AKU PINGSAN SETELAH LIMA JAM MENUNGGU CALON SUAMIKU DI KUA. TAPI

Aku pingsan setelah hampir lima jam menunggu calon suamiku di Kantor Urusan Agama. Namun ketika sadar, hal pertama yang kulihat justru foto Bima sedang melindungi dokter muda bernama Sinta di IGD.

Di foto itu, Sinta mengenakan lencana Kepala IGD milik Bima.

Lencana yang selalu dibanggakannya sebagai simbol tanggung jawab profesional.

Di bawah foto tersebut tertulis ucapan terima kasih karena Bima telah membelanya dari kemarahan keluarga pasien.

Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.

Hari itu seharusnya kami datang bersama untuk menyelesaikan pemeriksaan berkas dan penjadwalan akad nikah.

Namun Bima tidak muncul.

Tidak menelepon.

Bahkan tidak membalas pesanku.

Namaku Alya, dokter umum berusia 29 tahun yang bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta. Aku sudah menjalin hubungan dengan Bima selama enam tahun.

Kami sama-sama memahami bahwa pekerjaan tenaga medis tidak selalu bisa ditinggalkan begitu saja.

Aku tidak pernah mempermasalahkan operasi darurat, pasien kritis, atau panggilan mendadak dari rumah sakit.

Namun masalahnya, Bima selalu punya waktu untuk Sinta.

Ketika perempuan itu mengalami kesulitan menghadapi keluarga pasien, Bima langsung datang.

Ketika Sinta menangis karena ditegur dokter senior, dia meninggalkan makan malam kami.

Bahkan saat acara lamaran keluarga beberapa bulan lalu, Bima pergi sebelum acara selesai karena Sinta meminta ditemani.

Aku selalu mencoba memahami.

Sampai hari ketika tubuhku tidak lagi sanggup menunggu.

Seorang petugas KUA membantuku setelah aku kehilangan kesadaran sesaat.

Karena kondisiku masih lemah dan mual, aku dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa.

Dokter mengatakan tekanan darahku rendah dan aku kemungkinan mengalami dehidrasi serta kelelahan setelah tidak makan sejak pagi. Setelah pemeriksaan dan penanganan, kondisiku membaik.

Sambil duduk di ruang observasi, aku kembali membuka pesan terakhir untuk Bima.

Mas, aku masih di KUA. Kamu bisa datang atau enggak? Tolong kasih kabar.

Tidak dibalas.

Aku kemudian melihat unggahan Sinta sekali lagi.

Bima berdiri di sampingnya, menenangkan perempuan itu.

Aku tidak tahu persis apa yang terjadi di IGD.

Namun aku tahu satu hal.

Bima sebenarnya bisa memberi kabar.

Dia hanya tidak melakukannya.

Setelah dinyatakan boleh pulang, aku menghubungi petugas KUA untuk membatalkan kunjungan hari itu. Petugas menjelaskan bahwa proses administrasi pernikahan kami belum selesai dan perlu diurus kembali apabila ingin dilanjutkan.

Aku mengucapkan terima kasih.

Kemudian mengambil keputusan yang selama berbulan-bulan terus kutunda.

Aku tidak ingin menikah dengan seseorang yang membuatku merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian paling sederhana.

Namun sebelum pulang, aku teringat ada beberapa barang pribadi yang harus kuambil dari loker rumah sakit.

Aku juga ingin mengurus jadwal cuti panjang yang sudah kurencanakan.

Aku tidak menyangka bahwa kunjungan singkat itu justru akan membuka masalah yang jauh lebih besar.

Ketika tiba di IGD, aku melihat Bima sedang berbicara dengan Sinta di ruang pemeriksaan staf.

Perempuan itu duduk dengan mata sembap.

Di ujung jarinya terdapat luka gores kecil yang sudah dibersihkan.

Bima berdiri di hadapannya sambil berkata lembut, “Sudah, tenang. Soal keluarga pasien tadi, kita ikuti prosedur pemeriksaan internal saja.”

Aku berhenti di dekat pintu.

Sinta melihatku lebih dulu.

“Kak Alya?”

Bima langsung menoleh.

Wajahnya berubah tidak nyaman.

“Kamu ngapain ke sini?”

Aku menatapnya.

“Aku baru selesai diperiksa dokter.”

“Diperiksa? Kamu sakit?”

“Tadi aku pingsan di KUA.”

Untuk sesaat, wajah Bima terlihat terkejut.

Namun kemudian dia menghela napas.

“Alya, hari ini IGD benar-benar kacau. Ada pasien anak yang mengalami kejang saat penanganan, keluarganya panik, dan Sinta hampir diserang salah satu anggota keluarga.”

Aku mengangguk pelan.

“Aku paham kondisi darurat bisa terjadi.”

“Kalau paham, kenapa kamu datang dengan wajah seperti itu?”

Aku menatapnya lama.

“Karena Mas tetap enggak memberi kabar selama berjam-jam.”

Bima terdiam.

Aku melanjutkan, “Aku tidak meminta Mas meninggalkan pasien. Aku cuma berharap Mas memberi tahu kalau enggak bisa datang.”

Sinta tiba-tiba berdiri.

“Kak Alya, maaf. Ini semua gara-gara aku.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau ada masalah dalam penanganan pasien, Sinta harus menghadapinya secara profesional. Tapi masalah hubunganku dengan Bima bukan tanggung jawabmu.”

Bima langsung mengerutkan kening.

“Jangan bicara seolah-olah Sinta sengaja membuat masalah.”

“Aku enggak bilang begitu.”

“Dia masih residen. Dia butuh dukungan.”

Aku mengangguk.

“Dukungan itu penting. Tapi dukungan bukan berarti seseorang boleh mengabaikan tanggung jawabnya yang lain.”

Bima menatapku dengan kesal.

“Kita bahas nanti saja. Aku masih harus mengurus laporan insiden pasien.”

Aku hampir berbalik ketika mendengar Sinta bertanya pelan.

“Kak, catatan tindakannya sudah beres?”

Bima menjawab, “Sudah. Aku sudah meminta perawat melengkapi kronologi. Nanti laporan insidennya kita cocokkan dengan catatan yang dibuat masing-masing petugas.”

Kalimat itu membuatku berhenti.

Sebagai dokter, aku tahu bahwa kejadian tidak diharapkan harus dilaporkan sesuai fakta. Rekam medis juga harus mencerminkan tindakan yang benar-benar dilakukan, bukan disesuaikan agar seseorang terhindar dari tanggung jawab.

Namun aku belum memiliki alasan untuk menyimpulkan Bima melakukan pelanggaran.

Aku hanya bertanya, “Pasien anak tadi bagaimana kondisinya?”

“Sudah stabil dan sedang dipantau,” jawab Bima.

“Syukurlah.”

Aku tidak memperpanjang percakapan.

Aku menuju ruang loker, memasukkan barang pribadiku ke dalam tas, lalu mengeluarkan ponsel.

Ada email yang sudah beberapa minggu belum kujawab.

Sebuah program penempatan dokter untuk layanan kesehatan kepulauan, termasuk dukungan bagi wilayah Arafura.

Aku pernah mendaftarkan minat mengikuti program itu. Setelah melewati proses seleksi awal, aku menerima tawaran penempatan dengan masa tugas lima tahun, tetapi masih perlu menyelesaikan administrasi dan pemeriksaan kesehatan.

Dulu aku menundanya karena Bima tidak ingin kami tinggal berjauhan setelah menikah.

Sekarang, aku membuka kembali surat tersebut.

Aku membaca seluruh ketentuan, termasuk kondisi kerja, fasilitas pendukung, dan jadwal orientasi.

Lalu aku mengirimkan persetujuan untuk melanjutkan proses penempatan.

Aku belum langsung bisa berangkat. Masih ada kewajiban administrasi di rumah sakit dan tahapan persiapan yang harus diselesaikan.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedang bergerak menuju sesuatu yang benar-benar kuinginkan.

Ketika keluar dari ruang loker, aku bertemu Bu Ratih, perawat senior yang sudah bekerja hampir dua puluh tahun di IGD.

Wajahnya terlihat serius.

“Dokter Alya, boleh bicara sebentar?”

“Tentu, Bu.”

Dia mengajakku ke ruang staf yang sedang kosong.

“Saya mau memastikan sesuatu. Dokter hari ini cuti, kan?”

Aku mengangguk.

“Iya. Seharian.”

“Dokter sama sekali enggak ikut menangani pasien anak di bed tiga?”

“Enggak. Saya baru datang setelah sore.”

Bu Ratih mendadak pucat.

“Ada apa, Bu?”

Dia menunjukkan catatan waktu dari sistem informasi rumah sakit yang sempat diperiksanya saat mengaudit kelengkapan dokumentasi sif.

“Nama Dokter muncul sebagai pemberi persetujuan pada salah satu entri rekam medis pasien itu.”

Aku membeku.

“Persetujuan apa?”

“Entri tambahan yang dibuat setelah pasien mengalami kejang. Di sana tercatat bahwa Dokter Alya sudah meninjau tindakan yang dilakukan.”

Aku langsung menggeleng.

“Itu enggak mungkin. Saya bahkan enggak berada di rumah sakit.”

Bu Ratih mengangguk.

“Itu sebabnya saya mencari Dokter.”

Aku menatap layar yang diperlihatkannya.

Terdapat waktu pencatatan dan identitas akun pengguna.

Nama akunku benar.

Namun waktu pengesahannya berada di antara pukul dua dan tiga siang.

Saat itu aku masih berada di KUA.

Aku menarik napas panjang.

“Bu Ratih, jangan mengubah data itu. Kita harus minta tim IT dan bagian rekam medis memeriksa jejak audit sistem.”

Bu Ratih mengangguk.

“Saya juga pikir begitu.”

Aku kemudian meminta agar masalah tersebut diteruskan kepada atasan medis dan petugas yang berwenang menangani keamanan informasi.

Aku tidak ingin langsung menuduh siapa pun.

Nama yang muncul di sebuah entri belum otomatis membuktikan siapa yang menggunakan akun tersebut.

Namun jika ada orang yang memakai identitasku untuk mengesahkan tindakan yang tidak pernah kutinjau, persoalannya sangat serius.

Apalagi catatan itu berkaitan dengan pasien yang baru mengalami kejadian tidak diharapkan.

Beberapa menit kemudian, kami bertemu dr. Handoko, ketua komite medis rumah sakit.

Dia mendengarkan penjelasanku dengan wajah tegang.

“Dokter Alya yakin tidak melakukan pengesahan tersebut?”

“Saya yakin, Dok. Saya sedang cuti dan berada di KUA saat waktu pengesahan tercatat.”

“Kami perlu memeriksa log akses, perangkat yang digunakan, dan riwayat perubahan entri. Untuk sementara, jangan ada yang mencoba memperbaiki catatan secara informal.”

Aku mengangguk.

“Kondisi pasien juga harus tetap menjadi prioritas.”

“Tentu. Tim yang tidak terlibat langsung akan meninjau kejadian itu.”

Dr. Handoko kemudian menghubungi petugas IT dan kepala instalasi terkait.

Aku menunggu di luar ruangan.

Sekitar setengah jam kemudian, Bima datang dengan wajah kesal.

“Alya, kenapa kamu membuat laporan soal rekam medis?”

Aku menatapnya.

“Karena namaku muncul sebagai pihak yang mengesahkan sesuatu yang tidak kulakukan.”

“Bisa saja itu kesalahan sistem.”

“Kalau memang kesalahan sistem, pemeriksaan akan membuktikannya.”

Bima mengusap wajah.

“Kamu tahu ini bisa merusak reputasi IGD?”

Aku menatapnya lekat-lekat.

“Mas, keselamatan pasien dan kebenaran catatan medis lebih penting daripada reputasi siapa pun.”

Bima terdiam.

Aku kemudian bertanya, “Mas tahu kenapa namaku bisa muncul di sana?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di wajahnya.

“Alya, ada sesuatu yang harus kujelaskan.”

Aku menunggu.

Bima menarik napas panjang.

“Beberapa minggu lalu, kamu pernah memakai komputer ruang kepala IGD untuk menyelesaikan laporan, kan?”

“Iya.”

“Kamu mungkin lupa keluar dari aplikasi.”

Aku mengerutkan kening.

“Aku selalu berusaha keluar dari akun setelah selesai.”

“Aku tahu. Tapi komputer itu pernah mengalami masalah sesi pengguna yang tetap aktif. Sinta tadi menggunakan komputer tersebut untuk melengkapi data.”

Aku membeku.

“Jadi Sinta mungkin memakai sesiku?”

Bima mengangguk perlahan.

“Aku belum tahu pasti. Waktu itu dia panik setelah pasien kejang. Dia hanya ingin menyelesaikan dokumentasi.”

Aku merasakan dadaku menegang.

“Mas sadar bahwa pengesahan rekam medis menggunakan akun orang lain bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele?”

“Aku tahu.”

“Kalau Mas tahu, kenapa enggak langsung melaporkan kemungkinan itu?”

Bima menunduk.

“Karena aku takut Sinta akan mendapat masalah.”

Aku tertawa getir.

Akhirnya, untuk pertama kalinya, Bima mengatakan sesuatu tanpa bersembunyi di balik alasan bahwa aku harus lebih pengertian.

Dia takut Sinta mendapat masalah.

Dan karena ketakutan itu, namaku berisiko tercantum sebagai pihak yang bertanggung jawab atas peninjauan tindakan yang tidak kulakukan.

“Bima,” kataku pelan, “membantu junior bukan berarti melindunginya dari setiap konsekuensi.”

Dia mengangkat wajah.

“Aku enggak bermaksud menyeret namamu.”

“Tapi itu yang terjadi.”

Bima terdiam.

Tak lama kemudian, dr. Handoko memanggil kami.

Pemeriksaan awal log akses menemukan bahwa entri tersebut dibuat dari komputer ruang kepala IGD menggunakan sesi akun milikku yang masih tercatat aktif.

Namun siapa yang secara fisik menggunakan komputer itu masih harus dipastikan melalui keterangan petugas, catatan akses, dan pemeriksaan tambahan.

Dr. Handoko menjelaskan bahwa entri yang dipersoalkan akan diberi catatan klarifikasi melalui mekanisme resmi, tanpa menghapus riwayat aslinya.

Aku merasa sedikit lega.

Setidaknya, persoalan tersebut tidak lagi disembunyikan.

Namun kejutan berikutnya datang ketika Sinta diminta memberikan keterangan.

Dia masuk dengan wajah pucat.

Tangannya terus meremas ujung jas dokter.

“Sinta,” kata dr. Handoko, “kami perlu mengetahui siapa yang membuat entri tambahan di komputer ruang kepala IGD.”

Sinta menatap Bima.

Bima tidak berbicara.

Beberapa detik kemudian, air mata Sinta mulai jatuh.

“Saya yang mengetik entri itu, Dok.”

Ruangan langsung sunyi.

“Saya pikir akun yang terbuka memang akun bersama untuk dokumentasi. Saya enggak memperhatikan nama pengguna di bagian atas layar.”

Dr. Handoko bertanya, “Mengapa Anda memilih opsi pengesahan?”

Sinta menunduk.

“Saya mengira itu hanya tombol untuk menyimpan catatan. Saya salah.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu enggak langsung melaporkan kesalahan itu setelah menyadarinya?”

Sinta menangis semakin keras.

“Karena saya takut. Saya sudah membuat kesalahan saat memasukkan data, lalu keluarga pasien marah. Saya pikir kalau saya mengaku ada masalah lagi, semua orang akan menganggap saya enggak layak jadi dokter.”

Bima mencoba menyela.

“Saya yang menyuruh dia tenang dulu sebelum melapor.”

Dr. Handoko menatapnya tajam.

“Dokter Bima, justru karena Anda kepala instalasi, kewajiban Anda adalah memastikan setiap kejadian dilaporkan dengan benar.”

Bima menunduk.

Aku duduk diam.

Ada bagian dalam diriku yang masih ingin marah.

Namun ketika melihat Sinta menangis karena takut kehilangan masa depannya, aku juga teringat masa-masa awal menjadi dokter.

Aku tahu rasanya melakukan kesalahan.

Aku tahu betapa menakutkannya ketika kita merasa seluruh kemampuan dipertanyakan.

Tetapi aku juga tahu satu hal.

Dalam pelayanan kesehatan, rasa takut tidak boleh menjadi alasan untuk menyembunyikan fakta.

“Sinta,” kataku akhirnya, “kamu masih bisa belajar. Tapi kamu harus berani bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Saya minta maaf, Kak.”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena permintaan maaf saja belum cukup.

Masih ada pasien yang harus dipastikan keselamatannya.

Masih ada keluarga yang berhak mendapatkan penjelasan.

Dan masih ada sistem yang harus diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang.

Pemeriksaan internal kemudian berjalan selama beberapa minggu.

Tim menemukan bahwa dokumentasi tindakan dan pengawasan residen memang memiliki sejumlah kelemahan. Kesalahan input menggunakan sesi akun yang tidak semestinya juga dikonfirmasi, sedangkan kronologi tindakan klinis diperiksa terpisah berdasarkan catatan dan keterangan para petugas yang terlibat.

Rumah sakit menerapkan langkah perbaikan akses akun, pelatihan ulang dokumentasi, serta evaluasi supervisi residen.

Sinta menjalani pembinaan dan evaluasi kompetensi sesuai ketentuan pendidikan serta rumah sakit.

Sementara Bima mendapat tindakan administratif karena tidak segera melaporkan persoalan dokumentasi yang telah diketahuinya.

Namaku akhirnya diklarifikasi secara resmi sebagai pihak yang tidak melakukan pengesahan entri tersebut.

Namun ketika semua urusan itu selesai, aku sudah tidak lagi menunggu Bima.

Suatu sore, dia menemuiku di luar rumah sakit.

“Alya, aku tahu aku sudah mengecewakanmu.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Aku kehilangan kepercayaanmu, ya?”

Aku menatapnya.

“Bukan cuma karena hari di KUA, Bima. Tapi karena berkali-kali kamu membuatku merasa harus meminta sesuatu yang seharusnya wajar dalam sebuah hubungan.”

Dia menunduk.

“Apa kita masih bisa memperbaikinya?”

Aku menarik napas panjang.

“Semoga Mas bisa memperbaiki caramu memperlakukan orang lain. Tapi hubungan kita sudah selesai.”

Air matanya mulai menggenang.

“Karena Sinta?”

Aku menggeleng.

“Karena keputusan-keputusanmu sendiri.”

Bima terdiam lama.

Aku kemudian mengembalikan cincin pertunangan yang selama ini kusimpan.

“Jaga dirimu baik-baik, Mas.”

Dia menerima cincin itu tanpa mencoba menahanku.

Beberapa bulan kemudian, setelah seluruh administrasi dan persiapan selesai, aku berangkat menjalani penugasan di wilayah kepulauan Arafura.

Pekerjaannya jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.

Ada hari ketika cuaca buruk membuat perjalanan pelayanan kesehatan harus ditunda.

Ada malam ketika kami bekerja dengan fasilitas terbatas dan membutuhkan koordinasi rujukan yang sangat cermat.

Namun aku menemukan kembali alasan mengapa dulu memilih menjadi dokter.

Suatu sore, seorang ibu datang membawa anaknya yang demam tinggi ke tempat pelayanan kami.

Setelah kondisi anak tersebut ditangani dan dipastikan mendapat perawatan yang sesuai, perempuan itu menggenggam tanganku.

“Terima kasih sudah mau datang sejauh ini, Dok.”

Aku tersenyum.

Saat itulah aku teringat kursi plastik biru di KUA.

Tempat aku pernah duduk hampir lima jam, menunggu seseorang yang terus menganggap waktuku tidak penting.

Dulu aku merasa hidupku akan hancur jika pernikahan itu gagal.

Ternyata tidak.

Justru setelah berhenti mengejar orang yang salah, aku mulai menemukan kembali diriku sendiri.

Dan kejutan terbesar datang ketika suatu hari aku menerima surat elektronik dari rumah sakit lamaku.

Bukan dari Bima.

Melainkan dari Sinta.

Dia menulis bahwa setelah menjalani evaluasi dan pembinaan, dirinya mulai memahami bahwa menjadi dokter bukan soal terlihat hebat di hadapan orang lain.

Dia juga mengaku pernah menganggap perhatian Bima sebagai bukti bahwa dirinya istimewa.

Padahal perhatian itu justru membuatnya terlalu bergantung kepada orang lain setiap kali menghadapi masalah.

Di akhir surat, Sinta menulis bahwa dia telah meminta pindah ke unit pendidikan klinis lain sesuai prosedur dan berusaha membangun kembali kepercayaan para pembimbingnya.

Aku membaca surat itu sampai selesai.

Lalu membalas singkat.

Teruslah belajar, Sinta. Jangan takut mengakui kesalahan. Yang terpenting bukan menjadi dokter yang tidak pernah salah, melainkan dokter yang bertanggung jawab, jujur, dan selalu mengutamakan keselamatan pasien.

Setelah mengirim balasan, aku berjalan keluar menuju dermaga kecil.

Matahari sore mulai turun di balik laut.

Angin membawa aroma asin yang begitu khas.

Aku berdiri di sana cukup lama.

Lalu tersenyum.

Lima jam menunggu di KUA pernah membuatku merasa menjadi perempuan yang tidak dipilih.

Namun ternyata, aku hanya sedang berada di tempat yang salah, menunggu pengakuan dari orang yang salah.

Sekarang aku tidak lagi membutuhkan lencana, cincin, ataupun janji seseorang untuk merasa berharga.

Karena akhirnya aku memahami bahwa kehormatan seorang dokter tidak terletak pada simbol yang dikenakannya, melainkan pada tanggung jawab yang dijalankannya.

Dan harga diri seorang perempuan tidak ditentukan oleh siapa yang bersedia menikahinya, tetapi oleh keberaniannya memilih kehidupan yang pantas untuk dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang