“ITU TIDAK MUNGKIN! AKU BARU MENGENAL REZA EMPAT TAHUN SETELAH LULUS!”

Suaraku menggema di ruang kerja Diah.
Pak Eko langsung menunduk semakin dalam. Tangannya gemetar ketika meletakkan kotak arsip di atas meja.
Diah memandangku dengan wajah serius.
“Itulah sebabnya aku memintamu datang, Tari. Ada seseorang yang sudah mengincarmu jauh sebelum kamu mengenalnya.”
Aku menarik dokumen tersebut mendekat.
Tanggal pembuatannya tertulis 17 Juli 2005.
Nama Reza Maulana tercetak jelas sebagai penerima kuasa.
Namun, tanda tanganku terlihat berbeda dari yang biasa kugunakan.
“Aku tidak pernah menandatangani ini.”
“Aku tahu,” jawab Diah.
Aku menoleh kepada Pak Eko.
“Bapak yang menerima surat ini?”
Pria itu mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.
“Waktu itu ada lelaki datang bersama seorang perempuan. Mereka mengatakan sedang mengurus dokumen beasiswa atas permintaanmu.”
“Kenapa Bapak percaya?”
“Karena mereka membawa fotokopi KTP dan kartu pelajarmu. Ada juga surat dengan cap sekolah.”
Aku mengepalkan tangan.
“Siapa perempuan itu?”
Pak Eko menelan ludah.
“Namanya Mirna.”
Jantungku langsung berdegup kencang.
Mirna.
Nama itu sangat kukenal.
Mirna adalah mantan kepala keuangan usaha kateringku.
Perempuan yang enam bulan lalu menghilang bersama Reza setelah membawa kabur uang pembayaran pelanggan.
Aku menatap Diah dengan napas tertahan.
“Jadi mereka sudah saling mengenal selama dua puluh tahun?”
Diah mengangguk perlahan.
“Itu yang sedang kami selidiki.”
Aku merasa ruangan berputar.
Selama sebelas tahun menikah, aku percaya Reza adalah lelaki yang kutemui secara kebetulan ketika bekerja di sebuah acara pernikahan di Bogor.
Dia datang sebagai pemasok bahan makanan.
Kami berkenalan, menjalin hubungan, lalu menikah.
Setidaknya itulah yang selalu kupercaya.
“Kenapa mereka mengincarku sejak sekolah?” tanyaku.
Diah membuka kotak arsip.
“Karena uang yang kamu bayarkan untuk biaya sekolahku ternyata bukan satu-satunya transaksi yang menggunakan namamu.”
Dia mengeluarkan salinan rekening koperasi.
Ada beberapa transaksi dengan nominal berbeda.
Rp6.400.000.
Rp18.500.000.
Rp47.000.000.
Semuanya tercatat sebagai pengembalian dana pendidikan atas nama Lestari Wulandari.
“Aku tidak pernah menerima uang itu!”
“Memang bukan kamu yang menerimanya,” jawab Pak Eko.
Aku membaca kolom penerima.
Semua dana dipindahkan ke rekening yang dikuasai seseorang bernama Mirna Safitri.
Diah menjelaskan bahwa koperasi sekolah dahulu memiliki program bantuan pendidikan dari sejumlah donatur.
Ketika mengetahui aku diam-diam membantu biaya sekolahnya, seseorang menggunakan catatan pembayaranku sebagai dasar membuat klaim penggantian dana.
“Jadi mereka memakai namaku untuk mengambil uang bantuan?”
“Begitulah dugaan awalnya,” jawab Diah.
Pak Eko tiba-tiba menangis.
“Saya tahu ada transaksi yang tidak beres. Tapi waktu itu ketua koperasi mengancam akan memecat saya kalau membicarakannya.”
Aku menatapnya kecewa.
“Dan Bapak diam selama dua puluh tahun?”
“Saya salah, Tari.”
Aku tidak menjawab.
Diah kemudian menjelaskan bahwa empat bulan lalu, ketika yayasan alumni sekolah mengadakan audit arsip, ditemukan sejumlah dokumen yang tidak sesuai.
Foto lama diriku menyerahkan amplop ternyata tersimpan bersama kuitansi asli.
Foto tersebut membuktikan bahwa pembayaran kepada koperasi benar-benar pernah terjadi, tetapi bukan bukti bahwa aku menyetujui pengembalian dana atau memberikan kuasa kepada siapa pun.
“Kenapa baru sekarang kamu mencariku?” tanyaku.
“Aku sudah mencoba menghubungimu sejak tiga bulan lalu. Tapi nomor lamamu tidak aktif.”
Aku teringat ponselku yang rusak ketika kami harus meninggalkan rumah kontrakan.
“Dan ketika CV-mu masuk ke perusahaan, aku langsung mengenali namamu,” lanjut Diah.
Aku menunduk.
“Tapi aku datang ke sini untuk mencari pekerjaan, bukan meminta balasan.”
Diah meraih tanganku.
“Aku tahu. Justru karena itulah aku ingin membantumu menemukan kebenaran sebelum mengambil keputusan apa pun.”
Saat itu ponselku bergetar.
Pesan dari penjaga rumah singgah.
“Bu Lestari, ada seorang pria datang mencari Ibu dan Naya. Katanya dia suami Ibu.”
Tubuhku langsung menegang.
Reza.
Aku segera menelepon penjaga rumah singgah dan memintanya tidak memberikan informasi mengenai keberadaan kami.
Diah langsung berdiri.
“Kita harus memastikan Naya aman.”
Dia meminta sekretarisnya membantu menghubungi rumah singgah. Setelah mendapatkan persetujuanku, Naya dipindahkan sementara ke rumah seorang kerabat yang kukenal baik.
Kemudian Diah mempertemukanku dengan penasihat hukum perusahaan.
Kami menyerahkan dokumen lama, laporan keuangan katering, serta bukti transaksi yang selama ini kusimpan.
Pengacara bernama Andika memeriksa semuanya dengan teliti.
“Bu Lestari, apakah Ibu pernah memberikan akses rekening perusahaan kepada suami dan kepala keuangan?”
Aku mengangguk.
“Reza bertanggung jawab atas hubungan dengan pemasok. Mirna mengurus pembayaran.”
“Apakah setiap transaksi harus disetujui Ibu?”
“Untuk jumlah besar, iya. Tapi beberapa pembayaran menggunakan otorisasi bersama.”
Andika mengangguk.
“Kita perlu memeriksa aliran uang dan keaslian dokumen secara resmi. Jangan menghubungi mereka sendiri.”
Dua hari kemudian, sesuatu yang mengejutkan terungkap.
Dari rekening perusahaan kateringku, sebagian uang ternyata telah dipindahkan ke beberapa perusahaan pemasok fiktif.
Salah satu perusahaan tersebut memiliki hubungan dengan Mirna.
Namun, yang membuatku nyaris kehilangan keseimbangan adalah nama direktur perusahaan lainnya.
Reza Maulana.
Tanggal pendiriannya menunjukkan bahwa perusahaan itu sudah beroperasi sebelum aku menikah dengannya.
Aku mulai memahami bahwa suamiku mungkin tidak pernah benar-benar membangun bisnis bersama untuk masa depan keluarga kami.
Dia telah memiliki jaringan usaha lain yang tidak pernah kuketahui.
Penyelidikan kemudian berkembang setelah Andika menemukan pola transaksi yang serupa antara dokumen koperasi lama dan pembukuan kateringku.
Beberapa nomor rekening penerima ternyata masih berkaitan dengan orang yang sama.
Mirna.
Ketika bukti tersebut diserahkan kepada penyidik, polisi mulai menelusuri dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen.
Seminggu kemudian, Reza akhirnya ditemukan di sebuah apartemen sewaan di Bekasi.
Mirna juga dimintai keterangan.
Dalam pemeriksaan, muncul fakta yang membuatku sulit bernapas.
Reza memang telah mengenal Mirna sejak masih muda.
Keduanya pernah bekerja membantu pengurusan dokumen sebuah lembaga pendidikan.
Mereka mengetahui namaku dari berkas pembayaran koperasi.
Namun, penyidik belum menemukan bukti bahwa pertemuan pertamaku dengan Reza bertahun-tahun kemudian telah direncanakan sejak awal.
Fakta itu sedikit melegakanku.
Setidaknya, tidak semua kenangan dalam pernikahanku harus langsung kuanggap sebagai kebohongan yang disengaja sejak hari pertama.
Tetapi kemudian Diah menerima sebuah dokumen lain.
Dokumen itu berasal dari arsip perusahaan kateringku sendiri.
Sebuah perjanjian pemisahan aset yang menggunakan tanda tanganku.
Aku langsung menggeleng.
“Aku tidak pernah membuat perjanjian ini.”
Andika membacanya dengan saksama.
Menurut dokumen tersebut, sebagian besar perlengkapan dapur dan kendaraan operasional telah dialihkan kepada perusahaan milik Reza sebagai pembayaran utang.
Itulah alasan sejumlah aset bisnis kami begitu mudah ditarik ketika usaha mengalami masalah.
“Tanda tangan ini perlu diperiksa,” kata Andika. “Kalau terbukti palsu, dokumen ini bisa dipersoalkan melalui proses hukum.”
Aku menatap halaman terakhir.
Ada satu nama saksi.
Mirna Safitri.
Kemarahan yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
“Jadi selama ini mereka berdua mengatur semuanya di belakangku!”
Diah memeluk bahuku.
“Tari, sekarang kita sudah punya bukti untuk diperiksa. Kamu tidak perlu menghadapi mereka sendirian.”
Aku menangis.
Bukan hanya karena kehilangan uang.
Tetapi karena menyadari bahwa orang yang tidur di sampingku selama sebelas tahun telah menyembunyikan begitu banyak hal.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan menghasilkan cukup bukti untuk memproses dugaan penggelapan dana perusahaan dan pemalsuan sejumlah dokumen.
Reza dan Mirna harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka melalui proses hukum.
Sementara itu, pengacaraku membantu meninjau kewajiban perusahaan kepada klien dan pemasok agar pihak-pihak yang tidak bersalah tidak terus dirugikan.
Aku tidak langsung mendapatkan kembali seluruh asetku.
Sebagian uang masih harus ditelusuri.
Sebagian kewajiban usaha tetap harus kuselesaikan.
Namun, untuk pertama kalinya setelah enam bulan, aku tidak lagi merasa berjalan dalam kegelapan.
Diah kemudian menawarkan posisi koordinator administrasi sesuai lowongan yang kulamar.
Aku terkejut.
“Kamu tidak akan langsung menjadikanku manajer?”
Dia tertawa.
“Kenapa? Kamu mau?”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak. Aku ingin mulai dari pekerjaan yang memang bisa kulakukan.”
Diah tersenyum.
“Bagus. Karena perusahaan ini membutuhkan orang yang teliti, bukan orang yang harus diberi jabatan karena pernah menolong direkturnya.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Proses perekrutanku tetap melalui pemeriksaan kemampuan dan administrasi. Setelah dinyatakan memenuhi persyaratan, aku mulai bekerja.
Gaji pertamaku tidak besar dibandingkan penghasilan ketika kateringku sedang berjaya.
Namun, ketika menerima slip gaji, aku menangis di kamar kontrakan baru kami.
Naya yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah langsung menghampiriku.
“Mama kenapa?”
Aku memeluknya.
“Mama senang, Sayang.”
“Karena kita sudah punya rumah lagi?”
Aku tersenyum.
“Karena sekarang Mama bisa membayar rumah ini dari hasil kerja Mama sendiri.”
Naya memelukku semakin erat.
Beberapa minggu kemudian, Diah mengundangku datang ke sekolah lama kami di Solo.
Bangunan asramanya sudah direnovasi.
Namun, halaman belakang tempat foto lama itu diambil masih terlihat hampir sama.
Di sana, sejumlah alumni berkumpul untuk meresmikan program bantuan pendidikan baru.
Diah memintaku maju ke depan.
Aku langsung menggeleng.
“Diah, jangan membuatku jadi pusat perhatian.”
Dia tersenyum.
“Aku cuma ingin menunjukkan sesuatu.”
Di depan ruang koperasi, terdapat sebuah papan kecil.
Program Sahabat Pendidikan Lestari.
Aku langsung membeku.
“Kenapa memakai namaku?”
Diah menggenggam tanganku.
“Karena dua puluh tahun lalu, seseorang mengajariku bahwa bantuan tidak selalu datang dari orang yang memiliki uang berlebih.”
Air mataku jatuh.
“Aku tidak melakukan sesuatu yang luar biasa.”
“Kamu menjual sepedamu agar aku bisa tetap sekolah.”
Aku menatapnya dengan terkejut.
“Kamu tahu soal itu?”
Diah mengangguk.
“Pak Eko akhirnya menceritakan semuanya.”
Aku menunduk.
Diah melanjutkan.
“Program ini bukan untuk membalas utang kepadamu. Aku ingin anak-anak yang sedang kesulitan tidak harus memilih antara membayar sekolah dan makan.”
Aku tidak mampu menjawab.
Namun, kejutan terbesar datang ketika acara hampir selesai.
Pak Eko menghampiriku dengan sebuah amplop tua.
“Bu Lestari, ada satu surat yang dulu dititipkan ibu saya untukmu.”
Aku mengernyit.
“Ibu Bapak?”
Pak Eko mengangguk.
“Beliau dulu membantu membersihkan asrama. Waktu mengetahui kamu sering tidak makan siang karena uangmu dipakai membayar sekolah Diah, beliau diam-diam menaruh nasi bungkus di depan kamarmu.”
Aku membeku.
Selama bertahun-tahun, aku mengira makanan itu berasal dari petugas dapur yang kasihan melihatku bekerja terlalu keras.
Pak Eko menyerahkan surat tersebut.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Tulisan tangannya sudah memudar.
Nak Lestari, Ibu tidak punya banyak uang. Ibu hanya bisa memastikan kamu tidak belajar dengan perut kosong. Suatu hari nanti, kalau hidupmu terasa berat, semoga ada orang lain yang melakukan hal serupa untukmu.
Aku menangis tanpa mampu menahan diri.
Selama ini aku mengira akulah yang diam-diam membantu Diah.
Ternyata, pada saat yang sama, ada seseorang yang diam-diam menjagaku.
Aku memeluk surat itu erat-erat.
Diah berdiri di sampingku dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu tahu sekarang kenapa aku ingin membangun program ini?”
Aku mengangguk.
“Karena kebaikan tidak berhenti pada satu orang.”
Setahun kemudian, kehidupanku perlahan membaik.
Aku berhasil menyelesaikan sebagian kewajiban usaha lama melalui kesepakatan pembayaran yang sah.
Naya sudah bersekolah dengan tenang.
Aku juga mulai menerima pesanan katering kecil pada akhir pekan, tanpa mengganggu pekerjaan utamaku.
Suatu malam, ketika sedang menyiapkan bekal Naya, dia tiba-tiba bertanya.
“Ma, kalau nanti aku punya uang banyak, aku harus beli apa?”
Aku tersenyum.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Soalnya Tante Diah bilang Mama dulu membantu dia waktu sekolah.”
Aku berhenti memotong wortel.
“Lalu?”
Naya menatapku dengan serius.
“Aku juga mau membantu orang lain. Tapi aku takut uangku habis.”
Aku tertawa pelan.
“Kamu tidak harus memberikan semuanya, Sayang. Menolong orang juga harus tetap menjaga diri sendiri.”
Naya mengangguk.
“Jadi kita boleh baik, tapi harus pintar?”
Aku mencium keningnya.
“Betul.”
Malam itu, setelah Naya tidur, aku membuka laci dan mengambil foto lama dari sekolah.
Dalam foto tersebut, aku berdiri dengan seragam lusuh sambil menyerahkan amplop kepada Pak Eko.
Dulu aku menganggap foto itu hanya kenangan masa sekolah.
Sekarang aku melihatnya dengan cara berbeda.
Foto yang seharusnya sudah musnah itu ternyata menjadi pintu menuju kebenaran tentang masa laluku.
Foto itu membantuku menemukan pengkhianatan yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik pernikahanku.
Namun, lebih dari semuanya, foto itu mempertemukanku kembali dengan seorang sahabat yang tidak pernah melupakan kebaikan kecil yang pernah kutunjukkan.
Aku meletakkannya di meja kerja.
Di samping foto tersebut, ada sebuah gambar buatan Naya.
Gambar dua perempuan sedang bergandengan tangan di depan sekolah.
Di bawahnya, putriku menulis dengan huruf besar.
KALAU SATU ORANG BAIK, ORANG LAIN BISA IKUT BAIK.
Aku tersenyum sambil menghapus air mata.
Dua puluh tahun lalu, aku memberikan sebagian tabunganku agar seorang teman bisa melanjutkan pendidikan.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari, ketika hidupku sendiri runtuh, kebaikan itu akan kembali dalam bentuk kesempatan untuk berdiri.
Bukan sebagai hadiah.
Bukan sebagai belas kasihan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa sekalipun kita kehilangan rumah, pekerjaan, dan kepercayaan kepada seseorang, kita tidak selalu kehilangan masa depan.
Karena terkadang, sesuatu yang pernah kita berikan dengan tulus akan menemukan jalannya kembali pada saat kita paling membutuhkannya.
