Namun, senyum di wajahku seketika lenyap ketika melihat siapa yang masuk bersama Leandro.
Seorang wanita muda berjalan sambil menggandeng lengannya. Rambut hitam panjangnya tergerai, tubuhnya ramping, dan wajahnya begitu mirip denganku hingga aku merasa sedang menatap bayanganku sendiri.
Perbedaannya hanya satu. Wanita itu tampak sehat, sementara aku nyaris tidak mampu berdiri tanpa berpegangan.
Leandro menarik kursi untuknya, lalu mengecup kening wanita itu dengan penuh kasih.
“Sebentar lagi semuanya selesai, Sayang,” bisiknya.
Wanita itu tersenyum. “Kamu yakin Elara tidak akan sembuh?”
“Tentu saja. Dokter sudah mengatakan kondisinya semakin buruk. Begitu dia benar-benar tersingkir dari kehidupan kita, kamulah yang akan mengambil alih seluruh hidupnya.”
Darahku terasa membeku.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan, menahan jeritan yang hampir keluar.
Wanita itu mengambil gelas anggur sambil tertawa kecil.
“Aku sudah bosan bersembunyi, Leo. Setiap kali melihat foto pernikahan kalian, aku merasa ingin merobeknya.”
“Sabar, Selena. Kita sudah menunggu hampir setahun. Jangan merusak semuanya hanya karena beberapa hari.”
Selena.
Nama itu tidak asing. Aku pernah melihatnya dalam daftar kontak Leandro, tersimpan sebagai konsultan

.
Selena berjalan menuju cermin besar di ruang makan. Ia mengeluarkan sebuah foto dari tasnya, lalu membandingkannya dengan wajahnya sendiri.
“Operasi terakhir benar-benar berhasil. Bahkan bekas tahi lalat kecil di dekat bibirnya sudah sama.”
Leandro memeluknya dari belakang.
“Setelah pemakaman, kita tunggu beberapa bulan. Lalu kamu muncul sebagai kerabat jauh Elara. Dengan dokumen yang sudah disiapkan, kamu bisa mendapatkan akses ke rekening dan aset yang masih memerlukan persetujuan keluarga.”
Selena mengerutkan kening.
“Bagaimana dengan saham perusahaan Navarro?”
“Aku sudah mendapatkan kuasa pengelolaan sementara. Begitu Elara meninggal, pengacara keluarga akan menjalankan proses waris. Kita hanya perlu memastikan tidak ada yang mempertanyakan dokumen-dokumen itu.”
Aku hampir terjatuh.
Jadi selama ini, suamiku bukan sedang berjuang menyelamatkan hidupku.
Dia sedang menunggu kematianku.
Tanganku gemetar ketika meraih ponsel. Aku membuka kamera dan mulai merekam percakapan mereka.
“Obat yang kamu campurkan ke minumannya benar-benar bekerja?” tanya Selena.
Leandro mengangguk.
“Awalnya aku takut dosisnya terlalu kecil. Tapi setelah tiga bulan, tubuhnya mulai menunjukkan gejala. Sekarang dokter bahkan mengira dia mengalami penyakit autoimun langka.”
“Kalau dia meminta pemeriksaan di rumah sakit lain?”
“Dia terlalu percaya padaku. Dan dokter yang menangani pemeriksaan awal sudah menerima uangnya.”
Air mata mengalir tanpa suara.
Aku teringat semua malam ketika Leandro menyuapiku bubur, menyiapkan vitamin, dan membawakan teh hangat sebelum tidur.
Aku meminum semuanya karena percaya bahwa tangannya adalah tempat paling aman di dunia.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Nama Dokter Maya muncul di layar.
Aku buru-buru mematikannya, tetapi suara getaran itu sudah terdengar.
Leandro menoleh.
“Ada suara apa?”
Selena menatap lorong.
“Mungkin ponsel pelayan.”
“Semua pelayan sudah kusuruh pulang.”
Langkah kaki Leandro mulai mendekat.
Aku mundur perlahan, tetapi ujung sepatuku menyenggol sebuah vas kecil.
Benda itu jatuh dan pecah.
“Siapa di sana?”
Aku tidak menunggu lagi.
Dengan sisa tenaga, aku berlari keluar dari balik tirai menuju pintu samping.
“ELARA!”
Teriakan Leandro menggema di seluruh rumah.
Aku berhasil membuka pintu dapur, tetapi kakiku terlalu lemah. Tubuhku tersungkur di halaman belakang.
Leandro menyusul dan mencengkeram lenganku.
“Sayang! Apa yang kamu lakukan di sini?”
Aku menatapnya dengan kebencian yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
“Jangan sentuh aku!”
Wajahnya berubah pucat.
“Kamu salah paham. Wanita tadi hanya…”
“Aku mendengar semuanya, Leandro. Tentang obat, operasi wajah, dan rencana kalian mengambil hartaku!”
Untuk pertama kalinya, aku melihat topeng kelembutan itu benar-benar runtuh.
Leandro menatapku dingin.
“Seharusnya kamu tetap berada di rumah sakit.”
Aku berusaha melepaskan tangannya.
“Kenapa? Apa salahku sampai kamu ingin membunuhku?”
Dia tertawa hambar.
“Kamu tidak salah apa-apa, Elara. Justru itulah masalahnya. Kamu mendapatkan segalanya hanya karena dilahirkan dalam keluarga Navarro. Sementara aku harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan sekecil apa pun.”
“Aku menikahimu karena mencintaimu!”
“Cinta tidak bisa membeli perusahaan, Elara.”
Selena muncul di pintu belakang sambil membawa tas hitam.
“Leo, cepat! Jangan sampai tetangga melihat!”
Leandro menarikku berdiri. Aku mencoba berteriak, tetapi dia membekap mulutku.
Saat itulah terdengar suara sirene.
Dua mobil polisi memasuki halaman melalui gerbang yang tiba-tiba terbuka.
“LEPASKAN DIA!”
Beberapa petugas berlari mendekat.
Leandro melepaskan tangannya dengan wajah terkejut.
Aku jatuh terduduk sambil menangis.
Seorang wanita turun dari mobil terakhir.
Dokter Maya.
Dia berlari menghampiriku dan langsung memelukku.
“Elara, syukurlah kami tidak terlambat.”
Aku menatapnya dengan bingung.
“Dokter… bagaimana Anda tahu?”
Maya mengeluarkan ponselnya.
“Karena sebelum kamu meninggalkan rumah sakit, aku sudah menemukan sesuatu yang mencurigakan.”
Ternyata selama dua minggu terakhir, Maya diam-diam mengirim sampel darahku ke laboratorium independen di Jakarta.
Hasilnya menunjukkan paparan zat beracun secara berulang, bukan penyakit autoimun seperti diagnosis awal.
Lebih mengejutkan lagi, rekaman CCTV rumah sakit memperlihatkan Leandro beberapa kali memasuki ruang penyimpanan obat menggunakan kartu akses milik seorang staf.
Maya sudah melaporkannya kepada polisi.
“Tadi aku menelepon karena hasil pemeriksaan lanjutan baru keluar. Ketika kamu tidak menjawab, aku menghubungi petugas yang sedang menyelidiki kasus ini. Mereka melacak ponselmu setelah mendapatkan izin darimu saat pemeriksaan sore tadi.”
Aku baru teringat formulir persetujuan yang kutandatangani ketika Maya mengatakan ada dugaan tindak pidana terkait penyakitku.
Leandro dan Selena diborgol.
Namun, sebelum dibawa pergi, Selena tiba-tiba berteriak.
“Kamu pikir dia benar-benar mencintaimu, Elara? Dia bahkan tidak pernah memilihmu!”
Leandro menoleh dengan panik.
“Diam, Selena!”
Wanita itu tertawa getir.
“Dia mendekatimu karena ayahmu!”
Aku membeku.
Selena mengungkap bahwa Leandro pernah bekerja di salah satu anak perusahaan Navarro. Ia dipecat setelah audit menemukan penggelapan dana. Ayahku sendiri yang menandatangani laporan hingga kasus itu diproses secara hukum.
Sejak saat itu, Leandro menyimpan dendam terhadap keluarga kami.
Pernikahan kami bukan kebetulan.
Dia sengaja mendekatiku setelah kedua orang tuaku meninggal.
Dunia terasa runtuh untuk kedua kalinya.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Leandro dan Selena menghadapi dakwaan atas percobaan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, dan sejumlah tindak pidana lain yang terungkap selama penyidikan.
Dokter yang menerima pembayaran ilegal juga menjalani proses hukum.
Aku selamat berkat pengobatan intensif. Tubuhku belum sepenuhnya pulih, tetapi aku sudah mampu berjalan tanpa bantuan.
Setelah persidangan hari itu, pengacara keluargaku, Pak Adrian, menyerahkan sebuah amplop tua.
“Ini surat dari ayahmu. Beliau menitipkannya kepadaku sebelum kecelakaan.”
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Tulisan tangan ayah memenuhi selembar kertas.
Elara, jika suatu hari kamu merasa sendirian, ingatlah bahwa kekayaan terbesar yang Ayah dan Ibu tinggalkan bukanlah perusahaan atau rumah. Kami ingin kamu memiliki keberanian untuk melindungi dirimu sendiri. Jangan pernah mempertahankan seseorang hanya karena kamu takut kehilangan kasih sayangnya.
Aku menangis lama setelah membaca surat itu.
Namun, di dalam amplop ternyata masih ada satu foto lama.
Foto ayahku berdiri bersama seorang pria muda di depan gedung perusahaan Navarro.
Di balik foto tertulis nama pria itu.
Leandro Pratama.
Tanggalnya menunjukkan lima tahun sebelum aku mengenalnya.
Di bawahnya terdapat tulisan ayah.
Orang ini pernah mengancam keluarga kita. Jika sesuatu terjadi kepada Ayah, mintalah Adrian menyelidiki kembali kasus kecelakaan itu.
Aku menatap Pak Adrian dengan napas tertahan.
“Pak… apakah kecelakaan orang tuaku…”
Adrian mengangguk perlahan.
“Polisi sudah membuka kembali penyelidikannya. Ada bukti baru yang mengarah pada kemungkinan sabotase kendaraan.”
Kakiku terasa lemas.
Selama ini aku mengira Leandro datang menyelamatkanku dari kesepian setelah kehilangan orang tuaku.
Ternyata pria yang kupeluk setiap malam mungkin adalah orang yang sejak awal telah merenggut kebahagiaanku.
Aku menggenggam surat ayah erat-erat.
Dulu aku menganggap cinta berarti mempercayai seseorang tanpa syarat.
Sekarang aku mengerti, cinta yang sesungguhnya tidak pernah menuntut seseorang mengorbankan keselamatan dan harga dirinya.
Aku keluar dari gedung pengadilan dengan langkah perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa perlu mencari seseorang untuk menggenggam tanganku.
Karena akhirnya aku menyadari bahwa perempuan yang paling perlu kuselamatkan selama ini bukanlah bayanganku di dalam cermin.
Melainkan diriku sendiri.
