IBU MERTUAKU BERSUMPAH SUAMIKU TELAH MENINGGALKANKU SAAT AKU

“Notaris perusahaanmu?”

Aku menatap Dimas, berharap dia segera menjelaskan mengapa nama seseorang dari masa lalunya muncul dalam dokumen penjualan rumah kami.

Dimas mengangguk dengan wajah pucat.

“Namanya Adrian Mahendra. Dia yang mengurus kontrak penempatanku di Balikpapan.”

“Berarti dia mengenal Ibu?”

“Aku tidak tahu. Tapi ada sesuatu yang selama ini terasa aneh.”

Dimas membuka ponselnya dan mencari sebuah surel lama.

“Dulu perusahaan mendadak memindahkanku ke Kalimantan. Kontraknya mensyaratkan aku tinggal di lokasi proyek selama tiga bulan pertama. Padahal, sebelumnya aku bekerja di Jakarta.”

“Siapa yang mengatur pemindahan itu?”

“Direktur keuangan. Namanya Rendra.”

Aku terdiam.

Rendra adalah adik kandung ibu mertuaku, Bu Ratna.

Selama empat tahun terakhir, perempuan itulah yang berkali-kali mengatakan bahwa Dimas meninggalkanku karena tidak siap menjadi ayah.

Tiba-tiba semuanya terasa saling berkaitan.

Namun, satu pertanyaan jauh lebih menggangguku.

Mengapa ibuku sendiri ikut menyembunyikan kebenaran?

Keesokan paginya, aku dan Dimas terbang ke Jakarta bersama Alif. Sebelum berangkat, aku meminta Yuni menghubungi pengacara perusahaan dan mengamankan seluruh dokumen yang telah ditemukan.

Aku juga meminta Bi Sumi membawa Naya sementara waktu ke rumah kakaknya, tanpa memberi tahu siapa pun alamatnya.

Sepanjang penerbangan, Dimas hampir tidak berbicara.

Sesekali dia memandang foto Naya yang kutunjukkan melalui ponsel.

“Matanya mirip kamu,” bisiknya.

Aku menelan ludah.

“Dia suka menggambar. Kalau gugup, dia selalu menggigit ujung pensilnya.”

Dimas tersenyum sedih.

“Aku juga begitu waktu kecil.”

Untuk beberapa saat, aku hampir melupakan semua kemarahan.

Namun, ketika teringat bahwa Naya tumbuh tanpa mengenal ayahnya, dadaku kembali terasa sesak.

Setibanya di Jakarta, kami langsung menuju rumah Ibu.

Pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga.

“Ibu ada di ruang tengah, Mbak.”

Aku masuk bersama Dimas.

Ibu sedang duduk di sofa dengan wajah kelelahan.

Begitu melihat kami, dia memejamkan mata.

“Sari, Ibu sudah bilang datang sendirian.”

Aku meletakkan foto batu nisan di atas meja.

“Tidak ada lagi yang boleh menyuruhku diam, Bu.”

Ibu menatap foto itu cukup lama.

Kemudian air matanya jatuh.

“Semua ini bermula dari kesalahan yang Ibu pikir bisa diperbaiki.”

“Apa yang Ibu lakukan?”

Dia menunduk.

“Empat tahun lalu, yayasan Ibu sedang kesulitan keuangan. Ada dana donatur yang digunakan pengurus tanpa persetujuan. Ibu berusaha menutup kekurangannya sebelum pemeriksaan.”

Aku terkejut.

“Lalu apa hubungannya dengan rumahku?”

“Bu Ratna menawarkan pinjaman melalui Rendra. Katanya, uang itu bisa membantu yayasan dan melunasi kredit rumahmu supaya kamu tidak perlu menanggung cicilan saat melahirkan.”

Dimas langsung berdiri.

“Ibu saya yang menawarkan?”

Lestari mengangguk.

“Awalnya saya mengira dia benar-benar ingin membantu.”

“Tapi kemudian?” tanyaku.

Ibu menangis.

“Dia meminta rumah itu dijadikan jaminan. Setelah dokumen ditandatangani, saya baru mengetahui bahwa pengalihan kepemilikan sudah diatur.”

Aku mengepalkan tangan.

“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”

“Karena Ratna mengancam akan melaporkan persoalan yayasan dan menyeret namamu sebagai pengurus.”

Aku membeku.

Namaku memang pernah dicantumkan sebagai anggota dewan pembina yayasan, meskipun aku hampir tidak pernah terlibat dalam operasionalnya.

“Lalu Ibu membuat surat kematianku?”

“Bukan Ibu yang membuatnya.”

Dimas langsung menatapnya.

“Siapa?”

“Ratna.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ibu kemudian menjelaskan bahwa Bu Ratna tidak pernah menyetujui pernikahan kami.

Menurutnya, keluargaku tidak memiliki kedudukan sosial yang sebanding dengan keluarga Dimas.

Ketika mengetahui aku sedang hamil, Ratna berusaha memisahkan kami dengan bantuan Rendra.

Pemindahan Dimas ke Balikpapan ternyata sudah direncanakan.

Setelah Dimas pergi, Ratna menggunakan dokumen palsu untuk membuatnya percaya bahwa aku telah meninggal.

Sementara kepada Ibu, dia mengatakan Dimas meninggalkanku dan menolak mengakui anaknya.

“Apa Ibu benar-benar percaya?” tanyaku dengan suara gemetar.

Ibu menunduk.

“Ibu ingin percaya bahwa menjauhkanmu dari keluarga mereka adalah pilihan paling aman.”

Aku tertawa pahit.

“Aman untuk siapa, Bu? Aku kehilangan suamiku. Naya kehilangan ayahnya!”

Ibu menangis semakin keras.

Namun, kali ini aku tidak menghampirinya.

Aku terlalu lelah menjadi orang yang selalu diminta memahami keputusan orang lain.

Siang itu, pengacara kami berhasil mendapatkan salinan akta transaksi rumah.

Pemeriksaan awal menemukan tanda tangan yang diduga dipalsukan serta ketidaksesuaian identitas pihak yang menghadiri penandatanganan.

Adrian, notaris yang namanya tercantum dalam dokumen, kemudian dimintai klarifikasi melalui jalur resmi.

Dia mengaku proses administrasi tersebut ditangani seorang staf senior berdasarkan dokumen yang diserahkan Rendra.

Namun, ketika ditunjukkan tanda tangan Dimas, wajahnya berubah.

“Ini harus diperiksa lebih lanjut. Saya tidak bisa memastikan tanda tangan itu dibuat oleh Pak Dimas.”

Pengacara segera mengajukan laporan atas dugaan pemalsuan dokumen dan pengalihan aset tanpa persetujuan.

Tetapi misteri batu nisan masih belum terjawab.

Dua hari kemudian, aku dan Dimas mendatangi TPU di Depok bersama penyidik yang sedang menelusuri laporan kami.

Makam itu benar-benar ada.

Namaku tercantum jelas di batu nisannya.

Sari Wulandari.

Tanggal lahir yang sama.

Tanggal kematian palsu yang selama ini dipercaya Dimas.

Aku berdiri mematung di depannya.

Rasanya mengerikan melihat namaku sendiri terukir pada sebuah makam.

Petugas pemakaman kemudian menunjukkan arsip administrasi lama.

Ternyata makam tersebut terdaftar atas nama seorang perempuan yang meninggal tanpa identitas lengkap.

Beberapa bulan setelah pemakaman, seseorang mengajukan penggantian batu nisan dengan membawa dokumen atas namaku.

Penyidik menemukan bahwa pembayaran pembuatan nisan dilakukan melalui rekening perusahaan yang terhubung dengan Rendra.

Dimas langsung menggenggam tanganku.

“Selama bertahun-tahun, aku datang ke sini setiap ulang tahunmu.”

Aku menoleh.

Matanya memerah.

“Aku membawa bunga. Aku meminta maaf karena tidak sempat menemanimu melahirkan.”

Air mataku mengalir.

“Aku juga selalu mengira kamu meninggalkan kami.”

Dimas memelukku erat.

Untuk pertama kalinya setelah empat tahun, kami menangis bukan karena saling menyalahkan, melainkan karena menyadari betapa banyak waktu yang telah dirampas dari kehidupan kami.

Penyelidikan kemudian berkembang.

Dari dokumen keuangan dan komunikasi yang berhasil diperoleh, terungkap dugaan bahwa Rendra mengatur transaksi properti melalui beberapa pihak perantara.

Bu Ratna diduga mengetahui rencana pemisahan kami dan menggunakan informasi palsu untuk memastikan Dimas tidak kembali mencariku.

Ketika dipanggil memberikan keterangan, Ratna awalnya membantah semuanya.

Namun, saat penyidik memperlihatkan bukti pembayaran batu nisan dan percakapan dengan Rendra, dia mulai kehilangan ketenangan.

“Aku hanya ingin melindungi masa depan anakku!” katanya.

Dimas menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Melindungiku dengan mengatakan istriku dan anakku sudah meninggal?”

Ratna menangis.

“Ibu pikir kamu akan melupakan semuanya dan memulai hidup baru.”

Dimas menggeleng.

“Ibu tidak melindungiku. Ibu mengambil empat tahun hidupku.”

Ratna tidak mampu menjawab.

Proses hukum terhadap dugaan pemalsuan dan penyalahgunaan aset terus berjalan. Pengacara kami juga mengajukan langkah hukum untuk memulihkan status kepemilikan rumah.

Sementara itu, aku mengambil keputusan yang paling sulit.

Aku belum siap langsung kembali hidup bersama Dimas.

Kami telah berubah selama empat tahun terpisah.

Aku membangun perusahaan sendiri, membesarkan Naya, dan belajar menghadapi segala sesuatu tanpa pasangan.

Dimas pun memiliki tanggung jawab terhadap Alif.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh ditunda.

Dia harus bertemu putrinya.

Sore itu, aku mengajak Dimas ke rumah tempat Naya tinggal sementara.

Ketika pintu dibuka, Naya sedang duduk di lantai sambil menggambar.

Dia mengenakan gaun kuning dan rambutnya diikat dua.

Dimas berhenti melangkah.

Tangannya gemetar.

“Naya?” panggilku lembut.

Putriku menoleh.

“Mama!”

Dia berlari memelukku.

Aku berjongkok dan menunjuk Dimas.

“Sayang, Mama ingin mengenalkan seseorang.”

Naya memperhatikan wajah Dimas dengan rasa ingin tahu.

“Siapa, Ma?”

Aku menelan ludah.

“Ini Papa.”

Naya terdiam.

Kemudian dia mengerutkan kening.

“Papa yang ada di foto kamar Mama?”

Air mataku langsung jatuh.

Aku tidak pernah membuang foto pernikahan kami.

Selama ini, aku menyimpannya di kamar dan mengatakan kepada Naya bahwa pria dalam foto itu adalah ayahnya yang tinggal jauh.

Dimas berjongkok perlahan.

“Iya, Sayang. Papa Dimas.”

Naya memandangnya cukup lama.

Kemudian dia mengambil sebuah gambar dari lantai.

Di kertas itu terdapat tiga orang sedang bergandengan tangan.

Seorang perempuan.

Seorang anak kecil.

Dan seorang pria tanpa wajah.

“Aku belum tahu muka Papa kalau lagi senyum,” katanya polos.

Dimas langsung menangis.

Dia mencoba tersenyum di tengah air mata.

Naya memperhatikannya, kemudian mengambil pensil warna.

“Sekarang aku bisa gambar.”

Dia mulai menambahkan mata, hidung, dan mulut pada sosok pria tersebut.

Dimas menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Aku duduk di samping mereka sambil menangis diam-diam.

Beberapa bulan kemudian, setelah menjalani konseling keluarga dan perlahan membangun kembali komunikasi, aku dan Dimas memutuskan mencoba hidup bersama.

Bukan karena kami ingin berpura-pura bahwa empat tahun terakhir tidak pernah terjadi.

Melainkan karena kami ingin memberikan kesempatan baru kepada keluarga kami, dengan kejujuran sebagai syarat yang tidak bisa ditawar.

Alif juga mulai akrab dengan Naya.

Keduanya sering bermain bersama setiap akhir pekan.

Suatu malam, Dimas menghampiriku ketika aku sedang menyusun dokumen perusahaan.

Dia membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat gelang bayi berwarna merah muda.

Namaku tertulis pada bagian belakangnya.

Aku langsung mengenalinya.

“Itu gelang dari rumah sakit tempat Naya lahir.”

Dimas mengangguk.

“Aku mendapatkannya dari seseorang yang mengirim paket anonim enam bulan lalu.”

Aku membeku.

“Jadi bukan hanya buku pemeriksaan kehamilan?”

“Bukan. Ada gelang ini dan sebuah surat.”

Dia menyerahkan selembar kertas.

Tulisan di dalamnya hanya beberapa kalimat.

Maaf karena saya terlambat mengatakan kebenaran. Saya dulu bekerja di bagian administrasi rumah sakit. Saya melihat dokumen kematian palsu dibuat menggunakan data pasien yang masih hidup. Saya menyimpan salinannya karena takut suatu hari seorang anak akan kehilangan hak untuk mengenal ayahnya.

Di bagian bawah terdapat sebuah nama.

Mira Anggraini.

Aku langsung teringat seorang perawat administrasi yang pernah menemaniku mengurus kepulangan setelah melahirkan.

Perempuan itu tidak pernah banyak bicara.

Namun, dia sempat menangis ketika menggendong Naya sebelum kami meninggalkan rumah sakit.

Aku akhirnya memahami bahwa di tengah kebohongan yang begitu besar, masih ada seseorang yang diam-diam berusaha menyelamatkan kebenaran.

Beberapa minggu kemudian, kami berhasil menemui Mira.

Dia sudah bekerja di fasilitas kesehatan lain.

Ketika melihat Dimas berdiri bersama Naya, matanya langsung berkaca-kaca.

“Syukurlah kalian akhirnya bertemu.”

Aku memeluknya erat.

“Kenapa dulu tidak langsung memberi tahu saya?”

Mira menunduk.

“Saya takut kehilangan pekerjaan. Saya juga tidak tahu sejauh mana orang-orang itu terlibat. Tapi setelah melihat seorang anak tumbuh tanpa ayahnya, saya tidak sanggup terus diam.”

Aku menggenggam tangannya.

“Terima kasih karena akhirnya memilih mengatakan kebenaran.”

Setahun setelah pertemuan pertama kami di Lombok, aku kembali ke Senggigi bersama Dimas, Naya, dan Alif.

Kali ini bukan untuk memeriksa proyek renovasi vila.

Kami datang untuk berlibur.

Sore itu, anak-anak bermain pasir di tepi pantai sementara matahari perlahan tenggelam.

Dimas duduk di sampingku.

“Kalau hari itu Alif tidak membawa foto batu nisan, mungkin kita masih belum bertemu.”

Aku mengangguk.

“Kenapa dia membawa foto itu ke mana-mana?”

Dimas tersenyum sedih.

“Karena dia pernah bertanya kenapa aku selalu terlihat sedih setiap melihat foto perempuan di dompetku. Aku bilang perempuan itu orang yang sangat kucintai, tetapi sudah tidak ada.”

Aku menoleh kepada Alif yang sedang tertawa bersama Naya.

“Lalu?”

“Dia bilang kalau aku masih merindukanmu, kami harus mencari tempat kamu beristirahat supaya dia bisa mengirim doa.”

Air mataku kembali menggenang.

Ternyata seorang anak kecil yang bahkan belum memahami arti kehilangan telah menjadi alasan kami menemukan kembali keluarga yang hampir selamanya terpisah.

Dimas menggenggam tanganku.

“Aku tidak bisa mengembalikan empat tahun yang hilang, Sari.”

Aku menatapnya.

“Tapi kita masih punya hari esok.”

Dia tersenyum.

Di kejauhan, Naya berlari menghampiri kami sambil membawa gambar di atas selembar kertas.

“Mama! Papa! Lihat!”

Di kertas itu terdapat empat orang bergandengan tangan di tepi pantai.

Aku, Dimas, Naya, dan Alif.

Tidak ada satu pun wajah yang kosong.

Aku memeluk kedua anak itu erat-erat.

Dulu aku percaya bahwa kehilangan selalu berarti seseorang telah pergi meninggalkan kita.

Namun, sekarang aku memahami bahwa terkadang orang yang kita cintai sebenarnya tidak pernah berhenti mencari jalan pulang.

Mereka hanya tersesat di dalam kebohongan yang dibuat oleh orang-orang yang seharusnya melindungi kita.

Dan ketika kebenaran akhirnya menemukan jalannya, cinta yang hampir terkubur pun masih memiliki kesempatan untuk hidup kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang