SUAMIKU MELARANGKU DATANG KE ACARA PERESMIAN TOKO KELUARGANYA. TAK

“IBU YANG BERDANDAN SEPERTIKU DAN MENGAKU SEBAGAI PEMILIK RUMAH ITU?”

Aku menatap Bu Mirah dengan tangan gemetar.

Perempuan yang selama enam tahun kupanggil Ibu itu berdiri di lobi hotel dengan wajah pucat. Kebaya ungunya terlihat begitu rapi, tetapi kedua tangannya terus meremas tali tas.

“Laras, kamu salah paham.”

Aku menunjuk layar laptop.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa suara Ibu ada dalam rekaman persetujuan bank atas namaku!”

Bu Mirah menoleh kepada Pak Hardiman.

“Mas, seharusnya kamu tidak memperlihatkan itu kepadanya.”

Ayah mertuaku langsung berdiri.

“Justru kamu yang seharusnya menjelaskan kenapa melakukan hal seperti ini!”

Bu Mirah terdiam.

Aku menarik napas panjang.

“Bu, rumah di Laweyan itu dibeli dengan uang tabunganku dan Reza. Sertifikatnya atas nama kami berdua. Tidak seorang pun boleh menggunakan rumah itu sebagai jaminan tanpa persetujuanku.”

“Ibu cuma membantu Reza.”

“Dengan berpura-pura menjadi aku?”

Air mata mulai menggenang di mata Bu Mirah.

“Reza bilang kamu sudah setuju, tapi sedang tidak bisa datang untuk verifikasi.”

Aku tertawa pahit.

“Dan Ibu percaya begitu saja?”

Bu Mirah menunduk.

Pak Hardiman mengambil flashdisk dari laptop dan memasukkannya kembali ke kotak.

“Masalah ini harus diselesaikan secara resmi. Tidak ada transaksi yang boleh dilanjutkan.”

Aku mengangguk.

Namun, sebuah pertanyaan terus menggangguku.

Kenapa Bu Mirah begitu takut rekaman itu dibawa ke acara peresmian?

Aku menatapnya.

“Ibu, apa yang sebenarnya akan diumumkan malam ini?”

Bu Mirah tidak menjawab.

Bu Rika kemudian membuka sebuah surel dari sekretariat perusahaan.

Di dalamnya terdapat susunan acara peresmian.

Pukul 20.30, pengumuman jajaran direksi baru.

Pukul 20.45, penandatanganan kerja sama ekspansi.

Pukul 21.00, presentasi pendanaan.

Aku memperhatikan nama perusahaan mitra yang tercantum dalam dokumen.

PT Nawasena Promosi.

Perusahaan yang menerima pembayaran hampir Rp1,2 miliar dan memiliki hubungan dengan Nadia.

“Jadi Nadia bukan hanya akan menjadi direktur?” tanyaku.

Bu Rika menggeleng.

“Menurut rancangan perjanjian, perusahaan tersebut juga akan mendapatkan kontrak eksklusif pemasaran selama lima tahun.”

Aku menatap Pak Hardiman.

“Bapak sudah menyetujuinya?”

“Tidak.”

Jawabannya tegas.

“Reza menyiapkan perubahan itu tanpa persetujuan direksi lainnya.”

Bu Mirah tiba-tiba menangis.

“Reza bilang semua sudah dibicarakan dengan Ayahnya.”

Pak Hardiman memandang istrinya dengan kecewa.

“Mirah, kamu tahu aku tidak pernah menyetujui pengajuan kredit menggunakan rumah Laras.”

Aku menatap jam.

Pukul 19.38.

Acara akan dimulai dua puluh dua menit lagi.

“Aku akan datang ke sana,” kataku.

Bu Mirah langsung menggeleng.

“Jangan, Laras. Nanti semuanya menjadi kacau.”

Aku mengambil tas.

“Yang membuat semuanya kacau bukan kehadiranku, Bu. Melainkan kebohongan kalian.”

Pak Hardiman mengangguk.

“Ayah ikut.”

Kami tiba di toko tepat ketika pembawa acara sedang menyambut para tamu.

Gedung tiga lantai itu tampak megah dengan lampu-lampu keemasan dan rangkaian bunga di sepanjang pintu masuk.

Aku mengenali setiap sudut bangunan.

Delapan bulan sebelumnya, aku ikut memeriksa dokumen izin renovasi.

Aku bahkan pernah mengambil cuti kerja untuk mendampingi Pak Hardiman bertemu kontraktor ketika beliau masih sulit berjalan.

Namun, malam itu namaku tidak tercantum dalam susunan tempat duduk keluarga.

Ketika memasuki aula, beberapa tamu langsung menoleh.

Aku melihat Reza berdiri di dekat panggung bersama Nadia.

Nadia mengenakan gaun hijau tua.

Tangannya melingkar di lengan suamiku.

Begitu melihatku, senyumnya langsung menghilang.

Reza buru-buru menghampiri.

“Laras! Aku sudah bilang jangan datang!”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Aku datang bersama Ayah.”

Reza langsung membeku ketika melihat Pak Hardiman berjalan di belakangku.

“Ayah? Bukannya Ayah masih di rumah?”

Pak Hardiman menatap putranya.

“Kalau Ayah tidak datang, mungkin kamu akan mengumumkan keputusan yang tidak pernah Ayah setujui.”

Beberapa anggota keluarga mulai mendekat.

Nadia mencoba tersenyum.

“Pak Hardiman, semua ini sebenarnya sudah dipersiapkan dengan baik.”

Pak Hardiman menggeleng.

“Nadia, sejak kapan kamu berhak berbicara mewakili perusahaan keluarga kami?”

Wajah Nadia langsung memerah.

Reza segera menarik kami menuju ruang rapat kecil di belakang aula.

“Jangan membuat keributan di depan investor!”

Aku mengeluarkan salinan dokumen persetujuan bank.

“Kalau begitu, jelaskan ini.”

Begitu melihatnya, Reza langsung terdiam.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Dari orang yang masih menghormati hakku.”

Aku menunjuk tanda tangan palsu tersebut.

“Kamu menyuruh ibumu berpura-pura menjadi aku?”

Reza mengusap wajahnya.

“Laras, semuanya cuma untuk mempercepat proses.”

“Proses apa? Menjaminkan rumah kita demi membayar Nadia?”

Nadia langsung menyela.

“Jangan membawa-bawa saya dalam masalah rumah tangga kalian.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, kenapa perusahaan yang terhubung denganmu menerima hampir Rp1,2 miliar?”

Nadia terdiam.

Bu Rika kemudian masuk membawa laporan pembayaran.

“Kami sudah memeriksa sebagian dokumen vendor. Ada beberapa tagihan jasa pemasaran yang belum memiliki bukti pekerjaan sesuai nilai pembayaran.”

Reza langsung membentak.

“Bu Rika, ini bukan urusan Anda!”

Pak Hardiman menghentaknya.

“Cukup, Reza!”

Suasana mendadak sunyi.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah suamiku terlihat benar-benar ketakutan.

Pak Hardiman meminta Reza menyerahkan seluruh dokumen ekspansi kepada bagian hukum perusahaan.

Namun, sebelum menjawab, Nadia tiba-tiba berkata sesuatu yang membuatku membeku.

“Reza, kamu bilang setelah malam ini semuanya akan selesai.”

Aku menoleh.

“Apa maksudmu?”

Nadia menatap Reza dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu bilang setelah pengumuman direksi, kamu akan menjelaskan hubungan kita kepada keluargamu.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

Hubungan mereka.

Dua kata itu akhirnya menghapus seluruh keraguanku.

Aku menatap Reza.

“Jadi kalian memang berselingkuh?”

Reza tidak menjawab.

Nadia mulai menangis.

“Dia bilang pernikahan kalian sudah tidak bisa diselamatkan.”

Aku tertawa pahit.

“Aneh sekali. Aku baru mendengarnya sekarang.”

Pak Hardiman memejamkan mata.

Bu Mirah yang baru memasuki ruangan langsung terduduk di kursi.

“Reza, kamu bilang Nadia hanya konsultan.”

Reza terlihat semakin panik.

“Semua orang berhenti menyalahkanku!”

Aku menggeleng.

“Tidak ada yang menyalahkanmu tanpa alasan. Kami hanya meminta kamu bertanggung jawab atas keputusanmu sendiri.”

Malam itu, acara peresmian tetap berlangsung.

Namun, pengumuman direksi baru dan penandatanganan kerja sama ekspansi dibatalkan.

Pak Hardiman menyampaikan kepada para tamu bahwa perusahaan membutuhkan pemeriksaan administrasi tambahan sebelum melanjutkan rencana tersebut.

Tidak ada pertengkaran terbuka.

Tidak ada pengumuman mengenai perselingkuhan.

Aku tidak ingin kehidupan pribadiku dijadikan tontonan.

Namun, setelah acara selesai, aku mengambil keputusan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku tidak pulang bersama Reza.

Aku kembali ke rumah orang tuaku di Solo.

Keesokan paginya, aku menghubungi bank bersama penasihat hukum.

Aku menyampaikan keberatan tertulis bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan untuk menjaminkan rumah.

Pihak bank menjelaskan bahwa permohonan kredit belum dicairkan karena verifikasi identitas tidak sesuai.

Aku juga meminta agar dugaan pemalsuan dokumen diperiksa melalui prosedur resmi.

Sementara itu, Pak Hardiman menunjuk auditor independen untuk memeriksa seluruh pembayaran kepada PT Nawasena Promosi.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan sejumlah ketidaksesuaian serius.

Beberapa pekerjaan pemasaran ternyata tidak pernah diselesaikan sesuai kontrak.

Sebagian pembayaran juga diteruskan ke rekening pihak lain yang memiliki hubungan bisnis dengan Reza.

Namun, kejutan terbesar muncul ketika auditor menemukan sebuah perjanjian investasi pribadi.

Dalam perjanjian tersebut, Reza berjanji memberikan sebagian keuntungan proyek ekspansi kepada Nadia sebagai imbalan atas pendanaan awal.

Masalahnya, pendanaan tersebut ternyata tidak pernah masuk secara penuh ke rekening perusahaan.

Reza telah menggunakan sebagian dana operasional toko untuk menutup kewajiban pribadi kepada pihak yang berkaitan dengan Nadia.

Aku membaca laporan itu dengan tangan gemetar.

Jadi, hubungan mereka bukan hanya pengkhianatan dalam pernikahan.

Mereka juga telah menciptakan persoalan keuangan yang dapat mengancam perusahaan keluarga.

Beberapa minggu kemudian, Pak Hardiman meminta Reza mundur sementara dari seluruh kewenangan keuangan perusahaan sampai pemeriksaan selesai.

Reza menolak.

Namun, keputusan tersebut didukung oleh pemegang saham lainnya.

Nadia juga tidak lagi dilibatkan dalam proyek ekspansi.

Proses pemeriksaan terhadap transaksi bermasalah terus berjalan.

Sementara itu, aku mengajukan gugatan cerai.

Reza berkali-kali meminta bertemu.

Awalnya aku menolak.

Namun, setelah beberapa minggu, aku akhirnya menyetujuinya di sebuah kafe dekat rumah orang tuaku.

Dia datang dengan wajah lelah.

“Laras, aku sudah kehilangan pekerjaan di perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Keputusan itu dibuat berdasarkan masalah yang ditemukan auditor.”

“Ayah bahkan tidak mau bicara denganku.”

Aku menghela napas.

“Mas, kamu datang untuk meminta maaf atau ingin aku merasa bersalah?”

Reza terdiam.

Kemudian dia menunduk.

“Aku salah.”

Aku menunggu.

“Aku merasa selama ini Ayah lebih percaya kepadamu daripada kepadaku. Setiap kali ada urusan penting, Ayah selalu meminta pendapatmu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi kamu menghukumku karena Ayah menghargai pekerjaanku?”

Reza mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membangun sesuatu tanpa bantuanmu.”

“Dengan menggunakan rumah kita sebagai jaminan dan memberikan uang perusahaan kepada perempuan lain?”

Dia menangis.

“Aku tidak berpikir semuanya akan sejauh ini.”

Aku menggeleng.

“Justru itu masalahnya. Kamu membuat keputusan besar tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain.”

Reza meraih tanganku.

“Beri aku satu kesempatan lagi.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Kesempatan bukan sesuatu yang bisa kamu minta setelah semua kebohongan terbongkar. Aku sudah kehilangan rasa aman dalam pernikahan ini.”

Dia menunduk.

Aku berdiri.

“Semoga kamu belajar bertanggung jawab, Mas. Tapi aku tidak bisa terus menjadi orang yang menanggung akibat dari kesalahanmu.”

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.

Persoalan rumah di Laweyan ditangani melalui penyelesaian hak dan kewajiban yang sah.

Pengajuan kredit yang menggunakan persetujuan palsu tidak dilanjutkan.

Aku kembali bekerja seperti biasa dan mulai menata hidupku sendiri.

Suatu sore, Pak Hardiman datang mengunjungiku.

Beliau membawa sebuah amplop.

“Apa ini, Pak?”

“Surat dari Ayah.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat tulisan tangan yang rapi.

Laras, Ayah tahu kamu datang ke keluarga ini sebagai menantu, tetapi selama bertahun-tahun kamu bekerja dan membantu kami seperti anak sendiri.

Ayah meminta maaf karena tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Kamu tidak pernah menjadi orang luar hanya karena pernikahanmu dengan Reza berakhir.

Aku langsung menangis.

Pak Hardiman menggenggam tanganku.

“Ayah tidak bisa mengubah apa yang dilakukan Reza. Tapi Ayah ingin kamu tahu bahwa kebaikanmu tidak hilang hanya karena dia gagal menghargainya.”

Aku mengangguk sambil menghapus air mata.

“Terima kasih, Pak.”

Namun, sebelum pulang, Pak Hardiman mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.

“Ayah ingin menyerahkan tanggung jawab pengelolaan salah satu unit usaha keluarga kepada tim profesional. Ayah juga ingin meminta pendapatmu sebagai konsultan independen, kalau kamu bersedia.”

Aku menatapnya.

“Bapak masih mempercayaiku?”

Beliau tersenyum.

“Kepercayaan Ayah tidak pernah bergantung pada statusmu sebagai istri Reza.”

Aku terdiam cukup lama.

Kemudian mengangguk.

“Aku bersedia membantu secara profesional, Pak. Tapi semua harus jelas dalam perjanjian kerja.”

Pak Hardiman tertawa.

“Itulah Laras yang Ayah kenal.”

Setahun setelah malam peresmian itu, aku kembali mengunjungi pusat grosir tekstil keluarga.

Bangunannya kini ramai oleh pembeli.

Sistem keuangan dan pengadaan telah diperbaiki.

Perusahaan juga mulai pulih setelah menghentikan sejumlah kontrak bermasalah.

Aku berjalan melewati aula tempat Reza dan Nadia pernah berdiri bersama.

Di sudut ruangan masih terdapat meja bundar dengan nomor kecil.

Meja 01.

Aku berhenti sejenak.

Dulu, nomor meja itu membuatku merasa dibuang dari keluarga yang selama ini kubantu.

Aku mengira seseorang telah mengambil tempatku dan menggantikanku begitu saja.

Namun, sekarang aku memahami bahwa tempat seseorang dalam kehidupan tidak ditentukan oleh kartu nama yang diletakkan di atas meja.

Tidak juga oleh jabatan, hubungan keluarga, atau penampilan di depan tamu undangan.

Melainkan oleh kejujuran, tanggung jawab, dan cara orang lain memperlakukannya ketika tidak ada yang sedang memperhatikan.

Aku tersenyum kecil.

Kemudian melanjutkan langkah menuju ruang rapat.

Di sana, beberapa staf sudah menunggu untuk membahas rencana bisnis baru.

Aku duduk di kursi yang telah disediakan.

Bukan sebagai menantu keluarga Pradana.

Bukan sebagai istri Reza.

Melainkan sebagai Larasati Prameswari, seorang perempuan yang akhirnya belajar bahwa harga dirinya tidak pernah ditentukan oleh apakah seseorang bersedia memberinya tempat di meja utama.

Karena terkadang, ketika seseorang sengaja menyingkirkan kita dari sebuah ruangan, kehidupan justru sedang menunjukkan bahwa kita memang pantas berada di tempat yang jauh lebih baik.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang