AKU BERBOHONG KEPADA ISTRIKU DENGAN ALASAN PERJALANAN DINAS,

“Ayah pernah cerita soal rekening 7721 atau perempuan bernama Selma?”

Rani menggeleng, tetapi kemudian seperti mengingat sesuatu.

“Tiga minggu lalu, Ayah pernah minta aku mengantarnya menemui seseorang di Bandung. Katanya ada urusan penting soal pekerjaan Mas.”

“Siapa yang ditemui?”

“Aku nggak tahu. Ayah masuk ke sebuah warung kopi sendirian. Waktu keluar, wajahnya pucat. Sepanjang perjalanan pulang, Ayah terus bilang kalau dia harus menyelamatkan anaknya.”

Aku terduduk di kursi kayu yang biasa digunakan Ayah.

Selama ini aku mengira Ayah tidak mengetahui banyak tentang pekerjaanku. Setiap kali menelepon, dia hanya bertanya apakah aku sudah makan atau kapan akan pulang.

Ternyata di belakangku, lelaki tua itu sedang berusaha melindungiku dari sesuatu yang bahkan tidak kusadari.

Aku segera memotret seluruh dokumen dalam map biru.

Kemudian aku menghubungi Arief, kepala audit internal perusahaan yang sudah kukenal selama tujuh tahun.

“Rief, aku menemukan sebelas invoice mencurigakan. Semuanya atas nama PT Sagara Solusi Nusantara.”

Arief terdiam.

“Zal, kamu dapat dokumen itu dari mana?”

“Dari bengkel Ayah.”

“Jangan kirim lewat WhatsApp dulu. Besok pagi kita ketemu langsung.”

Nada suaranya membuatku curiga.

“Kenapa?”

“Karena tiga hari lalu, seseorang sudah mengajukan pengaduan tentang pembayaran vendor tersebut.”

Aku menegakkan punggung.

“Siapa?”

Arief menarik napas.

“Ayahmu.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Ayah datang ke kantormu?”

“Bukan. Dia menelepon nomor pengaduan perusahaan dan mengaku memiliki bukti pemalsuan dokumen. Kami sudah membuat janji untuk memeriksa berkasnya, tetapi setelah itu kami kehilangan kontak.”

Aku memejamkan mata.

Ayah ternyata masih berusaha mengungkap semuanya ketika kondisinya mulai memburuk.

Malam itu, setelah Rani pulang, aku tetap berada di bengkel.

Di atas meja kerja Ayah ada sebuah kalender tua. Pada tanggal Senin, tertulis nama seseorang.

Bagas, pukul 10.00.

Aku memotretnya.

Kemudian aku memeriksa laci kecil di bawah mesin pemotong kayu.

Di sana terdapat kartu nama bertuliskan Bagas Firmansyah, mantan staf administrasi proyek.

Aku mengenali nama itu.

Bagas pernah bekerja di timku sebelum mengundurkan diri enam bulan lalu karena alasan keluarga.

Keesokan paginya, aku mendatangi rumah Bagas di Bandung bersama Arief.

Begitu membuka pintu dan melihatku, wajahnya berubah tegang.

“Pak Rizal?”

“Aku perlu bicara soal Ayahku.”

Bagas mempersilakan kami masuk.

Setelah mengetahui Ayah meninggal, dia menunduk lama sekali.

“Pak Hadi orang baik. Saya menyesal belum sempat memberikan semua bukti kepadanya.”

Aku langsung bertanya.

“Bukti apa?”

Bagas mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Setelah saya keluar dari perusahaan, saya masih menyimpan salinan dokumen yang pernah saya tangani secara sah. Beberapa transaksi ternyata menggunakan persetujuan Bapak, padahal saat itu Bapak sedang cuti atau berada di luar kota.”

Aku memeriksa daftar tanggal tersebut bersama Arief.

Benar.

Ada tiga transaksi yang disetujui ketika aku sedang menghadiri pelatihan di Surabaya.

Dua transaksi lainnya bertanggal saat aku menjalani operasi usus buntu.

Mustahil aku menandatangani dokumen fisik tersebut.

“Kenapa kamu tidak melapor?” tanyaku.

Bagas menunduk.

“Saya pernah melapor kepada atasan langsung. Tapi seminggu kemudian, saya dipindahkan ke bagian yang tidak memiliki akses ke dokumen pembayaran. Setelah itu, saya memilih mengundurkan diri.”

“Lalu bagaimana kamu mengenal Ayah?”

“Pak Hadi menghubungi saya setelah menemukan nama saya dalam salah satu salinan invoice.”

Aku terdiam.

Ayah rupanya menelusuri persoalan ini jauh lebih serius daripada yang kubayangkan.

Bagas melanjutkan.

“Pak Hadi bilang dia mendapat beberapa dokumen dari orang yang pernah bekerja sebagai kurir perusahaan vendor. Dia ingin memastikan dokumennya asli sebelum melapor.”

Aku menunjukkan catatan tentang rekening 7721.

Bagas langsung mengangguk.

“Itu empat angka terakhir rekening tujuan pembayaran tahap kedua.”

“Rekening siapa?”

Bagas membuka laptop dan menunjukkan salinan instruksi transfer.

Nama pemilik rekening tercantum jelas.

PT Mahesa Konsultan Utama.

Aku belum pernah mendengar perusahaan itu.

Namun, Arief tiba-tiba menegakkan badan.

“Zal, perusahaan itu pernah menjadi konsultan keuangan untuk proyek kita.”

“Siapa pemiliknya?”

Arief menatapku dengan wajah serius.

“Pak Surya.”

Aku membeku.

Surya Adinata adalah direktur keuangan perusahaan tempatku bekerja.

Selama ini, dia dikenal sebagai orang yang paling disiplin dalam memeriksa pengeluaran proyek.

Dan yang lebih buruk, Surya adalah orang yang pertama kali memperkenalkan Selma kepadaku.

Aku mulai mengingat pertemuan kami sebelas bulan lalu.

Surya mengundangku makan malam setelah rapat proyek.

Selma hadir sebagai perwakilan vendor.

Saat itu, Surya bercanda bahwa kami terlihat cocok.

Aku menganggapnya lelucon biasa.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

“Jadi Selma dan Surya bekerja sama?” tanyaku.

Bagas menggeleng.

“Saya belum bisa memastikan. Tapi ada aliran pembayaran yang perlu diperiksa.”

Kami sepakat menyerahkan bukti tersebut kepada tim audit independen dan pihak berwenang.

Aku tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan kecurigaan semata.

Namun, saat keluar dari rumah Bagas, ponselku menerima pesan dari Selma.

Rizal, kita harus bicara. Surya tahu kamu menemukan map biru.

Aku berhenti berjalan.

Bagaimana Selma mengetahui tentang map itu?

Aku langsung meneleponnya.

“Dari mana kamu tahu soal map biru?”

Selma terdengar menangis.

“Karena aku yang menyuruh seseorang memberikan salinannya kepada ayahmu.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Rizal, aku memang menghapus pesan keluargamu. Aku salah. Tapi ada sesuatu yang belum kamu tahu.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Jelaskan sekarang.”

Selma menarik napas panjang.

“Surya memintaku mendekatimu sejak awal.”

Dunia seakan berhenti berputar.

“Untuk apa?”

“Supaya aku bisa mendapatkan akses ke dokumen persetujuan proyek dan mengetahui jadwal perjalananmu.”

Aku bersandar pada mobil.

“Jadi hubungan kita selama ini hanya bagian dari rencana?”

“Awalnya iya,” jawab Selma lirih. “Tapi setelah itu semuanya menjadi rumit.”

Aku tertawa getir.

“Rumit? Kamu menghapus pesan tentang ayahku yang sedang sekarat!”

Selma menangis semakin keras.

“Aku tahu. Aku nggak punya alasan yang bisa membenarkannya.”

Aku menutup telepon.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami betapa banyak kebohongan yang kubiarkan masuk ke hidupku.

Aku mengkhianati Intan karena merasa Selma memberiku perhatian yang tidak lagi kudapatkan di rumah.

Padahal, perhatian itu ternyata sejak awal memiliki tujuan lain.

Siang harinya, aku kembali ke Tasikmalaya.

Intan sedang duduk di teras rumah Ayah ketika aku tiba.

Wajahnya terlihat lelah.

Aku berhenti beberapa langkah darinya.

“Tan, aku mau minta maaf.”

Dia menatapku lama.

“Untuk yang mana, Mas?”

Aku tidak mampu menjawab.

“Untuk kebohongan soal perjalanan dinas? Untuk perempuan itu? Atau karena kamu nggak ada ketika Ayah membutuhkanmu?”

Air mataku jatuh.

“Untuk semuanya.”

Intan menghela napas.

“Ayah terus mencari kamu, Mas. Bahkan ketika sudah susah bicara, dia masih berusaha menyebut namamu.”

Aku menunduk.

“Maaf.”

“Jangan minta maaf supaya aku cepat memaafkanmu.”

Aku mengangkat wajah.

Intan melanjutkan dengan suara bergetar.

“Aku sudah terlalu lama berusaha memahami kesibukanmu. Ternyata selama ini kamu punya waktu untuk orang lain, hanya bukan untuk kami.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada semua tuduhan sebelumnya.

Aku tidak membela diri.

Karena tidak ada pembelaan yang pantas.

Beberapa hari berikutnya, pemeriksaan internal perusahaan dimulai.

Arief menyerahkan temuan awal kepada direksi dan komite audit.

Sejumlah dokumen pembayaran ditemukan memiliki ketidaksesuaian antara tanda tangan, jadwal persetujuan, dan catatan sistem.

Surya dinonaktifkan sementara dari kewenangan persetujuan pembayaran selama pemeriksaan berlangsung.

Selma juga dipanggil memberikan keterangan terkait keterlibatan perusahaannya.

Dalam proses tersebut, diketahui bahwa sebagian dokumen persetujuan menggunakan salinan tanda tanganku yang pernah terdapat pada berkas administrasi proyek.

Namun, penyelidikan masih diperlukan untuk menentukan siapa yang memalsukan dan siapa yang bertanggung jawab atas setiap transaksi.

Aku sendiri tidak luput dari pemeriksaan.

Sebagai manajer proyek, aku telah lalai menjaga akses dokumen dan mengabaikan sejumlah prosedur pengawasan.

Bahkan jika tanda tanganku dipalsukan, kelalaianku tetap harus dipertanggungjawabkan.

Dua minggu kemudian, Selma meminta bertemu dengan didampingi pengacaranya.

Kami bertemu di kantor Arief.

Dia terlihat sangat berbeda.

Tidak ada lagi pakaian mahal atau senyum percaya diri.

Di hadapan kami, Selma mengakui telah menerima instruksi dari Surya untuk memperoleh informasi proyek melalui kedekatan pribadinya denganku.

Dia juga mengakui telah membuka ponselku dan menghapus pesan keluarga ketika kami berada di Lombok.

“Kenapa?” tanyaku.

Selma menunduk.

“Karena aku takut kamu pulang dan menemukan dokumen yang sedang dicari Surya. Dia bilang semuanya akan berantakan kalau kamu kembali sebelum akhir pekan.”

Aku memejamkan mata.

“Jadi kamu tahu Ayahku sedang kritis?”

Selma mengangguk sambil menangis.

“Aku membaca pesan Intan.”

Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam diriku.

“Tapi kamu tetap menghapusnya?”

“Iya.”

Aku berdiri perlahan.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”

Aku meninggalkan ruangan tanpa menoleh.

Sebulan kemudian, laporan audit awal menunjukkan bahwa sebagian besar transaksi mencurigakan berkaitan dengan skema pembayaran vendor yang tidak sesuai prosedur. Temuan tersebut diserahkan untuk proses hukum lebih lanjut.

Aku tidak tahu bagaimana akhir perkara itu nantinya.

Namun, satu hal sudah pasti.

Ayah telah berusaha melindungiku dari persoalan yang seharusnya menjadi tanggung jawabku sendiri.

Suatu sore, Rani mengajakku kembali ke bengkel.

Dia menyerahkan sebuah amplop kecil yang ditemukan di balik foto keluarga.

Di bagian depan tertulis namaku.

Tulisan tangan Ayah.

Aku membukanya dengan jantung berdebar.

Rizal, kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ayah belum sempat bicara langsung denganmu. Ayah tahu kamu sedang melakukan kesalahan besar dalam hidupmu. Ayah juga tahu ada orang yang memanfaatkan kelemahanmu. Tapi Ayah tidak ingin kamu menganggap dirimu hanya sebagai korban.

Aku berhenti membaca.

Air mataku jatuh ke kertas.

Ayah melanjutkan.

Kamu harus bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri. Kalau seseorang menipumu, itu kesalahannya. Tapi kalau kamu mengkhianati orang yang mencintaimu, itu keputusanmu. Jangan mencampuradukkan keduanya.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Di bagian terakhir, Ayah menulis.

Ayah tidak membutuhkan anak yang selalu benar. Ayah hanya ingin kamu menjadi laki-laki yang berani mengakui kesalahannya. Pulanglah sebelum kamu kehilangan orang-orang yang masih menunggumu.

Aku menangis sampai bahuku bergetar.

Ayah sudah mengetahui semuanya.

Dia tahu tentang Selma.

Dia tahu tentang kebohongan yang kusembunyikan dari Intan.

Namun, bukannya meninggalkanku, dia justru mencoba menyelamatkanku.

Dan aku tidak pernah memberinya kesempatan mendengar ucapan terima kasih.

Beberapa minggu setelah itu, aku mengajukan cuti panjang dari pekerjaan dan mulai menjalani konseling untuk memahami keputusan-keputusan buruk yang selama ini kubuat.

Intan memilih tinggal sementara bersama orang tuanya.

Aku tidak memaksanya pulang.

Aku juga tidak meminta dia segera memaafkanku.

Ketika akhirnya kami bertemu untuk membicarakan masa depan pernikahan kami, dia berkata dengan tenang.

“Mas, aku belum tahu apakah kita bisa kembali seperti dulu.”

Aku mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Tapi aku ingin kamu berubah bukan karena takut kehilangan aku. Aku ingin kamu berubah karena kamu sadar apa yang salah.”

Aku menatapnya.

“Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti.”

Intan tidak menjanjikan kesempatan kedua.

Dan aku tidak berhak menuntutnya.

Enam bulan kemudian, aku kembali mengunjungi makam Ayah.

Rumput di sekitarnya sudah tumbuh rapi.

Aku membawa bunga dan duduk lama di samping nisannya.

“Yah, aku sudah menyerahkan semua yang kutahu kepada penyidik. Aku juga sedang belajar memperbaiki hidupku.”

Angin sore bertiup pelan.

Aku mengusap batu nisan Ayah.

“Aku nggak bisa mengubah hari ketika Ayah meninggal. Aku juga nggak bisa mengembalikan waktu yang kulewatkan bersama perempuan lain.”

Suaraku mulai bergetar.

“Tapi aku janji, aku nggak akan lagi menggunakan kebohongan untuk melarikan diri dari tanggung jawab.”

Aku menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku tidak meminta Ayah memaafkanku.

Aku hanya berterima kasih karena sampai akhir hidupnya, dia masih berusaha menunjukkan jalan pulang.

Dan aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan.

Pengkhianatan Selma telah merampas kesempatan terakhirku bertemu Ayah.

Tetapi kebohongankulah yang membawaku begitu jauh dari keluarga hingga orang lain bisa memanfaatkan keadaan itu.

Aku tidak bisa mengembalikan hari-hari yang hilang.

Namun, aku masih bisa menentukan bagaimana menjalani hari-hari yang tersisa.

Sebab penyesalan yang sesungguhnya bukan sekadar menangisi kesalahan masa lalu.

Melainkan memiliki keberanian untuk berhenti mengulanginya, meskipun orang yang paling ingin kita mintai maaf sudah tidak ada lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang