
“Bagaimana mungkin aku menikah dengan Tante Sari, sementara beliau sudah meninggal dua puluh tahun lalu?”
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku menatap lembaran yang mulai kusut di tanganku. Nama lengkapku, nomor identitasku, bahkan tanggal lahirku tercantum dengan benar. Namun, foto laki-laki pada dokumen pendukungnya sama sekali bukan wajahku.
Ibu tiba-tiba terduduk.
“Sari…” bisiknya. “Jadi selama ini dia masih hidup?”
Aku menoleh cepat.
“Ibu juga tidak tahu?”
Air mata mengalir di pipi Ibu.
“Dua puluh tahun lalu, keluarga bilang Sari meninggal saat bekerja di Jakarta. Kami cuma menerima kabar dan beberapa barang pribadinya. Jenazahnya tidak pernah dibawa pulang.”
Mira yang berdiri di dekat pintu mulai gemetar.
Aku melangkah mendekatinya.
“Tante, aku mau jawaban. Sekarang.”
Mira menangis.
“Raka, Tante bisa jelaskan semuanya.”
“Mulai dari Rp2,3 miliar uang yang kukirim, rekening atas nama Ayah, sampai perusahaan yang memakai identitasku.”
Mira menggeleng cepat.
“Bukan Tante yang mengatur semuanya.”
“Lalu siapa?”
Dia menatap Ibu, kemudian menunduk.
“Sari.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Tante mau bilang perempuan yang sudah dianggap meninggal selama dua puluh tahun tiba-tiba muncul untuk mencuri identitasku?”
Mira menutup wajah.
“Dia tidak pernah meninggal, Raka. Dia sengaja menghilang.”
Ayah yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Kenapa kamu menyembunyikan ini dari kami, Mira?”
Mira menangis semakin keras.
“Karena Sari mengancam akan membuat rumah kalian disita kalau aku bicara!”
Aku mengambil napas panjang.
“Kalau begitu, kita selesaikan semuanya melalui polisi.”
Mira langsung berlutut.
“Jangan, Raka! Kalau kamu melapor, mereka akan tahu aku sudah bicara!”
Aku menatapnya tanpa bergerak.
“Mereka siapa?”
Mira membuka mulut, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat wajahnya semakin pucat.
SARI.
Aku mengulurkan tangan.
“Angkat. Pakai pengeras suara.”
Mira menurut dengan tangan gemetar.
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Mira, kenapa nomor rekening itu barusan menerima panggilan dari Raka?”
Aku langsung mengenali sesuatu dalam suaranya.
Bukan wajah atau namanya, melainkan cara dia mengucapkan namaku.
Dulu, ketika aku masih kecil, Tante Sari selalu memanggilku dengan nada yang sama.
Aku mendekat.
“Tante Sari?”
Sambungan mendadak sunyi.
Lalu perempuan itu berbisik.
“Raka?”
“Iya. Keponakan Tante yang katanya sudah meninggal.”
Telepon langsung terputus.
Aku menatap Mira.
“Di mana dia?”
Mira menggeleng.
“Aku nggak tahu alamat pastinya. Tapi dia sering datang ke kantor PT Sagara Pangan Nusantara di Sleman.”
Aku segera menghubungi Dini dan meminta bantuan pengacara perusahaan, Pak Adrian, untuk menyiapkan laporan resmi.
Sore itu juga, aku membawa Ayah dan Ibu ke sebuah penginapan yang lebih nyaman di Yogyakarta. Ayah harus diperiksa dokter karena kondisinya masih lemah setelah pingsan di pasar.
Malamnya, Adrian datang membawa informasi awal.
“Mas Raka, ada beberapa hal yang harus kita pisahkan. Rekening atas nama ayah Anda perlu diverifikasi oleh bank. Dokumen perkawinan juga harus diperiksa keasliannya. Sementara itu, kita sudah punya dasar untuk melaporkan dugaan pemalsuan identitas.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana dengan perusahaan Sagara?”
“Data administrasinya menunjukkan nama Anda sebagai direktur utama. Tapi ada indikasi penggunaan identitas tanpa persetujuan. Kita perlu mendapatkan dokumen pendirian dan perubahan perusahaan secara resmi.”
Aku menyerahkan semua bukti transfer yang masih kusimpan.
“Selama sebelas tahun, aku mengirim Rp18 juta setiap bulan. Totalnya Rp2,376 miliar. Aku ingin tahu ke mana semuanya pergi.”
Adrian memandangku serius.
“Kita telusuri lewat jalur hukum. Jangan menemui Sari sendirian.”
Keesokan paginya, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Kalau kamu ingin tahu kenapa namamu dipakai, datang ke gudang lama di Jalan Magelang. Jangan bawa polisi.
Aku memperlihatkannya kepada Adrian.
Dia langsung menggeleng.
“Jangan ikuti perintah itu. Kita serahkan pesan ini kepada penyidik.”
Beberapa jam kemudian, setelah laporan diterima, informasi mengenai lokasi tersebut ditindaklanjuti.
Aku menunggu di kantor Adrian sambil mondar-mandir.
Menjelang sore, teleponnya berbunyi.
Dia mendengarkan beberapa saat, lalu menatapku.
“Sari ditemukan.”
Dadaku berdegup kencang.
“Dia benar-benar masih hidup?”
Adrian mengangguk.
“Dan dia tidak sendirian.”
Aku menahan napas.
“Dengan siapa?”
“Seorang laki-laki yang selama ini menggunakan identitasmu.”
Aku terduduk.
Selama bertahun-tahun, ada seseorang hidup memakai namaku.
Mengurus perusahaan atas namaku.
Bahkan tercatat menikah menggunakan identitasku.
Sementara aku bekerja di kapal, mempertaruhkan nyawa di tengah laut, lalu membangun usaha sendiri tanpa mengetahui bahwa kehidupanku sedang ditiru orang lain.
Dua hari kemudian, aku diperbolehkan memberikan keterangan tambahan setelah beberapa dokumen berhasil diamankan.
Di kantor penyidik, aku akhirnya melihat pria tersebut.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambutnya mulai menipis, wajahnya kurus, dan ada bekas luka kecil di dekat alis kiri.
Namanya ternyata Anton Wibowo.
Ketika kami saling bertatapan, dia langsung menunduk.
Aku duduk di hadapannya dengan pendampingan Adrian.
“Kenapa kamu menggunakan namaku?”
Anton tidak menjawab.
Aku mengulang pertanyaanku.
“Sebelas tahun aku mengirim uang untuk orang tuaku. Apa kamu tahu mereka hidup seperti apa?”
Anton mengusap wajah.
“Aku cuma disuruh menjalankan perusahaan.”
“Disuruh siapa?”
“Sari.”
Aku menatap perempuan yang duduk beberapa kursi darinya.
Tante Sari terlihat jauh lebih tua daripada dalam ingatanku.
Namun, aku masih mengenali matanya.
Dia tidak berani menatapku.
“Apa benar Tante yang melakukan semua ini?”
Sari mulai menangis.
“Awalnya tidak seperti itu, Raka.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
Dua puluh tahun lalu, Sari terlibat utang besar setelah bisnisnya gagal. Dia meninggalkan Yogyakarta dan memutuskan hubungan dengan keluarga karena malu.
Beberapa tahun kemudian, dia mengenal Anton, seorang pria yang bekerja sebagai pengurus administrasi perusahaan.
Mereka memulai usaha distribusi hasil pertanian kecil-kecilan.
Namun, bisnis tersebut membutuhkan modal tambahan.
Ketika mendengar kabar bahwa kapalku terbakar dan aku dinyatakan meninggal, Sari melihat kesempatan.
Dia mendapatkan salinan dokumen pribadiku dari Mira, yang waktu itu membantu mengurus administrasi keluarga.
“Awalnya aku cuma ingin memakai namamu untuk membuka usaha,” katanya sambil menangis.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Memakai nama orang yang kalian kira sudah meninggal?”
Sari mengangguk lemah.
“Kami pikir tidak akan ada yang tahu.”
“Lalu bagaimana dengan surat kematianku?”
“Anton mengurus dokumennya melalui orang yang dia kenal. Aku tidak tahu semua prosesnya.”
Anton langsung menyela.
“Kamu yang meminta!”
Sari menoleh tajam.
“Karena kamu bilang semuanya aman!”
Aku mengangkat tangan.
“Cukup. Kalian bisa menjelaskan masing-masing kepada penyidik.”
Aku kemudian bertanya tentang akta perkawinan.
Anton menunduk.
Dokumen itu ternyata dibuat menggunakan identitasku sebagai pihak laki-laki dan identitas Sari sebagai pihak perempuan. Mereka menggunakannya untuk mendukung rangkaian administrasi dan transaksi tertentu.
Namun, pemeriksaan awal menunjukkan bahwa dokumen tersebut bukan akta perkawinan resmi yang sah.
Sari dan Anton sengaja membuatnya tampak meyakinkan.
Aku merasa muak.
“Jadi Tante mencantumkan namaku sebagai suami sendiri hanya demi uang?”
Sari menutup wajah.
“Aku tidak berpikir sejauh itu.”
“Itulah masalahnya, Tante. Kalian tidak pernah memikirkan akibatnya bagi orang lain.”
Namun, masih ada pertanyaan terbesar.
“Bagaimana dengan uang kirimanku?”
Sari menggeleng.
“Uang itu masuk ke rekening yang diurus Mira. Sebagian dipakai membayar cicilan perusahaan.”
Aku menatapnya tajam.
“Sebagian?”
Anton akhirnya menjawab.
“Sebagian lagi digunakan untuk membeli tanah dan membayar biaya operasional gudang.”
“Dan orang tuaku tidak menerima apa pun?”
Sari terdiam.
Aku langsung berdiri.
Selama sebelas tahun, mereka menggunakan hasil kerja kerasku untuk membangun bisnis, sementara Ayah memanggul karung jagung demi mendapat Rp35 ribu sehari.
Aku tidak sanggup mendengar alasan mereka lagi.
Beberapa minggu berikutnya, penyelidikan berkembang.
Pemeriksaan terhadap rekening menunjukkan adanya aliran dana dari uang kirimanku menuju sejumlah transaksi perusahaan.
Dokumen tanah keluarga juga diketahui bermasalah. Tanda tangan Ayah dan Ibu dalam surat kuasa penjualan diduga dipalsukan.
Mira akhirnya memberikan keterangan mengenai perannya sebagai perantara.
Dia mengakui bahwa setelah mengetahui aku masih hidup, dia sengaja menyembunyikan informasi itu dari orang tuaku.
Awalnya dia takut mengakui kebohongannya.
Kemudian Sari menjanjikan sejumlah uang jika dia terus menjadi perantara transfer.
Aku merasa kecewa, tetapi tidak terkejut lagi.
Yang paling sulit kuterima adalah kenyataan bahwa kedua orang tuaku menghabiskan bertahun-tahun berkabung untuk anak yang sebenarnya masih hidup.
Suatu malam, ketika aku duduk bersama Ibu di penginapan, beliau menggenggam tanganku.
“Raka, Ibu mau minta maaf.”
Aku langsung menoleh.
“Kenapa Ibu minta maaf?”
“Karena kami terlalu mudah percaya kepada Mira.”
Aku menggeleng.
“Bukan salah Ibu.”
Ibu menangis.
“Setiap malam Ibu berdoa supaya kalau kamu benar-benar sudah meninggal, kamu diberi tempat terbaik. Ibu nggak pernah membayangkan kamu masih hidup dan berusaha mencari kami.”
Aku memeluknya erat.
“Aku juga salah karena terlalu lama menyerahkan semuanya kepada orang lain. Aku seharusnya pulang lebih cepat.”
Ayah yang duduk di dekat jendela tiba-tiba bersuara.
“Sudah. Yang penting sekarang kamu ada di sini.”
Aku menatap wajahnya yang keriput.
“Mulai sekarang Ayah nggak perlu kerja di pasar lagi.”
Ayah tersenyum kecil.
“Kalau nggak kerja, Ayah bisa bosan.”
“Kalau begitu, nanti kita buat kebun kecil. Ayah boleh menanam apa pun yang Ayah suka.”
Ibu tertawa di tengah air mata.
Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, rumah kecil kami kembali terasa seperti keluarga.
Beberapa bulan kemudian, melalui proses hukum dan pemeriksaan administrasi, keterlibatan Sari, Anton, dan Mira dalam penggunaan identitas palsu serta penyalahgunaan dana mulai terungkap lebih jelas.
Pihak berwenang juga menelusuri dokumen tanah yang diduga digunakan tanpa persetujuan sah pemiliknya.
Aku bekerja sama dengan pengacara untuk memulihkan hak-hakku dan memastikan seluruh transaksi yang menggunakan identitasku diperiksa.
Namun, aku tidak menunggu semua perkara selesai untuk memperbaiki kehidupan Ayah dan Ibu.
Aku membeli sebuah rumah sederhana dengan halaman luas di Kulon Progo.
Tidak terlalu jauh dari pasar tempat Ayah dulu bekerja.
Rumah itu memiliki tiga kamar, dapur yang bersih, kamar mandi yang aman, dan kebun kecil di belakangnya.
Aku juga membawa Ayah menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh.
Dokter menemukan bahwa kondisi tubuhnya melemah akibat kelelahan dan kekurangan asupan gizi dalam waktu lama.
Ibu pun mendapatkan pengobatan untuk nyeri sendi yang selama ini ditahannya.
Suatu pagi, aku melihat Ayah sedang menyiram tanaman cabai.
Dia mengenakan sandal karet yang sama seperti ketika aku menemukannya pingsan di Pasar Wates.
Aku mendekatinya.
“Yah, kenapa masih pakai sandal lama itu? Kan Raka sudah belikan yang baru.”
Ayah menatap sandal tersebut, lalu tersenyum.
“Biar Ayah ingat dari mana kita pernah berjalan.”
Aku terdiam.
Ayah melanjutkan.
“Kalau suatu hari kamu jadi orang yang lebih kaya lagi, jangan sampai lupa bahwa ada orang yang hidupnya tidak semudah kita sekarang.”
Aku mengangguk.
Namun, saat hendak masuk ke rumah, ponselku berbunyi.
Pesan dari Adrian.
Mas Raka, kami menemukan sesuatu saat menelusuri dokumen perusahaan Sagara. Ada satu rekening investasi yang belum pernah dicairkan. Nama penerima manfaatnya adalah Jaya Prasetyo.
Aku mengerutkan kening.
Ayah?
Aku segera menelepon Adrian.
“Rekening apa?”
“Rekening penampungan hasil penjualan sebagian aset lama perusahaan. Nilainya sekitar Rp3,2 miliar.”
Aku membeku.
“Kenapa atas nama Ayah?”
“Ini yang menarik. Dokumen lama menunjukkan bahwa pada awal pendirian usaha, dana pertama yang digunakan Sari sebenarnya berasal dari penjualan tanah milik ayahmu.”
Aku langsung menatap Ayah di halaman.
“Tanah yang mana?”
“Sebidang sawah peninggalan kakekmu. Transaksinya dilakukan jauh sebelum identitasmu digunakan.”
Aku mendengarkan dengan napas tertahan.
“Apakah Ayah tahu?”
“Kita harus bertanya langsung. Dokumennya menunjukkan hak yang perlu diperiksa lebih lanjut.”
Aku menutup telepon dan menghampiri Ayah.
“Yah, dulu Ayah pernah menjual sawah untuk membantu Tante Sari?”
Ayah berhenti menyiram tanaman.
Dia menatapku lama.
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari dokumen perusahaan.”
Ayah menghela napas.
“Dulu Sari datang menangis. Katanya bisnisnya hampir bangkrut. Ayah menjual sawah warisan untuk membantunya. Ayah pikir dia akan mengembalikan uang itu kalau sudah berhasil.”
“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”
“Karena Ayah tidak mau Ibumu semakin sedih setelah mendengar Sari meninggal.”
Aku terdiam.
“Yah, kemungkinan masih ada uang hasil investasi yang menjadi hak Ayah.”
Ayah justru menggeleng perlahan.
“Kalau memang ada, urus dengan benar. Tapi jangan sampai uang itu membuat kita bertengkar lagi.”
Aku memandangnya.
Laki-laki yang selama bertahun-tahun dipaksa hidup miskin karena keserakahan orang lain ternyata tidak pernah menjadikan uang sebagai hal paling penting dalam hidupnya.
Beberapa waktu kemudian, hak atas dana tersebut mulai diperiksa melalui proses hukum tersendiri.
Aku tidak ingin mengambil satu rupiah pun tanpa kepastian bahwa uang itu benar-benar milik Ayah.
Suatu sore, setelah makan bersama, Ibu mengeluarkan sebuah kotak kayu dari lemari.
“Raka, ada sesuatu yang ingin Ibu berikan.”
Di dalamnya terdapat foto keluarga lama.
Aku masih berusia sekitar tujuh tahun.
Ayah berdiri di belakangku.
Ibu tersenyum sambil memegang bahuku.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan Ibu.
Kalau suatu hari Raka pergi jauh, semoga dia selalu menemukan jalan pulang.
Aku menangis membacanya.
Selama tiga belas tahun, aku berlayar ke berbagai negara, membangun bisnis, dan mengejar keberhasilan.
Aku mengira uang yang kukirim sudah cukup untuk membuktikan kasih sayangku.
Namun, aku lupa bahwa orang tuaku membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dikirim melalui rekening bank.
Kehadiranku.
Malam itu, aku duduk bersama Ayah dan Ibu di teras rumah.
Angin dari arah persawahan berembus pelan.
Ibu menyandarkan kepalanya di bahu Ayah.
Aku memandangi mereka dan tersenyum.
“Yah, Bu, kalau Raka harus pergi kerja lagi, Raka janji nggak akan menghilang selama itu.”
Ayah tertawa kecil.
“Pergilah kalau memang harus bekerja, Nak. Tapi pulanglah sesekali. Kami nggak butuh uang sebanyak itu.”
Aku mengangguk sambil menahan air mata.
Kini aku tahu, tidak ada keuntungan bisnis yang sebanding dengan kesempatan mendengar suara Ayah memanggil namaku setiap pagi.
Dan tidak ada kekayaan yang lebih besar daripada melihat Ibu tersenyum karena mengetahui anak yang selama ini dianggap meninggal akhirnya benar-benar pulang.
Sebab rumah bukanlah bangunan yang paling mahal.
Rumah adalah tempat di mana seseorang masih menunggumu, bahkan ketika seluruh dunia telah mengatakan bahwa kamu tidak akan pernah kembali.
