AKU MENOLONG KURIR YANG TERJATUH, TAPI DIA BERBISIK BAHWA SUAMIKU

Aku membaca surat itu berulang kali, berharap mataku salah menangkap maksudnya.

Saya, Dinda Rahmawati, menyatakan bahwa Maya Rahmawati bukan ibu kandung saya.

Tanganku gemetar hebat.

“Dinda, siapa yang menyuruh kamu menandatangani ini?”

Dinda menangis semakin keras.

“Ayah bilang kalau Dinda nggak tanda tangan, Mama bakal dibawa ke rumah sakit jiwa. Ayah juga bilang Mama sudah lama sakit, tapi sengaja menyembunyikannya dari Dinda.”

Aku memeluk putriku erat-erat.

“Dengar, Sayang. Mama nggak sakit. Dan apa pun yang terjadi, kamu tetap anak Mama.”

“Tapi, Ma…” Dinda mengangkat wajahnya. “Ada sesuatu yang belum Mama tahu.”

Pak Hendra mendadak berdiri.

“Dinda, sebaiknya kamu jangan…”

“Biar Dinda yang cerita, Om!”

Aku menoleh kepada Pak Hendra.

“Bapak tahu sesuatu tentang anak saya?”

Pria itu menunduk.

Dinda mengeluarkan ponselnya. Di layar terdapat foto seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.

Perempuan itu sangat kukenal.

Nadine.

Sekretaris Raka.

“Dinda menemukan foto ini di laptop Ayah. Di belakang fotonya ada tanggal, tujuh belas tahun lalu.”

Aku terdiam.

Tujuh belas tahun lalu, Nadine seharusnya masih remaja. Sekarang usianya sekitar tiga puluh lima tahun.

“Dari mana kamu tahu itu Nadine?”

“Dinda pernah lihat dia waktu datang ke kantor Ayah. Tapi yang bikin Dinda takut bukan fotonya.”

Dinda memperbesar gambar.

Di pergelangan tangan bayi itu terdapat gelang rumah sakit.

Tertulis sebuah nama.

Dinda Maharani.

Nama yang sama dengan nama putriku sebelum Raka mengurus perubahan dokumen kependudukan kami setelah menikah.

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

“Ini nggak mungkin.”

Pak Hendra segera menarik kursi untukku.

“Bu Maya, ada hal yang harus Ibu dengar. Tapi saya mohon, jangan mengambil keputusan sebelum semuanya jelas.”

Aku menatapnya tajam.

“Bapak sudah tahu sejak kapan?”

“Sejak Raka datang membawa dokumen itu tiga minggu lalu.”

“Dan Bapak diam saja?”

“Saya sedang mengumpulkan bukti. Saya menolak memproses pengalihan saham karena tanda tangan Ibu mencurigakan. Tapi Raka menggunakan kantor notaris lain.”

Aku menatap foto itu sekali lagi.

Tujuh belas tahun lalu, aku belum menikah dengan Raka.

Aku melahirkan Dinda ketika berusia dua puluh tiga tahun. Ayah kandung Dinda, seorang pria bernama Arman, meninggal dalam kecelakaan sebelum putri kami lahir.

Setidaknya, itulah yang selama ini kupercayai.

Aku masih ingat ruang bersalin di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Aku mengalami perdarahan hebat dan baru sadar hampir dua hari kemudian.

Ibuku mengatakan bayiku sempat dipindahkan ke ruang perawatan khusus.

Namun, mengapa Nadine memiliki foto bersama bayi bernama Dinda?

“Ma,” bisik Dinda, “Ayah juga menyimpan surat hasil tes DNA.”

Aku langsung menoleh.

“Hasilnya?”

“Dinda nggak sempat baca. Ayah keburu pulang.”

Aku mengambil napas panjang.

“Pak Hendra, saya perlu salinan semua dokumen. Sekarang.”

Setelah mengantar Dinda ke rumah adikku, aku menghubungi sahabat lamaku, Ratih, seorang pengacara di Bandung.

Ratih memeriksa dokumen yang kubawa dengan wajah serius.

“Maya, ini bukan sekadar perselingkuhan. Ada dugaan pemalsuan dokumen, penggelapan aset, dan upaya menggunakan keterangan palsu untuk menguasai hartamu.”

“Bagaimana dengan Dinda?”

“Kita harus memisahkan urusan bisnis dari identitas anakmu. Jangan percaya dokumen yang dibuat Raka sebelum diverifikasi.”

Ratih kemudian menyarankan agar aku segera mengamankan rekening perusahaan, memberitahukan dugaan pemalsuan kepada pihak terkait, dan membuat laporan resmi.

Sore harinya, perempuan kurir yang kutolong menghubungiku.

Namanya Sari.

“Bu Maya, saya harus bertemu Ibu. Ada sesuatu yang belum saya ceritakan.”

Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil dekat Jalan Cihampelas.

Sari datang dengan wajah pucat.

“Saya sebenarnya bukan kurir tetap, Bu. Saya bekerja paruh waktu untuk perusahaan pengiriman. Dua hari lalu, saya diminta mengantar paket langsung ke vila di Lembang.”

“Apa isinya?”

“Saya nggak tahu. Tapi ketika sampai, saya mendengar pertengkaran.”

Sari mengeluarkan ponselnya.

“Saya merekam sedikit karena laki-laki itu mengancam perempuan yang bersamanya. Saya takut terjadi sesuatu.”

Dalam rekaman terdengar suara Nadine.

“Kamu berjanji akan mengembalikan Dinda kepada saya!”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Kemudian terdengar suara Raka.

“Diam! Selama Maya masih punya hak atas perusahaan, kamu nggak akan mendapatkan apa-apa.”

“Aku nggak peduli perusahaanmu!”

“Kamu pikir setelah tujuh belas tahun, anak itu akan langsung menganggapmu ibunya?”

Aku menutup mulut.

Nadine adalah ibu kandung Dinda?

Lalu siapa aku sebenarnya?

Sari menggenggam tanganku.

“Bu, saya nggak tahu apa yang terjadi. Tapi ada satu hal lagi.”

Dia menunjukkan foto sebuah amplop yang sempat dilihatnya di vila.

Di bagian depan tertulis nama rumah sakit tempat aku melahirkan.

Dan nama seorang dokter.

Dr. Arman Prasetyo.

Aku mengenal nama itu.

Arman.

Pria yang selama ini kukira sudah meninggal.

Malam itu, Ratih membantuku menelusuri informasi yang bisa diperoleh secara sah. Nama dokter tersebut ternyata masih tercatat sebagai tenaga medis di sebuah klinik di Cimahi.

Keesokan paginya, kami mendatanginya.

Seorang pria berambut memutih membuka pintu ruang praktik.

Begitu melihatku, wajahnya berubah.

“Maya?”

Aku membeku.

Wajahnya lebih tua, tetapi aku mengenali matanya.

“Arman?”

Pria itu memegang tepi meja.

“Kamu masih hidup…”

Aku mundur selangkah.

“Apa maksudmu?”

Arman menatap Ratih, kemudian kembali kepadaku.

“Dulu keluargamu mengatakan kamu meninggal setelah melahirkan.”

Dunia seakan berputar.

“Aku diberi tahu kamu meninggal dalam kecelakaan!”

Arman terduduk.

Selama beberapa menit, tidak seorang pun berbicara.

Kemudian dia mulai menceritakan semuanya.

Tujuh belas tahun lalu, hubungan kami ditentang ayahku. Arman berasal dari keluarga sederhana, sedangkan ayahku ingin aku menikah dengan Raka, putra rekan bisnisnya.

Ketika aku hamil, ayahku memutuskan hubungan kami.

Arman mengaku mendapat kabar kematianku melalui surat yang dikirim seseorang dari keluarga.

“Aku datang ke rumah sakit, Maya. Tapi mereka bilang jenazahmu sudah dibawa keluarga.”

“Siapa yang mengatakan itu?”

“Seorang perempuan bernama Nadine. Waktu itu dia bekerja sebagai staf administrasi.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Nadine?”

Arman mengangguk.

“Dia juga mengatakan bayi kita meninggal.”

Aku menangis tanpa suara.

Selama tujuh belas tahun, seseorang telah memisahkan kami menggunakan kebohongan yang sama.

“Tapi kenapa Nadine punya foto bersama Dinda?”

Arman membuka laci dan mengeluarkan sebuah map lama.

“Karena dia yang mengurus administrasi kelahiranmu. Dia pernah menghubungiku beberapa tahun lalu, meminta uang agar mau menyerahkan dokumen asli.”

“Jadi dia bukan ibu Dinda?”

“Bukan. Aku masih menyimpan salinan dokumen kelahiran dan hasil pemeriksaan waktu itu. Tapi kita perlu memastikan semuanya dengan pemeriksaan resmi.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Raka.

Aku mengangkatnya.

“Kamu di mana?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Dinda nggak ada di rumah adikmu.”

Aku langsung berdiri.

“Apa maksudmu?”

“Dia datang menemuiku, Maya. Katanya ingin tahu siapa ibu kandungnya.”

Dari seberang telepon terdengar suara Dinda.

“Mama! Jangan percaya Ayah!”

Sambungan terputus.

Aku langsung menghubungi Dinda kembali.

Tidak aktif.

Ratih segera menghubungi polisi, menyerahkan rekaman Sari serta informasi lokasi terakhir yang kami ketahui. Aku juga mengirim pesan kepada Raka, memintanya memastikan Dinda aman.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor Raka.

Datang ke vila di Lembang. Sendiri.

Aku ingin langsung berangkat, tetapi Ratih menahanku.

“Kalau kamu datang tanpa bantuan, kamu justru membahayakan Dinda.”

Kami menyerahkan pesan tersebut kepada penyidik dan mengikuti arahan mereka.

Ketika akhirnya aku tiba di sekitar vila bersama petugas, hari sudah gelap.

Dari balik jendela, aku melihat Raka berdiri di ruang tamu.

Nadine berada di sampingnya.

Dinda duduk di sofa sambil menangis.

Petugas mendekati rumah dan meminta pintu dibuka.

Raka terkejut ketika melihat polisi.

“Ada apa ini?”

Aku melangkah maju.

“Raka, cukup.”

Dia menatapku dengan wajah mengeras.

“Kamu nggak tahu apa-apa, Maya.”

“Aku sudah bertemu Arman.”

Wajah Raka seketika pucat.

Nadine menoleh kepadanya.

“Kamu bilang Arman sudah meninggal!”

Aku menatap perempuan itu.

“Jadi selama ini kalian berdua tahu?”

Nadine menangis.

“Aku cuma melakukan apa yang diminta ayahmu dulu. Dia membayar agar aku memisahkan kalian.”

“Lalu kenapa sekarang kamu mengaku sebagai ibu Dinda?”

Raka mendadak berteriak.

“Karena aku yang menyuruhnya!”

Semua orang terdiam.

Raka mengusap wajahnya dengan kasar.

“Perusahaan itu seharusnya jadi milikku. Aku mengurusnya bertahun-tahun, sementara kamu cuma tinggal menerima hasilnya!”

“Jadi kamu ingin membuatku dianggap tidak waras dan memisahkanku dari anakku?”

Raka tidak menjawab.

Nadine akhirnya berbicara.

“Dia berjanji akan menikahiku setelah seluruh aset berpindah. Dia menyuruhku mengaku sebagai ibu kandung Dinda supaya Maya kehilangan kepercayaan anaknya.”

Dinda berdiri dan berlari memelukku.

“Mama, Dinda nggak pernah percaya.”

Aku memeluknya erat.

“Maafkan Mama, Sayang.”

Petugas kemudian membawa Raka dan Nadine untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Dokumen-dokumen yang kami serahkan menjadi bagian dari penyelidikan.

Beberapa minggu berikutnya terasa seperti mimpi buruk.

Ratih membantuku menempuh proses hukum untuk membatalkan dokumen pengalihan saham yang diduga dipalsukan. Pemeriksaan terhadap transaksi perusahaan juga dimulai.

Namun, persoalan yang paling berat bukan uang.

Melainkan kebenaran tentang keluargaku.

Aku akhirnya menjalani tes DNA resmi bersama Dinda dan Arman.

Hasilnya menunjukkan bahwa Dinda memang putri kandung kami.

Ketika menerima hasil itu, Arman menangis.

Dia memeluk Dinda dengan tangan gemetar.

“Maafkan Ayah karena baru bisa bertemu kamu sekarang.”

Dinda menatapnya lama.

“Ayah nggak perlu minta maaf untuk kebohongan orang lain.”

Aku menangis mendengar jawabannya.

Beberapa bulan kemudian, saat proses hukum masih berjalan, aku menemukan sebuah surat lama di antara barang-barang peninggalan ayahku.

Surat itu ditulis tangan.

Untuk Maya, anakku.

Ayah tahu suatu hari kamu akan menemukan kebenaran. Ayah telah membuat kesalahan terbesar dengan memisahkanmu dari Arman. Ayah mengira uang dan kedudukan bisa menjamin kebahagiaanmu. Ketika menyadari Raka bukan pria yang baik, Ayah sudah terlalu sakit untuk memperbaiki semuanya.

Di bagian bawah surat terdapat satu kalimat yang membuatku menangis lebih keras.

Perusahaan itu Ayah wariskan kepadamu bukan karena nilainya, tetapi karena Ayah berharap kamu memiliki kebebasan untuk meninggalkan kehidupan yang tidak membuatmu bahagia.

Aku melipat surat itu perlahan.

Selama bertahun-tahun, aku mengira ayahku hanya meninggalkan harta dan kenangan pahit.

Ternyata, dia juga meninggalkan pengakuan atas kesalahannya.

Sore itu, aku duduk di teras bersama Dinda.

Arman baru saja pulang setelah mengantarkan makanan kesukaan putri kami.

Dinda menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Ma, Mama nyesel pernah menikah sama Ayah Raka?”

Aku memandang langit Bandung yang mulai berubah jingga.

“Ada banyak hal yang Mama sesali, Sayang. Tapi Mama nggak pernah menyesali kehadiran kamu dalam hidup Mama.”

Dinda tersenyum.

“Kalau begitu, kita mulai lagi dari awal, ya?”

Aku menggenggam tangannya.

“Iya. Tapi kali ini tanpa kebohongan.”

Ponselku tiba-tiba berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari Sari, perempuan kurir yang kutolong malam itu.

Bu Maya, saya senang semuanya mulai terungkap. Tapi sebenarnya ada satu alasan kenapa saya berani memperingatkan Ibu.

Aku membaca pesan berikutnya.

Dulu, ibu saya juga kehilangan anak karena dokumen kelahiran yang dipalsukan. Saya sudah lama mencari orang yang terlibat. Ketika melihat Nadine di vila itu, saya langsung mengenalinya.

Kemudian sebuah foto muncul.

Foto seorang perempuan paruh baya yang sedang menggendong bayi.

Di belakangnya tertulis nama rumah sakit yang sama.

Aku memperbesar foto tersebut.

Di sudut gambar, berdiri Nadine yang masih sangat muda.

Dan di sampingnya ada seorang pria.

Raka.

Aku menatap layar dengan napas tertahan.

Pesan terakhir Sari masuk beberapa detik kemudian.

Bu Maya, bayi dalam foto itu adalah kakak saya yang hilang. Saya baru menemukan bukti bahwa dia masih hidup. Namanya sekarang Dinda Rahmawati.

Aku memandang putriku yang sedang tersenyum di sampingku.

Tiba-tiba aku memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Hasil tes DNA memang membuktikan Dinda adalah anak kandungku dan Arman.

Tetapi foto Sari menunjukkan bahwa seseorang telah menggunakan identitas bayi lain dalam dokumen kelahiran Dinda.

Aku segera menelepon Ratih.

Karena rupanya, kebohongan yang menghancurkan keluargaku bukan hanya tentang seorang suami yang ingin merebut harta istrinya.

Ada seorang anak lain yang identitasnya telah dicuri.

Dan di suatu tempat, mungkin ada seorang perempuan yang selama tujuh belas tahun masih menunggu putrinya pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang