DI PESTA ULANG TAHUN PERTAMA PUTRIKU, ADIK IPARKU YANG MABUK KECEplOSAN

Aku menatap pesan itu sampai huruf-hurufnya terlihat kabur.

Kenapa Bima berada di kamar Saskia pada malam sebelum kakakku meninggal?

Enam tahun lalu, Saskia ditemukan tidak sadarkan diri di kamar apartemennya di Surabaya. Polisi menyimpulkan bahwa dia meninggal akibat komplikasi penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.

Saat itu, aku sedang menjalani pendidikan magister di Yogyakarta. Bima, yang masih menjadi tunanganku, mengatakan bahwa dia baru mengetahui kabar kematian Saskia setelah Mama meneleponnya.

Namun, pesan di ponselku menunjukkan kemungkinan yang sama sekali berbeda.

“Ayu, ayo tiup lilinnya!”

Suara Bima menyadarkanku.

Aku memandang Kirana yang sedang bertepuk tangan sambil tertawa melihat lilin berbentuk angka satu.

Putri kecilku tidak tahu bahwa di balik senyum orang-orang yang mengelilinginya, ada rahasia yang mungkin akan menghancurkan keluarga kami.

Aku memaksakan senyum.

Kami meniup lilin bersama.

Para tamu bertepuk tangan.

Bima mencium keningku.

“Terima kasih sudah memberikan putri secantik Kirana,” bisiknya.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu terdengar seperti sebuah penghinaan.

Setelah acara selesai, aku meminta sopir keluarga mengantar Kirana pulang bersama pengasuhnya. Aku beralasan masih harus menyelesaikan pembayaran hotel.

Begitu mereka pergi, aku mencari Fajar.

Aku menemukannya duduk di area parkir belakang, bersandar pada sebuah mobil.

Wajahnya pucat. Bau alkohol masih tercium dari napasnya.

“Fajar, aku mau tanya sesuatu.”

Dia mengangkat kepala.

“Kak Ayu?”

“Dari mana kamu mendapatkan gelang rumah sakit tadi?”

Fajar langsung menunduk.

“Kak, aku sudah bikin masalah besar.”

“Jawab pertanyaanku.”

Dia mengusap wajahnya.

“Gelang itu ada di laci meja kerja Mas Bima. Aku menemukannya waktu mengambil dokumen perusahaan.”

“Kenapa kamu membawanya?”

“Karena aku melihat nama yang tertulis di sana.”

Aku menahan napas.

“Nama siapa?”

Fajar menatapku dengan mata merah.

“Saskia Prameswari.”

Dadaku seolah diremas.

“Gelang itu milik Kak Saskia?”

Fajar mengangguk.

“Tapi ada kode lain di belakangnya. SP-07.”

Aku duduk di sampingnya.

“Kamu tahu tentang program bayi tabung kami?”

“Sedikit.”

“Fajar, tolong jujur. Apakah Bima menggunakan sel telur Saskia untuk membuat embrio Kirana?”

Fajar terdiam begitu lama hingga aku hampir kehilangan kesabaran.

“Aku nggak tahu pasti, Kak. Tapi enam tahun lalu, aku pernah mengantar Mas Bima menemui seseorang di apartemen Saskia.”

Aku membeku.

“Malam sebelum dia meninggal?”

“Iya.”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Fajar mulai menangis.

“Mas Bima bilang mereka sedang membicarakan urusan keluarga. Besoknya, Kak Saskia ditemukan meninggal. Aku takut kalau kejadian itu ada hubungannya dengan kedatangan kami.”

“Apakah Bima masuk sendirian?”

Fajar menggeleng.

“Bu Ratna ikut masuk.”

Aku langsung berdiri.

Ibu mertuaku.

Perempuan yang sejak awal mendesakku menjalani program bayi tabung meskipun dokter mengatakan bahwa kondisiku masih memungkinkan untuk mencoba hamil secara alami.

Perempuan yang selalu mengatur jadwal pemeriksaan, memilih klinik, bahkan meminta semua dokumen medis diserahkan kepadanya.

Aku baru menyadari betapa banyak keputusan tentang tubuhku yang selama ini kubiarkan diambil orang lain.

Malam itu aku tidak pulang ke rumah.

Aku menginap di apartemen sahabatku, Rina, sambil membawa salinan seluruh dokumen yang kutemukan.

Rina bekerja sebagai pengacara.

Setelah membaca dokumen persetujuan penggunaan material genetik pihak ketiga, wajahnya berubah serius.

“Ayu, kalau tanda tangan ini dipalsukan, kita harus meminta pemeriksaan dokumen asli. Dan kalau benar ada penggunaan sel telur tanpa persetujuan yang sah, ini masalah besar.”

“Aku ingin tahu apakah Kirana anak kandungku.”

Rina menggenggam tanganku.

“Kita bisa mencari jawabannya melalui pemeriksaan genetik yang dilakukan secara resmi. Tapi kamu harus siap menghadapi hasilnya.”

Aku menunduk.

“Kalau ternyata dia bukan anak biologisku…”

Rina segera memotong.

“Kamu mengandung Kirana sembilan bulan. Kamu melahirkannya. Kamu membesarkannya. Apa pun hasil pemeriksaan nanti, jangan biarkan kebohongan orang lain membuatmu meragukan cintamu kepada anakmu.”

Aku menangis mendengar kata-katanya.

Keesokan paginya, aku kembali menghubungi nomor misterius yang mengirimkan foto Saskia.

Kali ini telepon diangkat.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Saya Lestari. Mantan analis laboratorium Klinik Mahardika.”

“Apakah kamu perempuan yang menemuiku di hotel?”

“Bukan. Itu Bu Wulan, mantan petugas penyimpanan embrio. Kami bekerja bersama.”

“Kenapa baru sekarang kalian menghubungiku?”

Lestari menarik napas panjang.

“Karena selama ini kami hanya memiliki kecurigaan. Minggu lalu, ketika membantu memeriksa arsip lama atas permintaan auditor internal, kami menemukan catatan perubahan identitas donor yang tidak sesuai prosedur.”

“Apa hubungannya dengan Saskia?”

“Sel telur dengan kode SP-07 disimpan enam tahun sebelum Kirana lahir. Pada berkas awal, pemiliknya adalah Saskia Prameswari.”

Aku memejamkan mata.

“Apakah sel telur itu digunakan untuk programku?”

“Catatan laboratorium menunjukkan empat oosit tersebut pernah diproses. Tapi kami tidak bisa memastikan hubungan genetik Kirana tanpa pemeriksaan lebih lanjut.”

“Dan foto Bima di apartemen Saskia?”

Lestari terdiam.

“Itu berasal dari seseorang yang dulu bekerja sebagai petugas keamanan apartemen. Dia menyimpan rekaman karena merasa ada kejanggalan pada malam sebelum kematian Saskia.”

Aku meminta seluruh informasi itu diserahkan kepada Rina agar dapat ditindaklanjuti melalui jalur hukum.

Siang harinya, aku mendatangi makam Saskia.

Sudah hampir setahun aku tidak berkunjung.

Di depan batu nisannya, aku teringat percakapan terakhir kami.

Waktu itu Saskia menelepon sambil menangis.

“Ayu, kalau suatu hari kamu merasa semua orang menyembunyikan sesuatu darimu, jangan takut mencari kebenaran.”

Aku menganggapnya sedang mengalami tekanan akibat pekerjaan.

Dua hari kemudian, dia meninggal.

Sekarang aku mengerti mengapa suaranya terdengar begitu ketakutan.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?” bisikku.

Ponselku berdering.

Bima.

Aku mengangkatnya.

“Ayu, kamu di mana? Kenapa semalam nggak pulang?”

“Aku baru dari makam Saskia.”

Keheningan terdengar dari seberang.

“Kamu ngapain ke sana?”

“Aku ingin tahu kenapa kamu menemui kakakku sebelum dia meninggal.”

Bima tidak langsung menjawab.

“Ayu, siapa yang bilang begitu?”

“Jawab saja.”

“Aku bisa jelaskan semuanya.”

“Kalau begitu, kita bertemu malam ini. Di kantor Rina.”

Bima menarik napas panjang.

“Ajak siapa pun yang kamu mau. Aku akan datang.”

Malam itu, Bima datang bersama Bu Ratna.

Begitu melihat Rina, ibu mertuaku langsung menunjukkan wajah tidak senang.

“Kenapa urusan keluarga harus melibatkan pengacara?”

Aku meletakkan salinan dokumen klinik di atas meja.

“Karena ada tanda tanganku yang dipalsukan.”

Bu Ratna membeku.

Bima menatap dokumen itu.

“Kamu dapat dari mana?”

“Bukan itu yang penting. Aku mau tahu siapa SP-07.”

Bima menunduk.

Bu Ratna tiba-tiba berkata, “Saskia sudah meninggal. Tidak ada gunanya membicarakan orang mati.”

Aku menatapnya tajam.

“Jadi Ibu tahu?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengeluarkan foto kartu pasien Saskia.

“Apakah sel telur kakakku digunakan dalam program bayi tabungku?”

Bima akhirnya mengangguk.

“Iya.”

Air mataku langsung jatuh.

“Kenapa?”

Bima berusaha mendekat, tetapi aku mengangkat tangan.

“Jangan sentuh aku.”

Dia kembali duduk.

“Waktu itu, setelah beberapa kali percobaan gagal, dokter menjelaskan bahwa kualitas sel telurmu menurun. Aku panik. Mama lalu mengatakan bahwa Saskia pernah menyimpan sel telurnya di klinik.”

“Lalu kalian memutuskan menggunakan milik Kak Saskia tanpa memberitahuku?”

Bima menangis.

“Aku pikir itu kesempatan terakhir kita.”

“Kesempatan terakhir kita?” ulangku. “Kamu bahkan tidak memberiku pilihan!”

Bu Ratna menyela.

“Kami cuma ingin keluarga ini punya keturunan!”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi tubuh saya, rahim saya, dan kehidupan anak saya hanya alat untuk mendapatkan cucu?”

Bu Ratna terdiam.

Rina kemudian bertanya dengan tenang.

“Siapa yang menandatangani formulir persetujuan atas nama Ayu?”

Bima menggeleng.

“Aku nggak tahu.”

Namun, Bu Ratna justru menatap ke arah lain.

Aku langsung mengerti.

“Ibu yang melakukannya?”

Bu Ratna mengepalkan tangan.

“Aku hanya ingin membantu!”

Aku tertawa pahit.

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

Untuk pertama kalinya, Bima memandang ibunya dengan kemarahan.

“Mama bilang semua dokumennya sudah sah!”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aku kemudian mengeluarkan pertanyaan yang paling kutakuti.

“Kenapa kalian menemui Saskia sebelum dia meninggal?”

Bima mengusap wajah.

“Saskia mengetahui bahwa ada dokumen pengelolaan sel telurnya yang sedang diproses menggunakan persetujuan lama. Dia tidak setuju.”

Aku membeku.

“Jadi Kak Saskia masih hidup ketika kalian mulai merencanakan ini?”

Bima mengangguk.

“Dia meminta agar seluruh materi genetiknya tidak digunakan oleh siapa pun. Malam itu aku dan Mama datang untuk membujuknya.”

“Apa yang terjadi?”

“Kami bertengkar. Saskia mengusir kami. Kami pergi sekitar pukul sepuluh malam.”

“Lalu?”

“Besok paginya aku mendapat kabar dia meninggal.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa kamu menyembunyikannya selama enam tahun?”

Bima menangis.

“Karena aku takut kamu menganggap aku penyebab kematiannya.”

Rina meminta agar pembicaraan dihentikan sampai bukti-bukti lain diperiksa.

Namun, ketika Bima dan Bu Ratna hendak pergi, ponsel Rina berbunyi.

Sebuah pesan dari Lestari.

Di dalamnya terdapat rekaman CCTV koridor apartemen Saskia.

Kami memutarnya.

Pukul 21.14, Bima dan Bu Ratna memasuki apartemen.

Pukul 22.06, Bima keluar sendirian.

Pukul 22.18, Bu Ratna keluar sambil membawa tas besar.

Namun, pada pukul 22.43, seseorang kembali masuk.

Seorang pria mengenakan jaket hitam.

Aku memperbesar gambar.

Wajahnya terlihat jelas ketika dia melepas helm.

Om Darma.

Paman kandungku.

Adik dari ayahku sendiri.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Kenapa Om Darma ada di sana?”

Bu Ratna mendadak terduduk.

Bima menatap layar dengan wajah pucat.

“Aku nggak tahu…”

Aku langsung menghubungi Om Darma.

Nomornya tidak aktif.

Rina kemudian membantu menyerahkan seluruh rekaman dan dokumen kepada pihak kepolisian untuk meminta pemeriksaan ulang atas kematian Saskia.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan mengungkap bahwa Darma memiliki utang besar kepada Saskia.

Kakakku pernah meminjamkan uang untuk menyelamatkan bisnisnya, tetapi Darma tidak pernah mengembalikannya.

Pada malam kematiannya, Darma datang untuk meminta Saskia menandatangani dokumen penghapusan utang.

Mereka bertengkar.

Saskia mengalami serangan jantung setelah pertengkaran itu. Dari rekaman tambahan yang diperoleh penyidik, Darma terlihat meninggalkan apartemen tanpa meminta bantuan, meskipun mengetahui kondisi Saskia memburuk.

Perkara tersebut kemudian ditangani lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Namun, ada satu fakta yang lebih menyakitkan.

Dalam arsip klinik ditemukan formulir asli yang ditandatangani Saskia.

Dia memang pernah menyimpan empat sel telur ketika menjalani pengobatan penyakit yang berisiko memengaruhi kesuburannya.

Tetapi dia telah memberikan instruksi tertulis agar sel telur tersebut tidak digunakan tanpa persetujuan khusus darinya.

Artinya, keinginannya telah diabaikan.

Aku merasa seperti kehilangan kakakku untuk kedua kalinya.

Beberapa waktu kemudian, hasil pemeriksaan genetik yang dilakukan melalui laboratorium resmi akhirnya keluar.

Aku duduk di ruang konsultasi bersama Rina.

Tanganku gemetar ketika menerima amplop.

Hasilnya menunjukkan bahwa Kirana memiliki hubungan genetik yang sesuai dengan kemungkinan bahwa Saskia adalah ibu biologisnya.

Aku menangis cukup lama.

Bukan karena Kirana bukan anak yang berasal dari sel telurku.

Melainkan karena selama ini aku telah hidup dalam kebohongan yang melibatkan tubuhku, kakakku, dan putriku sendiri.

Aku mengajukan gugatan cerai terhadap Bima.

Aku juga menempuh langkah hukum terkait dugaan pemalsuan dokumen persetujuan dan penggunaan material genetik tanpa izin yang sah.

Bima berkali-kali meminta maaf.

Namun, aku tidak sanggup kembali mempercayainya.

Enam bulan kemudian, aku pindah ke rumah kecil di Surabaya bersama Kirana.

Suatu sore, ketika sedang membereskan barang-barang peninggalan Saskia yang baru dikembalikan oleh keluargaku, aku menemukan sebuah kotak kayu.

Di dalamnya terdapat buku harian lama.

Pada halaman terakhir, tertulis sebuah kalimat.

Jika suatu hari aku tidak bisa memiliki anak, aku berharap Ayu yang akan menjadi ibu paling bahagia di dunia. Dia selalu lebih sabar dan penuh kasih daripada aku.

Aku menangis membacanya.

Kemudian aku menemukan sepucuk surat yang ditulis Saskia beberapa minggu sebelum meninggal.

Untuk Ayu, adikku tersayang.

Aku tahu kamu sangat ingin memiliki anak. Aku juga tahu kamu sedang berjuang menjalani pengobatan. Tapi aku berharap kamu tidak pernah merasa bahwa nilai dirimu ditentukan oleh kemampuanmu melahirkan.

Kalau suatu hari kamu menjadi ibu, aku yakin anakmu akan menjadi anak paling beruntung karena dibesarkan oleh perempuan sepertimu.

Aku memeluk surat itu erat-erat.

Kirana yang sedang bermain di lantai tiba-tiba merangkak mendekat.

“Mama…”

Itu adalah salah satu kata yang baru mulai bisa diucapkannya dengan jelas.

Aku mengangkatnya ke pangkuan.

“Iya, Sayang. Mama di sini.”

Dia menyentuh pipiku dengan tangan mungilnya.

Aku tersenyum di tengah air mata.

Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa kebenaran tentang asal-usul Kirana tidak mengurangi sedikit pun cintaku kepadanya.

Saskia telah memberikan bagian dari dirinya tanpa pernah mengetahui bagaimana sel telurnya kelak digunakan.

Aku telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan Kirana dengan seluruh kasih sayangku.

Kami berdua memiliki tempat dalam kisah hidup anak ini.

Dan ketika Kirana cukup dewasa untuk memahami semuanya, aku akan menceritakan kebenaran kepadanya.

Bukan untuk membuatnya membenci siapa pun.

Melainkan agar dia tahu bahwa hidupnya tidak pernah menjadi sebuah kesalahan.

Malam itu, sebelum tidur, aku meletakkan foto Saskia di meja kecil dekat tempat tidur Kirana.

Aku memandang wajah kakakku dan berbisik.

“Kak, aku nggak bisa mengembalikan waktu yang hilang. Tapi aku janji akan menjaga Kirana dan memastikan tidak ada lagi kebohongan dalam hidupnya.”

Kirana tertidur dengan jemari kecil menggenggam tanganku.

Di luar jendela, hujan turun perlahan membasahi jalanan Surabaya.

Aku memeluk putriku lebih erat.

Dulu, aku mengira menjadi ibu berarti memberikan kehidupan kepada seorang anak melalui tubuhku sendiri.

Sekarang aku mengerti bahwa menjadi ibu juga berarti memiliki keberanian untuk melindungi seorang anak, bahkan ketika kebenaran yang harus dihadapinya mampu menghancurkan seluruh dunia yang selama ini kita kenal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang