Rizky tinggal di sebuah perumahan mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Rumah dua lantai itu memiliki pagar otomatis, kamera CCTV di setiap sudut, dan tiga mobil terparkir rapi di garasi.
Pak Hadi berdiri di depan gerbang sambil memegang tas kain lusuhnya.
Ia menarik napas panjang.
Sudah hampir dua tahun ia tidak bertemu anak sulungnya secara langsung.
Belum sempat ia menekan bel, seorang satpam menghampiri.
“Cari siapa, Pak?”

“Saya… mau ketemu Rizky. Bilang saja ayahnya dari kampung datang.”
Satpam menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
Baju kusam.
Sandal jepit yang sudah tipis.
Topi anyaman yang warnanya memudar.
Ia tampak seperti seorang petani tua yang baru turun dari truk sayur.
“Bapak tunggu dulu.”
Beberapa menit kemudian, pintu rumah terbuka.
Rizky keluar.
Namun bukan wajah haru yang muncul.
Justru dahinya langsung berkerut.
“Ayah?”
Suara itu terdengar pelan.
Bukan karena rindu.
Melainkan karena panik.
Di belakangnya berdiri beberapa tamu bisnis berpakaian jas.
Rupanya pagi itu ia sedang mengadakan pertemuan penting.
“Ayah kok datang begini?”
Pak Hadi tersenyum.
“Ayah cuma ingin mampir beberapa hari.”
Belum selesai ia berbicara, mata Rizky sudah melirik para tamunya.
Ia buru-buru menarik ayahnya mendekat.
“Ayah… lain kali telepon dulu. Ini ada klien.”
“Ayah tidak bawa HP yang biasa.”
“Oh… ya sudah.”
Ia mengeluarkan dompet.
Mengambil beberapa lembar uang.
“Ini buat ongkos. Ayah cari penginapan dulu ya. Nanti kalau urusan selesai aku telepon.”
Pak Hadi menatap uang itu.
Tidak diambil.
“Ayah cuma ingin makan siang sama kamu.”
Rizky menghela napas.
“Sekarang benar-benar tidak bisa.”
“Ayah datang jauh-jauh…”
“Ayah, tolong mengerti.”
Kalimat itu terdengar seperti pisau yang pelan-pelan menusuk hati seorang ayah.
Akhirnya Pak Hadi mengangguk.
“Baik.”
Ia berbalik.
Melangkah pergi tanpa membawa selembar pun uang yang tadi disodorkan.
Dari balik jendela lantai dua, menantunya memperhatikan.
“Siapa itu?”
“Ah… cuma orang kampung.”
Rizky menjawab cepat.
Ia bahkan tidak berani mengatakan bahwa lelaki tua itu adalah ayah kandungnya sendiri.
Malam itu Pak Hadi tidur di sebuah musala kecil dekat terminal.
Bukan karena tidak punya uang.
Melainkan karena ia ingin melihat sampai sejauh mana anak-anaknya benar-benar peduli.
Ia masih memiliki kartu ATM dengan saldo miliaran rupiah yang tersimpan rapi di saku dalam bajunya.
Namun tak seorang pun mengetahuinya.
Keesokan harinya ia menuju rumah anak keduanya.
Sari.
Sari tinggal di sebuah apartemen mewah di kawasan BSD.
Ketika pintu dibuka, wajah perempuan itu langsung berubah.
“Ayah?”
“Iya, Nak.”
“Kok sendiri?”
“Iya.”
“Naik apa?”
“Bus.”
Sari buru-buru menarik ayahnya masuk.
Pak Hadi sempat merasa lega.
“Mungkin masih ada harapan.”
Namun harapan itu hanya bertahan beberapa menit.
Begitu suaminya pulang dari kantor, suasana langsung berubah.
“Siapa?”
“Ayah.”
Suaminya mengangguk sekilas.
Namun setelah Pak Hadi mandi dan beristirahat, ia mendengar percakapan dari dapur.
“Kalau ayahmu tinggal di sini, gimana?”
“Ya paling dua tiga hari.”
“Nanti anak-anak takut.”
“Takut kenapa?”
“Ya… lihat penampilannya begitu.”
“Terus?”
“Nanti tetangga juga bertanya-tanya.”
Pak Hadi diam.
Tangannya yang sedang memegang segelas teh perlahan gemetar.
Beberapa menit kemudian Sari masuk.
“Ayah… jangan salah paham ya.”
“Ada apa?”
“Besok mungkin Ayah bisa pulang dulu ke kampung.”
“Kenapa?”
“Soalnya apartemen kami kecil.”
Padahal apartemen itu memiliki empat kamar tidur.
Pak Hadi hanya tersenyum.
“Oh… begitu.”
Malam itu ia sengaja tidur di sofa.
Pagi-pagi sekali sebelum semua orang bangun, ia meninggalkan sebuah surat kecil.
“Terima kasih sudah memberi tempat semalam.”
Tidak lebih.
Tujuan terakhir adalah rumah Maya.
Anak bungsunya.
Justru anak inilah yang dulu paling sering menangis saat ditinggal ayah ke sawah.
Kini Maya tinggal di sebuah kontrakan sederhana di pinggiran Bekasi.
Saat pintu diketuk, Maya membuka dengan wajah lelah.
Begitu melihat ayahnya…
Air matanya langsung jatuh.
“Ayah…”
Ia memeluk lelaki tua itu erat-erat.
Pelukan yang sudah bertahun-tahun tidak mereka rasakan.
“Ayah kenapa datang sendiri?”
“Naik bus.”
“Ayah pasti capek.”
Maya sama sekali tidak bertanya mengapa pakaian ayahnya lusuh.
Ia tidak bertanya membawa uang atau tidak.
Hal pertama yang ia lakukan justru mengambilkan air hangat.
Lalu mencuci kaki ayahnya yang penuh debu.
Suaminya, Dimas, baru pulang sore hari.
Begitu melihat mertuanya, ia langsung menyalami dengan hormat.
“Pak… maaf rumah kami kecil.”
Pak Hadi tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Tapi selama Bapak di sini, kamar kami yang Bapak pakai. Saya sama Maya tidur di ruang depan.”
Pak Hadi langsung menggeleng.
“Tidak usah.”
Namun Dimas tetap bersikeras.
Malam itu mereka hanya makan tempe goreng, sayur bening, dan ikan asin.
Tidak ada makanan mewah.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak datang ke Jakarta…
Pak Hadi merasa kenyang.
Bukan karena makanannya.
Melainkan karena kasih sayang yang memenuhi meja kecil itu.
Saat semua tertidur, Pak Hadi diam-diam melihat dapur.
Beras di dalam toples tinggal sedikit.
Tabung gas hampir habis.
Dompet Maya hanya berisi beberapa lembar uang puluhan ribu.
Mereka ternyata hidup pas-pasan.
Tetapi tidak sekali pun mengeluh.
Tidak sekali pun menanyakan apakah ayah membawa uang.
Tiga hari kemudian, Pak Hadi pamit.
Maya menyelipkan sebuah amplop ke dalam tas ayahnya.
“Ayah… jangan ditolak ya.”
“Apa ini?”
“Sedikit uang buat ongkos pulang.”
“Ayah masih punya.”
“Kalau punya pun, simpan saja.”
Pak Hadi tahu isi amplop itu.
Hanya Rp500.000.
Namun ia melihat Maya diam-diam menghitung sisa uang belanja sebelum memberikannya.
Itu mungkin separuh tabungan mereka bulan itu.
Pak Hadi memegang tangan putrinya.
“Kalau suatu hari Ayah punya rezeki besar… apa yang kamu inginkan?”
Maya tertawa kecil.
“Ayah sehat saja sudah cukup.”
“Tidak mau rumah?”
“Rumah bisa dicari.”
“Mobil?”
“Tidak perlu.”
“Kalau uang miliaran?”
Maya tersenyum sambil menggeleng.
“Kalau Ayah punya miliaran, simpan saja buat Ayah. Kami cuma ingin Ayah sering datang. Anak-anak juga rindu kakeknya.”
Pak Hadi menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya selama perjalanan ini…
Ia hampir tidak mampu menahan tangisnya.
Namun Maya sama sekali tidak tahu…
Di balik tas kain lusuh yang dibawa lelaki tua itu, tersimpan sebuah map cokelat berisi bukti penjualan tanah di kampung senilai hampir Rp10 miliar.
Dan dalam waktu kurang dari seminggu…
Seluruh keluarga mereka akan dipanggil ke desa.
Di sanalah Pak Hadi akan membuka satu per satu kenyataan yang selama ini disembunyikannya—termasuk alasan sebenarnya mengapa ia menjual seluruh tanah warisan, menyamar sebagai orang miskin, dan mencatat setiap sikap anak-anaknya dalam sebuah buku harian tua yang akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.
