
“Kalau Aditya sampai mengetahui siapa yang sebenarnya mengatur warisan itu, kita semua akan hancur!”
Suara Sekar terdengar dari kamar utama. Tangisannya bercampur dengan kemarahan, sementara Ayah berdiri di hadapannya sambil menggenggam buku bersampul cokelat.
Aku masih berada dalam gendongan Mbak Sari, pengasuh kami. Tubuh kecilku terasa lemah, tetapi pikiranku bekerja begitu cepat.
Di kehidupan sebelumnya, aku meninggal tanpa mengetahui siapa yang sebenarnya menginginkan kematianku.
Sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa jawaban itu sudah dekat.
“Ada siapa lagi yang terlibat, Sekar?” tanya Ayah dengan suara dingin.
Ibu menggeleng sambil menangis.
“Aku cuma ingin melindungi masa depan Laras.”
“Dengan mencelakai Kirana?”
Ibu tidak menjawab.
Ayah membuka kembali halaman terakhir buku tersebut.
Di sana tercantum nama seseorang yang sangat dikenalnya.
Bramantyo Wirawan.
Paman Bram.
Dia adalah adik almarhum kakekku sekaligus direktur keuangan perusahaan keluarga Prameswari.
Selama lebih dari dua puluh tahun, Paman Bram membantu Ayah mengurus investasi, pembelian tanah, dan pengelolaan aset perusahaan.
Ayah bahkan pernah mengatakan bahwa tanpa bantuan Paman Bram, bisnisnya mungkin tidak akan berkembang sebesar sekarang.
Namun mengapa nama orang itu muncul dalam dokumen yang membahas penyingkiran hak warisku?
“Apa hubungan Bram dengan semua ini?” desak Ayah.
Sekar menutup wajah.
“Dia cuma membantu menjelaskan dokumen keluarga.”
“Dokumen apa yang membuatmu menulis bahwa Kirana harus disingkirkan?”
Ibu terdiam.
Ayah meletakkan buku itu ke dalam tas kerjanya.
“Kita bicarakan setelah anak-anak diperiksa. Mulai sekarang, tidak ada seorang pun yang boleh memberikan makanan atau susu kepada kedua putriku tanpa persetujuan dokter.”
Ibu hendak membantah, tetapi Ayah sudah meninggalkan kamar.
Malam itu, kami dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.
Dokter anak langsung memeriksaku karena berat badanku jauh di bawah kondisi yang diharapkan untuk usiaku.
Aku mengalami dehidrasi dan gangguan pencernaan yang membutuhkan penanganan.
Kaleng susu yang sebelumnya diberikan Ibu juga diserahkan untuk pemeriksaan.
“Pak Aditya, produk ini tidak diperuntukkan bagi bayi manusia,” jelas dokter. “Kami harus mengevaluasi kondisi Kirana secara menyeluruh.”
Ayah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Saya seharusnya menyadarinya lebih awal.”
Dokter memintanya fokus pada perawatanku dan memastikan semua informasi tentang pemberian susu dicatat dengan benar.
Selama dua hari berikutnya, aku dirawat dengan pengawasan ketat.
Laras berada di ruangan berbeda untuk pemeriksaan, meskipun kondisinya jauh lebih baik.
Setiap malam Ayah duduk di samping tempat tidurku.
Dia menggenggam tanganku yang mungil dan berbisik.
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah terlalu sibuk menjaga perusahaan sampai lupa memastikan kalian benar-benar aman.”
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak menyalahkannya sepenuhnya.
Namun kali ini, kemampuan berbicara ajaib itu tidak muncul.
Aku hanya bisa menggenggam jarinya.
Pada hari ketiga, seseorang datang menjenguk.
Paman Bram.
Pria berusia lima puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih mahal dan membawa bingkisan buah.
“Aditya, aku dengar Kirana sakit. Bagaimana kondisinya?”
Ayah berdiri.
“Sudah membaik.”
Bram mengangguk.
“Syukurlah. Anak kecil memang gampang sakit.”
Aku memperhatikan wajahnya.
Dalam kehidupan sebelumnya, Paman Bram juga pernah datang menjengukku.
Aku ingat suara laki-laki yang berbicara dengan Ibu di luar kamar.
Saat itu aku tidak memahami percakapan mereka.
Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.
Bram mendekati tempat tidurku.
“Kasihan sekali. Tubuhnya kecil sekali dibandingkan kakaknya.”
Tangannya bergerak hendak menyentuh pipiku.
Aku langsung menangis keras.
Bram terkejut.
“Lho, kenapa?”
Ayah segera menghalangi tangannya.
“Kirana masih perlu istirahat.”
Bram tersenyum kaku.
“Tentu.”
Kemudian dia berkata dengan nada santai.
“Ngomong-ngomong, ada beberapa dokumen perusahaan yang perlu kamu tanda tangani. Aku sudah meminta sekretaris menyiapkannya.”
Ayah menatapnya.
“Dokumen apa?”
“Cuma pembaruan struktur pengelolaan aset keluarga.”
Aku merasakan sesuatu yang aneh.
Ayah tidak langsung menjawab.
“Bram, untuk sementara semua perubahan aset keluarga kutunda.”
Senyum Bram menghilang sesaat.
“Kenapa?”
“Aku sedang memeriksa beberapa hal.”
“Hal apa?”
Ayah menatapnya tanpa berkedip.
“Termasuk dokumen yang mencantumkan namamu.”
Wajah Bram langsung menegang.
Namun dia segera tertawa kecil.
“Aditya, aku sudah puluhan tahun mengurus urusan keuanganmu. Masa kamu masih meragukanku?”
“Aku hanya ingin semuanya jelas.”
Bram tidak membalas.
Dia berpamitan beberapa menit kemudian.
Begitu pintu tertutup, Ayah menghubungi seseorang.
“Pak Damar, saya ingin seluruh dokumen pengelolaan aset keluarga diperiksa oleh tim independen. Jangan beri tahu Bram dulu.”
Aku menatap Ayah.
Untuk pertama kalinya, dia mulai menggunakan ketelitiannya bukan hanya untuk melindungi perusahaan, tetapi juga anak-anaknya.
Seminggu kemudian, hasil pemeriksaan awal dokumen tiba.
Pak Damar, pengacara keluarga, menemui Ayah di rumah.
Aku dan Laras sudah diperbolehkan pulang, tetapi kami ditempatkan di kamar yang sama dengan pengawasan pengasuh baru dan Mbak Sari.
Sekar sementara tinggal di rumah orang tuanya. Ayah telah mengambil langkah perlindungan dan meminta bantuan pihak berwenang untuk memeriksa dugaan perlakuan berbahaya terhadapku.
Sore itu, aku mendengar percakapan dari ruang kerja.
“Pak Aditya, ada kejanggalan serius dalam rancangan pengelolaan aset untuk kedua putri Bapak.”
Ayah mengerutkan kening.
“Kejanggalan apa?”
“Dokumen asli yang disiapkan kantor kami mengatur kepentingan kedua anak secara setara. Namun ada versi lain yang menempatkan pengelolaan seluruh aset anak-anak di bawah satu pihak apabila salah satu penerima manfaat meninggal.”
Ayah terdiam.
“Siapa pihak tersebut?”
Pak Damar mengeluarkan dokumen.
“Dalam rancangan itu, Sekar menjadi pengelola utama, dengan Bramantyo sebagai pihak yang diberi kewenangan tambahan.”
Suasana mendadak sunyi.
Ayah membaca setiap halaman.
“Apakah dokumen ini sah?”
“Belum. Justru kami menemukan tanda tangan yang perlu diperiksa keasliannya.”
Ayah mengangkat wajah.
“Tanda tangan siapa?”
“Bapak sendiri.”
Aku mendengar kursi bergeser keras.
“Aku tidak pernah menandatangani ini!”
Pak Damar mengangguk.
“Itulah sebabnya kami menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.”
Malam itu, Ayah memanggil Paman Bram ke rumah.
Sekar juga diminta datang dengan didampingi anggota keluarganya.
Aku dan Laras berada di kamar sebelah bersama Mbak Sari.
Namun pintu yang sedikit terbuka membuat suara mereka terdengar jelas.
“Bram, jelaskan dokumen ini,” kata Ayah.
Bram memeriksanya sekilas.
“Itu cuma rancangan.”
“Dengan tanda tanganku yang tidak pernah kubuat?”
Bram terdiam.
Sekar mulai menangis.
“Mas, aku enggak tahu soal tanda tangan itu.”
Ayah menatapnya.
“Tapi kamu tahu tentang rencana pengelolaan warisan?”
Sekar mengangguk perlahan.
“Bram bilang kalau Laras menjadi satu-satunya penerima manfaat, pengelolaan aset anak-anak akan lebih sederhana.”
“Dan karena itu kamu merasa Kirana harus mati?”
Ibu menutup wajahnya.
“Aku takut, Mas!”
“Takut apa?”
“Bram bilang perusahaan sedang menghadapi masalah besar. Kalau pengelolaan aset anak-anak terpecah, dia bilang keluarga kita bisa kehilangan semuanya.”
Bram langsung berdiri.
“Sekar! Jangan sembarangan bicara!”
Ayah menghantam meja.
“Duduk!”
Bram membeku.
Pak Damar kemudian menunjukkan laporan keuangan yang telah diperiksa.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat transaksi mencurigakan antara salah satu anak perusahaan Prameswari dan perusahaan lain yang memiliki hubungan kepemilikan dengan Bram.
Jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah.
Ayah memandangi laporan itu dengan wajah pucat.
“Kamu menggunakan perusahaan kita untuk transaksi yang tidak pernah kusetujui?”
Bram menggeleng.
“Itu investasi!”
“Lalu kenapa dokumennya disembunyikan?”
Tidak ada jawaban.
Pak Damar menjelaskan bahwa tim pemeriksa masih harus menelusuri transaksi tersebut. Namun ada indikasi bahwa Bram ingin memperoleh kendali lebih luas atas aset tertentu untuk menutupi masalah keuangan yang telah diciptakannya.
Sekar menangis semakin keras.
“Aku enggak tahu uangnya sebanyak itu!”
Ayah menatap istrinya dengan mata merah.
“Tapi kamu tahu apa yang kamu lakukan kepada anak kita.”
Kalimat itu membuat Sekar terdiam.
Tiba-tiba Laras bergerak di ranjangnya.
Aku menoleh.
Kakakku menatapku dengan mata yang terlalu tenang untuk seorang bayi.
Kemudian bibirnya bergerak.
“Kirana, sekarang waktunya.”
Aku membeku.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di kamar bayi, aku kembali mendengar suaranya dengan jelas.
“Kakak juga mengingat kehidupan sebelumnya?” tanyaku dengan suara sangat pelan.
Laras mengangguk.
“Dalam kehidupan itu, setelah kamu meninggal, Ayah tidak pernah tahu kebenarannya.”
Jantungku terasa berdebar.
“Apa yang terjadi?”
Mata Laras berkaca-kaca.
“Ketika aku berusia lima tahun, Ayah mengalami kecelakaan. Setelah itu, Paman Bram menguasai sebagian besar keputusan perusahaan melalui orang-orang yang ditempatkannya.”
Aku tidak mampu menjawab.
Laras melanjutkan.
“Ibu akhirnya mengetahui bahwa Bram telah membohonginya. Mereka bertengkar hebat. Perusahaan kehilangan banyak uang, dan keluarga kita hancur.”
Aku menatap kakakku.
“Lalu Kakak?”
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Aku tumbuh sebagai anak yang selalu disebut pembawa keberuntungan. Tapi sebenarnya aku sangat kesepian.”
Aku ingin memeluknya.
Namun tubuh mungilku belum mampu bergerak sejauh itu.
Laras berbisik lagi.
“Aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya.”
Saat itulah aku memahami mengapa kakakku sejak awal berusaha membelaku.
Dia bukan sekadar mengetahui rencana Ibu.
Dia juga mendapatkan kesempatan kedua.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari ruang kerja.
Bram berusaha meninggalkan rumah.
Namun Ayah telah meminta petugas keamanan menjaga akses keluar sambil menunggu pihak berwenang yang dihubunginya datang.
“Aditya, kamu akan menyesal mempermalukan keluargamu sendiri!” bentak Bram.
Ayah menjawab dengan suara tegas.
“Keluargaku adalah dua anak yang hampir kehilangan masa depannya karena keserakahan kalian.”
Beberapa waktu kemudian, petugas datang untuk menerima laporan dan mengamankan dokumen yang relevan sesuai prosedur.
Bram dan Sekar dimintai keterangan lebih lanjut.
Pemeriksaan transaksi keuangan serta dugaan pemalsuan dokumen berlangsung selama berbulan-bulan.
Ayah tidak pernah mencoba menutupinya demi menjaga nama baik keluarga.
Dia juga memastikan aku mendapatkan perawatan medis dan pemantauan tumbuh kembang secara rutin.
Perlahan, berat badanku bertambah.
Pipiku mulai berisi.
Aku semakin aktif.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendapatkan susu, pakaian, perhatian, serta kasih sayang yang sama dengan Laras.
Suatu malam, Ayah duduk di antara dua ranjang kami.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat dua gelang emas mungil.
Masing-masing bertuliskan nama kami.
Larasati.
Kirana.
Ayah memasangkannya dengan hati-hati.
“Dengar, Nak. Ayah tidak tahu apakah kalian akan mengingat semua yang terjadi saat besar nanti.”
Dia mengusap kepalaku.
“Tapi Ayah ingin kalian tahu satu hal. Tidak ada anak yang dilahirkan untuk membawa petaka.”
Kemudian dia menatap Laras.
“Dan tidak ada anak yang harus menanggung beban menjadi pembawa keberuntungan keluarga.”
Air mataku mengalir.
Ayah tersenyum sedih.
“Kalian berdua adalah anak Ayah. Itu sudah lebih dari cukup.”
Beberapa tahun berlalu.
Aku dan Laras tumbuh menjadi dua anak yang sehat.
Kami sangat dekat, meskipun kepribadian kami berbeda.
Laras lebih tenang dan gemar membaca.
Sedangkan aku lebih suka bertanya, berlari, dan mencoba hal-hal baru.
Ayah tidak pernah membandingkan kami.
Dia mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh ramalan, melainkan oleh usaha, kesempatan, dan pilihan yang dibuatnya.
Ketika kami berusia tujuh tahun, sebuah surat tiba di rumah.
Surat itu berasal dari Sekar.
Setelah menjalani proses hukum dan menerima konsekuensi atas perbuatannya, dia meminta kesempatan untuk menyampaikan permintaan maaf.
Ayah tidak langsung mengabulkannya.
Dia terlebih dahulu berkonsultasi dengan pihak yang memahami kebutuhan dan keselamatan anak.
Kemudian dia bertanya kepada kami.
“Kalian ingin membaca surat dari Ibu?”
Aku memandang Laras.
Kakakku menggenggam tanganku.
Kami mengangguk.
Di dalam surat itu, Sekar menuliskan penyesalannya.
Dia mengakui bahwa ketakutan, keserakahan, dan kepercayaannya pada ramalan telah membuatnya memperlakukan kedua anaknya dengan tidak adil.
Namun ada satu kalimat yang membuatku menangis.
“Kirana, Ibu pernah menganggapmu sebagai penghalang kebahagiaan. Padahal kamulah yang membuat semua orang akhirnya melihat kebenaran.”
Aku melipat surat itu perlahan.
Laras memelukku.
“Adik marah?”
Aku mengangguk.
“Masih.”
“Kamu ingin memaafkan Ibu?”
Aku terdiam cukup lama.
“Mungkin suatu hari nanti. Tapi aku belum siap.”
Laras tersenyum.
“Enggak apa-apa.”
Aku memandang gelang emas di pergelangan tanganku.
Selama bertahun-tahun, aku mengira kesempatan kedua diberikan kepadaku agar aku bisa mengalahkan orang-orang yang ingin menghancurkanku.
Namun sekarang aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Kesempatan kedua bukan hanya tentang membalas masa lalu.
Melainkan tentang memiliki keberanian untuk membangun masa depan yang berbeda.
Pada ulang tahun kami yang kedelapan, Ayah mengajak kami menanam dua pohon mangga di halaman rumah.
Satu pohon untuk Laras.
Satu pohon untukku.
Ketika selesai menanam, aku bertanya.
“Ayah, kalau pohon Laras tumbuh lebih tinggi daripada pohonku, apakah berarti Laras lebih beruntung?”
Ayah tertawa.
“Tidak, Sayang.”
“Kenapa?”
“Karena setiap pohon tumbuh dengan caranya sendiri. Yang penting, keduanya mendapatkan tanah, air, dan cahaya yang cukup.”
Aku menatap dua bibit kecil itu.
Kemudian tersenyum kepada Laras.
Kakakku menggenggam tanganku.
Dan pada saat itu, aku menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan yang kuingat, aku tidak lagi takut pada hari esok.
Aku tidak perlu menjadi anak yang paling beruntung.
Tidak perlu menjadi pewaris terbesar.
Tidak perlu membuktikan bahwa ramalan tentang diriku salah.
Aku hanya ingin hidup.
Dicintai.
Dan tumbuh bersama kakak yang pernah mempertaruhkan kesempatan keduanya untuk menyelamatkanku.
Karena pada akhirnya, bukan aku yang membawa petaka bagi keluarga Prameswari.
Petaka itu datang dari orang-orang yang membiarkan ketakutan dan keserakahan menguasai hati mereka.
Sedangkan keberuntungan terbesar keluarga kami bukanlah harta, perusahaan, ataupun warisan.
Melainkan kenyataan bahwa dua anak yang hampir dipisahkan oleh kebencian akhirnya dapat tumbuh bersama, tanpa seorang pun harus dikorbankan demi kebahagiaan yang lain.
