“Kalau saja kamu tidak mengembalikan tas itu, Nara, rahasia yang kami kubur selama dua puluh delapan tahun mungkin tidak akan pernah terbongkar.”

Aku menatap Bu Marissa tanpa berkedip.
“Rahasia apa? Kenapa nama ayah kandung saya ada di dokumen keluarga kalian?”
Bu Marissa menutupi wajahnya. Bahunya bergetar, tetapi aku tidak merasakan iba. Perempuan yang kemarin menghinaku kini menangis setelah kebohongannya terancam terbongkar.
Rendra meletakkan dokumen itu di meja.
“Ma, sekarang jelaskan semuanya.”
“Rendra, Mama melakukan ini demi keluarga kita.”
“Dengan menyembunyikan anak Ayah selama dua puluh delapan tahun?”
Bu Marissa mengangkat wajahnya.
“Karena kalau Mama tidak melakukannya, kamu mungkin tidak akan pernah lahir!”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungku.
“Apa maksud Ibu?”
Bu Marissa menarik kursi dan duduk dengan tubuh gemetar.
“Tahun 1997, ayah Rendra menjalin hubungan dengan seorang perempuan bernama Maya. Waktu itu kami sudah menikah hampir lima tahun, tetapi belum memiliki anak.”
Aku menggenggam ujung meja.
“Ibu saya?”
Ia mengangguk.
“Maya bekerja sebagai perawat di klinik milik keluarga kami. Surya mencintainya. Bahkan, dia pernah meminta cerai dariku.”
Rendra memejamkan mata.
“Jadi, Ayah memang punya hubungan dengan ibu Nara?”
“Ya.”
“Lalu apa yang terjadi?” tanyaku.
Bu Marissa terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Ketika Maya hamil, Surya memutuskan tetap bersamaku. Dia berjanji akan bertanggung jawab atas anak itu, tetapi tidak akan meninggalkan pernikahan kami.”
Aku tertawa getir.
“Bertanggung jawab? Saya tumbuh tanpa ayah. Ibu saya meninggal, dan nenek harus berjualan nasi setiap pagi untuk membiayai sekolah saya.”
Wajah Bu Marissa semakin pucat.
“Itu yang tidak kamu ketahui, Nara.”
Aku menatapnya.
“Ibumu tidak meninggal ketika melahirkan.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Apa?”
“Maya selamat. Dia bahkan sempat menggendongmu.”
Aku mundur selangkah.
“Tidak mungkin. Saya punya surat kematiannya.”
“Surat itu dibuat beberapa bulan setelah kamu lahir.”
“Lalu kenapa nenek mengatakan ibu saya meninggal saat melahirkan?”
Bu Marissa menunduk.
“Karena nenekmu tidak pernah mengetahui seluruh kejadian sebenarnya.”
Rendra membentak, “Mama, jangan berputar-putar!”
Air mata Bu Marissa jatuh ke tangannya.
“Dua minggu setelah melahirkan, Maya datang ke rumah kami. Dia membawa Nara dan meminta Surya mengakui anaknya secara resmi. Aku sedang mengandung Rendra saat itu.”
Aku menahan napas.
“Kami bertengkar hebat. Maya mengancam akan membawa masalah itu ke keluarga besar Surya. Aku takut kehilangan suamiku, rumahku, semuanya.”
“Lalu?” desakku.
“Pada malam itu, Maya mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang.”
Jantungku berdegup kencang.
“Kecelakaan seperti apa?”
Bu Marissa tidak menjawab.
Rendra mengambil ponselnya.
“Saya akan menghubungi pengacara keluarga. Kita harus memeriksa semua dokumen ini.”
Namun, sebelum ia sempat menelepon, Bu Marissa tiba-tiba berteriak.
“Mobil itu milikku!”
Aku membeku.
“Apa?”
“Aku mengikuti Maya malam itu. Aku ingin memintanya menjauh dari Surya. Kami bertengkar di jalan. Saat dia pergi, aku mengejarnya dengan mobil.”
Suaranya semakin kecil.
“Aku kehilangan kendali ketika mencoba menghentikannya. Mobilku menabrak sepeda motornya.”
Aku merasa lututku melemas.
“Ibu menabrak ibu saya?”
“Aku tidak bermaksud membunuhnya!”
“JADI IBU MEMANG MENABRAKNYA!”
Tangisku pecah.
Selama dua puluh delapan tahun, aku percaya ibuku meninggal karena komplikasi persalinan. Setiap ulang tahun, aku selalu membawa bunga ke makamnya.
Ternyata ada seseorang yang mengetahui kebenarannya selama ini.
Dan orang itu baru kemarin menuduhku mengincar uang keluarganya.
Rendra berdiri di antara kami.
“Ma, apakah Ayah tahu?”
Bu Marissa mengangguk perlahan.
“Surya mengetahui semuanya tiga hari setelah kecelakaan. Dia marah, tetapi akhirnya memilih melindungiku karena aku sedang mengandung.”
Aku menatapnya dengan perasaan hancur.
“Lalu bagaimana dengan saya?”
“Surya memberikan sejumlah uang kepada keluarga Maya melalui seseorang. Dia mengira uang itu digunakan untuk membesarkanmu.”
Aku langsung teringat nenek.
Sepanjang hidupnya, nenek tidak pernah memiliki tabungan besar. Bahkan ketika sakit keras, beliau menolak dirawat di rumah sakit swasta karena takut membebaniku.
“Uang itu tidak pernah sampai kepada kami,” kataku.
Rendra membuka dokumen lainnya.
Di sana terdapat bukti transfer lama dengan nama penerima yang tidak kukenal.
Sebuah nama yang membuat Bu Marissa kembali menegang.
Hendra Kusuma.
“Itu siapa?” tanyaku.
Rendra menatap ibunya.
“Paman Hendra? Adik Mama?”
Bu Marissa tidak menjawab.
Rendra segera menelepon seseorang dari bagian keuangan perusahaan keluarganya. Setelah menjelaskan nomor rekening pada dokumen, ia meminta seluruh arsip pembayaran lama diperiksa.
Kami menunggu hampir satu jam.
Ketika telepon kembali berdering, ekspresi Rendra berubah.
“Menurut arsip, Ayah mengirimkan dana pendidikan untuk Nara setiap tahun sampai usianya dua puluh satu tahun.”
“Berapa jumlahnya?” tanyaku.
Rendra menelan ludah.
“Totalnya hampir Rp2,4 miliar.”
Aku terdiam.
Rp2,4 miliar.
Sementara nenek pernah menjual cincin kawinnya agar aku bisa membayar uang kuliah.
“Dan semuanya masuk ke rekening Paman Hendra,” lanjut Rendra.
Bu Marissa menangis semakin keras.
“Aku tidak tahu Hendra mengambil uang itu. Aku bersumpah!”
Aku menatapnya dingin.
“Mungkin Ibu tidak mengambil uangnya. Tapi Ibu mengambil kesempatan saya untuk mengenal ayah dan ibu saya.”
Tidak ada jawaban.
Siang itu, Rendra mengantarku menemui notaris yang disebut dalam surat wasiat ayahnya.
Di kantor kecil kawasan Setiabudi, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun menyambut kami.
Namanya Pak Darmawan.
Begitu mendengar namaku, ia langsung berdiri.
“Nara Ayuningtyas?”
Aku mengangguk.
Matanya berkaca-kaca.
“Akhirnya kamu datang.”
Ia mengambil sebuah kotak kayu dari lemari besi.
“Almarhum Pak Surya menitipkan ini tiga bulan sebelum meninggal. Beliau meminta saya menyerahkannya jika suatu hari kamu ditemukan.”
Di dalam kotak terdapat foto seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.
Perempuan itu tersenyum lembut.
Aku mengenalinya.
Wajah yang sama seperti foto ibuku di rumah nenek.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Di belakang foto tertulis tanggal 12 September 1998.
Hampir sebulan setelah aku lahir.
Tanganku gemetar ketika membalik foto berikutnya.
Ibuku berdiri di depan sebuah rumah kecil bersama seorang laki-laki.
Laki-laki itu adalah Surya Mahardika.
Di bagian bawahnya terdapat tulisan tangan.
Untuk Nara, putri kecil yang selalu Ayah rindukan.
Air mataku menetes ke foto itu.
Pak Darmawan kemudian menyerahkan sebuah surat.
Isinya pengakuan Surya tentang hubungan dengan ibuku, penyesalannya karena tidak membesarkanku, dan keputusan menyisihkan sebagian hartanya untukku.
Namun, ada satu kalimat yang membuatku berhenti membaca.
Aku tidak pernah yakin Maya benar-benar meninggal dalam kecelakaan itu.
Aku mendongak.
“Apa maksudnya?”
Pak Darmawan menarik napas.
“Pak Surya pernah menyewa penyelidik pribadi. Berdasarkan catatan rumah sakit, ibumu memang mengalami cedera berat, tetapi masih hidup ketika dibawa ke ruang operasi.”
“Lalu?”
“Setelah itu, catatan pemindahan pasiennya menghilang.”
Rendra langsung berdiri.
“Jadi selama ini Ayah masih mencari Maya?”
Pak Darmawan mengangguk.
“Bahkan sampai beberapa minggu sebelum meninggal.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop terakhir.
“Ini laporan terbaru yang belum sempat beliau baca.”
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat foto seorang perempuan paruh baya mengenakan seragam sederhana. Rambutnya mulai beruban, dan ada bekas luka panjang di dekat pelipis kirinya.
Di bawah foto tertulis sebuah alamat di Lembang.
Aku membaca nama perempuan itu.
Siti Rahmawati.
Namun, pada bagian keterangan terdapat kalimat yang membuat napasku tertahan.
Diduga memiliki identitas sebelumnya sebagai Maya Ayuningtyas.
Aku menatap Pak Darmawan.
“Perempuan ini masih hidup?”
“Menurut laporan terakhir, iya.”
Keesokan harinya, aku dan Rendra pergi ke alamat tersebut.
Rumahnya sederhana, berdinding hijau pucat, dengan pot bunga berjajar di teras.
Seorang perempuan sedang menyiram tanaman ketika mobil kami berhenti.
Begitu aku turun, ia menoleh.
Selang air terlepas dari tangannya.
Matanya membesar.
“Nara?”
Aku tidak mampu bergerak.
Perempuan itu menutup mulutnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah gemetar.
“Kamu… Nara?”
“Bagaimana Ibu tahu nama saya?”
Air matanya langsung mengalir.
Ia mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajahku.
“Karena setiap malam selama dua puluh delapan tahun, Ibu berdoa agar suatu hari bisa melihat wajahmu lagi.”
Aku menangis.
“Ibu… benar-benar ibu saya?”
Perempuan itu mengangguk sambil terisak.
Setelah kecelakaan, ia mengalami cedera kepala dan kehilangan sebagian ingatannya. Seorang pekerja sosial membantunya menjalani pemulihan. Bertahun-tahun kemudian, ingatannya perlahan kembali, tetapi ketika ia mencoba mencari keluarganya, seseorang memberitahunya bahwa bayi perempuannya telah meninggal.
Orang yang memberikan informasi itu adalah Hendra Kusuma.
Aku memeluknya sekuat tenaga.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan pelukan ibu kandungku.
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan DNA mengonfirmasi hubungan kami. Rendra juga menjalani pemeriksaan, dan hasilnya membuktikan bahwa kami saudara seayah.
Bukti-bukti mengenai kecelakaan, pemalsuan informasi, dan penyalahgunaan uang diserahkan kepada penyidik. Bu Marissa serta Hendra harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka melalui proses hukum.
Aku tidak tahu apakah suatu hari bisa memaafkan mereka.
Namun, aku tahu satu hal.
Pagi ketika menemukan tas berisi Rp86 juta itu, aku hanya ingin mengembalikan barang milik orang lain.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa kejujuran sederhana akan membawaku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.
Seorang kakak laki-laki yang tidak pernah kukenal.
Kebenaran tentang masa laluku.
Dan seorang ibu yang selama dua puluh delapan tahun ternyata masih hidup, masih menunggu, dan masih menyebut namaku dalam setiap doanya.
Sore itu, ketika kami duduk bersama di teras rumah kecilnya, Ibu menggenggam tanganku erat.
“Nara, kamu menyesal sudah mengembalikan tas itu?”
Aku menggeleng sambil tersenyum di antara air mata.
“Tidak, Bu. Kalau tas itu tidak kukembalikan, mungkin sampai sekarang aku masih mengira Ibu sudah meninggal.”
Ibu memelukku lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak kecil, aku tidak perlu membayangkan bagaimana rasanya pulang ke pelukan seorang ibu.
Karena akhirnya, aku benar-benar sudah pulang.
