“SIAPA YANG BERANI MEMALSUKAN TANDA TANGANKU UNTUK MENGAMBIL ALIH PERUSAHAAN SENILAI PULUHAN MILIAR?”

Aku langsung menelepon kepala bagian hukum Sagara Investama, Pak Bagas, meskipun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Beliau menjawab pada dering ketiga.
“Bu Tania, saya baru menerima pesan Ibu.”
“Pak, jangan biarkan dokumen itu diproses. Saya tidak pernah menandatangani persetujuan tersebut.”
“Kami sudah mengirimkan pemberitahuan keberatan kepada notaris dan pihak terkait. Tapi ada sesuatu yang perlu Ibu ketahui.”
Aku menegakkan tubuh.
“Apa?”
“Permohonan perubahan kepemilikan itu ternyata bukan diajukan oleh Pak Danu saja.”
Aku menahan napas.
“Lalu siapa?”
Pak Bagas terdiam sebentar.
“Nama suami Ibu juga tercantum sebagai pihak yang memberikan keterangan pendukung.”
Ardi.
Untuk beberapa detik, aku benar-benar tidak mampu berbicara.
“Suami saya?”
“Iya, Bu. Dalam dokumen tersebut, Pak Ardi menyatakan bahwa Ibu sudah mengetahui dan menyetujui rencana pengalihan hak konversi.”
Aku perlahan duduk di tepi ranjang.
Tadi malam, ketika aku menelepon dan menceritakan penghinaan Melati, Ardi justru menyuruhku mengalah.
Sekarang namanya muncul dalam dokumen yang menggunakan tanda tanganku tanpa izin.
“Pak Bagas, saya minta seluruh dokumen diamankan. Besok pagi saya datang ke kantor.”
Setelah menutup telepon, aku menatap koper yang sudah selesai dikemas.
Rasanya seperti ada sesuatu yang retak di dalam dadaku.
Aku bisa menerima bahwa Melati tidak menyukaiku.
Aku bahkan bisa memahami jika keluarga Ardi tidak mengetahui seluruh pekerjaanku.
Namun, aku tidak pernah membayangkan suamiku sendiri mungkin terlibat dalam upaya mengambil hak perusahaan milikku.
Pukul setengah dua belas malam, Ardi akhirnya menelepon.
“Tan, kamu sudah tidur?”
“Belum.”
“Aku baru selesai dari pabrik. Besok pagi aku langsung ke Malang.”
Aku memejamkan mata.
“Mas, kamu tahu soal Vantara Teknik?”
Terdengar keheningan.
“Tahu sedikit. Kenapa?”
“Apakah kamu pernah menandatangani dokumen yang menyatakan aku menyetujui perubahan kepemilikan Vantara?”
Ardi tidak langsung menjawab.
“Nanti kita bicarakan setelah aku sampai.”
“Aku ingin jawabannya sekarang.”
“Tania, aku capek.”
Aku menahan air mata.
“Mas, namamu tercantum dalam dokumen yang menggunakan tanda tanganku tanpa izin.”
Suara Ardi berubah tegang.
“Dari mana kamu mendapatkan dokumen itu?”
Pertanyaan tersebut membuatku semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Jadi kamu tahu?”
Ardi menarik napas panjang.
“Aku cuma membantu Mas Danu mengurus administrasi. Katanya semuanya sudah dibicarakan denganmu.”
“Dan kamu percaya begitu saja?”
“Dia kakak iparku, Tan.”
Aku tertawa pahit.
“Lalu aku ini siapa?”
Ardi terdiam.
Aku mengakhiri panggilan sebelum dia sempat menjawab.
Keesokan paginya, aku tetap menaiki kereta menuju Jakarta.
Namun, sebelum berangkat, Pak Jatmiko datang mengantarku ke stasiun.
Beliau duduk di sebelahku dengan wajah murung.
“Tania, Bapak dengar kamu dan Ardi bertengkar.”
Aku mengangguk.
“Ada masalah yang harus saya selesaikan, Pak.”
Pak Jatmiko menunduk.
“Bapak ingin mengatakan sesuatu tentang Danu.”
Aku langsung menoleh.
“Apa, Pak?”
“Perusahaannya sudah lama mengalami kesulitan. Beberapa bulan lalu, dia meminta Bapak menjual tanah warisan di Pasuruan.”
“Untuk membayar utang?”
Pak Jatmiko mengangguk.
“Bapak menolak. Tanah itu satu-satunya peninggalan orang tua Bapak.”
Aku menggenggam tas.
“Apakah Mbak Melati tahu?”
“Dia tahu. Tapi Danu selalu mengatakan keadaan akan membaik setelah investor baru masuk.”
Aku terdiam.
Investor baru.
Kemungkinan besar itulah alasan mereka berusaha mengubah struktur kepemilikan Vantara.
Sebelum aku turun dari mobil, Pak Jatmiko memegang tanganku.
“Tania, apa pun yang terjadi, jangan merasa kamu harus mengalah hanya karena ingin diterima keluarga.”
Air mataku langsung menggenang.
“Terima kasih, Pak.”
Beliau tersenyum sedih.
“Bapak seharusnya mengatakan itu tadi malam, sebelum Melati menyuruhmu makan di garasi.”
Aku memeluknya erat.
Sesampainya di Jakarta, aku langsung menuju kantor Sagara Investama.
Pak Bagas sudah menunggu bersama auditor internal.
Di atas meja terdapat salinan perjanjian investasi Vantara Teknik, laporan keuangan, dan dokumen perubahan kepemilikan yang mencantumkan tanda tanganku.
Pak Bagas membuka halaman terakhir.
“Bu Tania, kami menemukan bahwa dokumen ini dibuat untuk menghapus sebagian hak konversi milik Arunika.”
Aku menatapnya.
“Sebagai gantinya?”
“Vantara akan menerbitkan saham baru kepada perusahaan investor yang dibawa Pak Danu.”
Aku mengerutkan kening.
“Perusahaan apa?”
“PT Mahardika Kapital.”
Nama itu terdengar asing.
Namun, ketika auditor menunjukkan struktur pemegang sahamnya, aku langsung membeku.
Salah satu pemilik perusahaan tersebut adalah adik kandung Danu.
Aku menatap Pak Bagas.
“Jadi mereka ingin menerbitkan saham kepada perusahaan keluarga sendiri?”
“Berdasarkan dokumen yang kami periksa, memang ada hubungan kepemilikan yang belum diungkapkan secara lengkap.”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau dokumen ini diproses, apa akibatnya?”
“Hak konversi Arunika bisa dipersengketakan, sementara saham baru berpotensi mengurangi posisi kepemilikan pihak lain. Karena itulah keberatan Ibu harus segera dicatat secara resmi.”
Aku mengangguk.
“Dan tanda tanganku?”
“Kami sedang meminta pemeriksaan keasliannya.”
Saat itu juga, aku memutuskan meminta rapat resmi dengan Danu, Melati, Ardi, dan pihak hukum perusahaan.
Aku tidak ingin bertengkar di meja makan keluarga.
Aku ingin mereka menjelaskan semuanya di hadapan dokumen yang tidak bisa dibantah dengan alasan perasaan.
Dua hari kemudian, rapat diadakan di kantor Vantara Teknik, Tangerang.
Danu datang dengan wajah tegang.
Melati duduk di sampingnya sambil memegang tas mahal.
Ardi tiba beberapa menit kemudian.
Dia mencoba menghampiriku.
“Tania, aku ingin bicara.”
Aku menggeleng.
“Setelah rapat, Mas.”
Pak Bagas membuka pertemuan.
“Kami ingin meminta klarifikasi mengenai dokumen perubahan kepemilikan yang mencantumkan persetujuan Ibu Tania.”
Danu langsung menjawab.
“Semua sudah sesuai kesepakatan.”
Aku menatapnya.
“Kesepakatan dengan siapa?”
Danu terdiam.
“Dengan pihak keluarga,” jawabnya kemudian.
Aku tersenyum tipis.
“Perusahaan bukan milik keluarga besar yang bisa diputuskan melalui percakapan saat makan malam.”
Melati langsung menyela.
“Tania, jangan bersikap seolah kamu lebih tahu tentang perusahaan suamiku!”
Aku membuka dokumen di hadapannya.
“Mbak, lima tahun lalu Vantara menerima pembiayaan Rp32 miliar dari Arunika. Perusahaan itu milikku.”
Wajah Melati langsung berubah.
“Apa?”
“Jika seluruh syarat kontrak dan prosedur konversi dipenuhi, Arunika memiliki hak untuk memperoleh enam puluh tujuh persen saham Vantara.”
Danu langsung memotong.
“Itu belum menjadi saham!”
Aku mengangguk.
“Benar. Karena itulah kita harus menjalankan prosedur yang sah. Tapi kalian justru mencoba menghapus hak tersebut menggunakan persetujuan palsu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Melati menatap suaminya.
“Danu, apa maksudnya?”
Danu menghindari tatapannya.
Pak Bagas kemudian menunjukkan hasil pemeriksaan awal.
Tanda tangan pada dokumen perubahan kepemilikan berbeda dari contoh tanda tangan resmi yang tersimpan di sistem perusahaan.
Selain itu, belum ditemukan bukti bahwa aku pernah hadir atau memberikan persetujuan melalui prosedur yang disyaratkan.
Danu mulai berkeringat.
Ardi akhirnya berbicara.
“Aku memang memberikan keterangan pendukung, tapi aku tidak membuat tanda tangan itu.”
Aku menatapnya.
“Mas, kamu tahu aku belum pernah menyetujui perubahan itu?”
Dia menunduk.
“Aku pikir kamu pasti mau membantu keluarga.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi kamu merasa berhak menyatakan persetujuanku tanpa bertanya?”
Ardi tidak menjawab.
Tiba-tiba Melati berdiri.
“Danu, kamu bilang investor baru akan menyelamatkan perusahaan!”
Danu membentaknya.
“Duduk, Melati!”
Namun, Melati tidak menurut.
“Kamu bilang kita tidak punya utang sebesar itu!”
Aku langsung menegakkan tubuh.
Pak Bagas membuka laporan auditor.
Ternyata Vantara memiliki kewajiban kepada beberapa pemasok yang belum sepenuhnya diungkapkan dalam laporan yang sebelumnya disampaikan kepada investor.
Danu berusaha menutupi kondisi tersebut dengan rencana penerbitan saham baru.
Namun, tanpa menyelesaikan hak konversi Arunika, rencana itu berisiko menimbulkan sengketa besar.
Melati terduduk kembali.
Wajahnya kehilangan warna.
Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu membanggakan kekayaan suaminya itu terlihat benar-benar ketakutan.
Rapat berakhir tanpa ada dokumen yang ditandatangani.
Aku meminta seluruh persoalan kepemilikan, kewajiban keuangan, dan dugaan penggunaan tanda tangan palsu diperiksa secara independen.
Beberapa minggu kemudian, hasil audit menunjukkan adanya penyimpangan serius dalam pengelolaan keuangan Vantara.
Danu diminta melepaskan sementara kewenangan tertentu selama proses pemeriksaan.
Rencana penerbitan saham baru juga dihentikan.
Sementara itu, hak konversi Arunika diproses melalui mekanisme yang tercantum dalam perjanjian dan ketentuan perusahaan.
Setelah seluruh prosedur yang diperlukan diselesaikan, Arunika akhirnya memperoleh kepemilikan mayoritas sebesar enam puluh tujuh persen di Vantara Teknik.
Namun, aku tidak langsung mengganti seluruh manajemen.
Aku menunjuk tim profesional untuk menyusun rencana pemulihan perusahaan.
Bagiku, Vantara bukan sekadar angka saham.
Di dalamnya ada ratusan pekerja yang menggantungkan kehidupan pada keberlangsungan pabrik.
Aku tidak ingin kesalahan beberapa orang menghancurkan masa depan mereka.
Suatu sore, ketika sedang memeriksa rencana restrukturisasi, sekretarisku mengatakan ada seseorang ingin menemuiku.
Melati.
Aku terdiam sebentar.
Kemudian mempersilakannya masuk.
Dia datang tanpa perhiasan mencolok seperti biasanya.
Wajahnya terlihat lelah.
“Tania, aku ingin meminta maaf.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa, Mbak?”
Melati menunduk.
“Untuk malam Lebaran itu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dia melanjutkan.
“Aku selalu merasa keluarga kami lebih tinggi daripada orang lain karena Danu memiliki perusahaan besar.”
Air matanya mulai menggenang.
“Ternyata aku bahkan tidak tahu siapa yang dulu membantu menyelamatkan perusahaan itu.”
Aku menghela napas.
“Mbak, aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih karena membantu Vantara. Itu keputusan bisnis.”
Melati mengangguk.
“Tapi aku tetap tidak punya hak mempermalukanmu.”
Aku menatapnya cukup lama.
Kemudian berkata pelan.
“Yang paling menyakitkan bukan karena aku diminta makan di garasi. Yang menyakitkan adalah semua orang melihatnya, tetapi hampir tidak ada yang berani mengatakan bahwa itu salah.”
Melati menangis.
“Aku tahu.”
Aku memberinya tisu.
Namun, aku tidak mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Permintaan maaf tidak bisa menghapus penghinaan dalam satu malam.
Kepercayaan membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.
Beberapa hari kemudian, Ardi datang ke apartemenku.
Kami sudah tinggal terpisah sementara sejak kejadian itu.
Dia duduk di sofa dengan wajah murung.
“Tania, aku benar-benar menyesal.”
Aku menatapnya.
“Karena perusahaan Danu sekarang berada di bawah kendaliku?”
Ardi menggeleng cepat.
“Bukan. Karena aku tidak membelamu ketika kamu diperlakukan tidak adil.”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan.
“Aku selalu merasa harus menjaga hubungan dengan keluarga. Sampai aku lupa bahwa kamu juga keluargaku.”
Air mataku mulai menggenang.
“Mas, aku tidak pernah meminta kamu memusuhi kakakmu. Aku cuma ingin kamu mengatakan bahwa aku berhak duduk di meja makan yang sama.”
Ardi menunduk.
“Aku tahu.”
Aku menarik napas panjang.
“Dan soal dokumen itu, kamu harus mempertanggungjawabkan keterangan yang kamu berikan.”
Dia mengangguk.
“Aku sudah bersedia memberikan penjelasan resmi.”
Aku tidak langsung memutuskan apakah pernikahan kami masih bisa dipertahankan.
Namun, aku meminta Ardi menjalani konseling pasangan bersamaku jika dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan.
Dia menyetujuinya.
Beberapa bulan kemudian, kondisi Vantara mulai menunjukkan perbaikan.
Kontrak-kontrak yang merugikan diperiksa ulang.
Pengadaan bahan baku dibuat lebih transparan.
Dan kewajiban kepada pemasok mulai diselesaikan sesuai kemampuan perusahaan.
Pada saat yang sama, Pak Jatmiko datang mengunjungiku.
Beliau membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Apa ini, Pak?”
“Kenang-kenangan dari Bapak.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat foto lama Ardi dan Melati ketika masih kecil.
Mereka duduk bersama di depan rumah sederhana.
Pak Jatmiko tersenyum.
“Dulu keluarga kami tidak punya meja makan besar.”
Aku menatapnya.
“Benarkah, Pak?”
Beliau mengangguk.
“Kami makan bersama di lantai, beralaskan tikar. Tapi tidak pernah ada yang disuruh makan sendirian di garasi.”
Aku terdiam.
Pak Jatmiko melanjutkan.
“Bapak tidak tahu kapan Melati mulai menganggap kekayaan sebagai ukuran kedudukan seseorang.”
Air mataku jatuh.
“Tapi Bapak tahu satu hal,” katanya.
“Apa, Pak?”
“Orang yang membuat kita merasa kecil bukan berarti dia lebih besar daripada kita.”
Aku memeluknya erat.
Setahun setelah malam Lebaran itu, keluargaku kembali berkumpul di Malang.
Namun, kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada meja utama yang dibedakan berdasarkan jabatan.
Tidak ada kursi khusus untuk orang yang dianggap paling kaya.
Semua orang duduk bersama.
Melati bahkan menghampiriku sebelum makan dimulai.
“Tania, sini duduk di sebelahku.”
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih, Mbak.”
Pak Jatmiko memperhatikan kami dari ujung meja.
Beliau terlihat bahagia.
Sementara Ardi duduk di sampingku.
Hubungan kami belum sempurna.
Masih ada banyak hal yang harus diperbaiki.
Namun, dia mulai belajar untuk tidak lagi diam ketika seseorang memperlakukanku secara tidak adil.
Saat makan malam berlangsung, Melati tiba-tiba mengangkat gelas.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Semua orang menoleh.
Dia memandangku.
“Tahun lalu, aku mempermalukan Tania di rumah ini. Aku menyuruhnya makan di garasi hanya karena merasa dia tidak penting.”
Ruangan langsung sunyi.
Melati menarik napas panjang.
“Padahal, aku bahkan tidak mengetahui bahwa perusahaan yang selama ini menjadi sumber kebanggaanku pernah diselamatkan oleh usaha yang dibangunnya sendiri.”
Dia menunduk.
“Aku ingin meminta maaf sekali lagi, di depan semua orang yang menyaksikan kejadian itu.”
Aku merasakan air mata mulai menggenang.
Namun, sebelum menjawab, Pak Jatmiko berkata pelan.
“Dalam keluarga, tidak boleh ada orang yang harus membuktikan kekayaannya hanya untuk mendapatkan tempat duduk.”
Semua orang terdiam.
Aku menatap beliau.
Kemudian mengangguk.
“Itu benar, Pak.”
Malam itu, aku akhirnya kembali duduk di meja makan yang sama.
Namun, bukan karena aku memiliki enam puluh tujuh persen saham Vantara.
Bukan pula karena perusahaan yang dulu hampir bangkrut kini berada di bawah pengelolaan profesional yang kutunjuk.
Aku duduk di sana karena setiap manusia berhak diperlakukan dengan hormat.
Aku memandang Melati yang sedang membagikan makanan kepada para kerabat.
Lalu menoleh kepada Ardi.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Karena pada akhirnya, orang yang benar-benar memiliki kedudukan tinggi bukanlah orang yang mampu mengusir seseorang dari meja makan.
Melainkan orang yang memiliki cukup kerendahan hati untuk memastikan tidak ada siapa pun yang dibiarkan makan sendirian di luar.
