PRIA KAYA INI MENIKAHI GADIS BERTUBUH GEMUK HANYA DEMI MEMENANGKAN

“Orang yang membantu merencanakan taruhan itu adalah sahabatmu sendiri, Bianca. Namanya Rika.”

Aku menatap Adrian tanpa berkedip.

Hujan masih mengguyur halaman gedung seminar di Jakarta Selatan. Sopir taksi online yang kupesan sudah menunggu, tetapi kakiku seolah terpaku di lantai.

“Jangan sembarangan menuduh Rika!” bentakku.

Adrian menunduk.

“Aku tahu kamu sulit percaya. Tapi namanya ada dalam rekaman kedua.”

Aku merasa dadaku sesak.

Rika Anindya adalah sahabatku sejak kuliah. Dialah yang menemaniku ketika aku pertama kali berpacaran dengan Adrian. Dia ikut memilih gaun pengantinku, memegang tanganku sebelum akad, bahkan memelukku ketika aku mengetahui taruhan menjijikkan itu.

Selama dua tahun setelah perpisahanku, Rika juga menjadi salah satu orang yang paling sering menghiburku.

Bagaimana mungkin dia terlibat?

“Kenapa Rika melakukan itu?” tanyaku.

Adrian menggeleng.

“Aku nggak tahu seluruh alasannya. Tapi dia menerima uang dari salah satu temanku.”

Aku menatapnya tajam.

“Dan kamu baru memberitahuku sekarang?”

“Aku baru mendapatkan rekaman lengkapnya minggu lalu.”

Aku menarik napas panjang.

“Kirimkan rekaman itu ke pengacaraku. Jangan hubungi aku lagi malam ini.”

Adrian mengangguk.

Aku segera masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan pulang, ponselku terus bergetar. Berbagai akun media sosial mulai membagikan video lama yang menunjukkan Adrian dan teman-temannya membicarakan taruhan mobil sport tersebut.

Komentar berdatangan tanpa henti.

Sebagian orang mengecam tindakan mereka. Namun, tidak sedikit yang kembali menjadikan bentuk tubuhku sebagai bahan pembicaraan.

Aku mematikan notifikasi.

Aku sudah menghabiskan dua tahun membangun kembali kepercayaan diriku. Aku tidak ingin membiarkan orang asing menghancurkannya sekali lagi.

Keesokan paginya, aku menemui pengacaraku, Dina Prameswari.

Dia telah menerima rekaman yang dikirim Adrian.

“Kita dengarkan bersama, Bianca,” katanya.

Aku mengangguk.

Rekaman itu berasal dari sebuah ruangan hotel, beberapa bulan sebelum Adrian melamarku.

Awalnya terdengar suara beberapa lelaki tertawa.

Kemudian suara seorang perempuan muncul.

“Bianca itu gampang percaya kalau ada cowok yang memperlakukannya dengan baik.”

Aku membeku.

Suara itu.

Rika.

Aku mengenalinya dengan sangat jelas.

Seorang lelaki bertanya, “Kamu yakin Adrian bisa membuat dia mau menikah?”

Rika tertawa kecil.

“Yakin. Dia sudah lama merasa nggak ada lelaki yang benar-benar tertarik sama dia. Kalau Adrian serius mendekati, dia pasti luluh.”

Tanganku mulai gemetar.

Dalam rekaman tersebut, seorang teman Adrian kemudian membicarakan hadiah mobil sport. Rika meminta sejumlah uang sebagai imbalan karena telah membantu mengatur pertemuan pertama kami di acara amal.

Aku menutup mulut.

Jadi pertemuan yang selama ini kuanggap kebetulan ternyata sudah direncanakan.

Bahkan acara amal tempat kami pertama kali berbicara telah digunakan sebagai panggung untuk mempermainkanku.

Bu Dina menghentikan rekaman.

“Kamu ingin melanjutkan?”

Aku mengangguk meskipun air mata sudah membasahi pipiku.

Bagian berikutnya memperdengarkan suara Adrian.

“Kalau Bianca sampai tahu, bagaimana?”

Rika menjawab santai.

“Dia nggak akan tahu selama kalian pintar menjaga rahasia.”

Aku memejamkan mata.

Namun, ada satu kalimat terakhir yang membuatku semakin hancur.

Rika berkata bahwa dia akan terus berada di dekatku agar bisa mengetahui apakah aku mulai mencurigai sesuatu.

Aku menatap Bu Dina.

“Berarti selama ini dia bukan cuma membantu taruhan itu.”

Bu Dina mengangguk perlahan.

“Dia juga memberikan informasi tentang kehidupan pribadimu kepada mereka.”

Aku menangis.

Bukan karena Adrian.

Luka yang ditinggalkannya memang pernah sangat dalam, tetapi aku sudah belajar hidup tanpanya.

Yang menghancurkanku sekarang adalah kenyataan bahwa perempuan yang selama ini kupanggil sahabat justru memanfaatkan kelemahan yang pernah kuceritakan kepadanya dengan penuh kepercayaan.

Siang itu, aku menghubungi Rika.

“Rik, kita perlu ketemu.”

Dia menjawab dengan nada ceria.

“Boleh, Bi. Aku juga mau ngomong soal video Adrian yang lagi ramai itu.”

Kami bertemu di sebuah kafe di Kemang.

Rika datang mengenakan blus merah muda dan membawa tas bermerek. Dia langsung memelukku.

“Bianca, kamu pasti stres banget, ya?”

Aku tidak membalas pelukannya.

Rika terlihat bingung.

“Kamu kenapa?”

Aku meletakkan ponsel di atas meja.

Kemudian memutar sebagian rekaman.

Begitu mendengar suaranya sendiri, wajah Rika langsung berubah.

Dia menatap layar.

Kemudian menatapku.

“Bianca…”

Aku menarik napas panjang.

“Berapa uang yang kamu terima untuk menjual kepercayaanku?”

Rika menunduk.

“Bi, aku bisa jelaskan.”

“Berapa?”

Dia menggigit bibir.

“Lima puluh juta.”

Aku tertawa getir.

Lima puluh juta rupiah.

Harga persahabatan yang telah kami bangun selama hampir sepuluh tahun.

“Kenapa, Rik?”

Air mataku mulai jatuh.

“Apa aku pernah menyakitimu?”

Rika menggeleng cepat.

“Nggak.”

“Apa aku pernah mengambil sesuatu darimu?”

Dia kembali menggeleng.

“Lalu kenapa?”

Rika menutup wajahnya.

Beberapa saat kemudian, dia mulai menangis.

“Aku iri sama kamu.”

Aku membeku.

“Iri?”

Dia mengangguk.

“Kamu selalu bisa melakukan sesuatu yang aku nggak berani lakukan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu punya pekerjaan yang bagus. Kamu membangun usaha sendiri. Orang-orang mendengarkan pendapatmu.”

Rika mengusap air matanya.

“Sementara aku selalu merasa tertinggal.”

Aku menggeleng perlahan.

“Jadi kamu ingin menghancurkan hidupku?”

“Aku nggak pernah mengira Adrian benar-benar akan menikahimu!”

Aku terdiam.

“Awalnya aku pikir itu cuma permainan bodoh. Aku juga sedang punya utang. Waktu mereka menawarkan uang, aku menerimanya.”

Aku menatapnya lama.

“Lalu setelah Adrian melamarku, kenapa kamu nggak menghentikan semuanya?”

Rika tidak menjawab.

“Kenapa kamu ikut memilih gaun pengantinku?”

Air mataku kembali jatuh.

“Kenapa kamu berdiri di sampingku ketika aku mengucapkan janji pernikahan?”

Rika menunduk semakin dalam.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Dan setelah semuanya terbongkar, kenapa kamu memelukku sambil mengatakan bahwa aku pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik?”

Rika menangis semakin keras.

“Maafkan aku, Bianca.”

Aku mengusap pipi.

“Selama dua tahun, aku menyalahkan tubuhku sendiri. Kamu tahu itu.”

Dia terdiam.

“Kamu mendengarkan semua ceritaku. Kamu melihat aku kesulitan tidur, takut bertemu orang, bahkan menangis di depan cermin.”

Aku menggenggam ujung meja.

“Tapi kamu tetap diam.”

Rika mencoba meraih tanganku.

Aku menariknya.

“Aku nggak bisa melanjutkan persahabatan ini.”

Wajahnya langsung pucat.

“Bianca, tolong. Kita sudah berteman lama.”

Aku mengangguk.

“Justru karena itu pengkhianatanmu terasa jauh lebih menyakitkan.”

Aku berdiri dan meninggalkannya.

Beberapa hari kemudian, skandal taruhan tersebut semakin meluas.

Sejumlah perusahaan yang sebelumnya bekerja sama dengan Adrian mulai meninjau ulang hubungan bisnis mereka. Adrian juga mengundurkan diri dari jabatan direktur di salah satu perusahaan keluarga.

Sementara itu, beberapa orang yang terlibat dalam rekaman mulai saling menyalahkan.

Aku tidak ikut memperkeruh keadaan.

Melalui pengacaraku, aku meminta agar rekaman dan informasi pribadiku tidak disebarluaskan tanpa izin. Aku juga mempertimbangkan langkah hukum terhadap pihak yang menggunakan identitasku untuk penghinaan dan penyebaran konten yang merugikan.

Namun, aku menolak memberikan wawancara yang hanya bertujuan menjadikan penderitaanku sebagai tontonan.

Suatu sore, Adrian kembali menghubungiku.

Kali ini melalui email.

Dia mengatakan sudah menyerahkan seluruh rekaman kepada pengacaraku dan bersedia memberikan keterangan jika diperlukan.

Di bagian akhir, dia menulis bahwa dirinya benar-benar menyesali semua yang telah dilakukan.

Aku membaca email itu sekali.

Kemudian menutupnya.

Aku tidak membalas.

Sebulan kemudian, aku mendapat undangan menjadi pembicara utama dalam sebuah acara mengenai penerimaan diri dan kesehatan mental di Bandung.

Awalnya aku ragu.

Aku tahu sebagian peserta mungkin mengenal kisahku dari video yang viral.

Namun, akhirnya aku memutuskan hadir.

Di atas panggung, aku berdiri mengenakan gaun biru tua yang memperlihatkan bentuk tubuhku sebagaimana adanya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak memilih pakaian berdasarkan keinginan menyembunyikan sesuatu.

Aku memilihnya karena menyukai warnanya.

Ketika sesi tanya jawab dimulai, seorang perempuan muda mengangkat tangan.

“Mbak Bianca, bagaimana caranya percaya kepada orang lain lagi setelah dikhianati?”

Aku terdiam beberapa saat.

Pertanyaan itu membuatku teringat Adrian.

Rika.

Dan semua malam ketika aku merasa tidak cukup baik.

Aku kemudian menjawab,

“Aku belum punya cara untuk memastikan orang lain nggak akan mengkhianatiku.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Tapi sekarang aku belajar bahwa mempercayai seseorang tidak berarti harus menyerahkan seluruh penilaian tentang diri kita kepadanya.”

Perempuan itu mengangguk perlahan.

Aku tersenyum.

“Kalau suatu hari seseorang memperlakukan kita dengan buruk, itu tidak otomatis berarti kita kurang cantik, kurang pintar, atau kurang pantas dicintai.”

Tepuk tangan mulai terdengar.

Namun, kejutan paling besar justru datang setelah acara selesai.

Seorang perempuan paruh baya menghampiriku.

Dia memperkenalkan diri sebagai ibu Adrian.

Aku langsung menegang.

“Bu, ada yang bisa saya bantu?”

Perempuan itu menggeleng.

“Saya datang bukan untuk meminta kamu kembali kepada anak saya.”

Aku terdiam.

Beliau mengeluarkan sebuah foto dari tasnya.

Foto pernikahan kami.

“Aku pernah menganggap Adrian anak yang sangat berhasil. Aku membanggakan hartanya, pekerjaannya, dan semua yang bisa dibelinya.”

Air matanya mulai menggenang.

“Tapi ternyata aku gagal mengajarinya menghormati orang lain.”

Aku menatapnya tanpa berkata-kata.

Beliau kemudian melanjutkan.

“Bianca, aku ingin meminta maaf karena dulu aku juga diam ketika mengetahui teman-teman Adrian sering mengejekmu.”

Dadaku terasa sesak.

Aku tidak pernah mengetahui bahwa ibu Adrian pernah mendengar ejekan itu.

“Kenapa Ibu nggak mengatakan apa-apa?”

Beliau menunduk.

“Karena aku takut mempermalukan anakku.”

Aku tersenyum sedih.

“Jadi semua orang lebih takut mempermalukan Adrian daripada menyakitiku.”

Perempuan itu menangis.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Namun, setelah beberapa saat, aku menjawab pelan.

“Saya menghargai permintaan maaf Ibu. Tapi saya nggak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.”

Beliau mengangguk.

“Saya mengerti.”

Kami berpisah dengan tenang.

Malam itu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, aku memandangi lampu-lampu kendaraan dari balik jendela.

Dulu, aku menganggap kebahagiaan akan datang ketika seorang lelaki tampan dan kaya memilihku sebagai istrinya.

Aku mengira pernikahan dengan Adrian membuktikan bahwa semua orang yang pernah mengejek tubuhku akhirnya salah.

Ternyata aku keliru.

Nilai diriku tidak pernah bergantung pada pilihan Adrian.

Tidak pula pada komentar Rika.

Dan bukan pada ukuran pakaian yang kukenakan.

Dua tahun lalu, aku kehilangan pernikahan karena sebuah taruhan.

Sekarang, aku kehilangan sahabat setelah mengetahui pengkhianatan yang lebih dalam.

Namun, aku tidak lagi merasa kehilangan diriku sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku memperluas usaha konsultasiku menjadi sebuah komunitas pendampingan bernama Ruang Berani.

Di sana, perempuan dari berbagai latar belakang bisa berbagi pengalaman tanpa takut direndahkan karena penampilan.

Suatu pagi, ketika sedang menyiapkan kegiatan komunitas, aku menerima sebuah paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat amplop cokelat kecil.

Aku membukanya dengan hati-hati.

Ada sebuah surat singkat dari Adrian.

Dia menulis bahwa mobil sport yang dulu menjadi hadiah taruhan telah dijual.

Sebagian hasil penjualannya digunakan untuk mendukung program pendidikan tentang pencegahan perundungan melalui lembaga independen.

Aku membaca surat itu tanpa perubahan ekspresi.

Namun, ada satu kalimat yang membuatku berhenti.

Aku dulu mengira memenangkan mobil itu akan membuatku menjadi lelaki paling hebat di antara teman-temanku. Sekarang aku mengerti bahwa aku justru kehilangan kehormatanku ketika menganggap manusia lain sebagai hadiah permainan.

Aku melipat surat tersebut.

Kemudian menyimpannya di laci.

Aku tidak merasa perlu menghubunginya.

Perubahan Adrian adalah tanggung jawabnya sendiri, bukan alasan bagiku untuk kembali.

Sore harinya, aku berdiri di depan cermin besar dalam ruang kegiatan komunitas.

Aku memperhatikan bayanganku.

Tubuhku masih berisi.

Pipiku masih bulat.

Lenganku tidak ramping seperti model-model yang sering kulihat di iklan.

Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak mencari sesuatu yang harus diperbaiki.

Aku hanya melihat seorang perempuan yang telah melewati banyak hal dan masih mampu berdiri tegak.

Aku tersenyum kepada bayanganku sendiri.

Dulu aku pernah merasa beruntung karena seorang lelaki kaya bersedia menikahiku.

Sekarang aku memahami bahwa akulah yang seharusnya menentukan apakah seseorang pantas mendapatkan tempat dalam hidupku.

Adrian pernah menjadikanku syarat untuk memenangkan mobil sport.

Rika pernah menjual kepercayaanku demi lima puluh juta rupiah.

Namun, keduanya tidak pernah berhasil mengambil sesuatu yang paling berharga.

Hak untuk menentukan siapa diriku.

Aku mematikan lampu ruangan dan berjalan menuju pintu.

Di luar, matahari sore menyinari jalanan Jakarta.

Tidak ada mobil sport yang menungguku.

Tidak ada lelaki kaya yang datang membawa bunga.

Hanya mobil sederhana milikku sendiri yang terparkir di halaman.

Aku masuk, memasang sabuk pengaman, lalu tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku tidak sedang menunggu seseorang memilihku.

Aku sudah memilih diriku sendiri.

Dan keputusan itu jauh lebih berharga daripada mobil sport mana pun di dunia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang