Malam itu aku duduk di lorong rumah sakit sambil memegang ponsel yang terus terasa berat di tanganku.
Tiga miliar rupiah.
Jumlah uang yang bahkan tak pernah kubayangkan akan kulihat seumur hidup.
Namun yang membuatku ketakutan bukanlah angka itu.
Melainkan kalimat terakhirnya.
“Kalau kamu ingin anak itu hidup…”
Mengapa dia menulis seperti ancaman?
Kalau benar dia hanya ingin membantu, kenapa harus menyuruhku datang diam-diam?

Aku menoleh ke arah ruang rawat.
Rafi sedang tertidur dengan selang infus di tangan kecilnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering.
Perawat berkata hasil pemeriksaan darah akan keluar dalam dua jam.
Aku mematikan layar ponsel.
Tidak.
Apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan anakku.
Lima belas menit kemudian nomor itu menelepon.
Aku tidak menjawab.
Dering kedua.
Aku tetap diam.
Baru pada panggilan ketiga aku mengangkatnya.
Belum sempat aku bicara, suara laki-laki yang sangat kukenal terdengar pelan.
“Lina…”
Seluruh tubuhku membeku.
Tujuh tahun.
Suara itu tidak berubah sedikit pun.
“Kenapa baru sekarang?” tanyaku lirih.
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang.
“Aku mencarimu selama tujuh tahun.”
Aku tertawa pahit.
“Mencariku?”
“Ya.”
“Lucu sekali. Saat aku datang ke kantor membawa kabar kehamilan, kamu bahkan tidak ada.”
“Aku tidak pernah tahu kamu datang.”
“Aku juga tidak pernah tahu kalau bumi ternyata bisa berbohong.”
Arman terdiam.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Lina… malam setelah kontrak itu selesai, aku mengalami kecelakaan.”
Aku mengernyit.
“Kecelakaan?”
“Mobilku ditabrak truk di tol. Aku koma hampir tiga bulan.”
Tanganku mulai dingin.
“Setelah sadar, istriku bilang kamu mengundurkan diri karena mendapat pekerjaan di Singapura.”
Aku langsung menggeleng.
“Itu bohong.”
“Aku baru tahu itu beberapa minggu lalu.”
Dadaku semakin sesak.
“Bagaimana kamu tahu tentang Rafi?”
“Tes DNA.”
Aku langsung berdiri.
“Apa?”
“Aku melihat Rafi dua minggu lalu.”
Ternyata semuanya bermula dua minggu sebelumnya.
Arman sedang menghadiri acara donor darah perusahaan.
Di sana ia melihat seorang anak kecil jatuh karena pusing.
Anak itu memiliki mata yang sangat mirip dengannya.
Perawat berkata anak itu bernama Rafi.
Entah mengapa hatinya terusik.
Ia diam-diam meminta asistennya mencari data anak tersebut.
Alamat.
Nama ibu.
Tanggal lahir.
Saat melihat nama “Lina”, dunia seolah berhenti berputar.
Ia tidak langsung percaya.
Namun setelah mendapatkan sampel DNA melalui sedotan bekas minum Rafi—semua sesuai secara hukum melalui rumah sakit karena alasan medis—hasilnya membuatnya tidak bisa tidur selama tiga malam.
Probabilitas hubungan ayah dan anak.
99,999%.
“Kenapa baru sekarang menghubungiku?” tanyaku.
“Aku ingin memastikan dulu.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa kamu tidak dipaksa membesarkan anakku.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Kalau aku dipaksa, menurutmu siapa yang memaksaku?”
Di seberang sana kembali sunyi.
Lalu Arman berkata dengan suara yang nyaris pecah.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Namun tujuh tahun penderitaan tidak mungkin sembuh hanya karena satu kata.
Sore itu dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“Wali pasien?”
Aku langsung berdiri.
“Iya, Dok.”
“Kami menemukan kelainan pada jantung Rafi.”
Dunia terasa gelap.
“Dia memiliki kelainan bawaan yang selama ini tidak terdeteksi.”
“Apakah… berbahaya?”
“Harus dioperasi.”
Aku hampir jatuh.
Biaya operasi mencapai miliaran rupiah.
Untuk pertama kalinya aku melihat angka tiga miliar di rekening bukan sebagai keajaiban.
Melainkan sebagai harga agar anakku tetap hidup.
Belum selesai aku mencerna semuanya, seorang pria berjas hitam datang tergesa-gesa.
“Nona Lina?”
“Iya.”
“Saya Bima. Pengacara Pak Arman.”
Ia menyerahkan sebuah map.
Di dalamnya ada salinan hasil tes DNA.
Surat transfer.
Dan sebuah surat tulisan tangan.
Tulisan itu masih sama seperti tujuh tahun lalu.
Sedikit miring ke kanan.
“Lina.
Kalau ternyata Rafi benar anakku, maka selama tujuh tahun aku telah gagal menjadi seorang ayah.
Aku tidak meminta kamu memaafkanku.
Aku hanya meminta kesempatan menyelamatkan anak kita.
Apa pun yang harus kubayar.
Termasuk seluruh hidupku.”
Air mataku menetes tanpa bisa kutahan.
Namun malam itu segalanya berubah.
Televisi di ruang tunggu rumah sakit menayangkan berita kilat.
“Direktur utama PT Nusantara Jaya, Arman Prasetyo, menjadi korban percobaan pembunuhan setelah mobilnya mengalami ledakan di kawasan Sudirman.”
Aku langsung menoleh.
Reporter melanjutkan.
“Polisi menduga ledakan berkaitan dengan kasus korupsi besar yang sedang diungkap perusahaan tersebut.”
Aku membeku.
Beberapa detik kemudian ponselku kembali bergetar.
Nomor yang sama.
Kali ini bukan Arman.
Melainkan suara seorang wanita.
“Lina…”
Aku mengenali suara itu.
Dewi.
Istri Arman.
“Aku tahu kamu sudah menerima uang itu.”
“Apa maumu?”
“Jangan datang menemui Arman.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu datang…”
Suaranya berubah dingin.
“…kalian berdua akan mati.”
Sambungan langsung terputus.
Malam semakin larut.
Di luar rumah sakit hujan turun deras.
Aku berdiri di depan jendela sambil memegang surat Arman.
Di belakangku Rafi masih tertidur dengan monitor jantung yang berbunyi pelan.
Di depanku ada tiga miliar rupiah.
Di tanganku ada ancaman pembunuhan.
Dan di antara semua itu ada seorang pria yang mungkin selama tujuh tahun juga menjadi korban kebohongan yang sama.
Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.
Yang aku tahu hanya satu.
Besok pagi operasi Rafi harus dilakukan.
Dan seseorang jelas tidak ingin ayah kandungnya masih hidup untuk melihat anak itu membuka mata kembali.
Tepat saat pikiranku dipenuhi ketakutan, pintu kamar rawat perlahan terbuka.
Seorang pria memakai masker, topi, dan seragam petugas kebersihan masuk sambil mendorong troli.
Tak seorang pun memperhatikannya.
Namun ketika ia mengangkat wajah dan menatapku…
napasku langsung berhenti.
Itu Arman.
Wajahnya penuh luka dan perban.
Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik,
“Lina… mereka tahu Rafi masih hidup. Kita harus pergi sekarang juga.”
