“Jangan sentuh ponsel itu, Bu Ratih.”
Suaraku terdengar lebih keras daripada yang kurencanakan. Ratih berhenti dengan jari hanya beberapa sentimeter dari layar ponselnya.

Di belakangku, Pak Hendrawan berusaha berdiri dari kursi.
“Laras, jangan hadapi mereka sendirian,” katanya terbata-bata.
Ratih menoleh tajam kepada suaminya.
“Sejak kapan kamu bisa bicara selancar itu?”
Aku langsung memahami bahwa keberadaan kami di ruang kerja sudah membahayakan keselamatan Pak Hendrawan.
“Bapak membutuhkan pemeriksaan dokter,” kataku. “Dan saya ingin penjelasan tentang Nisa.”
Ratih tertawa sinis.
“Kamu pikir siapa kamu sampai berani mengatur keluarga ini?”
“Orang yang adiknya meninggal setelah menemukan transaksi perusahaan Ibu.”
Wajah Ratih berubah pucat.
Namun, sebelum dia menjawab, terdengar suara langkah dari tangga.
Dimas muncul di ambang pintu.
Dia memandang monitor CCTV yang masih menyala, kemudian menatapku.
“Jadi kamu sudah menemukan laporan itu.”
Aku mundur mendekati Pak Hendrawan.
“Kenapa nama Nisa digunakan sebagai direktur PT Arunika Karya Abadi?”
Dimas tidak menjawab. Dia justru mendekati komputer dan mengulurkan tangan ke tombol daya.
“Jangan!” seruku.
Pak Hendrawan tiba-tiba menggebrak meja.
“Dimas, cukup!”
Kami semua terdiam.
Dengan susah payah, pria itu berdiri sambil berpegangan pada kursi.
“Aku sudah terlalu lama membiarkan kalian melakukan semuanya.”
Ratih langsung mendekat.
“Mas, kamu sedang sakit. Jangan memaksakan diri.”
Pak Hendrawan menepis tangannya.
“Jangan berikan aku apa pun lagi.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah Ratih.
Aku segera membantu Pak Hendrawan duduk kembali. Kemudian, dengan alasan mengambil air minum, aku keluar menuju lorong.
Di dekat tangga, aku langsung menghubungi kakak sepupuku, Bagas, yang bekerja sebagai pengacara di Bandung.
“Kak, aku menemukan bukti soal Nisa. Tapi aku masih di rumah keluarga Wijaya.”
Bagas langsung menjawab tegas.
“Laras, keluar dari sana sekarang. Jangan mengambil risiko demi mendapatkan dokumen tambahan.”
Aku menatap pintu ruang kerja.
“Pak Hendrawan mungkin juga sedang dalam bahaya.”
“Kalau begitu, kita minta bantuan medis dan aparat. Jangan menangani semuanya sendiri.”
Aku menyetujui.
Namun, ketika kembali ke ruang kerja, Dimas sudah menghilang.
Ratih masih berdiri di samping suaminya.
“Aku mau mengantar Pak Hendrawan ke rumah sakit,” kataku.
“Tidak perlu.”
“Beliau tampak semakin lemah setelah menerima pengobatan yang belum bisa saya pastikan.”
Ratih langsung membentak.
“Kamu cuma pembantu!”
Aku menatapnya.
“Dan Bapak adalah manusia yang berhak mendapatkan pertolongan medis.”
Pak Hendrawan mengangkat tangan.
“Aku mau ke rumah sakit.”
Ratih terdiam.
Aku segera memanggil ambulans.
Ketika petugas medis tiba, Ratih berusaha menjelaskan bahwa kondisi suaminya hanya akibat kelelahan.
Namun, Pak Hendrawan sendiri meminta diperiksa di rumah sakit lain, bukan Klinik Sentosa.
Aku ikut mendampinginya setelah mendapat persetujuan.
Di perjalanan, dia menggenggam tanganku.
“Nisa pernah bilang dia punya kakak yang keras kepala.”
Air mataku langsung menggenang.
“Bapak kenal dekat dengan adik saya?”
Dia mengangguk lemah.
“Nisa yang pertama kali menyadari obat-obatku berubah.”
Aku terdiam.
“Jadi bukan cuma transaksi perusahaan?”
“Bukan.”
Pak Hendrawan menarik napas berat.
“Dia menemukan dua kebohongan sekaligus.”
Di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh dan meninjau riwayat pengobatannya. Mereka menemukan adanya penggunaan obat penenang yang perlu dievaluasi karena dapat memperburuk kesadaran dan kemampuan bergeraknya, terutama bila tidak diberikan sesuai kebutuhan medis.
Dokter tidak langsung menyimpulkan bahwa Ratih sengaja meracuninya.
Namun, beliau memutuskan meninjau ulang seluruh pengobatan dan menghentikan pemberian obat yang belum dapat diverifikasi indikasinya.
Sementara Pak Hendrawan menjalani observasi, Bagas datang menemuiku.
Aku menyerahkan salinan rekaman CCTV yang berhasil kusimpan serta foto laporan audit.
Bagas memeriksanya dengan serius.
“Laras, kita perlu melaporkan dugaan penyalahgunaan identitas Nisa. Tapi soal kematiannya, kita harus mendapatkan dokumen penyelidikan kecelakaan terlebih dahulu.”
Aku mengangguk.
“Aku cuma ingin tahu bagaimana adikku bisa meninggal ketika dia bahkan tidak bisa mengendarai motor.”
Bagas terdiam.
Kemudian dia bertanya.
“Kamu masih menyimpan barang-barang Nisa?”
“Masih. Ada koper kecilnya di rumah Ibu.”
“Besok kita periksa bersama.”
Keesokan harinya, kami pergi ke Lasem, tempat ibuku tinggal setelah Nisa meninggal.
Ibu menangis begitu melihatku.
Aku belum berani menceritakan seluruh kecurigaanku.
Kami membuka koper Nisa yang selama tiga bulan tidak pernah disentuh.
Di dalamnya terdapat pakaian, buku catatan kecil, beberapa kuitansi, dan ponsel lama dengan layar retak.
Bagas menyarankan agar perangkat itu tidak diubah atau dihapus datanya.
Kami kemudian menemukan sebuah amplop terselip di balik lapisan dalam koper.
Di bagian depan tertulis namaku.
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Nisa.
Kak Laras, kalau suatu hari aku tidak bisa menjelaskan semuanya, jangan percaya begitu saja bahwa aku pergi karena uang.
Aku menutup mulut.
Nisa melanjutkan bahwa beberapa bulan sebelum berhenti bekerja, dia diminta menyerahkan fotokopi KTP dan NPWP dengan alasan pendaftaran asuransi karyawan.
Namun, belakangan dia mengetahui identitasnya digunakan dalam dokumen pendirian sebuah perusahaan.
Namanya tercatat sebagai direktur.
Perusahaan tersebut adalah PT Arunika Karya Abadi.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Nisa ternyata sudah mengetahui penyalahgunaan identitasnya.
Dalam surat tersebut, dia juga menulis bahwa Dimas pernah menawarkan uang Rp150 juta agar dia menandatangani pernyataan bahwa seluruh dokumen perusahaan dibuat atas persetujuannya sendiri.
Nisa menolak.
Dia kemudian mencoba memberitahu Pak Hendrawan.
Namun, setelah pertemuan di ruang kerja, kondisi kesehatan pria itu memburuk.
Nisa merasa ketakutan dan memutuskan berhenti.
Aku menangis ketika sampai pada kalimat terakhir.
Kak, aku bukan orang pintar. Tapi aku tahu uang sebanyak itu tidak mungkin berasal dari pekerjaanku sebagai pembantu. Kalau aku diam, mereka bisa menggunakan namaku untuk menyalahkan orang yang tidak bersalah.
Aku memeluk surat tersebut.
Adikku yang selama ini dianggap perempuan sederhana ternyata telah berusaha melawan penipuan bernilai puluhan miliar rupiah.
Namun, mengapa dia akhirnya meninggal?
Jawabannya mulai terungkap ketika Bagas berhasil memperoleh salinan dokumen kecelakaan melalui proses yang sesuai.
Ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatian keluarga kami.
Sepeda motor yang disebut dikendarai Nisa ternyata terdaftar atas nama seorang pria bernama Yusuf.
Yusuf bekerja sebagai pengemudi untuk perusahaan jasa logistik yang beberapa kali menerima pembayaran dari PT Arunika Karya Abadi.
Aku merasa tengkukku dingin.
“Jadi Nisa mungkin bukan pengendaranya?”
Bagas mengangguk.
“Dokumen awal menyebut Nisa sebagai pengendara berdasarkan keterangan seseorang. Tetapi kita perlu memeriksa bukti lain untuk memastikan.”
Kami kemudian mendatangi lokasi kecelakaan di jalur menuju Lembang.
Seorang pemilik warung yang pernah melihat kejadian tersebut masih mengingatnya.
“Waktu itu ada motor jatuh dekat tikungan,” katanya. “Tapi saya ingat ada mobil hitam berhenti sebentar di belakang.”
Aku langsung menegakkan tubuh.
“Mobil apa, Pak?”
“Mobil besar. Seperti SUV.”
“Bapak lihat pelat nomornya?”
Dia menggeleng.
“Tidak jelas. Saya cuma ingat ada seorang laki-laki turun, lalu buru-buru masuk lagi.”
Aku merasa jantungku berdebar semakin keras.
Keterangan itu belum membuktikan adanya kejahatan, tetapi cukup membuat Bagas menyarankan agar penyelidikan kecelakaan ditinjau kembali.
Beberapa hari kemudian, pihak berwenang mulai memeriksa kembali dokumen kematian Nisa dan keterangan saksi yang sebelumnya belum tercatat.
Sementara itu, Pak Hendrawan menunjukkan perkembangan kesehatan setelah pengobatannya ditinjau ulang.
Dia mulai mampu berbicara lebih jelas.
Suatu sore, aku datang menjenguknya.
Pria itu duduk di tempat tidur sambil membaca koran.
Begitu melihatku, dia langsung berkata.
“Laras, aku ingat sesuatu.”
Aku mendekat.
“Apa, Pak?”
“Malam ketika Nisa membawa laporan audit, dia tidak datang sendirian.”
Aku membeku.
“Siapa yang bersamanya?”
“Seorang pria dari bagian keuangan perusahaan.”
“Dimas?”
Pak Hendrawan menggeleng.
“Bukan. Namanya Yusuf.”
Aku hampir tidak percaya.
“Yusuf yang memiliki sepeda motor itu?”
Pak Hendrawan mengangguk.
Ternyata Yusuf bukan sekadar pengemudi logistik. Dia sebelumnya bekerja sebagai staf administrasi keuangan dan sempat membantu mengumpulkan bukti transaksi mencurigakan bersama Nisa.
Menurut Pak Hendrawan, Yusuf mengetahui bahwa sejumlah pembayaran kepada PT Arunika Karya Abadi tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilaporkan.
Mereka berdua kemudian mencoba menyampaikan bukti tersebut.
Namun, Ratih dan Dimas mengetahui rencana itu lebih dulu.
“Malam itu terjadi pertengkaran,” kata Pak Hendrawan. “Aku meminta audit independen. Ratih marah. Dimas berusaha mengambil map.”
Aku menahan napas.
“Lalu?”
“Aku minum teh yang disiapkan Ratih. Setelah itu kepalaku terasa berat. Aku tidak ingat semuanya.”
Pak Hendrawan menunduk.
“Ketika sadar, Nisa dan Yusuf sudah pergi.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bapak yakin mereka pergi bersama?”
“Aku melihat Yusuf menunggu di garasi sebelum kesadaranku menurun.”
Aku terdiam.
Sekarang satu bagian mulai masuk akal.
Nisa tidak bisa mengendarai sepeda motor.
Mungkin Yusuf yang membawanya.
Namun, mengapa laporan kecelakaan justru menyebut Nisa sebagai pengendara?
Jawabannya muncul dari bukti baru yang ditemukan penyidik.
Dalam pemeriksaan ulang, Yusuf akhirnya berhasil dihubungi.
Ternyata dia masih hidup dan tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.
Ketika dimintai keterangan, Yusuf mengaku bahwa malam sebelum kecelakaan, dia dan Nisa berencana menyerahkan salinan dokumen keuangan kepada seorang pengacara.
Namun, keesokan harinya mereka menerima ancaman.
Seseorang memperingatkan bahwa keluarga Nisa akan mendapat masalah jika mereka terus membicarakan transaksi perusahaan.
Yusuf kemudian menjemput Nisa menggunakan sepeda motornya.
Di perjalanan menuju Lembang, mereka merasa diikuti sebuah mobil hitam.
Yusuf mengaku panik dan berusaha mempercepat kendaraan.
Di sebuah tikungan, motor kehilangan kendali.
Nisa terjatuh dan mengalami cedera berat.
Yusuf juga terluka, tetapi masih sadar.
“Aku takut sekali,” katanya dalam keterangannya.
Aku mendengarkan penjelasan itu dengan dada sesak.
“Kenapa kamu meninggalkan Nisa?”
Yusuf menunduk.
“Aku nggak meninggalkannya. Aku mencoba meminta bantuan. Tapi setelah itu seseorang datang dan menyuruhku pergi.”
Aku langsung bertanya.
“Siapa?”
Yusuf mengangkat wajah.
“Pak Dimas.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Dimas.
Orang yang selama ini mengurus keuangan keluarga Wijaya.
Orang yang namanya muncul dalam laporan audit.
Dan orang yang berada di ruang kerja ketika Pak Hendrawan kehilangan kesadaran.
Namun, keterangan Yusuf masih harus dicocokkan dengan bukti lain.
Beberapa hari kemudian, penyidik menemukan catatan kendaraan dari kamera jalan di sekitar lokasi kejadian.
Sebuah SUV hitam yang digunakan perusahaan keluarga Wijaya tercatat melintas tidak lama setelah kecelakaan.
Kendaraan tersebut biasa digunakan Dimas.
Aku menangis ketika mendengar kabar itu.
Selama tiga bulan, keluargaku mengira Nisa meninggal karena kecelakaan tunggal.
Ternyata ada indikasi seseorang dari rumah tempatnya bekerja datang ke lokasi kejadian.
Namun, aku masih ingin mengetahui satu hal.
Apakah Dimas sengaja menyebabkan kecelakaan tersebut, atau dia datang setelah mengetahui Nisa mengalami musibah?
Jawabannya belum jelas.
Tetapi penyelidikan tidak berhenti.
Audit independen terhadap PT Arunika Karya Abadi juga menemukan sejumlah pembayaran yang tidak didukung dokumen pekerjaan memadai.
Nama Nisa memang tercatat sebagai direktur dalam beberapa dokumen.
Namun, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa dia tidak pernah menjalankan kewenangan tersebut.
Sejumlah tanda tangan juga diduga dipalsukan.
Sementara penerima manfaat akhir dari aliran dana mengarah kepada pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan Ratih dan Dimas.
Pak Hendrawan kemudian menyerahkan dokumen asli yang masih dimilikinya kepada penyidik dan auditor.
Dia juga memberikan keterangan tentang kondisi kesehatannya serta penggunaan obat yang tidak dia pahami selama berbulan-bulan.
Suatu hari, Ratih meminta bertemu denganku.
Kami duduk di ruang konsultasi sebuah kantor hukum.
Dia tidak lagi mengenakan perhiasan mahal seperti biasanya.
Wajahnya terlihat lelah.
“Laras, aku tahu kamu membenciku.”
Aku menatapnya.
“Saya hanya ingin tahu mengapa adik saya harus meninggal.”
Ratih menunduk.
“Aku nggak pernah menyuruh siapa pun membunuh Nisa.”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Aku memang tahu Dimas menggunakan identitasnya untuk mengurus perusahaan. Aku pikir semuanya hanya cara mempercepat transaksi.”
Aku menatapnya tajam.
“Dan ketika Nisa menolak, Ibu justru memarahinya?”
Ratih mulai menangis.
“Aku takut Hendrawan mengetahui semuanya dan menceraikanku.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi Ibu lebih takut kehilangan rumah tangga daripada memikirkan keselamatan orang lain?”
Ratih tidak mampu menjawab.
Aku berdiri.
“Kalau Ibu benar-benar ingin memperbaiki kesalahan, ceritakan semuanya kepada penyidik.”
Aku meninggalkan ruangan tanpa menoleh.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam penyalahgunaan dana dan pemalsuan dokumen terus berjalan.
Dimas diperiksa mengenai transaksi perusahaan dan keberadaannya di sekitar lokasi kecelakaan.
Ratih juga dimintai keterangan terkait pengurusan dokumen serta pengobatan Pak Hendrawan.
Aku tidak mengetahui seluruh hasil pemeriksaan saat itu.
Namun, satu hal akhirnya dipastikan dalam penelusuran ulang kejadian.
Nisa bukan pengendara sepeda motor ketika kecelakaan terjadi.
Dia adalah penumpang.
Informasi yang selama ini diberikan kepada keluarga kami ternyata keliru.
Aku menangis ketika menerima penjelasan tersebut.
Bukan karena semua pertanyaan sudah terjawab.
Melainkan karena akhirnya ada bagian dari kebenaran yang berhasil dipulihkan.
Suatu sore, aku kembali ke makam Nisa.
Aku membawa seikat bunga putih.
Di depan batu nisannya, aku duduk cukup lama.
“Nis, Kakak akhirnya tahu kamu nggak bohong.”
Angin berembus pelan.
Aku mengusap air mata.
“Kamu bukan orang yang mencuri uang perusahaan. Kamu justru orang yang berusaha menghentikannya.”
Aku meletakkan bunga tersebut.
Selama ini aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi adikku.
Dia bekerja jauh dari rumah demi membantu keluarga.
Namun, ketika menghadapi persoalan yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri, dia tidak sempat meminta pertolonganku.
Aku menatap namanya yang terukir di batu nisan.
“Nis, Kakak janji akan terus memperjuangkan kebenaran ini lewat jalan yang benar.”
Beberapa minggu kemudian, Pak Hendrawan mengirimkan sepucuk surat kepadaku.
Dia menulis bahwa perusahaan akan membiayai program bantuan hukum bagi pekerja yang mengalami penyalahgunaan identitas atau tekanan untuk menandatangani dokumen keuangan.
Aku membaca surat itu dengan perasaan campur aduk.
Aku menghargai niatnya.
Namun, tidak ada program yang bisa mengembalikan Nisa.
Yang paling kuinginkan adalah agar tidak ada pekerja lain yang mengalami hal serupa.
Aku kembali mengingat hari pertamaku bekerja di rumah keluarga Wijaya.
Sup panas yang dilemparkan ke kakiku.
Tamparan Ratih.
Sikap diam para pekerja.
Dan bagaimana aku menahan semuanya karena ingin mengetahui apa yang terjadi pada adikku.
Dulu aku mengira rumah mewah itu hanya menyimpan rahasia tentang uang.
Ternyata di balik dindingnya terdapat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Keserakahan.
Ketakutan kehilangan kekuasaan.
Dan keyakinan bahwa orang yang dianggap tidak penting bisa diperlakukan sesuka hati.
Namun, Nisa membuktikan bahwa seorang asisten rumah tangga pun mampu melihat kebenaran yang sengaja ditutupi orang-orang berkuasa.
Dia mungkin tidak memiliki jabatan tinggi.
Tidak memiliki pendidikan mahal.
Dan tidak mempunyai harta miliaran rupiah.
Tetapi dia memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang salah tetaplah salah.
Aku menatap foto Nisa yang kusimpan di ponsel.
Dia tersenyum lebar sambil mengenakan seragam kerja sederhana.
Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku bisa melihat foto itu tanpa hanya mengingat kesedihan.
Aku juga mengingat keberaniannya.
Karena pada akhirnya, ukuran seseorang tidak ditentukan oleh seberapa besar rumah yang ditempatinya.
Melainkan oleh seberapa kuat dia mempertahankan kebenaran ketika semua orang di sekelilingnya memilih diam.
Dan meskipun Nisa tidak lagi berada di sisiku, keberaniannya menjadi alasan mengapa aku tidak akan pernah berhenti memperjuangkan keadilan untuknya.
