“Apa? Tujuh ratus ribu?”
Suara Mbak Maya dan Mbak Siska terdengar hampir bersamaan. Keduanya menatap kemeja hitam yang kupakai seolah benda itu baru saja berubah menjadi emas.
Aku hanya tersenyum kecil.
“Dapat dari tempat kerja, Mbak,” jawabku santai. “Katanya barang sisa.”

Kebohongan kecil itu langsung membuat wajah mereka kembali rileks.
“Oalah, pantes,” Mbak Maya mendengus. “Aku juga heran, mana mungkin tukang cuci piring beli baju segitu.”
Beberapa ibu tertawa canggung. Bu Ita justru menatapku cukup lama, seolah merasa ada sesuatu yang aneh.
Aku memilih diam.
Sore itu, aku mulai memahami satu hal. Keluarga Danu bukan sekadar tidak menyukaiku karena miskin. Mereka menilai manusia berdasarkan apa yang bisa diambil darinya.
Dan aku ingin tahu seberapa jauh mereka akan melangkah.
Dua hari setelah arisan, Mbak Siska masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Saat itu Danu sedang bekerja.
“Windy.”
“Iya, Mbak?”
“Pinjam uang dua ratus ribu.”
Aku sengaja memasang wajah panik.
“Maaf, Mbak. Uang Windy tinggal seratus ribu sampai akhir minggu.”
Wajahnya langsung berubah.
“Serius? Segitu doang?”
Aku mengangguk.
“Ya sudah, kasih seratus ribunya.”
Aku menatapnya sejenak. “Tapi buat ongkos kerja, Mbak.”
Siska mendecakkan lidah.
“Kamu kan bisa jalan kaki.”
Jarak rumah menuju tempat yang mereka kira tempat kerjaku hampir lima kilometer.
Aku akhirnya menyerahkan uang itu.
Malamnya, ketika Danu pulang, Siska justru menyambutku dengan sepiring martabak.
“Nih, Windy. Mbak belikan. Kamu kan suka cokelat.”
Danu tersenyum.
“Wah, Mbak sekarang perhatian banget sama Windy.”
“Ya iyalah. Dia adik kami sekarang.”
Aku menggigit martabak itu sambil tersenyum.
Hebat sekali.
Seratus ribuku berubah menjadi martabak dua puluh ribu di depan Danu.
Beberapa hari berikutnya keadaan semakin parah. Bu Anum menyuruhku mencuci pakaian seluruh keluarga. Maya meninggalkan piring kotornya begitu saja. Siska bahkan pernah sengaja menumpahkan kopi ke lantai lalu menyuruhku membersihkannya.
Semua itu hanya terjadi ketika Danu tidak ada.
Yang paling menyakitkan bukan perlakuan mereka kepadaku.
Melainkan bagaimana Danu selalu pulang dengan membawa sebagian besar gajinya untuk ibunya.
“Buat kebutuhan rumah,” katanya.
Padahal diam-diam aku melihat Maya membeli tas baru dan Siska membayar cicilan ponsel mahal menggunakan uang Bu Anum.
Suatu malam, aku bertanya kepada Danu.
“Mas, boleh aku tanya sesuatu?”
“Tanya apa?”
“Kenapa pernikahan Mas sebelumnya selalu berakhir?”
Tangannya yang sedang melipat pakaian berhenti.
Untuk beberapa detik, Danu diam.
“Aku juga nggak tahu.”
“Tidak pernah tanya alasan mereka?”
“Pernah.”
Danu tersenyum pahit.
“Mereka bilang tidak tahan hidup bersamaku.”
Ada kesedihan yang dalam di matanya.
“Yang pertama bilang aku terlalu bergantung pada keluarga. Yang kedua bilang rumah ini membuatnya sesak. Yang ketiga pergi tanpa banyak bicara. Yang keempat cuma bilang suatu hari nanti aku akan mengerti.”
Aku menelan ludah.
“Mas masih punya nomor mereka?”
Danu menatapku heran.
“Untuk apa?”
“Cuma penasaran.”
“Sudah nggak ada.”
Malam itu, setelah Danu tidur, aku menghubungi Rika, manajer operasional Seleraku sekaligus orang yang paling kupercaya.
“Tolong cari empat mantan istri Danu.”
“Untuk apa, Bu Windy?”
“Aku ingin mendengar cerita mereka.”
Tiga hari kemudian, aku mendapatkan empat nomor telepon.
Orang pertama yang bersedia menemuiku bernama Ratih.
Kami bertemu di salah satu kedai kopi milikku, tentu tanpa sepengetahuannya.
Begitu kusebut nama Bu Anum, wajah Ratih langsung berubah.
“Kamu istrinya Danu sekarang?”
Aku mengangguk.
Ratih menarik napas panjang.
“Keluar dari rumah itu.”
Aku terdiam.
“Maksud Mbak?”
“Ibunya akan menghancurkan pernikahan kalian.”
Ratih bercerita bahwa dahulu ia bekerja sebagai kasir minimarket. Setiap gajian, Bu Anum meminta uang. Maya meminjam tanpa mengembalikan. Siska mengambil barang-barangnya tanpa izin.
Ketika Ratih mengadu kepada Danu, mereka bertiga menangis di depan Danu dan mengatakan Ratih tidak menghormati keluarga.
“Aku akhirnya dianggap istri yang mau memisahkan anak dari ibunya,” katanya.
Cerita mantan istri kedua dan ketiga hampir sama.
Namun mantan istri keempat, Laila, mengatakan sesuatu yang membuat darahku mendidih.
“Aku pernah mendengar ibunya bilang, kalau Danu terus menikah, selama istrinya bekerja, mereka punya tambahan pemasukan. Kalau istrinya melawan, tinggal dibuat tidak betah.”
Aku menggenggam gelas lebih erat.
“Danu tahu?”
Laila menggeleng.
“Danu orang baik. Terlalu baik malah. Itu masalahnya. Dia tidak pernah membayangkan keluarganya bisa melakukan itu.”
Saat itulah aku memutuskan permainan harus diakhiri.
Namun bukan dengan pertengkaran.
Aku ingin Danu melihat semuanya sendiri.
Kesempatan datang seminggu kemudian.
Bu Anum tiba-tiba berkata ingin merayakan ulang tahunnya di Rumah Makan Seleraku cabang pusat.
Aku hampir tersedak mendengarnya.
“Seleraku?” tanyaku memastikan.
“Iya,” jawab Maya bangga. “Restoran terkenal. Kamu pasti belum pernah masuk tempat sebagus itu.”
Aku menahan senyum.
“Belum, Mbak.”
“Tapi masalahnya mahal,” kata Siska. “Makanya Danu yang bayar.”
Aku menoleh kepada suamiku malam itu.
“Mas, memang mau mentraktir?”
Danu terlihat tidak enak.
“Ibu pengin sekali. Sekali ini saja.”
“Berapa orang?”
“Mungkin dua puluh lima.”
Aku tahu gaji Danu bahkan tidak cukup untuk membayar separuh tagihannya.
“Uangnya ada?”
Danu diam.
“Aku mungkin pinjam koperasi kantor.”
Dadaku terasa sesak.
Mereka benar-benar tidak peduli jika Danu harus berutang hanya demi menjaga gengsi.
Aku tersenyum.
“Tidak usah pinjam, Mas.”
Danu menatapku.
“Aku punya kenalan di sana. Mungkin dapat diskon.”
Hari ulang tahun Bu Anum tiba.
Seluruh keluarga datang dengan pakaian terbaik. Bu Anum bahkan mengundang beberapa tetangga yang dianggap terpandang.
Aku datang menggunakan pakaian sederhana seperti biasanya.
Begitu kami memasuki restoran, seorang supervisor bernama Arif berjalan mendekat.
Wajahnya hampir refleks membungkuk kepadaku.
Aku segera memberikan tatapan peringatan.
“Selamat datang,” katanya, memperbaiki sikap.
Maya mendekat kepadaku.
“Kenalanmu mana?”
“Itu tadi.”
Maya memandang Arif dari atas sampai bawah.
“Cuma supervisor?”
Aku mengangguk polos.
Makan malam berlangsung meriah.
Bu Anum memesan hampir semua menu mahal. Siska bahkan beberapa kali menambah hidangan tanpa bertanya kepada Danu.
Aku memperhatikan wajah suamiku yang semakin pucat setiap kali pesanan datang.
Setelah hampir dua jam, tagihan diberikan.
Rp8.750.000.
Danu membeku.
“Ibu, kok sebanyak ini?”
Maya langsung menyela.
“Ya ampun, Danu. Masa ulang tahun ibu sendiri dihitung-hitung?”
“Tapi aku cuma bawa tiga juta.”
Bu Anum menatapku.
“Windy.”
“Iya, Bu?”
“Kamu katanya kenal orang sini. Minta diskon.”
“Sudah, Bu.”
“Berapa?”
“Sepuluh persen.”
Wajahnya langsung masam.
“Cuma segitu?”
Aku mengangguk.
Siska mendecakkan lidah.
“Dasar nggak berguna.”
Kalimat itu terdengar jelas.
Danu menoleh.
“Apa?”
Siska langsung tersenyum.
“Enggak, aku bilang pelayanannya kurang bagus.”
Aku menunduk.
Kemudian Bu Anum mendekati telingaku.
“Kalau tagihannya kurang, kamu tinggal di sini saja bantu cuci piring. Bukannya itu memang pekerjaanmu?”
Maya menahan tawa.
Aku mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya selama dua bulan, aku tidak menunduk.
“Kalau begitu, bagaimana kalau saya yang bayar semuanya?”
Mereka terdiam.
Aku berdiri dan berjalan menuju kasir.
“Windy!” Danu mengejarku. “Kamu punya uang dari mana?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengeluarkan sebuah kartu dari dompet.
Kasir melihatnya, lalu menatapku.
“Tidak perlu, Bu.”
Danu mengernyit.
“Kenapa tidak perlu?”
Saat itulah Arif datang bersama manajer cabang.
Keduanya berdiri di hadapanku.
“Selamat ulang tahun untuk Ibu Anum,” kata manajer itu. “Seluruh biaya malam ini ditanggung perusahaan atas instruksi pemilik.”
Maya langsung berseri-seri.
“Wah! Pemilik Seleraku kenal keluarga kita?”
Manajer itu tersenyum.
“Kenal.”
“Siapa pemiliknya?” tanya Siska cepat.
Manajer tersebut menoleh kepadaku.
“Ibu Windy.”
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan suara sendok dari meja sebelah terdengar jelas.
Bu Anum tertawa kecil.
“Jangan bercanda.”
Aku mengambil kartu identitasku dari dompet dan meletakkannya di meja.
Kemudian Arif berkata dengan tenang, “Ibu Windy adalah pendiri sekaligus pemegang saham mayoritas Seleraku Group.”
Wajah Maya memucat.
Siska menatapku seperti melihat hantu.
Danu sendiri tidak bergerak.
“Kamu pemilik restoran ini?” suaranya nyaris berbisik.
“Bukan cuma restoran ini, Mas.”
Aku menarik napas.
“Semua cabangnya.”
Bu Anum tiba-tiba berubah.
Tangannya langsung menggenggam tanganku.
“Ya Allah, Windy. Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Ibu selama ini sebenarnya cuma mendidik kamu supaya jadi istri yang kuat.”
Aku hampir tertawa.
“Mendidik?”
Maya cepat menyambung.
“Kita kan cuma bercanda, Win.”
“Bercanda?”
Aku mengeluarkan ponsel.
Selama dua bulan, sebuah kamera kecil di kamarku dan kamera keamanan yang kupasang di dapur telah merekam banyak hal. Aku memang sengaja memasangnya setelah minggu pertama karena mulai mencurigai perlakuan mereka.
Aku meletakkan ponsel di depan Danu.
Rekaman pertama diputar.
“Heh, miskin!”
Suara Siska terdengar jelas.
Rekaman berikutnya memperlihatkan Bu Anum menyuruhku mencuci pakaian sambil mengatakan perempuan miskin sepertiku harus tahu diri.
Lalu suara Maya terdengar.
“Kalau bukan karena Danu, sudah dari dulu aku usir dia.”
Wajah Danu berubah.
“Ibu?”
Bu Anum gemetar.
“Danu, dengarkan Ibu dulu.”
Aku belum selesai.
Aku memutar rekaman terakhir.
Di sana terdengar percakapan mereka bertiga ketika aku sedang dianggap pergi bekerja.
“Kalau Windy nanti punya gaji, suruh kasih ke rumah. Danu gampang dibujuk,” suara Maya terdengar.
Lalu Bu Anum tertawa.
“Yang penting jangan sampai kejadian seperti istri sebelumnya. Mereka terlalu banyak protes.”
Danu menutup matanya.
Untuk pertama kalinya aku melihat seorang pria patah hati bukan karena istrinya, melainkan karena keluarganya sendiri.
“Jadi mereka pergi karena kalian?”
Tidak ada yang menjawab.
“Empat pernikahanku hancur karena kalian?”
Bu Anum menangis.
“Ibu cuma ingin yang terbaik.”
“Yang terbaik buat siapa?”
Suara Danu bergetar.
“Buat aku atau buat kalian?”
Ia berdiri.
Selama ini Danu selalu berbicara lembut kepada ibunya. Malam itu berbeda.
“Gajiku aku kasih. Utang kalian aku bayar. Kebutuhan rumah aku tanggung. Tapi ternyata belum cukup. Istriku pun kalian jadikan sasaran.”
Bu Anum mencoba memegang lengannya.
Danu mundur.
“Aku anak Ibu. Tapi aku bukan ATM Ibu.”
Kalimat itu membuat Bu Anum membeku.
Aku kira semuanya selesai malam itu.
Ternyata belum.
Ketika kami pulang, Danu duduk lama di teras.
“Aku marah sama kamu juga, Windy.”
Aku terdiam.
“Kamu bohong dua bulan.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut.”
Danu menatapku.
“Takut apa?”
“Takut dicintai karena uang.”
Aku menceritakan semuanya. Tentang bagaimana beberapa pria sebelumnya mendekat setelah mengetahui bisnis keluargaku. Tentang bagaimana aku bertemu Danu ketika ia membantuku mendorong motor yang mogok tanpa meminta apa pun.
“Aku jatuh cinta karena Mas memperlakukanku seperti orang biasa.”
Air mata menggenang di mataku.
“Tapi aku salah karena mengujimu tanpa izin.”
Danu diam cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Aku butuh waktu.”
Aku mengangguk.
Esok paginya Danu mengemasi pakaian.
Bukan untuk meninggalkanku.
Ia mengajakku pindah.
Kami menyewa rumah kecil sekitar dua kilometer dari rumah Bu Anum. Aku menawarkan rumah milikku yang jauh lebih besar, tetapi Danu menolak.
“Aku ingin belajar berdiri dengan kakiku sendiri dulu.”
Aku menghormatinya.
Danu juga berhenti menyerahkan seluruh gajinya kepada ibunya. Ia tetap mengirim uang untuk kebutuhan pokok Bu Anum, tetapi tidak lagi membayar gaya hidup kakak-kakaknya.
Tiga bulan kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Seseorang mengetuk pintu rumah kami.
Bu Anum.
Beliau datang sendirian.
Tidak membawa makanan. Tidak membawa hadiah.
Hanya sebuah kantong plastik berisi pakaian.
“Ada apa, Bu?” tanya Danu.
Bu Anum menunduk.
“Maya dan Siska pergi.”
Ternyata setelah Danu berhenti membiayai mereka, kedua kakaknya marah. Mereka menjual beberapa barang milik ibunya untuk membayar utang lalu pindah tanpa memberi tahu.
Perempuan yang selama ini merasa memiliki keluarga sempurna itu akhirnya ditinggalkan oleh anak-anak yang paling ia manjakan.
Aku tidak merasa puas.
Aneh sekali.
Aku justru merasa kasihan.
Bu Anum menatapku.
“Windy, Ibu tidak datang minta uang.”
Aku diam.
“Ibu cuma mau minta maaf.”
Matanya berkaca-kaca.
“Ibu baru sadar, selama ini Ibu mengusir perempuan-perempuan baik dari kehidupan anak Ibu karena Ibu takut kehilangan Danu.”
Danu menunduk.
“Sekarang Ibu malah hampir kehilangan semuanya.”
Aku mempersilakannya masuk.
Bukan karena semua kesalahan bisa hilang dengan satu permintaan maaf.
Tetapi karena beberapa orang baru bisa berubah setelah kehilangan tempat untuk bersembunyi dari kesalahan mereka sendiri.
Setahun kemudian, Bu Anum bekerja di salah satu dapur produksi Seleraku.
Bukan sebagai direktur.
Bukan pula karena aku ingin mempermalukannya.
Beliau sendiri yang meminta pekerjaan.
“Aku ingin tahu rasanya mencari uang sendiri,” katanya.
Siska dan Maya akhirnya kembali dan meminta maaf. Hubungan mereka dengan Danu tidak langsung pulih. Butuh waktu berbulan-bulan sebelum Danu bersedia berbicara lama dengan mereka.
Sementara itu, Danu tetap bekerja di kantor lamanya.
Suatu hari aku bertanya mengapa ia tidak mau bergabung dengan perusahaanku.
Dia tertawa.
“Biar kalau kita bertengkar, aku masih bisa bilang aku punya penghasilan sendiri.”
Aku tertawa sampai hampir tersedak.
Namun kejutan terbesar datang beberapa bulan kemudian.
Saat membersihkan lemari, Danu menemukan amplop lama yang terselip di antara dokumen keluarganya.
Di dalamnya terdapat empat surat.
Dari empat mantan istrinya.
Ternyata mereka tidak pernah meninggalkan Danu tanpa penjelasan.
Mereka menulis semuanya.
Tentang hinaan.
Tentang uang.
Tentang tekanan dari keluarganya.
Namun surat-surat itu tidak pernah sampai ke tangan Danu.
Bu Anum telah menyembunyikannya bertahun-tahun.
Danu membaca semuanya dalam diam.
Malam itu ia menangis.
Bukan karena ingin kembali kepada mereka.
Melainkan karena akhirnya memahami bahwa terkadang orang yang paling kita percaya bisa menjadi orang yang paling lama menyembunyikan kebenaran.
Beberapa minggu kemudian, Danu menemui keempat mantan istrinya satu per satu.
Ia tidak meminta mereka kembali.
Ia hanya meminta maaf karena dulu gagal melindungi mereka.
Dan untuk pertama kalinya, masa lalunya benar-benar selesai.
Aku dulu berpura-pura miskin karena ingin menguji keluarga suamiku.
Pada akhirnya, justru aku yang mendapatkan pelajaran.
Kemiskinan paling menakutkan ternyata bukan kekurangan uang.
Melainkan ketika hati seseorang begitu miskin hingga hanya mampu menghargai manusia berdasarkan isi dompetnya.
Dan kekayaan terbesar bukanlah belasan restoran yang kumiliki.
Melainkan keberanian untuk berkata cukup kepada orang yang kita cintai ketika cinta mereka mulai berubah menjadi kendali.
