TUNANGANKU DIAM-DIAM MEMBELI KAIN ANTIK INCARANKU MELALUI

Aku baru memahami alasan Ayah begitu ketakutan ketika Bu Ratih menunjukkan sebuah foto lama

kepadaku.

Foto itu memperlihatkan Mbah Rukmini yang masih muda, berdiri di depan sebuah rumah produksi batik di Lasem. Di sebelahnya ada seorang pria mengenakan kemeja putih.

Pria itu adalah Hendra Pradipta.

Ayah kandungku sendiri.

Namun, di belakang foto terdapat tulisan tangan Mbah yang membuat dadaku sesak.

A17 adalah karya terakhir yang kami buat bersama sebelum Hendra mengambil semuanya.

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Selama tiga bulan terakhir, Ayah selalu menceritakan bagaimana dia membangun Pradipta Heritage dari sebuah usaha tekstil kecil pada akhir 1980-an.

Menurutnya, keberhasilan perusahaan berasal dari keberanian mengambil risiko dan kemampuannya membaca pasar.

Namun, foto tersebut menunjukkan cerita yang berbeda.

“Ayah pernah bekerja bersama Mbah Rukmini?” tanyaku.

Ayah tidak menjawab.

Kami masih berada di ruang inspeksi balai lelang. Keisya dan Dion berdiri beberapa langkah di belakangku, sementara petugas konservasi menunggu izin untuk memindahkan kain A17 ke tempat penyimpanan yang lebih aman.

“Ayah, aku bertanya.”

Hendra akhirnya menghela napas.

“Dulu kami memang bekerja bersama.”

“Sebagai apa?”

“Rekan usaha.”

Aku menatapnya tajam.

“Kalau begitu, kenapa selama ini Ayah mengatakan Mbah cuma perajin yang membesarkanku?”

Wajah Ayah mengeras.

“Karena hubungan kami berakhir buruk.”

Aku hampir tertawa.

“Buruk karena Ayah mengambil karya miliknya?”

Hendra memalingkan wajah.

“Jangan menuduh sebelum kamu mengetahui seluruh ceritanya.”

Aku mengangguk.

“Baik. Kalau begitu, aku akan mencari tahu.”

Aku membawa kain tersebut ke laboratorium konservasi di Surabaya bersama Bu Ratih.

Sebelum berangkat, aku meminta salinan dokumen pembelian dan berita acara penyerahan barang dari pihak balai lelang.

Supervisornya menjelaskan bahwa tiga karung kain yang kubeli berasal dari kelompok barang pendukung sebuah peti penyimpanan tua. Barang-barang itu memang dijual terpisah dari koleksi utama setelah pemiliknya menyetujui pelepasan material yang dianggap tidak bernilai.

Aku meminta mereka mempertahankan catatan asal-usul peti dan barang-barang yang ditemukan di dalamnya.

Ada alasan mengapa aku ingin semua proses terdokumentasi.

Aku tidak ingin Ayah atau Keisya nantinya mengatakan bahwa kain A17 berasal dari gudang perusahaan kami.

Terlebih setelah kejadian lot 118.

Sebenarnya, kain antik incaran pertamaku itu tidak dicuri dari tanganku secara harfiah. Lot tersebut merupakan bagian dari penjualan khusus yang menerima penawaran tertutup dari pembeli terdaftar.

Aku dan Keisya sama-sama memiliki hak mengajukan penawaran.

Namun, Dion yang kutunjuk sebagai penasihat pembelian mengetahui batas anggaranku, daftar prioritas, dan hasil pengamatan awal terhadap kain tersebut.

Dia kemudian menggunakan informasi itu untuk membantu pihak Keisya mengajukan penawaran lebih tinggi sebelum batas waktu ditutup.

Karena itu, pengkhianatannya bukan terletak pada kemenangan Keisya dalam proses lelang yang sah, melainkan pada penyalahgunaan informasi yang kuberikan kepadanya sebagai orang kepercayaan.

Aku sudah menyimpan semua percakapan dan bukti pembayaran jasa konsultasinya.

Namun, sekarang persoalan lot 118 terasa jauh lebih kecil dibandingkan misteri A17.

Di laboratorium, Bu Ratih memeriksa kain itu menggunakan pencahayaan khusus dan mikroskop tekstil.

Aku berdiri di sampingnya dengan jantung berdebar.

“Nara, lihat bagian ini.”

Dia menunjuk lapisan kain cokelat yang selama puluhan tahun digunakan sebagai pembungkus.

Ternyata lapisan tersebut sengaja dijahit menutupi permukaan batik asli.

“Jahitan luarnya dibuat menggunakan benang yang berbeda dari jahitan utama,” jelas Bu Ratih. “Kemungkinan lapisan pelindung ditambahkan setelah kain ini selesai dibuat.”

Aku mengingat pola tiga tusukan pendek dan satu tusukan panjang.

“Itu ciri jahitan Mbah.”

Bu Ratih mengangguk.

“Saya juga mengenalinya. Rukmini sering memakai pola tersebut untuk menandai sisi kain yang tidak boleh dibuka sembarangan.”

Kami kemudian memeriksa kode pudar di sudut kain.

P.H. dan A17.

Sebelumnya aku mengira kedua bagian itu merupakan satu kode.

Namun, Bu Ratih menunjukkan perbedaan warna tinta dan tekanan goresannya.

“P.H. tampaknya merupakan tanda inventaris yang ditambahkan kemudian,” katanya. “Sedangkan A17 dibuat dengan teknik berbeda, kemungkinan saat kain masih berada di bengkel pembuatannya.”

Aku langsung teringat map Arsip 17 milik Mbah.

Berarti kode A17 bukan nomor barang lelang.

Bukan pula kode peti.

Itu kemungkinan merupakan nomor karya yang digunakan Mbah dalam catatan produksinya.

Namun, ada satu hal yang belum kami ketahui.

Mengapa kain tersebut sengaja disembunyikan?

Setelah mendapat persetujuan konservator, lapisan pembungkus dibuka secara bertahap pada bagian yang memungkinkan tanpa merusak kain utama.

Ketika seluruh motif mulai terlihat, aku spontan menutup mulut.

Di tengah kain terdapat gambar dua burung yang saling berhadapan.

Sayapnya membentuk lingkaran menyerupai matahari terbit.

Di bawahnya terdapat motif ombak dan bunga kecil yang disusun tidak simetris.

Aku mengenali corak itu.

Bukan dari katalog Pradipta Heritage.

Melainkan dari kain selendang tua yang selalu dikenakan Mbah ketika menghadiri acara keluarga.

“Bu Ratih, motif ini…”

“Saya tahu,” jawabnya pelan.

Dia mengeluarkan sebuah buku dokumentasi tekstil lama dari rak.

Pada halaman bertanggal 1986, terdapat foto kain dengan susunan motif yang hampir sama.

Di bawahnya tertulis nama pencipta.

Rukmini Wulandari.

Aku membeku.

“Jadi Mbah memang penciptanya?”

“Menurut arsip ini, Rukmini adalah perancang motifnya. Tapi kita masih perlu memeriksa apakah kain A17 merupakan karya asli yang tercatat atau salah satu pengembangan berikutnya.”

Aku mengangguk.

Kemudian Bu Ratih membalik halaman berikutnya.

Di sana terdapat foto Hendra ketika masih muda.

Dia berdiri bersama Mbah di depan sebuah spanduk bertuliskan Bengkel Batik Rukmini dan Hendra.

Aku merasa tenggorokanku mengering.

Selama ini aku mengira Ayah menemukan Mbah hanya untuk membawaku pulang setelah perempuan tua itu meninggal.

Ternyata hubungan mereka telah dimulai jauh sebelum aku lahir.

Malam itu, aku kembali menghubungi Bu Yani di Lasem.

Aku memintanya memeriksa halaman lain dalam map Arsip 17.

Setelah hampir setengah jam, Bu Yani menemukan sebuah amplop kecil yang diselipkan di bagian belakang map.

Di dalamnya terdapat salinan perjanjian usaha tahun 1987.

Aku menerima foto-fotonya melalui ponsel.

Nama pihak pertama tercantum jelas.

Rukmini Wulandari.

Pihak kedua.

Hendra Pradipta.

Perjanjian tersebut mengatur kerja sama produksi dan pemasaran sejumlah motif batik yang dirancang Mbah.

Namun, ada klausul yang membuatku terdiam.

Hak penggunaan komersial motif dapat diberikan kepada perusahaan bersama, tetapi pengakuan pencipta dan kepemilikan karya asli tetap harus dicatat atas nama Rukmini.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Berarti Mbah tidak pernah sepenuhnya menyerahkan seluruh karyanya kepada Hendra.

Lalu mengapa Pradipta Heritage selama puluhan tahun mengiklankan beberapa motif tersebut sebagai warisan eksklusif keluarga Pradipta?

Aku segera menghubungi Ayah.

Panggilan dijawab setelah cukup lama.

“Nara?”

“Aku menemukan perjanjian tahun 1987.”

Di ujung telepon, Ayah terdiam.

“Aku juga sudah melihat dokumentasi karya Mbah.”

Tidak ada jawaban.

Aku menarik napas panjang.

“Besok aku pulang ke kantor. Aku ingin Ayah menjelaskan semuanya di hadapan pengacara.”

Keesokan paginya, aku datang ke ruang rapat Pradipta Heritage bersama Bu Ratih dan seorang pengacara bernama Pak Arya.

Ayah sudah menunggu.

Keisya duduk di sebelahnya.

Dion juga hadir, meskipun aku sama sekali tidak mengundangnya.

Aku langsung meletakkan salinan perjanjian lama di atas meja.

“Ayah, kenapa karya Mbah dipasarkan sebagai ciptaan perusahaan tanpa mencantumkan namanya?”

Hendra membaca dokumen itu cukup lama.

Kemudian dia berkata pelan.

“Karena perusahaan tidak akan pernah sebesar sekarang kalau dulu semua keputusan harus menunggu persetujuan Rukmini.”

Aku merasa dadaku panas.

“Jadi Ayah sengaja menghapus namanya?”

“Ayah yang membangun jaringan pembeli, pabrik, dan pasar ekspor!”

“Tapi bukan Ayah yang menciptakan seluruh motifnya!”

Hendra memukul meja.

“Kamu pikir sebuah karya bisa menghasilkan uang hanya karena seseorang pandai menggambar?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Tidak. Tapi kemampuan menjual sesuatu juga tidak membuat penjualnya otomatis menjadi pencipta.”

Ruangan langsung sunyi.

Keisya tiba-tiba menyela.

“Nara, kamu terlalu sentimental. Kalau karya itu memang berharga, kenapa Mbahmu hidup sederhana sampai meninggal?”

Aku menoleh.

“Justru itu yang ingin kutanyakan.”

Keisya terdiam.

Aku mengeluarkan laporan penjualan lama yang ditemukan dalam arsip perjanjian.

Beberapa motif yang berasal dari bengkel bersama ternyata terus diproduksi setelah kerja sama berakhir.

Namun, catatan pembayaran royalti kepada Mbah berhenti pada tahun 1991.

Aku menatap Ayah.

“Kenapa pembayaran ini berhenti?”

Hendra tidak menjawab.

Pak Arya menjelaskan bahwa hak dan kewajiban atas desain lama perlu diperiksa berdasarkan perjanjian serta ketentuan hukum yang berlaku pada masanya.

Namun, catatan tersebut cukup untuk menimbulkan pertanyaan serius mengenai penggunaan karya dan pembagian keuntungan.

Aku mengeluarkan foto A17.

“Ada satu hal lagi. Mengapa karya ini berakhir di rumah Darmawan Halim di Kudus?”

Wajah Hendra langsung berubah.

Keisya tampak kebingungan.

“Siapa Darmawan Halim?” tanyanya.

Ayah menunduk.

Kemudian menjawab dengan suara hampir tidak terdengar.

“Orang yang membantu membiayai pabrik pertama kita.”

Aku terdiam.

“Jadi dia investor?”

“Iya.”

“Lalu kenapa menyimpan karya asli Mbah?”

Hendra menarik napas panjang.

“Karena A17 pernah dijadikan bagian dari jaminan kesepakatan bisnis.”

Aku merasa seperti kehilangan pijakan.

“Jaminan?”

“Waktu itu perusahaan hampir bangkrut. Darmawan meminta salah satu karya paling penting dari bengkel sebagai jaminan kepercayaan.”

Aku menatapnya dengan marah.

“Ayah menyerahkan karya milik Mbah tanpa izin?”

Hendra memejamkan mata.

“Iya.”

Jawaban itu membuat seluruh ruangan hening.

Untuk pertama kalinya, Ayah mengakui sesuatu tanpa berusaha membela diri.

Namun, kejutan sebenarnya belum berakhir.

Dia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.

“Ada alasan kenapa Rukmini tidak pernah menuntut perusahaan.”

Aku menatap kotak itu.

“Apa?”

Ayah membukanya.

Di dalamnya terdapat selembar surat tua.

Tulisan tangannya sangat kukenal.

Tulisan Mbah.

Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.

Surat tersebut ditujukan kepada Hendra.

Isinya menjelaskan bahwa Mbah bersedia menunda tuntutan atas pembayaran royalti dengan satu syarat.

Hendra harus mengakui keberadaan seorang anak perempuan yang lahir dari hubungan mereka dan memastikan anak itu mendapat perlindungan.

Aku berhenti membaca.

Dadaku langsung terasa sesak.

Anak perempuan?

Aku menatap Ayah.

“Ayah… maksud surat ini apa?”

Hendra menutup wajah.

Keisya terlihat semakin bingung.

Aku kembali membaca surat tersebut.

Nama anak perempuan itu tercantum pada paragraf terakhir.

Nara.

Namaku sendiri.

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

“Jadi Mbah Rukmini…”

Ayah mengangkat wajah dengan mata merah.

“Dia ibu kandungmu.”

Aku mundur selangkah.

Selama ini aku diberi tahu bahwa Mbah adalah perempuan yang membesarkanku setelah ibu kandungku meninggal ketika aku masih bayi.

Sekarang, perempuan yang selama dua puluh sekian tahun kupanggil Mbah ternyata adalah ibu yang melahirkanku.

Air mataku langsung jatuh.

“Kenapa kalian membohongiku?”

Hendra menangis.

“Karena waktu itu Ayah sudah menikah dengan ibu Keisya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Keisya spontan berdiri.

“Tunggu. Ibu kandungku?”

Hendra menggeleng.

“Ibu kandung Keisya adalah adik istri Ayah. Setelah kakaknya meninggal, Ayah membesarkan Keisya sebagai bagian dari keluarga.”

Aku merasa kepalaku berputar.

Ayah kemudian menjelaskan bahwa ketika hubungannya dengan Rukmini terungkap, keluarga besar menolak menerima kenyataan tersebut.

Rukmini memilih kembali ke Lasem dan membesarkanku sendiri.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Hendra menjanjikan dukungan keuangan serta pengakuan atas hak-hak Rukmini dalam perusahaan.

Namun, tahun demi tahun berlalu.

Janji itu tidak pernah dipenuhi sepenuhnya.

“Kenapa Ayah baru mencariku setelah Mbah meninggal?” tanyaku dengan suara pecah.

Hendra menunduk.

“Karena surat terakhir Rukmini meminta Ayah berhenti menyembunyikan keberadaanmu.”

Aku menangis.

Selama hidupnya, Mbah tidak pernah mengatakan bahwa dia ibuku.

Dia membesarkanku dengan penuh kasih, mengajariku membatik, dan menemaniku ketika sakit.

Aku selalu mengira dia hanya nenek yang begitu menyayangi cucunya.

Ternyata dia telah mengorbankan begitu banyak hal agar aku bisa tumbuh tanpa dibebani pertengkaran orang dewasa.

Namun, aku juga merasa terluka.

Dia tidak pernah memberiku kesempatan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Aku meninggalkan ruang rapat tanpa berkata apa-apa lagi.

Malam itu, aku kembali ke Lasem.

Bu Yani menyambutku di depan rumah Mbah.

Aku langsung menuju kamar kecil yang sudah kosong selama tiga bulan.

Di atas meja masih terdapat canting tua, kacamata baca, dan beberapa gulungan kain.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Kemudian menangis sampai dadaku terasa sakit.

Bu Yani datang membawa sebuah amplop.

“Nara, ini sebenarnya dititipkan Rukmini sebelum meninggal. Dia bilang berikan kalau kamu sudah menemukan Arsip 17.”

Aku menerima amplop itu.

Di bagian depan tertulis namaku.

Aku membukanya perlahan.

Nara, kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah menemukan bagian masa lalu yang selama ini Ibu sembunyikan.

Air mataku langsung jatuh.

Untuk pertama kalinya, aku membaca kata Ibu yang ditulis Mbah untuk dirinya sendiri.

Surat itu melanjutkan.

Ibu bukan malu mengakuimu. Ibu hanya takut kamu tumbuh dengan merasa bahwa keberadaanmu adalah kesalahan. Kamu lahir dari keadaan yang rumit, tetapi kamu sendiri tidak pernah menjadi kesalahan.

Aku menutup mulut.

Mbah menulis bahwa dia memilih membesarkanku di Lasem agar aku mengenal kerja keras dan nilai sebuah karya tanpa terus hidup di bawah bayang-bayang nama besar Pradipta.

Namun, bagian terakhir membuatku menangis semakin keras.

A17 bukan karya paling berharga karena motifnya. Kain itu berharga karena di sanalah Ibu pertama kali menuliskan namamu sebelum kamu lahir. Kalau suatu hari kamu menemukannya, jangan gunakan untuk membalas dendam. Gunakan untuk memastikan tidak ada perajin lain yang kehilangan namanya seperti Ibu.

Aku kembali teringat pola dua burung yang saling berhadapan.

Ternyata motif itu bukan sekadar simbol kerja sama antara dua perajin.

Itu adalah karya yang dibuat seorang ibu ketika menantikan kelahiran putrinya.

Beberapa bulan berikutnya, aku bekerja bersama tim konservasi dan penasihat hukum untuk mendokumentasikan asal-usul A17.

Kami juga memeriksa kembali arsip kerja sama lama serta penggunaan motif yang tercatat atas nama Mbah Rukmini.

Prosesnya tidak sederhana.

Tidak semua hak dapat langsung dipastikan hanya dari satu perjanjian tua.

Namun, sejumlah dokumen menunjukkan bahwa kontribusi Mbah sebagai perancang memang telah lama diabaikan dalam sejarah resmi perusahaan.

Setelah melalui pembahasan dengan pihak terkait, Pradipta Heritage akhirnya mengumumkan program peninjauan atribusi karya dan dokumentasi ulang koleksi batik lama.

Nama Rukmini Wulandari mulai dicantumkan dalam katalog karya yang memiliki bukti penciptaan yang mendukung.

Sementara itu, aku memutuskan tidak melanjutkan pertunangan dengan Dion.

Dia beberapa kali datang meminta maaf.

Namun, aku tidak lagi percaya bahwa seseorang yang menyalahgunakan kepercayaan pribadi demi memenangkan persaingan bisnis layak menjadi pasangan hidupku.

Keisya juga akhirnya mengetahui bahwa persaingan yang diciptakan Ayah ternyata dibangun di atas sejarah keluarga yang tidak pernah diceritakan kepada kami berdua.

Hubungan kami masih jauh dari hangat.

Tetapi setidaknya kami tidak lagi memandang satu sama lain hanya sebagai lawan.

Suatu sore, aku berdiri di dalam sebuah galeri kecil di Lasem.

Di dinding utama terdapat kain A17 yang sudah melalui proses konservasi dan dipajang dengan perlindungan khusus.

Di bawahnya tercantum nama pembuatnya.

Rukmini Wulandari.

Aku menyentuh kaca pelindungnya dengan ujung jari.

Dulu kain itu ditemukan sebagai alas peti tua.

Kotor.

Terlipat.

Hampir dibuang.

Tidak seorang pun menganggapnya berharga.

Namun, setelah sejarahnya terungkap, kain tersebut menjadi saksi hubungan yang selama puluhan tahun disembunyikan.

Aku tersenyum sambil menghapus air mata.

Hari ketika Dion mengkhianatiku dalam lelang, aku mengira telah kehilangan kesempatan membuktikan kemampuanku.

Ternyata kehilangan lot 118 justru membawaku menemukan A17.

Dan A17 membawaku menemukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada jabatan atau kemenangan bisnis.

Identitas ibuku.

Sejarah keluargaku.

Dan alasan mengapa Mbah Rukmini selalu mengajarkanku bahwa selembar kain bukan hanya kumpulan benang.

Di dalamnya bisa tersimpan cinta, kesalahan, pengorbanan, dan kebenaran yang menunggu seseorang cukup berani untuk membukanya.

Aku mungkin tidak memenangkan persaingan yang dirancang Ayah.

Namun, aku akhirnya menemukan warisan yang sejak awal memang ditujukan kepadaku.

Bukan perusahaan senilai miliaran rupiah.

Melainkan nama seorang ibu yang selama hidupnya memilih diam agar putrinya bisa tumbuh tanpa rasa malu.

Dan sejak hari itu, setiap kali seseorang bertanya siapa yang mengajariku membatik, aku tidak lagi menjawab bahwa aku belajar dari nenekku.

Aku menjawab dengan bangga.

Aku belajar dari ibuku, Rukmini Wulandari.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang