Cecilia menunduk sopan.
“Kalau Bapak memberi terlalu banyak, nanti saya tidak belajar mencari rezeki dengan benar,” katanya lirih sambil mengembalikan sebagian uang itu.
Diego terpaku.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar kalimat sejujur itu.
Ia menerima kembali uang tersebut tanpa berkata apa-apa, tetapi sebelum gadis itu pergi, ia bertanya pelan,
“Boleh saya tahu… cincin itu dari siapa?”
Refleks, Cecilia menggenggam jarinya, seolah melindungi benda paling berharga yang ia miliki.
“Ini milik ibu saya.”
“Beliau membelinya?”
Cecilia menggeleng.
“Ibu bilang… ini adalah satu-satunya kenangan dari seseorang yang sangat mencintainya.”
Jantung Diego berdetak semakin cepat.

“Di mana ibumu sekarang?”
“Di rumah.”
“Bolehkah aku bertemu dengannya?”
Wajah Cecilia berubah waspada.
“Ibu sedang sakit. Kami tidak menerima tamu.”
Lalu gadis itu membungkuk kecil dan berlari menerobos hujan sebelum Diego sempat mengatakan apa pun lagi.
Malam itu Diego tidak bisa tidur.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu tua yang selama enam belas tahun tidak pernah benar-benar ia tutup.
Di dalamnya masih tersimpan foto-foto usang.
Foto dirinya dan Ximena saat masih mahasiswa.
Tiket bioskop pertama mereka.
Nota kecil dari toko perhiasan tempat cincin itu dibuat.
Dan salinan surat terakhir yang ditinggalkan Ximena.
“Maafkan aku, Diego. Aku harus pergi. Ada orang-orang yang tidak akan pernah membiarkan kita hidup tenang. Jangan mencariku. Lupakan aku.”
Tak ada penjelasan lain.
Tak ada alamat.
Tak ada kabar setelah hari itu.
Selama bertahun-tahun Diego menyewa detektif terbaik.
Ia mencari ke setiap kota di Filipina.
Cebu.
Davao.
Iloilo.
Baguio.
Tak satu pun menemukan jejak Ximena.
Lalu malam ini…
Cincin itu muncul di tangan seorang gadis penjual roti.
Dan gadis itu bernama Cecilia.
Nama yang hanya pernah mereka bicarakan berdua.
Keesokan paginya Diego kembali ke Quiapo.
Bukan dengan jas mahal.
Ia mengenakan kemeja sederhana, topi, dan masker agar tidak dikenali.
Seharian ia menunggu di dekat gereja.
Pukul lima sore, Cecilia muncul lagi dengan keranjang rotinya.
Diego mengikuti dari kejauhan.
Gang demi gang.
Lorong semakin sempit.
Rumah-rumah berubah menjadi gubuk seng yang berdempetan.
Air hujan menggenang di mana-mana.
Akhirnya Cecilia berhenti di sebuah rumah kecil yang hampir roboh.
Atapnya ditambal dengan terpal biru.
Pintunya hanya papan tipis.
Ia masuk sambil membawa beberapa roti yang tidak laku.
Beberapa menit kemudian terdengar suara batuk panjang dari dalam rumah.
Diego memejamkan mata.
Entah mengapa, suara itu terasa sangat dikenalnya.
Ia mengetuk pintu perlahan.
Tak lama kemudian Cecilia membuka.
Wajahnya terkejut.
“Pak?”
“Saya… hanya ingin memastikan ibumu baik-baik saja.”
“Maaf, Pak. Ibu tidak menerima tamu.”
Namun dari dalam terdengar suara lemah.
“Cecilia… siapa itu?”
Suara perempuan itu membuat seluruh tubuh Diego membeku.
Suara itu…
Tidak mungkin ia lupa.
Meski enam belas tahun telah berlalu.
“Biarkan dia masuk,” kata perempuan itu pelan.
Cecilia membuka jalan.
Ruangan itu kecil.
Hanya ada satu kipas tua.
Sebuah meja kayu.
Kasur tipis.
Dan di sudut ruangan, seorang perempuan kurus sedang duduk bersandar.
Rambutnya mulai memutih.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang Diego ingat.
Tetapi matanya…
Mata itu tidak berubah sedikit pun.
“Ximena…” bisik Diego.
Perempuan itu perlahan mengangkat wajah.
Air mata langsung memenuhi matanya.
“Diego…”
Waktu seakan berhenti.
Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
Enam belas tahun kerinduan, kemarahan, pertanyaan, dan penyesalan bertabrakan dalam satu tatapan.
Cecilia memandang mereka bergantian.
“Ibu… Bapak ini siapa?”
Ximena menggenggam tangan putrinya erat.
Tangannya gemetar.
Lalu ia berkata dengan suara yang hampir tak terdengar,
“Dia… adalah ayahmu.”
Keranjang roti yang masih dibawa Cecilia jatuh ke lantai.
Roti-roti hangat berguling ke segala arah.
Gadis itu memandangi Diego dengan mata membesar.
“Tidak…”
Suaranya pecah.
“Tidak mungkin…”
Seumur hidupnya ia percaya ayahnya telah meninggal sebelum ia lahir.
Itulah cerita yang selalu ia dengar.
Diego sendiri hampir kehilangan keseimbangan.
Selama enam belas tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa anak yang dikandung Ximena mungkin tidak pernah lahir.
Kini, di hadapannya berdiri seorang gadis yang memiliki mata ibunya… dan senyum yang sangat mirip dirinya sendiri.
Namun satu pertanyaan besar masih menggantung di udara.
Jika Ximena masih mencintainya…
Jika Cecilia benar-benar putrinya…
Lalu siapa yang memaksa Ximena menghilang selama enam belas tahun?
Dan mengapa mereka memilih hidup dalam kemiskinan, sementara Diego telah menghabiskan separuh hidupnya mencari mereka?
