
“Tahap terakhir apa, Mas?”
Aku mengulang pertanyaanku, tetapi Bagas tidak segera menjawab.
Dari seberang telepon, terdengar suara pintu ditutup. Kemudian suamiku berbicara dengan nada jauh lebih pelan.
“Raisa, mereka bukan cuma mau mengambil uang Rp640 juta. Mereka mau menjadikan kamu orang yang bertanggung jawab atas seluruh penyimpangan pembayaran proyek Arunika.”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Maksud Mas?”
“PT Karsa Utama Kreatif itu perusahaan yang didirikan delapan bulan lalu. Secara administratif, direktur dan pemegang sahamnya tercatat atas nama orang lain. Tapi operasional keuangannya dikendalikan Pak Surya.”
Aku menatap Ayu.
“Lalu kenapa nomor Mas dipakai sebagai kontak?”
Bagas menarik napas panjang.
“Karena aku yang membantu menyiapkan dokumen pembukaan rekening perusahaannya.”
Dunia seakan berhenti berputar.
“Jadi Mas memang terlibat?”
“Iya, Raisa. Dan itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”
Aku memejamkan mata.
Lelaki yang selama ini tidur di sampingku ternyata telah membantu atasanku membangun perusahaan yang akan menerima uang dari proyekku.
“Sejak kapan?”
“Delapan bulan lalu.”
Delapan bulan.
Artinya, jauh sebelum proyek Arunika dimulai.
Aku hampir tidak mampu berbicara.
“Kenapa, Mas?”
“Pak Surya menjanjikan posisi direktur keuangan regional kalau aku membantu mengurus administrasi perusahaan itu. Awalnya aku pikir hanya untuk kerja sama vendor.”
“Lalu kapan Mas tahu ada penyelewengan?”
Bagas terdiam.
“Ketika mereka mulai membuat tagihan untuk pekerjaan yang sebenarnya belum dilakukan.”
Aku menahan tangis.
“Dan Mas tetap diam?”
“Iya.”
Aku menutup telepon.
Tidak ada lagi yang ingin kudengar saat itu.
Ayu menggenggam tanganku.
“Raisa, kita harus segera memastikan pembayaran itu belum diproses.”
Aku mengangguk.
Bu Maya yang sejak tadi mendengarkan sebagian percakapan segera menghubungi kepala pengadaan Arunika Medika.
Setelah menjelaskan adanya sengketa dokumen dan dugaan pemalsuan persetujuan, dia meminta agar perubahan vendor ditinjau kembali sebelum pembayaran dilakukan.
Kami tidak bisa langsung membatalkan transaksi hanya berdasarkan kecurigaan. Namun, pihak klien setuju menahan proses verifikasi pembayaran sampai dokumen pendukung diperiksa.
Aku baru bisa bernapas sedikit lega.
Sore harinya, Bagas mengirim pesan.
Aku punya bukti tahap terakhir rencana mereka. Aku akan menyerahkannya kepada pengacara yang kamu tunjuk. Aku nggak akan memintamu percaya begitu saja.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Ayu.
Dia menyarankan agar kami bertemu melalui jalur resmi, bukan sendirian.
Keesokan paginya, kami mendatangi kantor seorang pengacara ketenagakerjaan bernama Pak Damar.
Bagas sudah menunggu di ruang rapat.
Wajahnya terlihat kusut.
Begitu melihatku, dia berdiri.
“Raisa…”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan panggil aku seperti nggak terjadi apa-apa. Tunjukkan buktinya.”
Bagas menunduk, lalu menyerahkan sebuah flashdisk dan beberapa salinan dokumen yang diperolehnya dari pekerjaan administrasi keuangan.
Pak Damar meminta agar seluruh berkas diperiksa dan disimpan dengan catatan asal-usul yang jelas.
Di dalam flashdisk tersebut terdapat rancangan laporan audit internal.
Tanggal pembuatannya dua minggu sebelum aku dipecat.
Aku membuka halaman pertama.
Nama terlapor tercantum jelas.
Raisa Maharani.
Dugaan pelanggaran berupa penyalahgunaan kewenangan proyek, manipulasi dokumen vendor, dan persetujuan pembayaran tanpa dasar pekerjaan yang sah.
Aku merasa kedua tanganku dingin.
“Mereka sudah menyiapkan laporan untuk menyalahkanku?”
Bagas mengangguk.
“Pak Surya berencana mengajukan laporan itu setelah dana Rp640 juta masuk ke rekening Karsa Utama.”
Aku menatap dokumen tersebut.
“Jadi ini tahap terakhirnya?”
“Bukan cuma itu.”
Bagas membuka halaman berikutnya.
Di sana terdapat rancangan pernyataan pengakuan tanggung jawab.
Namaku tercetak di bagian atas.
Menurut dokumen tersebut, aku menyetujui penggunaan PT Karsa Utama Kreatif sebagai vendor desain, memerintahkan pengalihan pembayaran, dan bertanggung jawab atas seluruh kerugian yang mungkin timbul.
Di bawahnya tersedia ruang tanda tangan.
Aku langsung menggeleng.
“Aku nggak pernah menyetujui ini.”
“Memang belum,” jawab Bagas.
Aku menatapnya.
“Belum?”
Bagas menunduk.
“Pak Surya berencana memanggilmu ke kantor untuk menyelesaikan administrasi pemecatan. Di antara dokumen pesangon, mereka akan memasukkan surat pernyataan ini.”
Aku hampir tidak percaya.
Mereka bukan hanya mencuri konsep yang kukembangkan selama empat bulan.
Mereka juga menyiapkan dokumen agar aku tampak mengakui keterlibatan dalam transaksi yang tidak pernah kusetujui.
Kalau aku menandatanganinya tanpa membaca, pernyataan itu bisa digunakan untuk memperkuat tuduhan terhadapku.
Pak Damar memeriksa dokumen tersebut dengan serius.
“Bu Raisa, jangan menandatangani surat apa pun yang memuat pengakuan atau pelepasan hak sebelum diperiksa. Kita juga harus memastikan dokumen mana yang benar-benar diterbitkan perusahaan dan mana yang masih berupa rancangan.”
Aku mengangguk.
Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan.
Aku menoleh kepada Bagas.
“Mas ikut menyusun laporan palsu ini?”
Dia menggeleng.
“Aku tahu rancangan itu ada, tetapi bukan aku yang membuatnya.”
“Dan Mas nggak memberitahuku?”
Bagas mulai menangis.
“Aku takut, Raisa. Kalau aku membuka semuanya, aku juga akan diperiksa.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi Mas membiarkan istrimu dipecat dan dipermalukan demi menyelamatkan diri sendiri?”
Dia tidak menjawab.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku akhirnya benar-benar patah.
Sebelumnya aku masih berharap nomor telepon Bagas hanya digunakan tanpa izin.
Sekarang aku tahu dia memang terlibat dalam pengurusan perusahaan tersebut.
Mungkin dia bukan orang yang merancang seluruh penipuan, tetapi dia telah memilih diam ketika mengetahui kebohongan itu mulai menghancurkan hidupku.
Pak Damar kemudian membantu menyusun langkah hukum.
Kami menyiapkan keberatan atas pemecatan, permintaan pemeriksaan dugaan pemalsuan tanda tangan, serta surat kepada Arunika Medika mengenai sengketa dokumen vendor.
Ayu membantuku mengurutkan bukti pekerjaan berdasarkan tanggal.
Sementara itu, Bagas diminta memberikan keterangan tertulis mengenai perannya sendiri, tanpa menghilangkan atau mengubah dokumen apa pun.
Dua hari kemudian, aku menerima undangan dari perusahaan untuk menyelesaikan administrasi pemutusan hubungan kerja.
Aku datang bersama Pak Damar.
Pak Surya terlihat terkejut ketika melihat pengacara mendampingiku.
“Raisa, ini cuma proses administrasi biasa.”
Aku duduk dengan tenang.
“Kalau begitu, tentu nggak masalah kalau semua dokumennya diperiksa.”
Livia yang duduk di sampingnya langsung menunduk.
Seorang staf HR menyerahkan map berisi beberapa lembar dokumen.
Ada rincian hak ketenagakerjaan.
Surat pengembalian aset kantor.
Dan sebuah pernyataan bahwa aku telah menyelesaikan seluruh kewajiban terkait Proyek Arunika Medika.
Aku membaca setiap halaman.
Pada bagian terakhir, terdapat klausul yang menyebutkan bahwa aku menyetujui seluruh perubahan vendor dan tidak akan mengajukan keberatan atas transaksi proyek yang telah diproses.
Aku mengangkat dokumen itu.
“Pak Surya, kenapa penyelesaian hak kerja saya dikaitkan dengan persetujuan perubahan vendor?”
Pak Surya terlihat gugup.
“Itu format standar.”
Pak Damar langsung meminta dasar administrasi dan penjelasan tertulis mengenai klausul tersebut.
Pak Surya tidak segera menjawab.
Aku kemudian meletakkan salinan proposal desain tertanggal Januari di atas meja.
“Kalau perusahaan menuduh saya mencuri konsep Livia, saya ingin tahu bagaimana Livia bisa membuat desain ini sebelum menjadi karyawan.”
Livia langsung mengangkat kepala.
“Itu bukan bukti!”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu, jelaskan kenapa gambar teknik yang kamu klaim sebagai karyamu memiliki riwayat revisi atas namaku empat bulan lalu.”
Wajah Livia berubah pucat.
Pak Surya buru-buru menyela.
“Kita tidak sedang membahas kepemilikan desain.”
Aku menatapnya dengan tenang.
“Justru itu alasan Bapak memecat saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Damar kemudian menyerahkan surat keberatan resmi dan permintaan agar perusahaan mempertahankan seluruh arsip digital yang berkaitan dengan proyek.
Aku meninggalkan kantor tanpa menandatangani pernyataan yang disengketakan.
Namun, sebelum keluar dari gedung, Livia mengejarku.
“Mbak Raisa!”
Aku berhenti.
Perempuan itu terlihat hampir menangis.
“Aku mau bicara.”
Aku menatapnya.
“Silakan.”
Livia mengeluarkan ponsel.
“Aku memang memakai konsep Mbak. Tapi aku nggak tahu soal perusahaan Karsa Utama sampai minggu lalu.”
Aku tidak langsung percaya.
“Kenapa aku harus mendengarkanmu?”
“Karena Pak Surya juga membohongiku.”
Livia menunjukkan sebuah percakapan.
Pak Surya menjanjikan posisi kepala tim kreatif dan bonus besar jika Livia bersedia menyatakan bahwa konsep Arunika merupakan hasil pekerjaannya.
Namun, dalam pesan berikutnya, Pak Surya meminta Livia menandatangani pernyataan bahwa semua materi desain yang dia gunakan berasal dari vendor PT Karsa Utama Kreatif.
Aku mengerutkan kening.
“Jadi kamu juga diminta menyerahkan klaim desain kepada perusahaan itu?”
Livia mengangguk.
“Aku pikir cuma administrasi.”
Aku menatapnya lama.
“Kamu tetap tahu desain itu bukan milikmu.”
Air mata Livia jatuh.
“Iya. Aku salah.”
Aku tidak menghiburnya.
Namun, aku meminta agar dia menyerahkan informasi tersebut melalui jalur pemeriksaan resmi jika benar ingin memperbaiki kesalahannya.
Seminggu kemudian, Arunika Medika mengadakan pertemuan verifikasi dokumen dengan perusahaan tempatku dulu bekerja.
Aku hadir sebagai pihak yang diminta memberikan penjelasan mengenai riwayat konsep dan komunikasi proyek.
Bu Maya menunjukkan arsip email sejak Januari.
Fikri, vendor signage, memberikan salinan revisi desain beserta tanggal penerimaannya.
Livia akhirnya mengakui bahwa dia baru mulai menangani proyek setelah bergabung pada bulan Maret.
Pak Surya berusaha menyebut persoalan itu sebagai kesalahpahaman administrasi.
Namun, ketika pihak Arunika menanyakan alasan perubahan penerima pembayaran Rp640 juta, dia tidak dapat menunjukkan dasar persetujuan yang lengkap.
Klien kemudian menunda pembayaran kepada PT Karsa Utama Kreatif dan meminta pemeriksaan independen.
Di sisi lain, perusahaan tempatku bekerja mulai melakukan audit internal setelah menerima keberatan resmi dan dokumen pendukung.
Pak Surya dinonaktifkan sementara dari kewenangan persetujuan vendor selama pemeriksaan berlangsung.
Livia juga diminta memberikan keterangan mengenai perubahan riwayat desain.
Sementara transaksi PT Karsa Utama Kreatif dan peran Bagas mulai diperiksa lebih lanjut.
Aku tidak menganggap semuanya selesai.
Pemecatanku masih harus diselesaikan melalui mekanisme ketenagakerjaan yang berlaku.
Persoalan penggunaan desain dan dugaan pemalsuan dokumen juga membutuhkan proses pembuktian tersendiri.
Namun, setidaknya aku tidak lagi berdiri sendirian menghadapi tuduhan tanpa bukti.
Sebulan kemudian, Bagas datang ke rumah Ayu untuk menemuiku.
Aku memang belum kembali ke rumah kami.
Setelah mengetahui keterlibatannya, aku membutuhkan jarak untuk memikirkan masa depan pernikahan kami.
Bagas membawa sebuah amplop.
“Aku sudah menyerahkan keteranganku kepada tim pemeriksa,” katanya.
Aku mengangguk.
“Lalu?”
“Aku juga mengundurkan diri dari kewenangan pengelolaan vendor selama pemeriksaan berlangsung.”
Aku menatapnya.
“Mas datang untuk meminta maaf?”
Dia mengangguk.
“Dan untuk mengatakan bahwa aku siap menerima akibat dari perbuatanku.”
Aku duduk di hadapannya.
“Kenapa Mas nggak pernah cerita soal janji promosi dari Pak Surya?”
Bagas mengusap wajahnya.
“Aku merasa selalu berada di belakang pencapaianmu. Kamu dipercaya memimpin proyek besar, sementara aku bertahun-tahun bekerja di posisi yang sama.”
Aku terdiam.
Bagas melanjutkan.
“Ketika Pak Surya menawarkan kesempatan menjadi direktur keuangan regional, aku merasa akhirnya punya sesuatu yang bisa kubanggakan.”
Aku memandangnya dengan kecewa.
“Jadi keberhasilanku membuat Mas merasa kecil?”
Dia menunduk.
“Aku malu mengakuinya. Tapi iya.”
Air mataku mulai jatuh.
“Aku nggak pernah menganggap Mas lebih rendah dariku.”
“Aku tahu.”
“Kalau Mas tahu, kenapa harus membuktikan sesuatu dengan ikut membantu orang yang menghancurkan pekerjaanku?”
Bagas tidak mampu menjawab.
Aku menghapus air mata.
“Mas, aku bisa memahami rasa takutmu kehilangan pekerjaan. Aku bahkan bisa memahami ambisimu ingin naik jabatan.”
Aku menarik napas panjang.
“Tapi aku nggak bisa menerima bahwa kamu memilih menyembunyikan kejahatan yang merugikanku.”
Bagas menangis.
“Aku nggak meminta kamu langsung memaafkanku.”
Aku mengangguk.
“Bagus. Karena aku memang belum bisa.”
Dia menunduk lama sekali.
Sebelum pergi, Bagas mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Aku dulu mengira menjadi suami yang berhasil berarti punya jabatan lebih tinggi daripada istriku. Sekarang aku sadar, aku justru kehilangan rasa hormat dari orang yang paling percaya kepadaku.”
Aku tidak menjawab.
Karena penyesalan tidak bisa langsung mengembalikan kepercayaan yang telah rusak.
Tiga bulan kemudian, pemeriksaan independen menemukan sejumlah dokumen proyek yang dibuat atau diubah tanpa persetujuan pihak yang namanya tercantum.
Berdasarkan bukti komunikasi, riwayat desain, dan keterangan para pihak, klaim bahwa Livia merupakan pencipta awal konsep Arunika tidak dapat dipertahankan.
Aku mendapatkan surat resmi yang mengakui peranku sebagai konseptor utama dalam pengembangan desain tahap awal.
Sengketa pemutusan hubungan kerja juga diselesaikan melalui proses yang didampingi pengacaraku, termasuk pemenuhan hak-hak yang disepakati.
Pihak Arunika Medika kemudian menghubungiku.
Mereka menawarkan kesempatan bekerja sebagai konsultan desain independen untuk pengembangan beberapa cabang berikutnya, melalui kontrak baru yang terpisah dari proyek lama.
Aku menerima tawaran itu setelah seluruh persyaratan diperiksa.
Bukan karena ingin membalas dendam kepada Pak Surya.
Melainkan karena aku masih mencintai pekerjaanku.
Suatu sore, ketika sedang menata meja kerja baruku, Ayu datang membawa dua gelas kopi.
“Gimana rasanya punya kantor sendiri?”
Aku tersenyum.
“Masih takut.”
Ayu tertawa.
“Takut apa?”
“Takut harus mulai semuanya dari awal.”
Ayu meletakkan kopi di mejaku.
“Raisa, kamu memang kehilangan pekerjaan lama. Tapi kamu nggak kehilangan kemampuan yang membuatmu mendapat pekerjaan itu.”
Aku memandang layar laptop.
Di sana terdapat rancangan awal sebuah klinik baru.
Aku mengambil pena digital dan mulai menggambar.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tanganku kembali bergerak tanpa rasa takut seseorang akan mengambil hasil pekerjaanku.
Malam itu, aku menemukan kembali sebuah foto lama dalam folder pribadi.
Foto diriku dan Bagas ketika baru menikah.
Kami tersenyum lebar di depan rumah kontrakan pertama.
Aku menatapnya cukup lama.
Dulu aku mengira pernikahan berarti memiliki seseorang yang akan selalu berdiri di pihakku.
Namun, aku belajar bahwa kedekatan tidak selalu menjamin kejujuran.
Kadang orang yang paling mengetahui kelemahan dan perjuangan kita justru menjadi orang yang paling mudah menggunakan kepercayaan itu untuk kepentingannya sendiri.
Aku tidak tahu apakah suatu hari hubungan kami bisa diperbaiki.
Tetapi aku sudah berhenti menganggap mempertahankan pernikahan sebagai alasan untuk mengabaikan harga diriku.
Aku menutup folder foto itu.
Kemudian membuka kembali rancangan desain di layar.
Empat bulan kerja kerasku pernah hampir dihapus hanya dengan satu pengumuman di ruang rapat.
Namaku pernah dicoret dari dokumen proyek yang kukembangkan sendiri.
Dan tanda tanganku pernah digunakan untuk menciptakan persetujuan yang tidak pernah kuberikan.
Namun, semuanya tidak berhasil menghapus satu hal.
Kemampuanku.
Karena hasil pekerjaan mungkin bisa dicuri, jabatan bisa direbut, dan nama seseorang bisa dihapus dari halaman presentasi.
Tetapi pengetahuan, pengalaman, dan keberanian untuk kembali berkarya tidak dapat diambil oleh siapa pun.
Dan ketika aku menggambar garis pertama untuk proyek baruku, aku akhirnya menyadari bahwa kemenangan terbesarku bukanlah melihat orang-orang yang mengkhianatiku kehilangan jabatan.
Melainkan mengetahui bahwa setelah semua yang mereka lakukan, aku masih mampu membangun masa depanku sendiri.
