Map itu tidak tebal.
Hanya beberapa lembar.
Tetapi ketika aku membukanya perlahan, semua mata langsung tertuju ke sana.
Tidak ada lagi suara anak-anak.
Tidak ada lagi bisik-bisik para bibi.
Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di ruang tamu.
Aku mengeluarkan lembar pertama.

“Sertifikat rumah.”
Aku meletakkannya tepat di depan calon ibu mertuaku.
“Silakan lihat sendiri. Nama pemiliknya.”
Tangannya gemetar saat mengambil dokumen itu.
Matanya membelalak.
Benar.
Di kolom pemilik hanya ada satu nama.
Namaku.
Bukan Ardi.
Bukan nama kami berdua.
Apalagi nama keluarganya.
Belum sempat ia berkata apa-apa, aku mengeluarkan lembar kedua.
Surat perjanjian kredit bank.
Sisa cicilan masih hampir Rp700 juta.
Semua pembayaran setiap bulan berasal dari rekeningku.
Aku menggeser buku mutasi rekening ke arah mereka.
“Dua tahun terakhir, cicilan selalu dibayar dari rekening ini.”
Seorang paman yang sejak tadi banyak bicara langsung terdiam.
Bibi yang tadi memuji rumah itu mulai saling berpandangan.
Calon ibu mertuaku masih berusaha mempertahankan wibawanya.
“Ya terus kenapa? Nanti setelah menikah tetap jadi rumah Ardi juga.”
Aku tersenyum tipis.
“Itu yang ingin saya bicarakan.”
Aku membuka map itu lagi.
Kali ini bukan dokumen rumah.
Melainkan print out percakapan WhatsApp.
Aku menyerahkannya kepada Ardi.
“Waktu itu kamu bilang salah kirim.”
Tangannya langsung dingin.
Ia bahkan tidak berani menyentuh kertas itu.
Aku membacakannya sendiri.
“Nanti setelah nikah, suruh dia jual rumah itu. Uangnya buat buka usaha Ardi. Kalau dia tidak mau, pelan-pelan saja. Bujuk terus.”
Lalu ada balasan.
“Tenang saja, Ma. Dia sayang sama aku. Pasti nurut.”
Ruangan seolah kehilangan udara.
Semua orang menoleh ke arah Ardi.
Wajahnya pucat.
“Aku… aku bisa jelaskan…”
Aku tidak memberinya kesempatan.
Aku mengeluarkan print out berikutnya.
Percakapan lain.
Kali ini antara calon ibu mertuaku dengan salah satu bibinya.
“Kalau sudah jadi menantu, biasakan dulu dia melayani keluarga. Dari sekarang harus tahu posisinya.”
“Iya. Jangan dimanja. Perempuan kalau terlalu tinggi nanti susah diatur.”
Aku melihat satu per satu wajah mereka.
Bibi yang mengirim pesan itu perlahan menundukkan kepala.
Tidak ada yang membantah.
Karena semuanya asli.
Aku memang sudah mencetak semuanya sejak seminggu lalu.
Sejak malam ketika Ardi meminjam laptopku dan lupa keluar dari akun WhatsApp Web miliknya.
Aku tidak pernah berniat mengintip.
Tetapi notifikasi itu muncul sendiri di layar.
Dan mengubah seluruh hidupku.
…
Calon ibu mertuaku masih mencoba membela diri.
“Itu cuma obrolan keluarga.”
Aku mengangguk pelan.
“Benar.”
“Lalu kenapa hari ini Ibu datang membawa sebelas orang tanpa memberi kabar?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa begitu masuk rumah, kalimat pertama bukan salam… tetapi menyuruh saya memasak?”
Ruangan kembali sunyi.
Aku menatap Ardi.
“Selama tiga tahun kita bersama.”
“Aku kira kamu diam karena menghormat ibumu.”
“Ternyata kamu diam… karena memang setuju.”
Air mata mulai memenuhi mata Ardi.
“Bukan begitu…”
“Beri aku kesempatan.”
Aku menggeleng.
“Kesempatan memperbaiki hubungan diberikan kepada orang yang jujur.”
“Bukan kepada orang yang membuat rencana.”
…
Saat itulah ponselku berbunyi.
Semua orang menoleh.
Aku mengangkat panggilan itu menggunakan speaker.
“Halo, Bu.”
Suara seorang wanita terdengar jelas.
“Selamat siang, Bu Rania. Saya dari notaris.”
“Saya hanya ingin memastikan. Berkas pembatalan penambahan nama pada sertifikat rumah sudah kami batalkan sesuai permintaan Ibu.”
“Mulai hari ini tidak ada lagi proses perubahan kepemilikan.”
“Terima kasih.”
Aku menutup telepon.
Ruangan benar-benar membeku.
Calon ibu mertuaku menatap Ardi.
“Penambahan nama?”
Aku tersenyum pahit.
“Iya.”
“Dua bulan lalu Ardi meminta agar setelah menikah namanya ikut dimasukkan ke sertifikat.”
“Aku hampir setuju.”
“Tapi untungnya… aku belum menandatangani apa pun.”
Semua mata langsung beralih kepada Ardi.
Ia menutup wajahnya.
Tidak sanggup lagi berbicara.
…
Lalu aku melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.
Aku mengambil dompet.
Mengeluarkan beberapa lembar uang.
Lalu memesankan makanan melalui aplikasi.
Sekitar empat puluh menit kemudian…
Beberapa pengantar makanan datang silih berganti.
Kotak-kotak makanan memenuhi meja makan.
Aroma sate, ayam bakar, sop buntut, seafood, dan berbagai hidangan memenuhi rumah.
Anak-anak kecil langsung bersorak.
Para bibi ikut tersenyum.
Calon ibu mertuaku terlihat bingung.
Aku berdiri.
“Silakan dimakan.”
Mereka saling berpandangan.
Benarkah?
Aku menarik napas panjang.
“Lagipula kalian sudah jauh-jauh datang.”
“Tamu tetaplah tamu.”
“Tidak pantas saya mengusir orang yang sedang lapar.”
Wajah beberapa orang langsung berubah malu.
Mereka sadar.
Perempuan yang baru saja mereka hina…
Masih memperlakukan mereka lebih baik daripada cara mereka memperlakukannya.
Namun ketika semua hendak duduk…
Aku mengucapkan satu kalimat terakhir.
“Setelah selesai makan…”
“…tolong jangan pernah datang lagi ke rumah saya.”
“Lagi pula…”
Aku menoleh kepada Ardi.
“Kita juga tidak akan menikah.”
Seolah dunia berhenti berputar.
Ardi berdiri sambil menangis.
“Rania… jangan.”
“Aku akan berubah.”
Aku tersenyum.
“Seseorang bisa berubah.”
“Tapi karakter asli selalu muncul ketika merasa sudah menang.”
“Hari ini kalian mengira rumah ini sudah menjadi milik keluarga kalian.”
“Itulah sebabnya kalian datang tanpa sopan santun.”
“Kalau hari ini aku menurut dan masuk dapur…”
“…mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah keluar lagi.”
Tak seorang pun mampu membalas.
Calon ibu mertuaku perlahan duduk kembali.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalku…
Wanita itu menundukkan kepala.
Tidak karena hormat.
Tetapi karena akhirnya ia sadar…
Ia baru saja kehilangan seorang calon menantu yang bukan hanya mampu membeli rumah sendiri, melainkan juga cukup berani mempertahankan harga dirinya.
