SUAMIKU DITUDUH MENCURI UANG PARA PEDAGANG PASAR, SEMENTARA AKU JUSTRU

“Pastikan Rani tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya mengatur semua ini.”

Suara Fikri terdengar begitu jelas hingga lututku hampir kehilangan tenaga.

Aku menatap layar ponsel Bu Sulastri dengan dada berdebar. Lelaki yang selama tujuh tahun menjadi suamiku itu terlihat menyerahkan amplop cokelat kepada Hadi. Wajahnya tegang, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat berbahaya.

“Sekarang kamu masih mau membela suamimu?” tanya Bu Sulastri dingin.

Aku tidak langsung menjawab.

“Putar videonya dari awal.”

“Untuk apa? Bukankah sudah jelas?”

“Kalau memang Fikri bersalah, kenapa Ibu takut memperlihatkan rekaman lengkapnya?”

Wulan yang berdiri di sampingku ikut mendesak. Akhirnya, dengan wajah kesal, Bu Sulastri memutar ulang video tersebut.

Aku memperhatikan setiap detail. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 10.15. Fikri mengenakan kemeja biru yang sangat kukenal.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

“Itu bukan uang,” kataku.

Bu Sulastri mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Amplop itu berisi dokumen medis dan salinan laporan keuangan.”

Aku mengenali amplop tersebut. Dua minggu sebelumnya, Fikri meminta bantuanku mencetak sejumlah dokumen dari laptopnya. Saat kutanya untuk apa, dia hanya mengatakan sedang membantu seorang teman menyelesaikan masalah administrasi.

Namun, bagian video yang ditunjukkan Bu Sulastri sengaja dipotong sebelum Hadi membuka amplop.

“Dari mana Ibu mendapatkan video ini?” tanyaku.

Bu Sulastri terdiam.

Sebelum dia menjawab, pintu kantor tiba-tiba terbuka.

Fikri berdiri di sana dengan napas terengah-engah.

“Rani, jangan tanda tangani apa pun!”

Aku berlari menghampirinya, tetapi berhenti ketika melihat luka memar di pelipisnya.

“Mas, sebenarnya apa yang terjadi?”

Fikri menatap buku besar di tanganku. Wajahnya langsung berubah.

“Kamu menemukan daftar itu?”

“Namamu ada di sini, Mas! Ada uang Rp96 juta atas namamu. Bahkan tanda tanganku juga dipalsukan!”

Fikri mengusap wajahnya.

“Aku tahu. Itulah yang sedang kuselidiki.”

Bu Sulastri mendadak tertawa.

“Cerita yang bagus. Sekarang kalian mau berpura-pura menjadi korban?”

Fikri tidak menanggapinya. Dia justru mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku celananya.

“Delapan bulan lalu, Hadi mulai mengalihkan pembayaran pedagang ke rekening pribadi. Aku mengetahuinya setelah seorang mantan rekan kerjaku diminta membuat sistem pencatatan keuangan untuk pengelola pasar.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Karena awalnya aku belum punya bukti. Setelah perusahaan tempatku bekerja tutup, aku mulai membantu memeriksa transaksi mereka. Ternyata uang para pedagang tidak hanya hilang. Ada rencana mengambil alih seluruh Blok Timur.”

Wulan mendekat.

“Mengambil alih untuk siapa?”

Fikri menunjuk buku besar bersampul biru.

“Perusahaan pengembang yang ingin membangun pusat perdagangan baru.”

Bu Sulastri langsung menyela.

“Omong kosong!”

“Kalau begitu, kenapa nama perusahaan itu disembunyikan di balik kode pembayaran?” balas Fikri.

Aku membuka kembali halaman terakhir.

Di bawah daftar penerima terdapat tulisan kecil yang sebelumnya tidak kuperhatikan.

PT Cakra Niaga Sentosa.

Wulan mengernyit.

“Aku pernah mendengar nama itu. Bukankah perusahaan tersebut milik putra Bu Sulastri?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Sulastri menggenggam ponselnya semakin erat.

“Anakku tidak ada hubungannya dengan masalah ini!”

Fikri menggeleng.

“Perusahaan itu memang terdaftar atas nama putra Ibu. Tetapi ada seseorang yang jauh lebih berkuasa di belakangnya.”

Belum sempat dia melanjutkan, Hadi muncul bersama dua lelaki berbadan besar.

“Serahkan buku itu!” bentaknya.

Salah seorang lelaki langsung melangkah ke arahku.

Wulan buru-buru berdiri menghadang.

“Jangan sentuh dia!”

Aku memeluk buku besar itu erat-erat.

Hadi menatapku dengan wajah penuh kemarahan.

“Kalian tidak tahu sedang berurusan dengan siapa!”

“Justru karena itu kami ingin tahu!” jawabku.

Fikri mengangkat ponselnya.

“Semua dokumen sudah kusalin. Rekaman percakapan, transaksi bank, dan surat kuasa palsu sudah tersimpan di beberapa tempat.”

Wajah Hadi seketika pucat.

Namun, kejutan terbesar datang dari Bu Sulastri.

Perempuan itu tiba-tiba berjalan mendekat dan menampar Hadi begitu keras hingga semua orang terdiam.

“Kamu bilang tidak akan ada pedagang yang kehilangan kios!” teriaknya dengan suara bergetar.

Hadi menatapnya tajam.

“Ibu sendiri yang menyetujui semuanya!”

“Aku menyetujui program renovasi, bukan penggusuran!”

Aku terkejut melihat air mata mengalir di pipi perempuan yang selama ini paling keras membenciku.

Ternyata tiga bulan sebelumnya, Bu Sulastri telah menyerahkan uang tabungan keluarganya sebesar Rp120 juta kepada Hadi. Dia dijanjikan kesempatan menjadi koordinator kios baru setelah renovasi pasar selesai.

Namun, dokumen yang ditandatanganinya ternyata digunakan sebagai persetujuan pengalihan hak sewa.

“Jadi Ibu juga tertipu?” bisik Wulan.

Bu Sulastri menunduk.

“Aku terlalu percaya pada janji mereka. Ketika tahu ada yang tidak beres, Hadi mengancam akan menjadikan anakku tersangka.”

Hadi mundur menuju pintu.

Namun, sebelum dia sempat keluar, dua polisi berpakaian sipil masuk bersama seorang petugas pengelola pasar.

Fikri menatapku.

“Aku sudah membuat laporan beberapa hari lalu. Hari ini penyidik datang untuk mengamankan dokumen aslinya.”

Hadi mencoba melarikan diri, tetapi langsung dihentikan.

Saat petugas memeriksa tasnya, ditemukan beberapa stempel, kuitansi kosong, serta dokumen persetujuan pengalihan kios.

Aku akhirnya bisa bernapas lega.

Namun, salah seorang penyidik tiba-tiba mengeluarkan selembar rekening koran.

“Pak Fikri, kami menemukan transaksi Rp96 juta yang masuk ke rekening atas nama Anda.”

Darahku kembali terasa membeku.

Fikri menatap dokumen itu.

“Itu bukan rekening saya.”

Penyidik menunjukkan foto pemilik rekening yang tercatat dalam dokumen pembukaan rekening.

Aku langsung menutup mulut.

Lelaki dalam foto tersebut adalah Arman, adik kandung Fikri.

Selama ini Arman bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan pengembang yang disebutkan dalam buku besar.

Fikri terlihat sama terkejutnya denganku.

“Arman pernah meminjam fotokopi KTP-ku untuk mengurus lamaran kerja,” gumamnya.

Penyidik mengangguk.

“Kami menduga identitas Anda digunakan untuk membuka rekening penampungan. Kami masih harus memeriksa keterlibatan masing-masing pihak.”

Sore itu, penyegelan kiosku ditunda setelah pengelola pasar menerima bukti keberatan dan laporan dugaan pemalsuan dokumen.

Beberapa hari kemudian, Arman datang sendiri ke kantor polisi didampingi pengacara.

Dia mengakui telah membantu Hadi membuat dokumen palsu karena terlilit utang pinjaman online. Namun, setelah diperiksa, keterangannya justru membuka jaringan penyelewengan yang melibatkan beberapa pihak di luar pasar.

Penyelidikan terus berjalan. Uang para pedagang belum seluruhnya kembali, dan proses hukum membutuhkan waktu.

Sebulan kemudian, aku kembali membuka kios nomor 17.

Wulan datang membawa sepiring nasi pecel hangat.

“Rani, aku mau minta maaf.”

Aku tersenyum kecil.

“Kita sama-sama hampir kehilangan segalanya.”

Dia menggeleng.

“Bedanya, waktu semua orang menuduh suamimu, aku ikut melempar batu. Tapi kamu justru membelaku ketika uangku hilang.”

Aku menerima nasi pecel itu dengan mata berkaca-kaca.

Tak lama kemudian, Bu Sulastri datang membawa sebuah map.

Isinya adalah salinan dokumen yang telah dia serahkan kepada penyidik.

“Aku tidak meminta kalian melupakan kesalahanku,” katanya pelan. “Aku hanya ingin memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.”

Aku memandang perempuan tua itu cukup lama sebelum mengangguk.

Malamnya, ketika menutup kios, Fikri menggenggam tanganku.

“Maaf karena aku menyembunyikan semuanya darimu.”

Aku menatapnya.

“Lain kali, jangan melindungiku dengan membuatku tidak tahu apa-apa. Kita suami istri, Mas. Kita harus menghadapi masalah bersama.”

Fikri mengangguk dan memelukku erat.

Saat itulah aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.

Pengkhianatan tidak selalu datang dari orang yang terang-terangan membenci kita. Terkadang, justru orang yang paling dipercaya menyimpan rahasia paling berbahaya.

Namun, ada hal yang lebih penting daripada mengetahui siapa yang bersalah.

Yaitu keberanian untuk tetap membela kebenaran, bahkan ketika orang yang membutuhkan pertolongan adalah seseorang yang pernah menyakiti kita.

Karena hari itu, aku tidak hanya berhasil mempertahankan kios kecil peninggalan ibuku.

Aku juga belajar bahwa keadilan tidak akan pernah lahir dari kebencian, melainkan dari keberanian orang-orang biasa yang menolak untuk terus dibungkam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang