
Pesan dari Clara itu terus menghantuiku sepanjang malam. Aku tidak bisa tidur, bukan karena masih merindukan Adrian, melainkan karena satu pertanyaan yang semakin menakutkan. Bagaimana jika lelaki yang kunikahi tiga tahun lalu sebenarnya tidak pernah mencintaiku sejak awal?
Pukul enam pagi, Maya menemukanku duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah dingin.
“Kamu belum tidur, Laras?”
Aku menggeleng.
“May, aku ingin tahu kenapa Clara mengatakan hal seperti itu.”
Maya duduk di hadapanku.
“Aku mengerti. Tapi laptop itu bukan milik kita. Kita nggak boleh sembarangan membuka isinya.”
“Aku tahu.”
“Lebih baik kita hubungi pemiliknya. Kalau memang ada sesuatu yang menyangkut hakmu, kita cari tahu melalui cara yang benar.”
Aku mengangguk, meskipun hatiku masih dipenuhi kegelisahan.
Siang harinya, Maya berhasil menghubungi pihak perusahaan konsultasi yang sebelumnya menangani proyek Mahendra Group. Laptop tersebut ternyata milik seorang mantan manajer keuangan bernama Daniel Prasetyo.
Ketika mendengar namanya, aku langsung teringat sesuatu.
Daniel pernah beberapa kali datang ke rumah kami. Dia selalu bersikap sopan, tetapi setiap kali aku memasuki ruang kerja Adrian, percakapan mereka mendadak berhenti.
Dulu aku menganggap itu urusan bisnis yang tidak perlu kuketahui.
Sekarang, ingatan tersebut membuatku semakin curiga.
Dua hari kemudian, Daniel menghubungiku secara langsung.
“Bu Laras, saya dengar Ibu melihat pesan yang masuk ke laptop saya.”
“Iya, Pak. Tapi saya tidak membuka berkas apa pun.”
“Saya percaya.”
Ada jeda panjang sebelum dia melanjutkan.
“Sebenarnya saya sudah lama ingin berbicara dengan Ibu.”
Jantungku berdegup kencang.
“Tentang apa?”
“Tentang alasan Pak Adrian menikahi Ibu.”
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
Daniel mengajakku bertemu di sebuah kafe di kawasan Kuningan. Aku datang bersama Maya karena tidak ingin menghadapi percakapan itu sendirian.
Ketika kami tiba, Daniel sudah menunggu.
Wajahnya terlihat tegang. Di hadapannya terdapat sebuah map hitam yang cukup tebal.
“Maaf kalau pertemuan ini membuat Ibu tidak nyaman,” katanya.
Aku langsung bertanya, “Pak Daniel, sebenarnya ada apa?”
Dia menarik napas panjang.
“Tiga tahun lalu, Mahendra Group hampir kehilangan proyek pengembangan kawasan komersial senilai ratusan miliar rupiah.”
Aku mengernyit.
“Apa hubungannya dengan saya?”
Daniel membuka map tersebut.
“Proyek itu membutuhkan persetujuan sejumlah pemegang hak atas lahan. Salah satu bagian paling penting berada dalam penguasaan keluarga Ibu.”
Aku membeku.
“Keluarga saya?”
“Iya. Tepatnya tanah warisan almarhum kakek Ibu di Bogor.”
Aku terdiam.
Kakekku memang meninggalkan sebidang tanah cukup luas. Setelah beliau meninggal, pengelolaannya diserahkan kepada ayahku bersama beberapa ahli waris lain.
Namun, aku tidak pernah mengetahui bahwa tanah tersebut berkaitan dengan bisnis Mahendra Group.
Daniel melanjutkan.
“Saat itu Pak Adrian mengalami kesulitan mendapatkan kesepakatan dengan keluarga Ibu. Ayah Ibu menolak tawaran pembelian karena menganggap nilainya tidak wajar.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Lalu?”
“Beberapa bulan kemudian, Pak Adrian mulai mendekati Ibu.”
Rasanya udara di ruangan mendadak menghilang.
Aku masih mengingat pertemuan pertamaku dengan Adrian di sebuah acara amal.
Dia begitu sopan, perhatian, dan selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum.
Apakah semua itu sudah direncanakan?
“Jadi dia mendekatiku karena tanah itu?”
Daniel menunduk.
“Saya tidak tahu seluruh isi hatinya, Bu. Tapi dalam rapat direksi waktu itu, kedekatan Pak Adrian dengan keluarga Ibu pernah dibicarakan sebagai peluang untuk memperlancar negosiasi.”
Aku menatap dokumen yang diletakkannya di meja.
Di salah satu notula rapat yang ditunjukkan Daniel, terdapat catatan mengenai pendekatan kekeluargaan terhadap pemegang hak lahan.
Nama Adrian tercantum sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Tanganku mulai gemetar.
“Kenapa Bapak baru mengatakan ini sekarang?”
Daniel memandangku dengan wajah bersalah.
“Karena dulu saya memilih diam. Saya pikir itu hanya strategi bisnis. Tapi kemudian saya mengetahui ada transaksi yang lebih serius.”
Dia menunjukkan salinan laporan keuangan yang pernah ditanganinya.
Beberapa pembayaran kepada perusahaan perantara ternyata dicatat sebagai biaya konsultasi.
Perusahaan itu bernama Cakrawala Advisory.
Dan salah satu pengurusnya adalah Clara Wijaya.
Aku hampir menjatuhkan gelas.
“Clara?”
Daniel mengangguk.
“Dia bukan sekadar mantan kekasih Pak Adrian. Selama bertahun-tahun, Clara juga menjadi rekan bisnisnya.”
Maya langsung bertanya, “Apakah transaksi itu melanggar hukum?”
“Belum tentu semuanya. Itu harus diperiksa secara menyeluruh. Tapi ada sejumlah pembayaran yang tidak memiliki dokumen pendukung memadai. Saya pernah mempertanyakannya dan beberapa bulan kemudian dipindahkan dari tim proyek.”
Aku menatap Daniel.
“Apakah Adrian tahu Bapak menyimpan salinan dokumen itu?”
“Sebagian merupakan dokumen kerja yang memang saya simpan sesuai kewenangan. Saya bersedia menyerahkannya melalui proses pemeriksaan resmi.”
Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak banyak berbicara.
Selama tiga tahun, aku mengira Adrian hanya lelaki dingin yang belum mampu melupakan cinta pertamanya.
Sekarang aku mulai memahami bahwa mungkin ada alasan lain di balik pernikahan kami.
Namun, sebuah pertanyaan masih menggangguku.
Jika Adrian menikahiku untuk mendekati tanah warisan keluarga, mengapa dia tetap memperlakukanku begitu jauh setelah kami menikah?
Jawabannya datang malam itu.
Aku menerima telepon dari ayahku.
“Laras, kamu sedang ada masalah dengan Adrian?”
Aku terdiam.
“Kenapa Ayah bertanya?”
“Adrian datang ke rumah tadi siang. Dia meminta Ayah menandatangani surat persetujuan terkait proyek lama.”
Dadaku langsung terasa dingin.
“Ayah tanda tangan?”
“Tidak. Ayah bilang harus dibicarakan dengan semua ahli waris.”
Aku mengembuskan napas lega.
Ayah melanjutkan.
“Dia bilang urusannya mendesak karena ada investor yang menunggu.”
“Ayah, jangan tanda tangani dokumen apa pun dulu. Aku akan pulang besok.”
Keesokan harinya, aku dan Maya menemui ayahku di Bogor.
Beliau menunjukkan dokumen yang dibawa Adrian.
Ternyata perusahaan suamiku sedang berusaha memperoleh persetujuan pemanfaatan lahan untuk proyek komersial.
Adrian tidak hanya membutuhkan persetujuan ayahku. Beberapa ahli waris lain juga harus menyetujui perjanjian tersebut.
Aku mulai memahami semuanya.
Pernikahan kami mungkin pernah dianggap Adrian sebagai jalan untuk mendapatkan kepercayaan keluargaku.
Namun, selama tiga tahun, ayahku tetap menolak melibatkan tanah warisan dalam proyek tanpa kesepakatan yang adil.
Dan sekarang, ketika aku mengajukan perceraian, Adrian mendadak kehilangan kedekatan yang selama ini bisa dimanfaatkannya.
Malam itu, aku memutuskan menghubunginya.
“Mas, aku ingin bicara.”
Adrian langsung menjawab.
“Akhirnya kamu mau mendengarkan aku?”
“Kita bertemu besok. Di kantor pengacaraku.”
Dia terdiam.
“Kenapa harus ada pengacara?”
“Karena aku tidak mau lagi menghadapi semuanya tanpa memahami hakku.”
Keesokan siangnya, Adrian datang dengan wajah tegang.
Aku duduk berhadapan dengannya bersama Maya dan penasihat hukum yang telah kuhubungi.
Tanpa banyak basa-basi, aku meletakkan salinan dokumen proyek di atas meja.
“Mas kenal dokumen ini?”
Wajah Adrian berubah.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Jawab dulu.”
Dia membaca beberapa halaman.
“Laras, ini urusan perusahaan.”
“Aku tahu. Tapi kenapa tanah keluargaku ada di dalam rencana bisnis perusahaanmu?”
Adrian mengusap wajah.
“Itu proyek lama.”
“Dan kenapa kedekatanmu dengan keluargaku tercatat sebagai salah satu strategi negosiasi?”
Untuk pertama kalinya, Adrian terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
Aku menatapnya.
“Mas menikahiku karena mencintaiku atau karena membutuhkan tanah keluargaku?”
Dia memejamkan mata.
“Laras, persoalannya nggak sesederhana itu.”
Aku tertawa getir.
“Itu jawaban yang sama seperti waktu aku menanyakan Clara.”
Adrian menunduk cukup lama.
Kemudian dia berkata pelan.
“Awalnya aku memang mengenalmu melalui informasi tentang keluargamu.”
Air mataku langsung menggenang.
“Tapi setelah bertemu kamu, semuanya berubah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku benar-benar menyukaimu, Laras.”
“Kalau begitu, kenapa selama tiga tahun kamu memperlakukanku seperti orang asing?”
Adrian menggenggam kedua tangannya.
“Karena aku pengecut.”
Aku terdiam.
“Aku tahu awal hubungan kita tidak sepenuhnya jujur. Setiap kali melihatmu, aku merasa bersalah. Aku takut suatu hari kamu mengetahui semuanya.”
“Jadi kamu memilih menjauh?”
Dia mengangguk.
Aku menatapnya dengan rasa sakit yang sulit dijelaskan.
“Mas, aku menghabiskan tiga tahun menyalahkan diriku sendiri. Aku pikir aku kurang cantik, kurang perhatian, atau tidak cukup menarik untuk membuat suamiku ingin pulang.”
Adrian mengangkat wajah.
“Laras…”
“Padahal yang kurang selama ini bukan aku. Yang kurang adalah kejujuranmu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Adrian mencoba mendekat, tetapi aku menggeleng.
“Dan Clara?”
Dia kembali terdiam.
Aku menatapnya tajam.
“Kenapa kamu menjemputnya pada malam ulang tahun pernikahan kita?”
Adrian menarik napas panjang.
“Clara kembali karena perusahaan perantaranya sedang diperiksa auditor. Ada sejumlah transaksi yang dipertanyakan.”
“Lalu?”
“Dia takut namanya terseret. Dia meminta aku menemuinya sebelum dokumen-dokumen itu diserahkan.”
Aku membeku.
“Jadi kamu meninggalkan istrimu pada malam ulang tahun pernikahan demi menyelesaikan masalah bisnis dengan mantan kekasihmu?”
Adrian tidak menjawab.
“Mas, bahkan setelah semua ini, kamu masih tidak memahami apa yang paling menyakitkan bagiku.”
Dia menunduk.
“Aku salah.”
Aku mengusap air mata.
“Tapi kesalahanmu sudah terlalu banyak untuk diselesaikan hanya dengan dua kata.”
Pertemuan itu berakhir tanpa perdamaian.
Melalui penasihat hukum, aku menyerahkan informasi yang relevan kepada pihak yang berwenang memeriksa transaksi proyek. Aku tidak mengetahui apakah semua kecurigaanku akan terbukti, dan aku tidak ingin menuduh siapa pun tanpa pemeriksaan yang sah.
Beberapa minggu kemudian, Mahendra Group mengumumkan audit independen terhadap proyek tersebut.
Sejumlah transaksi perusahaan perantara ditangguhkan untuk ditinjau. Adrian juga sementara melepaskan sebagian kewenangan operasionalnya selama pemeriksaan berlangsung.
Berita itu segera menyebar.
Media mulai menulis tentang persoalan tata kelola perusahaan yang dipimpin direktur muda tersebut.
Namun, aku tidak merasakan kepuasan melihat namanya menjadi sorotan.
Aku hanya merasa sedih karena lelaki yang pernah kucintai ternyata menyimpan begitu banyak rahasia.
Suatu malam, Clara menghubungiku.
Awalnya aku tidak ingin menjawab.
Namun, setelah mempertimbangkannya, aku menerima panggilannya.
“Laras, aku ingin meminta maaf.”
Aku terdiam.
“Untuk apa?”
“Karena selama ini aku mengetahui alasan Adrian mendekatimu pada awal hubungan kalian.”
Aku menggenggam ponsel.
“Jadi kamu tahu semuanya?”
“Iya.”
“Dan kamu membiarkanku menikah dengannya?”
Clara tidak langsung menjawab.
“Aku pikir hubungan itu akhirnya menjadi sungguhan. Adrian pernah mengatakan bahwa dia mencintaimu.”
Aku tertawa pahit.
“Kalau memang begitu, seharusnya dia jujur.”
Clara terdiam.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Laras, Adrian sudah menolak proyek itu beberapa bulan sebelum kamu pergi.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Dia sebenarnya meminta direksi menghentikan negosiasi tanah keluargamu. Tapi investor utama tidak setuju.”
Aku memejamkan mata.
Untuk sesaat, hatiku terasa goyah.
Apakah Adrian memang pernah mencoba memperbaiki kesalahannya?
Namun, aku segera menyadari bahwa keputusan bisnis tersebut tidak menghapus tiga tahun kesepian yang kualami.
“Clara, terima kasih sudah memberitahuku. Tapi itu tidak mengubah keputusanku.”
Setelah menutup telepon, aku menangis cukup lama.
Bukan karena ingin kembali kepada Adrian.
Melainkan karena aku mulai memahami bahwa seseorang bisa memiliki perasaan yang tulus sekaligus melakukan tindakan yang sangat menyakitkan.
Cinta tidak otomatis membuat kebohongan menjadi benar.
Beberapa bulan berlalu.
Proses perceraian kami akhirnya selesai melalui pengadilan. Aku menerima penyelesaian hak-hakku sesuai kesepakatan dan ketentuan yang berlaku.
Aku juga kembali bekerja di bidang desain interior, pekerjaan yang pernah kutinggalkan setelah menikah.
Dengan bantuan Maya, aku membuka studio kecil di Jakarta Selatan.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun, setiap sudutnya kutata sendiri.
Suatu sore, ketika sedang memasang papan nama studio, sebuah mobil hitam berhenti di depan bangunan.
Adrian turun.
Penampilannya jauh lebih sederhana dibandingkan ketika terakhir kali kami bertemu.
Dia membawa sebuah amplop putih.
“Aku nggak akan lama,” katanya.
Aku mengangguk.
“Ada apa, Mas?”
Dia menyerahkan amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat surat pribadi yang ditulis dengan tangan.
“Aku nggak meminta kamu kembali. Aku cuma ingin kamu tahu sesuatu.”
Aku membacanya setelah dia pergi.
Dalam surat itu, Adrian mengakui bahwa pada awalnya dia mendekatiku karena pertimbangan bisnis. Namun, dia juga menuliskan kenangan tentang hari-hari ketika kami masih berpacaran.
Tentang bagaimana aku pernah membantunya ketika mobilnya mogok di tengah hujan.
Tentang malam ketika kami makan bakso di pinggir jalan karena restoran mahal yang dipesannya tutup.
Tentang caraku tertawa ketika dia salah menyebut nama bunga favoritku.
Di halaman terakhir terdapat satu kalimat.
Aku mungkin mulai mengenalmu dengan alasan yang salah, tetapi kehilanganmu membuatku sadar bahwa ada sesuatu yang sungguh berharga yang telah kusia-siakan.
Aku melipat surat itu perlahan.
Air mataku jatuh.
Namun, kali ini aku tidak mengejarnya.
Setahun kemudian, studio kecilku berkembang menjadi usaha yang cukup dikenal. Aku mendapat beberapa proyek renovasi rumah dan ruang kerja.
Aku mulai memiliki tabungan sendiri.
Aku bepergian bersama Maya.
Aku kembali mengunjungi orang tuaku tanpa harus menyesuaikan jadwal dengan siapa pun.
Suatu hari, seorang klien bertanya mengapa aku menamai studioku Ruang Pulang.
Aku tersenyum.
“Karena menurut saya, rumah bukan selalu bangunan paling besar atau paling mahal.”
Klien itu mengangguk penasaran.
“Lalu apa?”
Aku menatap ruang kerja yang dipenuhi cahaya matahari.
“Rumah adalah tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memohon untuk dihargai.”
Malam itu, ketika menutup studio, aku menerima kabar bahwa Mahendra Group telah menyelesaikan pemeriksaan internal dan menyerahkan sejumlah temuan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti.
Aku membaca berita tersebut sebentar.
Kemudian mematikan layar ponsel.
Dulu, setiap keputusan Adrian menentukan bagaimana perasaanku sepanjang hari.
Jika dia pulang, aku bahagia.
Jika dia mengabaikanku, aku menangis.
Jika dia tersenyum kepada perempuan lain, aku merasa tidak berharga.
Namun, sekarang hidupku tidak lagi bergerak mengikuti langkahnya.
Aku berjalan keluar studio dan mengunci pintu.
Di luar, hujan Jakarta mulai turun.
Aku membuka payung sendiri.
Lalu tiba-tiba teringat foto Adrian melindungi Clara dari hujan pada malam ulang tahun pernikahan kami.
Dulu, foto itu membuatku merasa sebagai perempuan paling tidak dicintai di dunia.
Sekarang, aku hanya tersenyum kecil.
Karena akhirnya aku mengerti.
Aku tidak membutuhkan seorang lelaki untuk memayungiku agar merasa berharga.
Aku hanya membutuhkan keberanian untuk berhenti berdiri di tempat yang terus membuatku kehujanan.
Dan ketika aku melangkah menyusuri trotoar Jakarta malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak sedang menunggu seseorang datang menjemputku.
Aku sedang pulang menuju kehidupan yang kupilih sendiri.
