AKU MENEMUKAN PONSEL DENGAN FOTO MASA SMA-KU SEBAGAI

Aku menemukan ponsel dengan foto masa SMA-ku sebagai wallpaper di sebuah hotel di Surabaya. Namun ketika seorang perempuan menelepon untuk mengambilnya, dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.

“Perempuan di foto itu sudah meninggal delapan tahun lalu. Suami saya masih menyimpan fotonya karena belum bisa melupakan cinta pertamanya.”

Masalahnya, perempuan yang katanya sudah meninggal itu adalah aku sendiri.

Namaku Kirana, usiaku 26 tahun. Aku datang ke Surabaya untuk menghadiri konferensi pemasaran digital selama dua hari. Pagi itu, aku menemukan sebuah ponsel berwarna hitam tertinggal di sofa dekat lift lantai sebelas hotel.

Saat hendak menyerahkannya kepada resepsionis, layar ponsel menyala karena ada pesan masuk.

Foto di layar kuncinya membuatku terdiam.

Seorang gadis berseragam SMA, rambut dikuncir, tersenyum sambil memegang buku catatan.

Itu fotoku delapan tahun lalu.

Aku masih ingat siapa yang mengambil gambar tersebut. Arga Mahendra, teman satu klub debat di SMA-ku dulu.

Foto itu diambil menggunakan kamera miliknya saat acara perpisahan sekolah di Semarang. Aku bahkan tidak pernah mengunggahnya ke media sosial.

Belum sempat berpikir lebih jauh, ponsel itu berdering.

Di layar tertulis nomor tidak dikenal.

Aku menjawab dengan hati-hati.

“Halo?”

“Mbak, syukurlah diangkat! Maaf, ponsel yang Mbak pegang itu punya atasan saya. Saya Nadia, asistennya. Saya sedang mencari ponsel itu sejak tadi.”

Aku sedikit lega.

“Oh, baik. Saya menemukannya di sofa dekat lift lantai sebelas. Saya bisa titipkan ke resepsionis.”

“Jangan dulu, Mbak. Ada dokumen pekerjaan penting di sana. Saya sedang menuju hotel. Boleh saya ambil langsung?”

Aku menyetujuinya.

Namun sebelum menutup telepon, aku tidak bisa menahan rasa penasaran.

“Mbak Nadia, boleh tanya sesuatu? Kenapa wallpaper ponsel ini memakai foto perempuan berseragam SMA?”

Nadia terdiam beberapa detik.

“Maaf, Mbak. Saya sebenarnya enggak enak cerita.”

“Saya cuma penasaran karena fotonya terlihat seperti seseorang yang saya kenal.”

Nadia menghela napas.

“Atasan saya pernah cerita soal perempuan itu. Katanya dia cinta pertamanya waktu SMA. Perempuan itu meninggal delapan tahun lalu setelah mengalami kecelakaan.”

Tanganku langsung dingin.

“Meninggal?”

“Iya. Sejak kejadian itu, atasan saya enggak pernah benar-benar bisa melupakannya.”

Aku menatap layar ponsel.

“Tapi Mbak sendiri pernah melihat bukti kalau perempuan itu meninggal?”

“Enggak, Mbak. Saya cuma tahu dari cerita beliau.”

“Nama atasan Mbak siapa?”

“Pak Arga Mahendra.”

Dadaku seketika sesak.

Arga.

Nama yang tidak pernah kudengar lagi selama delapan tahun.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Mbak? Halo?” panggil Nadia.

Aku menarik napas panjang.

“Maaf. Saya masih di sini.”

“Ada apa, Mbak?”

“Enggak apa-apa. Kita ketemu di lobi nanti.”

Setelah telepon terputus, aku duduk di sofa sambil mencoba memahami semuanya.

Arga adalah teman SMA yang pernah kusukai diam-diam. Kami sering mengikuti lomba debat bersama. Dia pintar, tenang, dan selalu punya cara membuatku tertawa ketika sedang gugup.

Menjelang kelulusan, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaan.

Namun Arga menolakku.

“Aku sayang kamu sebagai teman, Kir. Aku takut kalau kita mencoba pacaran, hubungan kita justru rusak.”

Seminggu kemudian, keluargaku mengalami kecelakaan mobil ketika pulang dari luar kota.

Aku mengalami luka di kepala dan harus dirawat beberapa hari. Tidak lama setelah itu, ayah mengumumkan bahwa kami akan pindah ke Bandung karena usaha keluarga sedang mengalami masalah.

Nomor teleponku diganti. Aku juga tidak sempat berpamitan kepada teman-teman.

Sejak itulah aku kehilangan kontak dengan Arga.

Tapi bagaimana mungkin dia mendapat kabar bahwa aku meninggal?

Dan kenapa dia masih menyimpan fotoku?

Aku membawa ponsel itu ke meja resepsionis, menjelaskan bahwa pemiliknya telah menghubungiku, lalu meminta petugas mencatat penemuan tersebut. Karena Nadia meminta mengambilnya langsung dan aku masih ingin mengetahui asal foto itu, ponselnya tetap kusimpan sementara atas sepengetahuan petugas.

Aku kemudian menuju ballroom untuk mempersiapkan presentasi.

Di sana, atasanku, Pak Rendra, menghampiriku.

“Kirana, nanti setelah sesi kita selesai, saya mau mengenalkan kamu kepada CEO Mahendra Digital. Mereka tertarik bekerja sama dengan perusahaan kita.”

Aku langsung menegang.

“Arga Mahendra, Pak?”

“Iya. Kamu kenal?”

“Dulu satu sekolah.”

Pak Rendra tersenyum.

“Wah, kebetulan sekali.”

Bagiku, itu bukan sekadar kebetulan.

Sekitar satu jam kemudian, aku turun ke lobi untuk menemui Nadia.

Perempuan berusia sekitar 28 tahun itu mengenakan blazer krem dan membawa tas kerja hitam.

“Mbak Kirana?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Saya Nadia. Terima kasih sudah menemukan ponsel Pak Arga.”

Kami duduk sebentar di dekat meja resepsionis untuk menyelesaikan penyerahan barang.

Setelah memeriksa ciri-ciri ponsel dan mencocokkan nomor yang tadi digunakan untuk menelepon, aku menyerahkannya kepada Nadia.

Namun sebelum dia pergi, aku berkata, “Mbak Nadia, perempuan di foto itu sebenarnya saya.”

Nadia terdiam.

Dia memandang wajahku, lalu kembali menyalakan layar ponsel.

Matanya perlahan membelalak.

“Ya Tuhan…”

“Itu foto saya waktu SMA. Arga yang mengambilnya.”

Nadia menutup mulutnya.

“Tapi Pak Arga bilang…”

“Saya tahu. Katanya saya sudah meninggal.”

Nadia tampak sangat kebingungan.

“Saya enggak mengerti, Mbak. Pak Arga selalu bilang perempuan itu sudah meninggal. Bahkan beberapa tahun lalu, saya pernah melihat dia menangis ketika menemukan foto lama itu.”

“Sejak kapan Mbak bekerja dengan Arga?”

“Hampir tiga tahun. Saya asisten pribadinya, jadi sering mengurus jadwal, perjalanan dinas, dan dokumen pekerjaannya. Saya tahu cerita itu karena Pak Arga pernah menceritakannya saat kami membicarakan masa sekolah.”

Aku menatap Nadia serius.

“Dia pernah bilang siapa yang memberi kabar kematian saya?”

Nadia menggeleng.

“Enggak pernah secara jelas. Tapi kalau Mbak benar Kirana, sebaiknya Mbak bicara langsung dengannya.”

Aku mengangguk.

“Tolong jangan bilang dulu kalau kita sudah bertemu. Saya ingin mendengar penjelasannya sendiri.”

Nadia tampak ragu, tetapi akhirnya menyetujui permintaanku.

Ketika kembali ke ballroom, aku melihat Arga sedang berbicara dengan beberapa peserta konferensi.

Dia terlihat jauh lebih dewasa daripada yang kuingat.

Jas gelap, rambut tertata rapi, dan sikap percaya diri seorang pemimpin perusahaan.

Pak Rendra langsung memanggilku.

“Kirana, sini. Saya kenalkan.”

Aku melangkah mendekat.

“Pak Arga, ini Kirana, anggota tim pemasaran kami.”

Arga menoleh.

Senyumnya langsung menghilang.

Wajahnya pucat dalam hitungan detik.

“Kirana?”

Aku mencoba tersenyum.

“Hai, Ga. Lama enggak ketemu.”

Dia mundur setengah langkah.

Tangannya mencengkeram sandaran kursi di sebelahnya.

“Kamu… masih hidup?”

Aku menatapnya tajam.

“Kenapa semua orang hari ini mengira aku sudah meninggal?”

Arga tidak menjawab.

Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.

“Enggak mungkin,” bisiknya.

“Aku berdiri di depanmu, Arga.”

Dia mengusap wajahnya.

“Delapan tahun lalu aku diberi tahu kalau kamu meninggal setelah kecelakaan.”

“Siapa yang bilang?”

Arga menatapku lama.

“Kakakmu.”

Aku membeku.

“Kak Damar?”

Arga mengangguk.

“Dia meneleponku beberapa hari setelah kecelakaan. Katanya kondisimu memburuk dan kamu meninggal di rumah sakit. Dia juga bilang keluargamu ingin berduka dengan tenang dan meminta aku tidak menghubungi siapa pun.”

Aku merasa lututku melemas.

“Itu bohong, Ga. Aku cuma dirawat empat hari.”

Arga terlihat semakin terpukul.

“Aku sempat datang ke rumah lamamu, tapi sudah kosong. Nomormu juga enggak aktif. Aku menghubungi beberapa teman, tapi semuanya cuma tahu keluargamu pindah mendadak.”

“Kenapa kamu enggak mencari tahu lebih jauh?”

“Aku mencoba, Kir. Tapi kakakmu mengirimkan foto pemberitahuan duka. Ada namamu di sana.”

Dadaku seperti diremas.

Pemberitahuan duka?

Kakakku membuat pemberitahuan kematianku sendiri?

Saat itu Nadia datang menghampiri kami, membawa ponsel Arga yang sudah diambilnya dari resepsionis.

“Pak, ponselnya sudah ketemu.”

Arga hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dariku.

Nadia melihat wajah kami bergantian.

“Mbak Kirana sudah cerita semuanya, Pak?”

Arga menoleh.

“Kamu sudah bertemu Kirana?”

“Iya, Pak. Dia yang menemukan ponsel Bapak.”

Aku akhirnya memahami mengapa Nadia mengetahui cerita cinta pertama Arga. Dia bukan istrinya atau orang asing yang sengaja menciptakan kebohongan, melainkan asisten yang selama bertahun-tahun mendengar kisah atasannya dan tanpa sadar ikut mempercayai kabar kematian palsu itu.

Aku menatap Arga.

“Kenapa kamu masih memakai fotoku sebagai wallpaper?”

Dia terdiam sebelum menjawab.

“Karena itu foto terakhir yang kuambil sebelum kamu menghilang. Aku merasa bersalah karena menolakmu. Aku selalu berpikir mungkin kamu pergi dengan perasaan terluka, lalu meninggal sebelum aku sempat meminta maaf.”

Air mataku menggenang.

“Tapi kenapa waktu itu kamu menolakku?”

Arga menunduk.

“Aku dapat beasiswa kuliah di luar negeri. Aku takut hubungan jarak jauh akan menyakitimu. Aku pikir lebih baik kita tetap berteman.”

Aku tertawa getir.

“Jadi selama delapan tahun, kita sama-sama hidup dengan cerita yang enggak lengkap?”

Arga mengangguk pelan.

Namun pikiranku sudah kembali kepada Damar.

Kakak laki-lakiku yang lima tahun lebih tua.

Orang yang dulu paling menentang kedekatanku dengan Arga.

Aku ingat Damar pernah bertengkar dengan Arga setelah mengetahui aku menangis karena ditolak.

Waktu itu, aku menganggapnya hanya kakak yang terlalu protektif.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Malam harinya, aku menelepon Damar dari kamar hotel.

“Kak, aku mau tanya sesuatu.”

“Apa, Kir?”

“Delapan tahun lalu, Kakak pernah bilang ke Arga kalau aku meninggal?”

Hening.

Sangat lama.

“Kamu ketemu Arga?”

“Jawab pertanyaanku.”

Damar menghela napas berat.

“Iya.”

Aku memejamkan mata.

“Kenapa?”

“Karena waktu itu kamu hampir kehilangan nyawa gara-gara kecelakaan. Dan aku tahu kamu terus memikirkan laki-laki itu.”

“Terus Kakak pikir cara terbaik melindungiku adalah memalsukan kematianku?”

“Aku cuma ingin dia menjauh.”

“Dengan membuat dia percaya aku sudah meninggal?”

Damar tidak menjawab.

Aku menangis.

“Kak, delapan tahun bukan waktu yang sebentar.”

“Aku tahu. Aku salah.”

Namun suaranya tiba-tiba berubah.

“Tapi ada sesuatu yang belum kamu tahu tentang kecelakaan itu.”

Aku langsung terdiam.

“Apa maksud Kakak?”

Damar menarik napas panjang.

“Malam sebelum kecelakaan, Ayah bertengkar hebat dengan seseorang. Orang itu mengancam keluarga kita. Setelah kecelakaan, Ayah curiga mobilnya sengaja dirusak.”

Jantungku berdegup keras.

“Siapa orang itu?”

“Seorang rekan bisnis yang menuduh Ayah menggelapkan uang. Aku takut orang itu akan mencari informasi tentang kita melalui teman-temanmu. Karena Arga sering menghubungi dan tidak mau berhenti mencari kabarmu, aku melakukan hal bodoh itu. Aku memakai kabar kematian palsu supaya dia berhenti bertanya.”

Aku terduduk di tepi ranjang.

“Kakak pernah menjelaskan semua ini ke polisi?”

“Ayah sempat membuat laporan soal ancaman itu. Tapi tidak ditemukan bukti bahwa kecelakaan kami disengaja. Perkara bisnisnya kemudian diselesaikan. Ayah meminta kami pindah dan memulai hidup baru.”

Aku mengusap air mata.

“Lalu kenapa setelah keadaan aman, Kakak enggak pernah memperbaiki kebohongan itu?”

Damar terdiam.

“Karena aku malu. Semakin lama aku diam, semakin sulit rasanya mengaku.”

Untuk pertama kalinya, aku mendengar kakakku menangis.

“Aku minta maaf, Kir. Aku mengira sedang melindungimu. Padahal aku merampas hakmu untuk menentukan hidupmu sendiri.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya karena satu permintaan maaf.

Keesokan paginya, aku menemui Arga di kafe hotel.

Aku menceritakan seluruh pengakuan Damar.

Arga mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, dia berkata pelan, “Aku enggak tahu harus marah kepada siapa. Tapi aku bersyukur kamu masih hidup.”

Aku tersenyum di antara air mata.

“Dan aku bersyukur akhirnya tahu kenapa ada orang yang menyimpan fotoku selama delapan tahun.”

Arga mengeluarkan ponselnya.

Foto masa SMA-ku masih terpampang di layar.

“Sepertinya sudah waktunya aku mengganti wallpaper ini.”

Aku mengangguk.

“Iya. Foto itu sudah terlalu lama.”

Dia tersenyum kecil.

“Kalau begitu, boleh kita foto bersama hari ini? Bukan untuk menggantikan masa lalu. Cuma untuk mengingat bahwa kita akhirnya bertemu lagi.”

Aku menyetujuinya.

Kami berfoto di dekat jendela kafe, dengan cahaya matahari Surabaya masuk melalui kaca.

Tidak ada janji cinta.

Tidak ada pengakuan dramatis.

Kami hanya dua orang dewasa yang akhirnya mendapat kesempatan memahami masa lalu masing-masing.

Beberapa bulan kemudian, setelah kembali berhubungan secara perlahan, kami mulai sering bertemu. Arga tidak pernah memaksaku menerima perasaannya. Aku pun tidak ingin membangun hubungan hanya karena kenangan SMA.

Kami memilih saling mengenal kembali sebagai dua orang yang sudah berubah.

Hubunganku dengan Damar juga membutuhkan waktu untuk pulih. Ia akhirnya meminta maaf secara langsung kepada Arga dan mengakui seluruh kebohongannya di hadapan keluarga kami.

Suatu sore, Arga memperlihatkan layar ponselnya kepadaku.

Wallpaper-nya sudah berubah.

Bukan lagi foto gadis SMA yang dianggap meninggal.

Melainkan foto kami berdua di kafe Surabaya, tersenyum canggung seperti dua orang yang baru pertama kali berkenalan.

Aku tertawa melihatnya.

“Kenapa pakai foto itu?”

Arga menggenggam tanganku perlahan.

“Karena aku enggak mau lagi hidup bersama kenangan seseorang yang kukira sudah pergi.”

Dia menatapku.

“Aku ingin mengenal perempuan yang benar-benar ada di hadapanku sekarang.”

Saat itulah aku menyadari bahwa kejadian paling aneh dalam hidupku ternyata membawa sebuah pelajaran yang tidak pernah kubayangkan.

Kebohongan yang dibuat dengan alasan melindungi tetap bisa menghancurkan kehidupan orang lain.

Dan terkadang, yang paling kita butuhkan bukan kesempatan mengulang masa lalu, melainkan keberanian untuk menghadapi kebenaran dan memulai kembali.

Delapan tahun lalu, sebuah kabar palsu membuat seseorang percaya aku telah meninggal.

Delapan tahun kemudian, sebuah ponsel yang tertinggal di sofa hotel membuat kami menemukan satu sama lain.

Namun yang paling membahagiakan bukanlah mengetahui bahwa Arga masih menyimpan fotoku.

Melainkan mengetahui bahwa kali ini, tidak seorang pun harus berpura-pura kehilangan orang yang sebenarnya masih ada.

Perketat alur dan buat konflikku lebih kuat

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang