“Pencairan dana Rp2.180.000.000 dijadwalkan hari Senin, pukul 09.00 WIB.”

Aku membaca pesan itu berulang kali. Hari ini Jumat. Artinya, aku hanya punya waktu kurang dari tiga hari untuk menyelamatkan rumah yang kubeli dengan hasil kerja kerasku selama sebelas tahun.
“Siapa yang mengirim foto itu?” tanya Dimas dari belakang.
Aku segera mematikan layar ponsel.
“Kenapa? Kamu takut aku tahu siapa yang membantu kalian?”
Wajah Dimas berubah pucat. Melani yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung melangkah mendekat.
“Raras, jangan asal menuduh. Foto bisa diedit.”
Aku menatapnya tajam.
“Kalau begitu, kenapa kamu memakai kacamataku saat datang ke kantor notaris?”
Melani terdiam.
Bu Santi buru-buru menyela. “Sudahlah! Daripada ribut, lebih baik kita duduk dan bicarakan baik-baik. Perusahaan ayah Dimas sedang kesulitan. Kalau pinjaman ini cair, semuanya bisa diselesaikan.”
“Dengan mempertaruhkan rumahku?”
“Rumah itu juga ditempati anakku!” bentaknya.
Aku hampir membalas ketika Ibu menggenggam tanganku.
“Raras, kita keluar dulu.”
Aku menoleh. Wajah Ibu terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Di dalam mobil, Ibu baru berbicara setelah kami meninggalkan halaman rumah.
“Nak, jangan pulang ke sana malam ini.”
“Kenapa, Bu?”
“Ibu mendengar sesuatu yang lebih buruk daripada urusan pinjaman.”
Aku langsung menepi.
Ibu membuka tas kainnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih.
“Tadi pagi, sebelum Dimas membawa Ibu ke hotel, Ibu sempat masuk ke dapur. Melani sedang menelepon seseorang. Dia bilang, setelah uang cair, rumah itu harus segera dikosongkan.”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Dikosongkan?”
Ibu mengangguk.
“Dia juga bilang, jangan sampai Raras tahu soal pembeli kedua.”
Aku menatap amplop itu.
Di dalamnya terdapat secarik kertas berisi nama perusahaan, nomor telepon, dan alamat sebuah kantor properti di Surabaya Barat.
“Dari mana Ibu dapat ini?”
“Melani membuangnya ke tempat sampah. Ibu mengambilnya karena merasa ada yang aneh.”
Aku langsung menghubungi nomor tersebut.
Seorang pria bernama Hendra menjawab.
“Saya ingin menanyakan rumah atas nama Raras Maheswari.”
“Oh, rumah di kawasan Darmo itu, ya? Kami sedang menunggu penyelesaian administrasi dari Pak Dimas.”
“Administrasi apa?”
“Pengalihan kepemilikan, Bu. Calon pembeli sudah menyerahkan uang tanda jadi sebesar Rp350 juta.”
Aku sampai lupa bernapas.
Rumahku bukan hanya hendak dijadikan agunan. Mereka juga sedang berusaha menjualnya.
“Pak Hendra, saya Raras Maheswari. Pemilik sah rumah tersebut. Saya tidak pernah menawarkan rumah itu untuk dijual.”
Suara di seberang langsung berubah gugup.
“Sebentar, Bu. Kalau begitu, kami harus memeriksa ulang seluruh dokumen.”
Aku meminta semua komunikasi dan transaksi terkait rumahku disimpan sebagai bukti.
Setelah itu, aku menghubungi sahabat lamaku, Nadia, seorang pengacara yang menangani perkara perdata dan dugaan pemalsuan dokumen.
Malam itu kami bertemu di kantornya.
Nadia memeriksa foto formulir kredit, surat kuasa, dan rekaman suara Ibu.
“Ras, kamu harus bergerak cepat. Tapi jangan menghadapi mereka sendirian lagi.”
“Apakah bank bisa mencairkan uangnya?”
“Kalau dokumennya bermasalah, kita harus segera mengajukan keberatan resmi dan meminta prosesnya dihentikan. Kita juga perlu melaporkan dugaan pemalsuan ini.”
Kami menyusun kronologi hingga hampir tengah malam.
Nadia kemudian menunjuk tanggal pada surat kuasa.
“Ada yang menarik. Akta ini dibuat hari Selasa, tetapi dokumen penilaian agunan baru diproses hari Jumat. Sepertinya mereka sedang mengejar tenggat tertentu.”
Aku teringat sesuatu.
Dua minggu sebelumnya, Dimas pernah menerima telepon dari seseorang yang mengancam akan mengambil alih perusahaannya jika utang tidak segera dilunasi.
Saat kutanya, dia hanya menjawab bahwa itu urusan bisnis biasa.
Ternyata tidak.
Sabtu pagi, aku mendatangi kantor notaris bersama Nadia.
Notaris bernama Pak Surya menerima kami dengan wajah tegang.
Begitu melihat foto CCTV, dia menggeleng.
“Saya tidak menangani penandatanganan ini secara langsung. Saat itu saya sedang menghadiri seminar di Jakarta.”
“Lalu siapa yang menerima perempuan itu?” tanya Nadia.
“Staf administrasi saya, Riko.”
Pak Surya memanggil Riko, tetapi lelaki itu tidak masuk kerja sejak Kamis.
Nomor teleponnya sudah tidak aktif.
Ketika Pak Surya memeriksa arsip, wajahnya semakin pucat.
“Ini bukan hanya tanda tangan yang bermasalah. Salinan identitas yang digunakan ternyata berasal dari berkas lama.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Berkas lama?”
“Berkas pengurusan balik nama rumah Ibu, sekitar empat tahun lalu.”
Empat tahun lalu, Dimas memang pernah membantuku mengurus pembaruan data pajak dan administrasi rumah.
Saat itulah aku menyerahkan fotokopi KTP, kartu keluarga, serta beberapa dokumen kepemilikan kepadanya.
Aku mulai memahami betapa lama dia menyimpan kesempatan untuk mengkhianatiku.
Siang harinya, Nadia membantuku menyampaikan keberatan tertulis kepada pihak bank, melampirkan bukti awal, dan meminta penundaan proses kredit. Kami juga membuat laporan polisi terkait dugaan pemalsuan identitas dan tanda tangan.
Pihak bank menyatakan pencairan akan ditahan sementara selama verifikasi.
Aku baru bisa bernapas sedikit lega.
Namun, pukul delapan malam, Dimas menelepon.
“Raras, kamu benar-benar melaporkan keluargaku?”
“Aku melaporkan perbuatan kalian.”
“Kamu tahu apa akibatnya kalau uang itu nggak cair?”
“Itu bukan alasan untuk mencuri rumahku.”
Dimas tertawa getir.
“Kamu pikir rumah itu akan tetap aman kalau aku bangkrut?”
Aku terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Datang ke rumah besok pagi. Sendirian. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Telepon terputus.
Aku tidak datang sendirian.
Minggu pagi, Nadia menemaniku. Ibu menunggu di rumah kerabat kami.
Ketika kami tiba, ruang tamu sudah kosong. Tidak ada Bu Santi, Pak Yatno, ataupun Melani.
Hanya Dimas yang duduk di sofa, dengan wajah kusut dan mata merah.
Di atas meja terdapat setumpuk dokumen.
“Aku mau mengaku semuanya,” katanya pelan.
Dimas menjelaskan bahwa perusahaan ayahnya telah menanggung utang hampir Rp3 miliar akibat proyek interior hotel yang gagal. Mereka menggunakan dana dari proyek baru untuk menutup kerugian lama, hingga akhirnya tidak sanggup membayar pemasok.
“Melani bilang rumahmu bisa menyelamatkan semuanya.”
“Dan kamu setuju memalsukan tanda tanganku?”
Dimas menunduk.
“Aku takut kehilangan keluargaku.”
Aku menatap lelaki yang sudah tujuh tahun menjadi suamiku.
“Jadi kamu memilih menghancurkan keluargamu yang lain?”
Air mata mengalir di pipinya.
Namun, aku tidak lagi merasakan keinginan untuk menghiburnya.
Nadia membuka salah satu dokumen di meja.
Itu perjanjian pembayaran utang perusahaan.
Ada nama seseorang yang langsung menarik perhatianku.
Hendra Wijaya.
Nama yang sama dengan pria dari kantor properti.
“Dimas, kenapa orang yang mengurus penjualan rumahku juga tercatat sebagai pemberi pinjaman perusahaan ayahmu?”
Dimas mendadak membeku.
Aku mengambil dokumen itu.
Ternyata Hendra bukan sekadar perantara properti. Dia adalah kreditur swasta yang telah memberikan pinjaman kepada perusahaan Pak Yatno.
Lebih mengejutkan lagi, terdapat perjanjian bahwa jika utang tidak dibayar sebelum akhir bulan, keluarga Dimas harus menyerahkan hak atas sejumlah aset yang dijaminkan dalam perjanjian mereka.
Termasuk rumahku, yang bahkan bukan milik mereka.
“Jadi kalian sudah menjanjikan rumahku kepada orang lain sebelum mengurus kredit bank?”
Dimas menutup wajahnya.
“Melani yang mengatur semuanya.”
Saat itulah pintu depan terbuka.
Melani masuk bersama seorang pria berkemeja putih.
Aku langsung mengenalinya dari foto profil WhatsApp.
Hendra.
Melani terkejut melihat Nadia.
“Kalian ngapain di sini?”
Hendra justru tersenyum tenang.
“Bagus. Semua sudah berkumpul.”
Dia meletakkan sebuah map hitam di meja.
“Bu Raras, saya datang untuk menjelaskan sesuatu.”
Aku menatapnya curiga.
“Silakan.”
Hendra membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan percakapan, bukti transfer, dan rekaman pertemuan antara Melani dengan seorang pria bernama Riko.
“Ada orang yang menawarkan rumah Ibu kepada saya dengan harga jauh di bawah pasar. Saya curiga ketika mengetahui sertifikatnya masih atas nama Ibu, tetapi pemiliknya tidak pernah hadir.”
“Lalu kenapa Bapak menyerahkan uang tanda jadi?”
“Saya tidak menyerahkannya kepada Melani. Uang itu masuk ke rekening penampungan perusahaan perantara dan belum diteruskan. Saya ingin melihat sejauh mana mereka berani melangkah.”
Melani langsung berteriak.
“Bohong! Kamu sendiri yang menyuruhku mengurus surat kuasa!”
Hendra mengeluarkan ponselnya.
“Kalau begitu, kita dengarkan rekamannya.”
Suara Melani terdengar jelas.
“Pokoknya Raras nggak boleh tahu. Kalau perlu, aku sendiri yang datang mengaku sebagai dia.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dimas menatap kakaknya dengan wajah hancur.
“Mel, kamu bilang semuanya sudah disetujui Raras.”
Melani tertawa sinis.
“Kalau aku bilang belum, memangnya kamu mau membantu?”
Aku memandang Dimas.
“Jadi kamu tahu ada dokumen yang ditandatangani tanpa kehadiranku, tetapi tetap membiarkannya?”
Dia tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Beberapa hari kemudian, proses kredit resmi dibatalkan setelah verifikasi menemukan ketidaksesuaian dokumen. Penanganan laporan pemalsuan berlanjut, sementara transaksi penjualan rumah dihentikan.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Dimas berkali-kali meminta kesempatan kedua, tetapi ada hal yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan permintaan maaf.
Sebulan kemudian, aku kembali menempati rumah itu bersama Ibu.
Kami mengganti seluruh kunci, memperbaiki ruang kerja, dan menanam bunga melati di halaman.
Suatu sore, ketika sedang membereskan lemari, Ibu menyerahkan sebuah buku tabungan lama.
“Ini apa, Bu?”
“Tabungan Ibu. Selama bertahun-tahun Ibu menyisihkan uang pensiun. Ibu mau membantu kamu kalau rumah itu sampai bermasalah.”
Aku membuka halaman terakhir.
Saldo yang tersisa tidak besar. Hanya Rp28 juta.
Namun, mataku langsung berkaca-kaca.
“Bu, kenapa Ibu sampai menyiapkan ini?”
Ibu tersenyum.
“Karena Ibu tahu rasanya kehilangan rumah. Dulu, setelah ayahmu meninggal, Ibu pernah hampir kehilangan tempat tinggal. Ibu nggak mau kamu mengalami hal yang sama.”
Aku memeluknya erat.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatianku.
Orang-orang yang mengaku sebagai keluargaku hampir mengambil rumah senilai miliaran rupiah dariku.
Sementara perempuan yang mereka buang ke hotel murah justru diam-diam menyiapkan seluruh tabungannya untuk melindungiku.
Beberapa minggu kemudian, sebuah surat tiba dari kantor pengacara Nadia.
Isinya salinan hasil pemeriksaan lanjutan yang menunjukkan bahwa Melani telah menggunakan dokumen pribadiku dalam beberapa pengajuan lain yang tidak pernah kusetujui. Beruntung, pengajuan tersebut belum menghasilkan fasilitas pinjaman atas namaku.
Aku menyerahkan semuanya kepada Nadia untuk ditindaklanjuti.
Malam itu, Ibu duduk di teras sambil menikmati teh hangat.
“Raras, kamu menyesal menikah dengan Dimas?”
Aku berpikir cukup lama.
“Aku menyesal pernah mengabaikan tanda-tandanya, Bu. Tapi aku nggak menyesal sudah berusaha mempertahankan pernikahanku dulu. Sekarang aku tahu kapan harus berhenti.”
Ibu menggenggam tanganku.
“Rumah bisa dibangun lagi, Nak. Tapi jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri demi orang yang tidak mau menjagamu.”
Aku memandang rumah dua lantai yang berdiri di hadapan kami.
Dulu aku mengira rumah ini adalah pencapaian terbesarku.
Sekarang aku mengerti, rumah bukan sekadar sertifikat, dinding, atau harga pasar.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu meminta izin untuk dicintai dan dihormati.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumahku benar-benar terasa seperti rumah.
