlihat cemburuan.

“Jadi rekaman yang kamu putar tadi bukan hasil kamu merekam Rania di rumah ini?” tanyaku.

“Bukan. Itu pesan suara yang dikirim Rania sendiri kepada Siska sore tadi. Siska meneruskannya kepadaku.”

Aku membaca tanggal dan waktu pengirimannya.

Pukul 16.18.

Beberapa jam sebelum acara ulang tahun Mama.

Di dalam pesan suara itu, Rania dengan jelas menyebut namaku dan mengatakan ingin membuat Arga menganggapku terlalu pencemburu.

Arga kemudian menunjukkan tangkapan layar percakapan lain.

Namun, dia tidak langsung menyimpulkan semuanya benar.

“Untuk pesan lama tentang Dimas dan Rio, ini salinan yang diberikan Siska. Kita perlu memastikan konteksnya. Aku nggak mau menjadikan potongan percakapan sebagai alasan untuk menuduh sesuatu yang belum jelas.”

Aku mengangguk.

Setidaknya sekarang aku tahu dari mana rekaman itu berasal.

Namun, pertanyaan yang paling menyakitkan tetap belum terjawab.

Mengapa Rania terus berusaha memasuki hubunganku?

Aku menoleh kepadanya.

“Ran, aku ingin dengar langsung darimu. Bukan dari Siska. Bukan dari Arga.”

Rania menghapus air matanya.

“Apa lagi yang mau Kakak dengar?”

“Kebenarannya.”

Dia terdiam lama.

Kemudian berkata dengan suara gemetar.

“Aku memang sengaja mendekati Dimas dan Rio.”

Aku merasakan dadaku sesak.

“Tapi mereka juga merespons, Kak. Aku nggak memaksa siapa pun.”

“Aku tahu mereka bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri,” jawabku. “Tapi itu tidak menghapus apa yang kamu lakukan.”

Rania menunduk.

“Aku cuma ingin sekali saja ada orang yang lebih memilih aku daripada Kak Nadine.”

Mama langsung menangis.

“Rania, kenapa kamu berpikir begitu?”

Rania menatapnya.

“Karena setiap orang memandangku seperti anak yang harus dikasihani.”

Dia menarik napas tersendat.

“Kalau aku mendapat nilai bagus, orang bilang aku hebat karena bisa bertahan meskipun nggak punya ayah. Kalau Kak Nadine berhasil, semua orang memujinya karena pintar dan pekerja keras.”

Aku memandangnya tanpa menyela.

“Aku capek selalu dianggap menyedihkan. Aku ingin merasa lebih unggul dalam sesuatu.”

“Lalu kamu memilih menyakiti aku?” tanyaku.

Rania mengangguk sambil menangis.

“Iya.”

Pengakuan itu membuat ruangan terasa begitu sunyi.

Selama bertahun-tahun, aku berusaha memahami kesedihan Rania. Aku tidak pernah merasa keberatan membagi perhatian keluarga dengannya.

Namun, ternyata dia melihat kehidupanku sebagai sesuatu yang harus dikalahkan.

Papa akhirnya berbicara.

“Rania, Papa dan Mama mungkin salah karena terlalu sering memperlakukanmu seperti anak kecil yang tidak boleh kecewa.”

Mama mengangguk.

“Kami pikir dengan selalu membelamu, kami sedang membantumu.”

Aku menatap Mama.

“Padahal setiap kali Mama membelanya tanpa mendengar penjelasanku, Nadine merasa nggak punya tempat di rumah sendiri.”

Air mata Mama jatuh.

“Maafkan Mama, Nak.”

Aku menghela napas.

“Aku nggak ingin Mama memilih salah satu dari kami. Aku cuma ingin aturan yang sama berlaku untuk semua orang.”

Mama mengangguk.

“Kamu benar.”

Rania tiba-tiba berdiri.

“Jadi sekarang semuanya salahku?”

Aku menatapnya.

“Nggak semua. Dimas dan Rio juga salah karena mereka nggak menjaga hubungan mereka denganku. Mama dan Papa salah karena terlalu lama mengabaikan masalah. Aku sendiri juga salah karena terus diam sampai semuanya menumpuk.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi kamu tetap harus bertanggung jawab atas tindakanmu sendiri.”

Rania tidak menjawab.

Arga kemudian berdiri di sampingku.

“Saya rasa kita semua sudah mendengar cukup banyak malam ini. Nadine pasti butuh waktu.”

Aku mengangguk.

Namun, sebelum kami pulang, Rania tiba-tiba memanggil Arga.

“Mas, boleh aku tanya sesuatu?”

Arga menoleh.

“Silakan.”

“Kenapa kamu nggak tertarik sama aku?”

Aku langsung membeku.

Pertanyaan itu terdengar begitu jujur sampai tak seorang pun segera menjawab.

Arga memandang Rania dengan tenang.

“Karena aku datang ke sini sebagai pacar Nadine.”

Rania menggigit bibir.

“Tapi kalau kamu belum punya pacar?”

Arga menggeleng.

“Rania, masalahnya bukan apakah kamu cukup menarik atau tidak. Aku nggak mengenalmu untuk membangun hubungan seperti itu. Dan aku nggak akan menggunakan perhatian seseorang untuk membuat pasanganku merasa terancam.”

Rania menunduk.

“Aku cuma ingin tahu rasanya dipilih.”

Arga menjawab lebih lembut.

“Kalau kamu harus membuat orang lain kehilangan sesuatu supaya merasa berharga, perasaan itu nggak akan bertahan lama.”

Rania mulai menangis lagi.

Kali ini dia tidak membantah.

Aku dan Arga akhirnya pulang.

Di dalam mobil, aku memandangi lampu jalan yang bergerak melewati jendela.

“Mas, kamu marah karena aku nggak langsung cerita semuanya?”

Arga menggeleng.

“Aku justru senang kamu akhirnya cerita.”

Aku tersenyum tipis.

“Tapi tadi kamu juga hampir membuat kesimpulan yang salah soal foto itu.”

“Iya. Aku seharusnya memeriksa asalnya dulu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Terima kasih sudah mengakuinya.”

Arga menggenggam tanganku sebentar.

“Kita nggak perlu selalu benar. Yang penting mau memperbaiki kesalahan.”

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku pulang dari rumah orang tuaku tanpa merasa sepenuhnya bersalah.

Namun, masalah itu belum selesai.

Tiga hari kemudian, Siska menghubungiku secara langsung.

Dia meminta bertemu di sebuah kafe dekat kantorku.

Aku datang dengan perasaan waspada.

Siska terlihat gugup ketika duduk di hadapanku.

“Nadine, aku ingin minta maaf karena baru berani bicara sekarang.”

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu akhirnya menghubungi Arga?”

Siska menunduk.

“Karena Rania mulai meminta bantuanku mencari informasi tentang Arga. Dia tahu aku pernah bekerja dalam proyek bersama perusahaannya.”

Aku menatapnya.

“Informasi seperti apa?”

“Status hubungan, kebiasaan, dan tempat yang sering dia datangi.”

Aku mengerutkan kening.

“Dan kamu memberikannya?”

“Nggak. Justru itu yang membuat kami bertengkar.”

Siska membuka percakapan lama di ponselnya.

Dia memperlihatkan pesan ketika Rania meminta bantuan menyusun alasan agar bisa bertemu Arga tanpa kehadiranku.

Namun, ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Dalam salah satu pesan, Rania menulis bahwa dia tidak benar-benar menyukai Arga.

Dia hanya ingin membuktikan bahwa lelaki yang kupilih juga bisa berpaling kepadanya.

Aku terdiam.

Jadi selama ini persoalannya bukan tentang cinta.

Melainkan persaingan yang hanya ada dalam pikiran sepupuku.

“Kenapa kamu dulu membantunya mendekati Dimas dan Rio?” tanyaku.

Siska mengusap wajah.

“Awalnya aku pikir mereka memang tertarik pada Rania. Aku cuma membantu mengenalkan mereka. Tapi lama-kelamaan aku sadar Rania selalu membicarakan bagaimana reaksimu kalau tahu.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu diam.”

Siska mengangguk.

“Iya. Aku takut kehilangan teman.”

Aku menarik napas panjang.

“Terima kasih sudah menjelaskan. Tapi seharusnya kamu bicara jauh lebih awal.”

“Aku tahu.”

Setelah pertemuan itu, aku memutuskan mengambil jarak dari Rania.

Aku tidak memblokirnya.

Tidak mempermalukannya di media sosial.

Namun, aku berhenti membagikan informasi pribadi kepadanya.

Aku juga meminta Mama agar tidak lagi memberikan nomor telepon atau jadwal kegiatanku kepada siapa pun tanpa persetujuanku.

Awalnya Mama terlihat sedih.

“Tapi Rania saudaramu, Nak.”

Aku menggenggam tangannya.

“Justru karena kami saudara, hubungan kami perlu dibangun dengan rasa hormat. Bukan dengan memaksaku terus mengalah.”

Mama akhirnya mengangguk.

Beberapa minggu kemudian, Rania mengirim pesan.

Kak, aku sudah mulai konseling. Mama membantuku mencari psikolog. Aku baru sadar selama ini aku selalu menganggap perhatian orang sebagai perlombaan.

Aku membaca pesan itu cukup lama.

Kemudian membalas.

Semoga kamu bisa menemukan cara untuk menghargai dirimu sendiri, Ran. Aku masih butuh waktu, tapi aku berharap kamu benar-benar berubah.

Setelah mengirim pesan, aku meletakkan ponsel.

Aku tidak merasa harus langsung memaafkan semuanya.

Namun, untuk pertama kalinya, aku juga tidak merasa perlu membenci Rania agar bisa melanjutkan hidup.

Enam bulan berlalu.

Hubunganku dengan Arga tetap berjalan baik.

Kami masih berbeda pendapat mengenai hal-hal kecil.

Kadang dia terlalu sibuk bekerja.

Kadang aku terlalu cepat khawatir ketika rencana berubah.

Namun, kami belajar membicarakannya tanpa saling menyalahkan.

Suatu sore, Arga mengajakku makan malam di restoran tempat kami pertama kali berkencan.

Dia datang membawa sebuah kotak kecil.

Aku langsung tertawa gugup.

“Mas, ini apa?”

Arga tersenyum.

“Buka saja.”

Di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk bintang.

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa bintang?”

“Karena waktu pertama kali kita bertemu, kamu bilang paling suka melihat langit malam setelah hari yang melelahkan.”

Aku tersenyum.

“Mas masih ingat?”

“Tentu.”

Dia kemudian berdiri di belakangku.

“Boleh aku pasangkan?”

Aku mengangguk.

Saat jemarinya mengaitkan kalung itu di leherku, aku tiba-tiba teringat malam ulang tahun Mama.

Malam ketika Rania meminta Arga memasangkan kalungnya.

Aku tertawa kecil.

Arga menatapku melalui pantulan kaca jendela.

“Kenapa ketawa?”

Aku menggeleng.

“Nggak apa-apa. Cuma teringat sesuatu.”

Dia tersenyum.

“Semoga kenangannya nggak buruk.”

Aku menggenggam liontin tersebut.

“Justru sekarang aku punya kenangan baru.”

Beberapa bulan kemudian, Mama mengundangku makan malam keluarga.

Aku sempat ragu.

Namun, Arga mengatakan bahwa keputusan sepenuhnya ada di tanganku.

Akhirnya aku datang.

Rania juga hadir.

Dia terlihat berbeda.

Tidak ada usaha menarik perhatian.

Tidak ada komentar tentang hubungan kami.

Ketika Arga datang, dia hanya menyapa dengan sopan, kemudian kembali membantu Mama menyiapkan makanan.

Setelah makan malam, Rania menghampiriku di teras.

“Kak Nadine, aku mau minta maaf sekali lagi.”

Aku menatapnya.

“Aku sudah dengar.”

“Aku tahu. Tapi kali ini aku ingin mengatakan sesuatu yang dulu nggak pernah berani kuakui.”

Aku menunggu.

Rania menarik napas.

“Aku bukan cuma iri karena Kakak punya pacar. Aku iri karena Kakak bisa menjalani hidup tanpa terus mencari persetujuan orang lain.”

Aku terdiam.

“Selama ini aku merasa harus membuat seseorang memilihku supaya aku percaya diriku berharga.”

Air matanya mulai menggenang.

“Padahal setiap kali berhasil mendapat perhatian, aku tetap merasa kosong.”

Aku memandang sepupuku cukup lama.

“Aku berharap kamu nggak perlu menyakiti orang lain lagi untuk memahami itu.”

Rania mengangguk.

“Aku juga.”

Kami tidak langsung berpelukan.

Namun, untuk pertama kalinya, kami bisa berbicara tanpa saling menyerang.

Setahun setelah malam ulang tahun Mama, aku dan Arga memutuskan bertunangan.

Acara berlangsung sederhana di rumah orang tuaku.

Tidak ada pesta besar.

Hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat.

Rania ikut membantu menata meja.

Namun, ketika aku datang, dia justru menghampiriku dan menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Apa ini?” tanyaku.

“Hadiah.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang sederhana.

“Aku beli dari uang tabunganku sendiri,” katanya.

Aku tersenyum.

“Terima kasih, Ran.”

Dia mengangguk.

Kemudian berkata dengan suara pelan.

“Kali ini aku senang melihat Kakak bahagia tanpa merasa harus mengambil kebahagiaan itu.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu mungkin sederhana.

Namun, aku tahu betapa sulitnya bagi Rania untuk mengucapkannya.

Malam itu, ketika semua tamu sudah pulang, aku duduk bersama Mama di ruang keluarga.

Mama menggenggam tanganku.

“Nadine, Mama dulu sering mengira anak yang paling terlihat kuat adalah anak yang paling sedikit membutuhkan perhatian.”

Aku menoleh.

Beliau tersenyum sedih.

“Karena kamu selalu bisa menyelesaikan masalah sendiri, Mama terlalu sering meminta kamu mengalah.”

Air mataku mulai menggenang.

“Ma…”

“Mama salah.”

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar didengar.

Ketika Arga mengajakku pulang, aku menoleh sekali lagi ke arah rumah masa kecilku.

Dulu, rumah itu sering membuatku merasa harus menyembunyikan kebahagiaan sendiri agar orang lain tidak tersinggung.

Sekarang perlahan semuanya berubah.

Tidak sempurna.

Tidak langsung sembuh.

Namun, setidaknya kami mulai belajar menghormati batas satu sama lain.

Di dalam mobil, Arga menggenggam tanganku.

“Capek?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Sedikit.”

“Senang?”

Aku menatap cincin pertunangan di jariku.

“Banget.”

Arga tertawa kecil.

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

Dulu, aku mengira masalah terbesarku adalah memiliki sepupu yang selalu berusaha merebut perhatian laki-laki yang mendekatiku.

Namun, setelah semuanya terbongkar, aku memahami bahwa luka yang lebih dalam justru berasal dari perasaan tidak didengar oleh keluarga sendiri.

Aku tidak membutuhkan semua orang untuk selalu setuju denganku.

Aku hanya ingin perasaanku dianggap sama pentingnya.

Dan ketika akhirnya berani mengatakan hal itu, aku tidak hanya menyelamatkan hubunganku dengan Arga.

Aku juga memberi kesempatan kepada keluargaku untuk berubah.

Karena pada akhirnya, cinta yang sehat bukanlah tentang memenangkan perhatian seseorang.

Cinta yang sehat adalah ketika kita bisa merasa cukup tanpa harus membuat orang lain kehilangan sesuatu.

Dan malam itu, saat Arga mengemudi membawaku pulang, aku tersenyum memandangi lampu kota.

Untuk pertama kalinya, aku tidak takut memperkenalkan kebahagiaanku kepada keluarga.

Karena sekarang aku tahu, kebahagiaan yang benar tidak perlu diperebutkan.

Ia hanya perlu dijaga oleh orang-orang yang tahu cara menghargainya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang