MENGEJEK PACAR KARENA DATANG KE REUNI KAMPUS DENGAN MOTOR TUA LALU MEMUTUSKAN PUTUS

Rina berdiri mematung.

Map lamaran di tangannya hampir terjatuh.

Matanya bergantian memandang wajah Ardi, lalu papan nama di atas meja yang bertuliskan:

ARDI PRATAMA – Chief Executive Officer.

Ruangan itu mendadak terasa sesak.

Beberapa menit yang lalu dia masih merasa dirinya jauh lebih berhasil daripada pria yang pernah dihina habis-habisan.

Sekarang…

Justru pria itu duduk di kursi yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan.

“Ar… Ardi…”

Suaranya bergetar.

“Aku… aku tidak tahu kalau perusahaan ini milikmu.”

Ardi menutup map lamaran itu perlahan.

Tatapannya tetap tenang.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada pula senyum kemenangan.

Hanya ketenangan yang membuat Rina semakin merasa kecil.

“Apa bedanya kalau kamu tahu?” tanyanya pelan.

Rina tidak sanggup menjawab.

Air matanya mulai menggenang.

“Aku… aku minta maaf atas semua yang terjadi dulu.”

Ardi tersenyum tipis.

“Maaf?”

Ia menghela napas.

“Enam tahun lalu kamu bahkan tidak menganggapku sebagai manusia.”

Kalimat itu menusuk tepat ke hati Rina.

Ia teringat jelas hari reuni itu.

Saat Ardi datang dengan motor tuanya.

Saat semua orang menertawakannya.

Dan saat dirinya berkata kepada semua orang…

“Itu cuma kurir yang salah masuk.”

Ucapan itu masih terdengar jelas di telinganya.

Ia menundukkan kepala.

“Ardi… aku benar-benar menyesal.”

Ardi tidak langsung menjawab.

Ia membuka laci meja.

Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah mulai kusam.

“Apa kamu masih ingat ini?”

Rina menggeleng pelan.

Ardi mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

Begitu melihatnya…

Wajah Rina langsung berubah.

Itu adalah hasil pemeriksaan rumah sakit.

Atas nama…

Ibu Ardi.

Tanggal pemeriksaannya…

Persis dua hari sebelum acara reuni kampus.

“Stadium empat…”

Rina membaca tulisan itu dengan suara lirih.

Tangannya mulai gemetar.

Ardi memandang keluar jendela.

“Dua hari sebelum reuni, dokter mengatakan ibu terkena gagal ginjal kronis dan harus menjalani cuci darah seumur hidup.”

Rina membeku.

“Aku bekerja sebagai teknisi AC pada siang hari.”

“Malamnya aku menerima panggilan servis tambahan.”

“Setiap rupiah yang kudapat kupakai untuk biaya pengobatan ibu.”

Ardi berhenti sejenak.

“Motor tua yang kamu hina itu…”

“Itu satu-satunya kendaraan yang membawaku mengantar ibu ke rumah sakit hampir setiap minggu.”

Air mata Rina mulai jatuh.

Namun Ardi masih melanjutkan.

“Kamu pernah bertanya kenapa aku tidak membeli mobil.”

“Aku memang mampu mencicil mobil.”

“Tapi kalau aku mengambil cicilan mobil waktu itu…”

“…ibu mungkin tidak akan sempat menjalani operasi.”

Ruangan itu sunyi.

Tak terdengar suara apa pun selain isak tangis Rina.

“Aku…”

Rina berusaha berbicara.

Namun tenggorokannya terasa tercekat.

Ardi kembali membuka laci.

Kali ini ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat cincin sederhana berwarna perak.

Rina langsung menutup mulutnya.

“Itu…”

Ardi mengangguk.

“Aku membelinya tiga minggu sebelum reuni.”

“Aku bahkan sudah memilih tempat untuk melamarmu.”

Mata Rina membelalak.

“Aku ingin melamar setelah ibu selesai operasi.”

“Aku berpikir… kalau ibu sudah membaik, kita bisa memulai hidup bersama.”

Suara Ardi mulai terdengar serak.

“Tapi pada hari reuni itu…”

“Kamu memilih mengakhiri semuanya.”

Rina langsung menangis tersedu-sedu.

Ia baru sadar…

Pria yang dulu dianggap tidak punya masa depan…

Justru sedang mempersiapkan masa depan mereka berdua.

Yang tidak pernah ia beri kesempatan untuk dijelaskan.

Ardi kembali menyimpan cincin itu.

“Aku tidak pernah membencimu.”

“Tapi sejak hari itu aku belajar satu hal.”

“Ada orang yang mencintai kita saat kita berada di puncak.”

“Dan ada orang yang tetap tinggal saat kita berada di titik terendah.”

“Kamu memilih pergi ketika aku sedang berjuang.”

Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan Rina.

Ia berlutut.

“Maafkan aku…”

“Aku bodoh.”

“Aku terlalu silau melihat kemewahan teman-temanku.”

“Aku hanya melihat motor tuamu.”

“Aku tidak pernah melihat perjuanganmu.”

Ardi memejamkan mata beberapa detik.

“Lima bulan setelah kita putus…”

“Ibu meninggal.”

Rina menangis semakin keras.

“Sebelum meninggal…”

“Ibu masih bertanya.”

“‘Kenapa Rina tidak pernah datang lagi?'”

Ardi tersenyum pahit.

“Aku tidak pernah sanggup mengatakan bahwa kamu pergi karena malu mempunyai pacar yang membawa motor tua.”

Rina merasa dadanya seperti diremas.

Ia ingin memutar waktu.

Ingin kembali ke hari itu.

Ingin berlari mengejar Ardi sebelum pria itu pergi meninggalkan restoran.

Namun semuanya sudah terlambat.

Beberapa saat kemudian…

Pintu ruang direktur diketuk.

Sekretaris masuk sambil membawa beberapa dokumen.

“Pak Ardi, rapat dengan investor dari Singapura dimulai lima belas menit lagi.”

Ardi mengangguk.

“Baik.”

Sekretaris itu lalu menoleh kepada Rina.

Dengan sopan ia berkata,

“Maaf, Bu. Boleh saya antarkan keluar?”

Rina berdiri perlahan.

Kakinya terasa lemas.

Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

“Ardi…”

“Kalau waktu bisa diputar…”

“Aku pasti akan naik motor tua itu bersamamu.”

Ardi hanya tersenyum tipis.

“Luka memang bisa sembuh.”

“Tapi waktu tidak pernah berjalan mundur.”

Rina keluar dari ruangan dengan langkah gontai.

Saat melewati area parkir perusahaan…

Ia melihat sesuatu yang membuatnya kembali menangis.

Di sudut parkiran, di balik deretan mobil-mobil mewah para eksekutif…

Masih terparkir motor tua yang sama.

Sudah dicat ulang.

Mesinnya masih terawat.

Di spionnya tergantung gantungan kunci kecil berbentuk hati yang dulu pernah ia berikan saat mereka masih kuliah.

Seorang petugas keamanan yang melihat Rina berdiri lama di depan motor itu berkata sambil tersenyum,

“Itu motor kesayangan Pak Ardi.”

“Banyak yang menyuruh beliau menjualnya.”

“Tapi beliau selalu bilang…”

“‘Motor ini bukan kendaraan. Ini saksi perjuangan saya bersama ibu… dan pengingat agar saya tidak pernah menilai seseorang dari apa yang dia kendarai.'”

Rina menutup wajahnya.

Tangisnya pecah.

Untuk pertama kalinya dalam hidup…

Ia benar-benar memahami bahwa yang ia hina enam tahun lalu bukanlah sebuah motor tua.

Melainkan pengorbanan seorang anak kepada ibunya.

Dan cinta tulus seorang pria yang seharusnya ia jaga.

Sejak hari itu Rina tidak pernah menghubungi Ardi lagi.

Ia memilih memulai hidup dari awal.

Bukan karena masih berharap bisa kembali.

Melainkan karena ia ingin menjadi manusia yang tidak lagi mengukur nilai seseorang dari pakaian, kendaraan, atau harta.

Sementara Ardi melanjutkan hidupnya.

Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan sebuah yayasan yang membantu biaya pengobatan bagi orang tua dari keluarga kurang mampu.

Di lobi yayasan itu hanya ada satu benda yang dipajang di balik kaca.

Bukan piala.

Bukan penghargaan.

Melainkan sebuah helm tua dan foto motor yang pernah menjadi bahan ejekan.

Di bawahnya tertulis sebuah kalimat sederhana:

“Jangan pernah menghina seseorang yang masih berjuang. Karena yang hari ini tampak paling sederhana, mungkin sedang memikul beban paling berat yang tidak pernah kamu lihat.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang