SELAMA LIMA TAHUN AKU BEKERJA DI KOREA SELATAN DAN MENGIRIM RP28

Aku tidak tidur semalaman.

Foto Damar berdiri di depan toko barunya terus terbayang di kepalaku. Begitu pula dokumen pinjaman Rp2,4 miliar yang mencantumkan namaku sebagai penjamin.

Namun, ada satu hal yang terasa lebih janggal daripada semuanya.

Ratna Nur Aisyah meninggal tujuh tahun lalu, sedangkan rekening yang menerima uangku baru dibuka enam tahun lalu.

Artinya, rekening itu bukan sekadar rekening milik orang meninggal yang belum ditutup.

Seseorang mungkin telah menggunakan identitas perempuan yang sudah meninggal untuk membuka rekening baru.

Pagi harinya, aku menghubungi seorang pengacara bernama Pak Farhan, teman lama ayah mertuaku.

Setelah mendengar ceritaku, dia langsung meminta seluruh bukti transfer, dokumen pinjaman, serta salinan identitas yang kumiliki.

“Arga, jangan langsung menuduh ibumu atau Damar,” katanya. “Kita harus membuktikan bagaimana rekening itu dibuka dan siapa yang mengendalikannya.”

Aku mengangguk.

“Kalau pemilik rekening sudah meninggal sebelum rekening dibuka, bagaimana bank bisa menerimanya?”

“Ada beberapa kemungkinan. Identitasnya digunakan tanpa izin, data administrasi dimanipulasi, atau nama yang sama ternyata merujuk kepada orang berbeda. Kita harus memastikan dulu.”

Aku terdiam.

Selama ini aku terlalu terpaku pada kesamaan nama.

Padahal, nama saja belum cukup membuktikan bahwa pemilik rekening merupakan perempuan yang sudah meninggal itu.

Pak Farhan kemudian menjelaskan bahwa bank tidak dapat sembarangan membuka data pribadi nasabah kepadaku. Namun, laporan dugaan penipuan yang telah kuajukan dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan internal dan proses hukum.

Kami sepakat mendatangi pembukaan toko Damar, tetapi tidak untuk membuat keributan.

Aku hanya ingin melihat bagaimana kakakku bereaksi ketika mengetahui aku sudah pulang.

Pukul sepuluh tepat, aku tiba di Jalan Soekarno-Hatta bersama Nisa.

Bangunan tiga lantai itu terlihat begitu megah.

Balon merah putih menghiasi pintu masuk. Puluhan tamu berdiri sambil memegang gelas minuman.

Di depan toko terpampang tulisan besar.

Damar Home & Living.

Aku menatap bangunan itu dengan dada sesak.

Lima tahun aku bekerja di pabrik Korea Selatan. Lima tahun aku menghitung setiap pengeluaran agar bisa mengirim lebih banyak uang kepada keluargaku.

Sementara itu, istriku berjualan es lilin untuk membayar sekolah Alya.

Dan kakakku justru meresmikan toko sebesar ini.

“Mas, lihat,” bisik Nisa.

Di dekat panggung, Ibu sedang berbicara dengan beberapa tamu.

Dia mengenakan kebaya mahal dan gelang emas yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Ketika mata kami bertemu, wajahnya langsung pucat.

“Arga?”

Damar yang berdiri di sampingnya segera menoleh.

Senyumnya menghilang.

Aku berjalan mendekat.

“Selamat atas toko barunya, Mas.”

Damar berusaha tersenyum.

“Kamu pulang kapan?”

“Kemarin.”

“Kenapa nggak bilang?”

Aku menatapnya.

“Supaya aku bisa melihat semuanya sendiri.”

Ibu buru-buru menarik lenganku.

“Arga, jangan bikin malu keluarga di depan tamu.”

Aku melepaskan tangannya dengan hati-hati.

“Bu, selama lima tahun aku mengirim Rp28 juta setiap bulan. Kenapa Nisa cuma menerima dua sampai tiga juta?”

Ibu menunduk.

Damar langsung menyela.

“Uangmu dipakai untuk investasi keluarga. Aku sudah pernah menjelaskannya.”

Aku menggeleng.

“Tidak pernah. Kamu cuma bilang dana renovasi dan tabungan pendidikan Alya sedang dikelola.”

“Ya, itu bagian dari investasi!”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau begitu, jelaskan juga kenapa rekening penerimanya memakai nama Ratna Nur Aisyah.”

Damar langsung terdiam.

Aku memperhatikan perubahan wajahnya.

“Mas tahu nama itu?”

Dia menarik napas.

“Bibi Ratna.”

Aku mengangguk.

“Bibi Ratna meninggal tujuh tahun lalu. Tapi menurut informasi yang sudah kulaporkan ke bank, rekening itu dibuka setahun setelah kematiannya.”

Ibu langsung menutup mulut.

Damar menatapku tajam.

“Siapa yang memberitahumu?”

Aku hampir tertawa.

Itu pertanyaan yang sama seperti orang yang takut rahasianya diketahui.

“Jadi kamu memang tahu?”

Damar tidak menjawab.

Namun, sebelum kami melanjutkan pembicaraan, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun mendekat.

Dia mengenakan blazer abu-abu dan membawa tas kerja hitam.

“Mas Arga?”

Aku menoleh.

Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Riska.

“Aku anak Bu Ratna Nur Aisyah.”

Aku membeku.

Riska mengeluarkan ponselnya.

“Aku yang mengirim foto dan dokumen tadi malam.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu?”

Dia mengangguk.

“Aku sudah lama mencari tahu kenapa identitas ibuku masih dipakai setelah beliau meninggal.”

Damar langsung mendekat.

“Riska, jangan ikut campur!”

Riska menatapnya tanpa takut.

“Mas Damar, cukup. Kamu sudah terlalu lama menggunakan nama Ibu.”

Suasana di sekitar kami mulai berubah. Beberapa tamu menoleh.

Riska mengajakku ke sebuah kafe di seberang jalan.

Pak Farhan yang sejak tadi menunggu di dekat lokasi kemudian bergabung.

Di sana, Riska menunjukkan salinan akta kematian ibunya dan dokumen keluarga yang menjelaskan hubungan Ratna dengan Ibu.

Ratna merupakan adik sepupu Ibu.

Setelah meninggal, dokumen pribadinya sempat disimpan di rumah keluarga besar.

“Mas Damar pernah membantu mengurus administrasi kematian Ibu,” jelas Riska. “Dia memiliki salinan KTP lama, kartu keluarga, dan beberapa dokumen lainnya.”

Aku menahan napas.

“Lalu bagaimana kamu mengetahui ada rekening atas namanya?”

Riska mengeluarkan sebuah surat.

“Dua bulan lalu, aku menerima pemberitahuan penagihan yang ditujukan kepada Ibu di alamat lama kami. Ada nomor referensi rekening yang tidak kukenal.”

Dia kemudian membuat pengaduan kepada bank karena ibunya sudah meninggal.

Pemeriksaan awal belum selesai ketika Damar mengetahui tindakannya.

“Dia meminta aku mencabut pengaduan,” kata Riska.

Aku merasa semakin marah.

“Kenapa kamu baru menghubungiku sekarang?”

“Karena kemarin aku melihat namamu tercantum dalam dokumen penjaminan pinjaman usaha Damar. Aku ingat kamu pernah bekerja di Korea dan mengirim uang melalui rekening yang diurusnya.”

Pak Farhan kemudian memeriksa salinan dokumen tersebut.

Riska menjelaskan bahwa dia memperoleh foto perjanjian pinjaman dari berkas yang ditinggalkan Damar ketika pernah meminta bantuannya memeriksa dokumen usaha.

Namun, dokumen yang kami pegang belum cukup untuk memastikan siapa yang menggunakan rekening secara langsung.

Kami harus menunggu pemeriksaan resmi terhadap identitas pembukaan rekening dan aliran dananya.

Siang itu, bersama Pak Farhan, aku kembali ke bank untuk melengkapi laporan.

Aku juga membuat laporan kepada pihak berwenang mengenai dugaan penggunaan identitas orang yang telah meninggal dan pemalsuan tanda tanganku.

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan menemukan fakta yang membuatku hampir kehilangan tenaga.

Data kependudukan yang digunakan dalam pembukaan rekening memang mengarah kepada Ratna Nur Aisyah yang telah meninggal.

Namun, foto identifikasi yang tersimpan dalam berkas pembukaan rekening bukan wajah Ratna.

Perempuan dalam foto tersebut adalah orang lain.

Namanya Wulan.

Mantan pegawai administrasi usaha Damar.

Menurut hasil penelusuran, Wulan diduga menggunakan dokumen Ratna untuk membuka rekening dengan bantuan pihak yang kemudian ikut diperiksa.

Nomor telepon dan perangkat transaksi rekening tersebut berkaitan dengan aktivitas usaha Damar.

Aku menatap Pak Farhan.

“Jadi selama ini uangku masuk ke rekening yang dibuat menggunakan identitas palsu?”

“Temuan pemeriksaan mengarah ke sana. Tetapi siapa saja yang bertanggung jawab tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.”

Aku mengusap wajah.

“Lalu kenapa rekening itu tidak menggunakan nama Damar saja?”

Pak Farhan menjawab dengan tenang.

“Karena dengan memakai nama yang hampir sama dengan nama istrimu, kamu tidak curiga. Sementara Damar bisa mengendalikan dana tanpa harus mencantumkan dirinya sebagai penerima langsung.”

Aku terdiam.

Selama lima tahun, aku hanya memperhatikan nomor rekening dan bukti keberhasilan transfer.

Aku tidak pernah meminta Nisa mengonfirmasi rekening tujuan secara langsung.

Aku terlalu percaya kepada kakakku.

Namun, masih ada satu pertanyaan.

Apakah Ibu mengetahui semuanya?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Ibu datang ke kontrakan kami.

Dia menangis begitu melihat Alya sedang mengerjakan PR di lantai.

“Arga, Ibu minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Ibu tahu rekening itu bukan milik Nisa?”

Ibu menunduk.

“Awalnya nggak.”

“Lalu kapan Ibu tahu?”

“Sekitar dua tahun setelah kamu berangkat.”

Aku merasa dada seperti diremas.

“Jadi selama tiga tahun Ibu tahu uangku dipakai Damar?”

Air matanya jatuh.

“Damar bilang dia meminjamnya dulu untuk modal usaha. Katanya kalau bisnisnya berhasil, semua akan dikembalikan.”

Aku menggeleng.

“Dan Ibu percaya?”

“Ibu takut usaha Damar bangkrut. Dia sudah berutang ke banyak orang.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi demi menyelamatkan Damar, Ibu membiarkan Nisa dan Alya hidup kekurangan?”

Ibu menutup wajah.

“Aku salah, Ga.”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku itu.

“Bu, Alya pernah hampir berhenti les karena kami nggak punya uang. Nisa sampai meminjam uang tetangga untuk bayar sekolah. Apa Ibu nggak pernah merasa kasihan?”

Ibu menangis semakin keras.

“Aku pikir kamu masih punya tabungan di Korea.”

“Kalau aku punya tabungan sebanyak itu, untuk apa aku mengirim hampir seluruh penghasilanku setiap bulan?”

Tidak ada jawaban.

Aku kemudian bertanya tentang rumah kami di Singosari.

Ternyata rumah itu tidak langsung dijual.

Damar pernah memintaku menandatangani dokumen melalui kiriman internasional dengan alasan pengurusan renovasi.

Aku masih mengingatnya.

Waktu itu dia mengatakan perlu surat kuasa agar kontraktor bisa mengurus sambungan listrik dan izin pekerjaan.

Namun, ternyata dokumen yang dikirim kepadaku mencakup kewenangan lebih luas daripada yang dijelaskannya.

Pak Farhan kemudian menelusuri dokumen pertanahan.

Ditemukan adanya peralihan hak rumah yang perlu diperiksa karena sebagian dokumen pendukungnya diduga digunakan tidak sesuai dengan persetujuan yang sebenarnya kuberikan.

Aku merasa semakin hancur.

Bukan hanya uangku.

Rumah yang kubeli sebelum menikah pun telah digunakan dalam urusan bisnis Damar.

Beberapa bulan kemudian, pemeriksaan terhadap pinjaman Rp2,4 miliar juga menemukan kejanggalan.

Namaku dicantumkan sebagai penjamin pribadi.

Namun, pemberi pinjaman tidak memiliki bukti bahwa aku pernah hadir atau memberikan persetujuan yang sah.

Tanda tangan pada dokumen juga sedang diperiksa karena diduga ditiru dari dokumen lama.

Pak Farhan menjelaskan bahwa pencantuman namaku tidak otomatis membuatku bertanggung jawab atas pinjaman tersebut.

Kami mengajukan keberatan tertulis dan meminta seluruh dokumen asli diperiksa.

Sementara itu, audit terhadap rekening penerima uang kirimanku menunjukkan bahwa sebagian besar dana telah dipindahkan secara bertahap ke rekening usaha yang berkaitan dengan Damar.

Tidak semua uang langsung masuk ke pembangunan toko.

Sebagian dipakai membayar utang lama, membeli persediaan, dan menutup kerugian bisnis sebelumnya.

Aku menatap laporan tersebut dengan perasaan kosong.

Selama ini Damar selalu mengatakan sedang merintis usaha dari nol.

Ternyata modalnya berasal dari uang yang kukirim untuk istri dan anakku.

Suatu sore, Damar akhirnya datang menemuiku bersama pengacaranya.

Kami bertemu di kantor Pak Farhan.

Wajah kakakku terlihat jauh lebih tua.

“Arga, aku tahu kamu marah.”

Aku menatapnya.

“Marah? Mas, kamu mengambil lima tahun hidupku.”

Damar menunduk.

“Aku memang menggunakan uangmu.”

“Kenapa?”

“Usahaku gagal. Aku punya utang besar. Aku takut Ibu kehilangan rumah karena aku.”

Aku menggeleng.

“Jadi kamu mengambil rumahku sebagai gantinya?”

Dia menangis.

“Aku pikir bisa mengembalikan semuanya setelah toko berhasil.”

Aku menatapnya tajam.

“Kalau memang mau meminjam, kenapa nggak bilang?”

Damar terdiam.

Aku melanjutkan.

“Karena kamu tahu aku mungkin akan menolak.”

Dia mengangguk pelan.

Aku mengeluarkan foto Alya ketika sedang berjualan bersama ibunya.

“Lihat ini.”

Damar mengangkat wajah.

“Ini anakku. Keponakanmu. Dia membantu ibunya menjual es lilin setelah sekolah.”

Air mata Damar jatuh.

“Maafkan aku.”

Aku menarik napas panjang.

“Uang bisa dicari lagi. Tapi lima tahun masa kecil Alya yang kulewatkan nggak akan pernah kembali.”

Damar menunduk tanpa berkata apa-apa.

Aku tidak menjanjikan akan memaafkannya.

Aku hanya meminta dia memberikan keterangan yang benar dan bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkannya.

Beberapa waktu kemudian, proses hukum dan pemulihan aset masih berjalan.

Sebagian dana yang dapat ditelusuri mulai diperhitungkan dalam proses pengembalian kerugian.

Aku tidak langsung mendapatkan seluruh uangku kembali.

Namun, setidaknya penyelidikan telah menemukan bagaimana sebagian besar dana itu digunakan.

Aku memutuskan tidak kembali bekerja ke Korea.

Bukan karena aku tidak menghargai pekerjaan yang pernah memberiku penghasilan besar.

Melainkan karena aku ingin hadir dalam kehidupan Alya.

Dengan tabungan pribadi yang masih tersisa dan penghasilan dari pekerjaan baru, aku membantu Nisa mengembangkan usaha es lilin menjadi usaha makanan ringan kecil.

Kami menyewa kios sederhana dekat sekolah.

Nisa tersenyum ketika memasang papan nama.

Es Lilin Alya.

Suatu sore, aku duduk di depan kios sambil membantu putriku mengerjakan tugas matematika.

Alya menatapku.

“Ayah, nanti Ayah pergi jauh lagi?”

Aku terdiam.

Kemudian mengusap rambutnya.

“Nggak dalam waktu dekat, Sayang.”

Dia tersenyum.

“Berarti besok Ayah bisa datang ke sekolah?”

“Bisa.”

“Ada acara orang tua murid.”

Aku mengangguk.

“Ayah datang.”

Alya langsung memelukku.

Pelukannya membuat dadaku terasa hangat sekaligus sakit.

Selama lima tahun aku mengira menjadi ayah yang baik berarti mengirim uang sebanyak mungkin.

Aku rela jauh dari keluarga karena percaya setiap rupiah yang kukirim akan membuat kehidupan mereka lebih nyaman.

Namun, pengalaman ini mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah kupahami sebelumnya.

Uang memang penting.

Tetapi uang yang dikirim tanpa komunikasi dan pengawasan dapat disalahgunakan.

Sementara waktu yang hilang bersama anak tidak bisa dibeli kembali.

Malam itu, ketika Alya tertidur, Nisa duduk di sampingku.

“Mas, kamu masih menyesal pergi ke Korea?”

Aku menggeleng.

“Aku nggak menyesal bekerja keras untuk kalian.”

“Lalu?”

“Aku menyesal terlalu percaya tanpa pernah memastikan keadaan kalian yang sebenarnya.”

Nisa menggenggam tanganku.

“Aku juga menyesal terlalu lama diam karena takut kamu benar-benar sudah berubah.”

Aku memandangnya.

“Kita sama-sama dibohongi, Nis.”

Dia mengangguk sambil menangis.

Aku memeluknya erat.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, kami tidak lagi berbicara melalui layar ponsel.

Tidak ada perbedaan waktu.

Tidak ada nomor asing yang mengaku sebagai diriku.

Tidak ada orang lain yang mengatur kapan kami boleh berbicara.

Hanya aku dan istriku, duduk berdampingan di rumah kecil yang kami tempati sementara.

Beberapa bulan kemudian, Pak Farhan menghubungiku dengan kabar baru.

Pemeriksaan tambahan menemukan bahwa rekening yang menggunakan identitas Ratna Nur Aisyah ternyata memiliki satu penerima transfer rutin yang sebelumnya tidak kuperhatikan.

Nomor rekening itu bukan milik Damar.

Bukan pula milik Ibu.

Melainkan rekening atas nama Wulan, perempuan yang diduga membantu membuka rekening menggunakan identitas almarhumah Ratna.

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa dia menerima uang secara rutin?”

Pak Farhan menjawab.

“Transaksinya diduga merupakan pembayaran jasa atas pengelolaan rekening. Ini masih diperiksa.”

Aku mengangguk.

Namun, ketika mendengar jumlah totalnya, aku terdiam.

Selama lima tahun, Wulan menerima lebih dari Rp90 juta.

Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan uang yang digunakan Damar.

Tetapi cukup menunjukkan bahwa penyalahgunaan identitas tersebut kemungkinan bukan dilakukan sendirian.

Aku menutup telepon.

Sekarang semuanya semakin jelas.

Damar membutuhkan uang.

Ibu memilih menutupi kesalahan anak sulungnya.

Wulan diduga membantu menyediakan rekening menggunakan identitas perempuan yang sudah meninggal.

Sementara aku dan Nisa menjadi orang terakhir yang mengetahui semuanya.

Aku menatap foto keluarga kecil kami yang baru dipasang di dinding.

Di dalamnya, Alya tersenyum sambil memegang dua es lilin.

Nisa berdiri di sebelahnya.

Dan aku merangkul mereka berdua.

Foto itu tidak diambil di depan rumah mewah.

Tidak ada mobil mahal.

Tidak ada bangunan tiga lantai.

Namun, untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar memiliki keluarga yang selama ini kuperjuangkan.

Aku tidak tahu kapan seluruh uangku akan kembali.

Aku juga tidak tahu apakah hubungan dengan Ibu dan Damar suatu hari bisa diperbaiki.

Namun, satu hal sudah pasti.

Aku tidak akan lagi membiarkan rasa percaya menggantikan kejujuran dan komunikasi.

Karena lima tahun lalu, aku berangkat ke Korea untuk membangun masa depan keluargaku.

Tetapi setelah pulang, aku justru menyadari bahwa masa depan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan.

Melainkan tentang siapa yang benar-benar kita lindungi, siapa yang kita percayai, dan apakah kita hadir ketika orang-orang yang kita cintai paling membutuhkan kita.

Aku mungkin kehilangan sebagian besar hasil kerja kerasku.

Tetapi aku masih memiliki kesempatan untuk membangun kembali kehidupan bersama istri dan anakku.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang akan kubiarkan berdiri di antara kami dengan kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang