“Mustahil… ini wajah Mira!”
Tanganku gemetar saat menatap fotokopi KTP di hadapanku.

Mira Anggraini.
Perempuan yang pernah berbagi kamar kontrakan denganku di Surabaya. Tiga tahun lalu, ketika aku masih bekerja sebagai teknisi dengan gaji pas-pasan, Mira adalah orang yang paling sering membantuku.
Dia memasak ketika aku pulang lembur, meminjamkan uang saat motorku rusak, bahkan menemaniku ke rumah sakit ketika aku mengalami kecelakaan kerja.
Namun, suatu pagi, dia menghilang tanpa pamit.
Nomor teleponnya tidak aktif. Barang-barangnya sudah dibawa pergi. Hanya sebuah pesan singkat yang ditinggalkannya.
Maaf, Ran. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan.
Sekarang wajahnya justru muncul pada KTP palsu atas namaku.
“Rani, kamu kenal perempuan itu?” tanya Ibu.
Aku mengangguk perlahan.
“Kenal, Bu. Bahkan dulu aku menganggapnya seperti kakakku sendiri.”
Ayah yang duduk di kursi roda menatap dokumen tersebut.
“Berarti dia ikut mencuri rumah kita?”
“Aku belum tahu, Yah.”
Aku segera memotret seluruh dokumen dan menghubungi Arga.
Begitu mendengar penjelasanku, suaranya berubah serius.
“Rani, jangan datang ke koperasi sendirian lagi. Kalau identitasmu dipalsukan untuk perjanjian pembiayaan, ini bukan sekadar penggelapan uang kiriman.”
“Berapa jumlah pinjamannya?”
“Dari dokumen yang kamu kirim, nilai fasilitas pembiayaannya Rp1,6 miliar.”
Aku terdiam.
“Sebanyak itu?”
“Dan ada satu hal lagi. Pinjaman tersebut sekarang tercatat menunggak. Tapi aku perlu memastikan statusnya melalui dokumen resmi dari lembaga pembiayaan.”
Aku menatap rumah tua tempat aku dilahirkan.
Dindingnya retak. Atapnya bocor. Bahkan untuk membeli beras, kedua orang tuaku harus berhemat sampai mengonsumsi makanan basi.
Sementara seseorang menggunakan rumah ini sebagai jaminan pinjaman miliaran rupiah.
Aku mengepalkan tangan.
“Arga, aku mau melaporkan semuanya.”
“Bagus. Aku bantu menghubungkanmu dengan pengacara. Kita harus mengamankan bukti terlebih dahulu.”
Siang itu, aku membawa Ayah dan Ibu ke klinik untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah memastikan mereka mendapatkan pengobatan dan makanan yang layak, aku menemui seorang pengacara bernama Ratna.
Ratna memeriksa bukti transfer, kuitansi, serta salinan perjanjian pembiayaan.
“Yang paling penting sekarang adalah mendapatkan dokumen asli dan memeriksa keabsahan tanda tangan serta proses penjaminan,” katanya.
“Apakah rumah orang tua saya bisa disita?”
“Belum tentu. Kalau terbukti ada pemalsuan, dasar pembebanannya dapat dipersoalkan. Tapi kita harus segera menyampaikan keberatan resmi dan melaporkan dugaan tindak pidananya.”
Aku mengangguk.
Saat itulah ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Rani?”
Suara perempuan itu membuat jantungku berhenti sesaat.
“Mira?”
Di seberang terdengar napas terputus-putus.
“Jangan percaya Darto.”
Aku langsung berdiri.
“Kamu di mana? Kenapa fotomu ada di KTP atas namaku?”
Mira terdiam.
Kemudian dia menangis.
“Karena aku yang diminta menjadi kamu.”
Aku mencengkeram ponsel.
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Darto. Tapi aku nggak tahu semuanya akan jadi seperti ini.”
“Mira, jelaskan sekarang!”
“Aku mau ketemu kamu. Ada bukti yang selama ini kusimpan.”
“Di mana?”
“Terminal Giwangan, Yogyakarta. Besok jam sepuluh pagi.”
Sebelum menutup telepon, Mira mengatakan sesuatu yang membuat tubuhku membeku.
“Rani, kalau aku nggak datang, cari tahu siapa yang sebenarnya membayar biaya rumah sakit ayahmu.”
Aku langsung teringat kejadian setahun lalu.
Ayah terkena stroke ringan dan harus dirawat selama beberapa hari. Saat itu, Pak Darto menghubungiku dan mengatakan bahwa seluruh biaya pengobatan mencapai Rp68 juta.
Aku mentransfer uang tersebut kepadanya.
Namun, Ibu pernah mengatakan bahwa mereka menggunakan BPJS Kesehatan.
Aku tidak pernah mempertanyakan perbedaan itu.
Sekarang aku mulai memahami bahwa setiap kebohongan memiliki hubungan dengan kebohongan lainnya.
Keesokan paginya, aku pergi ke Yogyakarta bersama Ratna.
Mira datang hampir tiga puluh menit terlambat.
Aku nyaris tidak mengenalinya.
Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat. Ada bekas luka panjang di lengan kirinya.
Begitu melihatku, dia langsung menangis.
“Maafin aku, Ran.”
Aku tetap berdiri.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
Mira menunduk.
“Tiga tahun lalu, adikku harus menjalani operasi. Aku butuh uang. Darto datang mencariku di Surabaya.”
Aku mengerutkan kening.
“Bagaimana dia bisa mengenalmu?”
“Dia pernah datang ke kontrakan waktu kamu sedang bekerja. Dia tahu aku tinggal bersamamu.”
Mira mengeluarkan sebuah amplop.
“Dia menawarkan Rp40 juta kalau aku bersedia datang ke Bantul dan berpura-pura menjadi kamu untuk beberapa urusan administrasi.”
Aku merasa mual.
“Kamu setuju?”
“Aku pikir cuma buat pembukaan rekening dan pengurusan pinjaman kecil. Dia bilang kamu sudah memberikan izin, tapi sedang tidak bisa pulang.”
“Dan kamu percaya?”
Mira menangis semakin keras.
“Aku tahu aku salah. Aku seharusnya meneleponmu.”
Aku menatapnya dengan kecewa.
“Uang sebanyak itu membuatmu mengabaikan identitas sahabatmu sendiri?”
Mira tidak membela diri.
Dia justru mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan sebuah flashdisk.
“Ini bukti bahwa Darto sudah merencanakan semuanya sebelum aku datang.”
Di dalam amplop terdapat salinan percakapan antara Mira dan Pak Darto, tanda terima pembayaran, serta foto dokumen yang mencantumkan identitasku.
Namun, satu dokumen membuatku terdiam.
Sebuah daftar nama.
Ada dua belas orang yang tercatat sebagai penerima pinjaman.
Sebagian besar adalah warga desa yang anak-anaknya bekerja di luar kota.
“Apa ini?”
“Orang-orang yang identitas keluarganya digunakan untuk pinjaman. Darto memanfaatkan uang kiriman mereka sebagai pembayaran angsuran.”
Aku langsung teringat perkataan Bu Sumi.
Semua uang kiriman dicatat dua kali.
“Jadi bukan cuma keluargaku?”
Mira menggeleng.
“Banyak, Ran. Darto menggunakan koperasi untuk mengatur pembayaran. Beberapa orang tua bahkan nggak tahu rumah atau sawah mereka sudah dijadikan jaminan.”
Aku menahan amarah.
“Kenapa kamu baru muncul sekarang?”
Mira mengangkat lengan kirinya.
Bekas luka itu terlihat jelas.
“Enam bulan lalu, aku mencoba meminta Darto menghentikan semuanya. Aku bilang akan melapor kalau identitasmu terus digunakan.”
“Apa yang terjadi?”
“Dua orang menghadangku saat pulang kerja. Mereka memukuli aku dan mengambil ponselku.”
Aku terdiam.
“Aku nggak bisa membuktikan siapa yang menyuruh mereka,” lanjut Mira. “Tapi setelah kejadian itu, Darto mengirim pesan agar aku tidak kembali ke Bantul.”
Ratna kemudian meminta Mira bersedia memberikan keterangan resmi kepada penyidik.
Mira mengangguk.
“Aku siap menerima akibat perbuatanku. Tapi aku nggak mau keluarga Rani kehilangan rumah karena kebohongan yang ikut kubuat.”
Sore itu, kami kembali ke Bantul.
Aku langsung menghubungi Bu Sumi.
Perempuan tua itu bersedia menemui kami di rumahnya.
Ketika melihat Mira, wajahnya berubah pucat.
“Kamu perempuan yang dulu datang bersama Darto?”
Mira mengangguk.
Bu Sumi menangis.
“Berarti akhirnya kalian menemukan semuanya.”
Aku duduk di hadapannya.
“Bu, kami membutuhkan buku merah itu.”
Bu Sumi menunduk.
“Buku merah yang asli sudah dibawa Darto.”
Harapanku langsung runtuh.
Namun, Bu Sumi kemudian membuka lemari dan mengeluarkan sebuah buku tulis kecil.
“Tapi aku menyalin beberapa halaman sebelum dia membawanya pergi.”
Aku segera membukanya.
Di dalam buku itu terdapat tanggal pengiriman uang, nama pengirim, jumlah dana, dan uang yang benar-benar diserahkan kepada keluarga.
Namaku muncul sebanyak tiga puluh enam kali.
Total uang yang kukirim selama tiga tahun mencapai Rp216 juta.
Namun, jumlah yang diterima orang tuaku hanya Rp24 juta.
Aku menutup buku itu perlahan.
Berarti Rp192 juta uang hasil kerja kerasku tidak sampai kepada Ayah dan Ibu.
Bu Sumi menunjuk halaman terakhir.
“Darto memakai sebagian uang itu untuk membayar angsuran pinjaman atas namamu.”
Aku menatapnya.
“Lalu sisanya?”
“Dia memindahkannya ke rekening perusahaan milik istrinya.”
Ratna segera memotret seluruh catatan sebagai bahan laporan.
Keesokan harinya, kami mendatangi kantor polisi dan menyerahkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan.
Penyelidikan kemudian dimulai.
Sejumlah warga lain juga bersedia memberikan keterangan setelah mengetahui bahwa mereka mungkin mengalami hal serupa.
Namun, ketika kabar itu menyebar, Pak Darto justru datang ke rumahku.
Dia membawa dua orang pria.
Wajahnya merah padam.
“Rani! Kamu benar-benar mau menghancurkan keluarga sendiri?”
Aku berdiri di teras.
“Keluarga sendiri tidak membiarkan kakaknya makan nasi berjamur, Pak.”
Darto menunjuk wajahku.
“Kamu nggak tahu berapa banyak yang sudah kulakukan untuk orang tuamu!”
Aku mengeluarkan salinan kuitansi palsu.
“Kalau begitu, jelaskan kenapa Ayah menandatangani kuitansi ketika sedang dirawat di rumah sakit.”
Darto terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan kenapa Mira harus menggunakan KTP palsu atas namaku?”
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu bertemu Mira?”
“Iya.”
Darto mundur selangkah.
Kemudian dia tertawa getir.
“Kamu pikir semua ini cuma urusanku?”
Aku mengerutkan kening.
“Maksud Bapak?”
Darto menoleh ke arah Ayah yang sedang duduk di dekat pintu.
“Kak, sampai kapan mau diam?”
Aku langsung menatap Ayah.
“Ayah?”
Wajah Ayah berubah.
Darto tersenyum sinis.
“Tanya ayahmu siapa yang pertama kali memintaku mengurus sertifikat tanah itu.”
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Ayah menunduk.
“Ayah… apa maksudnya?”
Dengan suara gemetar, Ayah akhirnya berbicara.
“Dulu, sebelum kamu pergi ke Surabaya, Ayah punya utang.”
Aku menatapnya.
“Utang apa?”
“Biaya pengobatan ibumu ketika menjalani operasi lima tahun lalu. Sebagian memang ditanggung BPJS, tapi ada biaya lain yang harus Ayah bayar.”
Aku terdiam.
Ayah melanjutkan.
“Ayah pernah meminta Darto membantu mencarikan pinjaman dengan jaminan tanah. Tapi jumlahnya hanya Rp35 juta.”
Aku menatap Darto.
“Lalu bagaimana pinjaman Rp35 juta bisa berubah menjadi Rp1,6 miliar?”
Darto tidak menjawab.
Ayah menangis.
“Setelah utang itu lunas, Ayah minta sertifikat dikembalikan. Darto bilang masih diproses. Ayah nggak pernah tahu tanah itu dipakai untuk pinjaman lain.”
Aku mengerti sekarang.
Darto memanfaatkan utang lama Ayah sebagai jalan masuk untuk menguasai sertifikat.
Namun, itu tidak menjelaskan satu hal.
“Kenapa Ayah nggak pernah cerita kepadaku?”
Ayah menghapus air matanya.
“Ayah malu, Nak. Ayah nggak mau kamu berpikir kami cuma menjadi beban.”
Dadaku terasa sakit.
Aku berjongkok di depannya.
“Yah, Ayah dan Ibu bukan beban. Yang membuatku sakit justru karena kalian menderita sendirian.”
Darto berusaha meninggalkan halaman, tetapi beberapa saat kemudian petugas kepolisian yang telah menerima informasi mengenai kedatangannya tiba untuk meminta keterangannya.
Proses hukum berjalan selama berbulan-bulan.
Pemeriksaan dokumen, transaksi keuangan, tanda tangan, dan keterangan para saksi akhirnya mengungkap bahwa Pak Darto telah menggunakan koperasi sebagai sarana untuk mengalihkan uang titipan sejumlah keluarga.
Identitas beberapa orang dipalsukan untuk memperoleh pembiayaan.
Rumah orang tuaku termasuk salah satu aset yang digunakan tanpa persetujuan sah untuk pinjaman baru.
Mira juga menjalani proses hukum karena keterlibatannya dalam pemalsuan identitas.
Aku tidak berusaha membebaskannya dari tanggung jawab.
Namun, aku tetap berterima kasih karena akhirnya dia memilih mengatakan kebenaran.
Melalui pendampingan hukum, kami berhasil membuktikan bahwa orang tuaku tidak pernah menyetujui pembebanan rumah untuk pinjaman Rp1,6 miliar tersebut.
Setelah melalui proses penyelesaian sengketa, status jaminan yang tidak sah itu akhirnya dibatalkan.
Ketika Ratna menyerahkan dokumen yang memastikan rumah kami tidak lagi terancam akibat pinjaman tersebut, Ibu langsung menangis.
“Berarti kita nggak harus pergi dari rumah ini, Nak?”
Aku memeluknya.
“Nggak, Bu. Rumah ini tetap rumah kita.”
Namun, aku belum selesai.
Aku menggunakan sebagian uang hasil penjualan bengkel untuk memperbaiki rumah.
Atap diganti.
Dapur direnovasi.
Kamar mandi dibuat lebih aman untuk Ayah.
Aku juga mempekerjakan seorang pendamping kesehatan yang datang beberapa kali seminggu untuk membantu memantau kondisi kedua orang tuaku.
Suatu pagi, aku terbangun karena mendengar suara Ibu tertawa di dapur.
Aku berjalan keluar.
Di meja makan terdapat nasi hangat, sayur bening, ikan goreng, dan buah potong.
Ayah duduk sambil memegang sendok.
Ibu tersenyum kepadaku.
“Rani, ayo sarapan. Ibu masak kesukaanmu.”
Aku duduk di samping mereka.
Untuk beberapa saat, aku hanya memandangi piring-piring itu.
Tiga bulan lalu, aku menemukan kedua orang tuaku makan nasi berjamur.
Sekarang mereka bisa menikmati makanan hangat tanpa takut kehabisan uang untuk membeli beras esok hari.
Aku menggenggam tangan Ibu.
“Bu, mulai sekarang kalau butuh apa-apa, bilang langsung ke Rani. Jangan merasa sungkan.”
Ibu mengangguk sambil menangis.
Namun, sebelum aku mulai makan, Ayah tiba-tiba memanggilku.
“Rani, Ayah punya sesuatu.”
Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari laci meja.
Di dalamnya terdapat buku tabungan lama.
Aku membukanya.
Ada sejumlah setoran kecil yang dilakukan bertahun-tahun lalu.
Lima puluh ribu rupiah.
Seratus ribu rupiah.
Dua ratus ribu rupiah.
Nama pemilik rekening itu adalah aku.
Aku menatap Ayah.
“Ini apa, Yah?”
Ayah tersenyum lemah.
“Dulu, sebelum kamu bekerja, setiap kali Ayah punya uang lebih dari hasil panen, Ayah menyisihkannya untuk pendidikanmu.”
Aku membalik halaman demi halaman.
Setoran terakhir dilakukan tepat sebulan sebelum aku berangkat ke Surabaya.
“Kenapa Ayah nggak pernah kasih tahu?”
“Karena Ayah ingin kamu punya bekal kalau suatu hari kami nggak bisa membantumu lagi.”
Air mataku jatuh ke halaman buku tabungan.
Aku pulang membawa Rp4,8 miliar, merasa akhirnya mampu memberikan segalanya kepada kedua orang tuaku.
Namun, pada pagi itu, aku baru menyadari bahwa jauh sebelum aku memiliki uang sebanyak itu, Ayah telah mengumpulkan rupiah demi rupiah hanya agar aku bisa memiliki masa depan yang lebih baik.
Aku menutup buku tabungan dan memeluk Ayah.
“Rani sudah pulang, Yah.”
Ayah mengusap kepalaku.
“Iya, Nak. Itu saja sudah cukup buat Ayah.”
Aku menangis dalam pelukannya.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh pekerjaanku, perusahaan, ataupun uang miliaran rupiah yang kumiliki.
Kekayaan terbesar bukanlah jumlah uang yang berhasil kita kumpulkan.
Melainkan kesempatan untuk membalas kasih sayang orang-orang yang telah mengorbankan segalanya demi kita, selagi mereka masih ada.
