Tak tahan karena istriku sering dihina keluarganya sendiri, akupun memutuskan banting setir dari tukang cilok menjadi ….

Ucapan Abah membuat tengkukku mendadak dingin.

Beberapa detik sebelumnya aku masih duduk tegak dengan keyakinan bahwa pekerjaan seberat apa pun akan kuterima demi Lia. Namun sekarang, rasanya seluruh keberanian itu menguap begitu saja.

Aku menatap Dudung. Temanku itu justru menunduk.

“Maksud Abah, darah daging saya?”

Abah mengangguk pelan.

“Anakmu kelak. Atau siapa pun yang lahir dari darahmu.”

Aku langsung berdiri.

“Maaf, Bah. Kalau begitu saya tidak jadi.”

Dudung mendongak kaget. “Mi, pikirkan dulu.”

“Gak perlu dipikirkan, Dung.”

Aku menatap Abah dan berusaha menjaga kesopanan.

“Saya memang miskin. Istri saya bahkan tadi malam harus menahan lapar karena beras tinggal segenggam. Tapi kalau harga menjadi kaya adalah keluarga saya sendiri, saya lebih baik tetap jualan cilok sampai tua.”

Anehnya, Abah tidak marah.

Dia justru tersenyum.

“Duduklah.”

“Tidak perlu, Bah.”

“Duduk, Den Fahmi. Karena kamu baru saja lulus.”

Aku terdiam.

Dudung tiba-tiba tertawa.

Aku menatap mereka bergantian.

“Lulus apa?”

Abah mengambil sebuah map cokelat dari lemari kayu di belakangnya lalu meletakkannya di hadapanku.

“Tes pertama.”

Aku semakin tidak mengerti.

Dudung akhirnya menjelaskan bahwa lelaki yang kupanggil Abah itu bernama Haji Mahfud, pemilik perusahaan distribusi hasil pertanian yang memasok puluhan restoran, hotel, dan supermarket di beberapa kota di Jawa.

Rumah panggung sederhana ini adalah rumah kelahirannya.

“Abah memang punya kantor di kota,” ujar Dudung. “Tapi orang yang mau dipercaya mengurus bisnis baru selalu dibawa ke sini.”

“Lalu cerita Jumat Kliwon tadi?”

“Omong kosong,” jawab Abah santai.

Aku hampir jatuh terduduk.

“Ya Allah, Bah!”

Dudung tertawa sampai memegangi perut.

Namun wajah Abah segera berubah serius.

“Saya sudah bertemu terlalu banyak orang yang mengaku akan melakukan apa saja demi uang. Begitu diberi pilihan antara kekayaan dan keluarga, karakter aslinya terlihat.”

Aku perlahan kembali duduk.

“Tapi kenapa saya?”

“Karena Dudung merekomendasikanmu.”

Aku menoleh kepadanya.

Dudung tersenyum kecil.

“Waktu kita jualan cilok dulu, aku pernah kehilangan dompet berisi uang modal. Kamu yang menemukannya. Padahal waktu itu ibumu sedang sakit dan kamu butuh uang. Tapi satu rupiah pun gak kamu ambil.”

Aku bahkan hampir melupakan kejadian itu.

Abah mendorong map cokelat tersebut ke arahku.

“Buka.”

Tanganku gemetar ketika melihat isinya.

Sebuah kontrak kerja.

Bukan sebagai buruh.

Bukan pula sopir atau penjaga gudang.

Aku ditawari mengikuti pelatihan enam bulan untuk mengelola unit usaha distribusi makanan beku yang baru dibuka perusahaan Abah.

“Tapi saya cuma lulusan SMA, Bah.”

“Terus?”

“Saya gak ngerti bisnis.”

“Bisa belajar.”

“Saya bahkan gak punya pengalaman.”

Abah tersenyum tipis.

“Saya bisa membayar orang pintar. Yang susah dicari itu orang yang bisa dipercaya.”

Hari itu aku pulang membawa kontrak dan uang muka gaji yang jumlahnya hampir setara dengan keuntungan jualan cilokku selama tiga bulan.

Namun aku tidak langsung menceritakan semuanya kepada Lia.

Aku hanya mengatakan mendapat pekerjaan baru dari Dudung.

Enam bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.

Pukul empat pagi aku sudah berada di pasar induk untuk belajar mengenali kualitas bahan. Siangnya aku ikut bagian gudang. Malamnya belajar pencatatan stok, pengiriman, negosiasi, sampai membaca laporan keuangan sederhana.

Berkali-kali aku melakukan kesalahan.

Pernah satu truk barang terlambat dikirim gara-gara aku salah membaca jadwal.

Pernah pula aku dimarahi pelanggan karena jumlah pesanan tidak sesuai.

Setiap kali ingin menyerah, aku teringat Lia.

Perempuan itu tidak pernah bertanya berapa gajiku.

Setiap aku pulang dengan tubuh lelah, dia hanya menyiapkan air hangat dan makanan.

“Capek, Kang?”

“Lumayan.”

“Kalau terlalu berat, berhenti saja. Kita jualan cilok lagi juga gak apa-apa.”

Kalimat itu justru membuatku semakin ingin bertahan.

Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa seseorang tidak membutuhkan pasangan yang menjanjikan istana. Kadang dia hanya membutuhkan orang yang tetap menggenggam tangannya ketika rumah mereka bahkan belum memiliki cukup beras.

Setahun berlalu.

Unit yang kupegang berkembang pesat.

Abah kemudian memberiku tanggung jawab lebih besar. Aku mulai mengurus pemasok, membuka jalur distribusi baru, sampai akhirnya mendapat bagian keuntungan.

Dua tahun kemudian, aku dan Dudung menjadi mitra untuk membuka perusahaan distribusi sendiri dengan Abah sebagai investor.

Saat itulah hidup kami berubah.

Aku membelikan Lia rumah sederhana di pinggir kota.

Tidak mewah, tetapi memiliki halaman kecil yang selalu dia impikan.

Aku masih ingat ketika pertama kali membawanya ke sana.

“Rumah siapa ini, Kang?”

“Rumah kita.”

Lia tertawa karena mengira aku bercanda.

Sampai aku menyerahkan kunci kepadanya.

Tangannya langsung menutup mulut.

“Kang…”

Air matanya jatuh.

Aku memeluknya.

“Dulu kamu pernah dipermalukan cuma karena satu liter beras. Aku gak bisa melupakan itu.”

Lia menggeleng.

“Jangan simpan dendam, Kang.”

“Aku gak dendam.”

“Kalau begitu jangan pernah membalas mereka dengan cara yang sama.”

Aku diam.

Ternyata Lia masih menjadi orang yang lebih kuat dariku.

Kesempatan untuk membuktikannya datang beberapa bulan kemudian.

Suatu malam, Rena menelepon.

Suaminya bangkrut karena proyek properti yang bermasalah. Rumah mereka terancam disita.

Tidak lama kemudian, klinik milik Riko tersandung utang akibat ekspansi terlalu cepat.

Sedangkan usaha keluarga Teti juga mengalami kesulitan.

Ironisnya, orang yang dahulu selalu dijadikan contoh keberhasilan di hadapan kami sekarang datang satu per satu meminta bantuan.

Lia tidak pernah menertawakan mereka.

Dia membantu sebisanya.

Aku juga memilih diam.

Sampai suatu sore ibu mertuaku datang ke rumah.

Sudah hampir tiga tahun aku tidak duduk berdua dengannya.

Perempuan yang dahulu selalu berdiri tegap itu sekarang tampak jauh lebih tua.

“Fahmi.”

“Iya, Bu?”

“Ibu mau bicara.”

Aku mempersilahkannya duduk.

Dia mengeluarkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Uang.”

Aku mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Bayaran satu liter beras.”

Aku membeku.

“Ibu masih ingat?”

“Justru karena terlalu ingat, Ibu malu.”

Tangannya bergetar.

“Waktu itu sebenarnya Ibu punya beras satu karung penuh.”

Dadaku seperti ditusuk sesuatu.

“Ibu sengaja tidak memberikannya.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Ibu pikir kalau kalian terus dibuat susah, Lia akhirnya akan meninggalkanmu. Ibu masih berharap dia menikah dengan laki-laki pilihan Ibu.”

Air mata jatuh di pipinya.

“Ternyata Ibu salah menilai orang.”

Aku menarik napas panjang.

“Sudahlah, Bu.”

“Tidak. Biarkan Ibu mengatakan semuanya.”

Dia menatapku.

“Ibu dulu bilang harga diri lelaki ada di dompetnya. Tapi ketika anak-anak Ibu yang kaya mulai kesulitan, sebagian justru saling menyalahkan. Sedangkan kamu yang dulu bahkan kesulitan membeli beras tetap berdiri di samping Lia.”

Aku menunduk.

Aneh.

Selama bertahun-tahun aku membayangkan betapa puasnya jika suatu hari perempuan ini mengakui kesalahannya.

Tetapi ketika hari itu benar-benar tiba, aku tidak merasa menang.

Aku justru merasa sedih.

“Bu, simpan uangnya.”

“Tapi…”

“Kalau Ibu ingin membayar satu liter beras itu, besok makan di sini bersama kami.”

Dia menatapku lama.

Kemudian menangis.

Malam berikutnya kami makan bersama.

Untuk pertama kalinya tidak ada perbandingan tentang rumah siapa paling besar, kendaraan siapa paling mahal, atau pekerjaan siapa paling bergengsi.

Namun ujian terbesar datang ketika usahaku berada di puncak.

Abah meninggal dunia.

Beberapa minggu setelah pemakamannya, seorang pengacara menghubungiku.

Ada satu dokumen yang ditinggalkan khusus untukku.

Aku datang ke kantor bersama Dudung.

Di dalam amplop terdapat surat tulisan tangan Abah.

Den Fahmi, kalau kamu membaca surat ini, berarti saya sudah selesai dengan urusan dunia.

Saya pernah mengatakan bahwa saat hartamu mencapai puncak, kamu harus menyerahkan satu darah dagingmu untuk menjadi pelayan di istana Gusti Prabu.

Waktu itu kamu langsung menolak.

Sekarang saya ingin menagih janji itu.

Tanganku mendadak dingin.

Dudung yang membaca dari samping juga terdiam.

Aku melanjutkan.

Gusti Prabu bukan makhluk gaib.

Itu nama yayasan pendidikan yang saya bangun diam-diam dua puluh tahun lalu untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Dan darah daging yang harus kamu serahkan bukan anakmu.

Yang harus kamu serahkan adalah dirimu sendiri.

Karena darah yang mengalir dalam tubuhmu adalah darah seorang lelaki yang pernah mengenal lapar.

Jangan menjadi orang kaya yang lupa bagaimana rasanya meminta satu liter beras.

Di bawah surat itu terdapat dokumen lain.

Abah mewariskan sebagian saham yayasannya kepadaku dengan satu syarat.

Aku harus ikut mengelolanya.

Aku menangis saat membaca kalimat terakhir.

Kekayaan paling berbahaya bukan yang diperoleh dari makhluk gaib, Den Fahmi. Kekayaan paling berbahaya adalah kekayaan yang membuat manusia kehilangan rasa sayang.

Aku akhirnya memahami seluruh perkataannya bertahun-tahun lalu.

Setiap malam Jumat Kliwon, katanya aku harus memberikan makan, bukan nasi dan bukan daging, tetapi rasa sayang yang ada di rumah.

Ternyata Abah sedang mengingatkanku tentang sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada cerita pesugihan.

Keserakahan.

Sejak hari itu, sebagian keuntungan perusahaan kami dialokasikan untuk program pangan dan pendidikan keluarga kurang mampu.

Lia ikut mengelola dapur sosial.

Dan ada satu kebiasaan kecil yang tidak pernah kami hilangkan.

Setiap bulan kami mengirim beras kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Bukan satu karung.

Kadang puluhan ton.

Suatu malam, setelah selesai membagikan paket pangan, Lia duduk di sampingku.

“Kang, masih ingat malam waktu kita pulang dari rumah Ibu?”

“Ingat.”

“Aku waktu itu takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu merasa gagal jadi suami.”

Aku tersenyum.

“Memang merasa gagal.”

Lia menggenggam tanganku.

“Padahal buat aku, malam itu justru pertama kalinya aku benar-benar yakin gak salah memilih suami.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kamu dihina, tapi kamu gak membalas. Kamu cuma mengajakku pulang.”

Aku tertawa kecil.

Lia menyandarkan kepala di bahuku.

Dari halaman rumah, terdengar suara anak-anak yayasan tertawa sambil membawa paket makanan.

Aku kemudian teringat motor butut, gerobak cilok, satu liter beras, perjalanan menuju rumah panggung Abah, dan tawaran mengerikan yang hampir membuatku kabur.

Aku memang banting setir dari tukang cilok.

Namun ternyata bukan menjadi pengusaha yang membuat hidupku benar-benar berubah.

Melainkan keputusan sederhana pada hari itu.

Ketika seseorang menawarkan seluruh kekayaan dunia dengan harga keluargaku, aku memilih pulang dengan tangan kosong.

Dan justru karena itulah, untuk pertama kalinya dalam hidup, tanganku kemudian dipercaya memegang begitu banyak hal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang