SEORANG IBU MENGANDUNG SEPULUH BAYI NAMUN DOKTER MENYADARI BAHWA SALAH SATU DARI MEREKA TERNYATA BUKAN BAYI. SEBUAH KEJUTAN YANG SANGAT BESAR

Kalimat dr. Arif membuat Rina seolah lupa cara bernapas.

Salah satu dari sepuluh yang selama ini kita kira sebagai bayi ternyata bukan bayi.

Dimas berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser dan menimbulkan suara keras.

Maksud Dokter apa? Kalau bukan bayi, lalu apa?

Dr. Arif tidak langsung menjawab. Ia menatap layar USG sekali lagi, kemudian meminta perawat memanggil dr. Maya Santoso, spesialis kedokteran fetomaternal yang sedang bertugas malam itu.

Rina memandangi wajah suaminya. Telapak tangannya dingin. Sejak awal kehamilan, ia sudah menghadapi begitu banyak hal yang tidak pernah ia bayangkan. Tetapi tidak ada satu pun yang mempersiapkannya untuk kalimat barusan.

Dok, tolong jangan membuat saya takut, katanya lirih.

Dr. Arif menarik kursi mendekat.

Bu Rina, selama ini pemeriksaan kita memang menunjukkan sepuluh struktur yang tampak seperti kantung kehamilan. Dalam kehamilan sebanyak ini, posisi janin saling bertumpuk dan ruang di dalam rahim sangat sempit. Karena itu, gambaran USG bisa menjadi sangat rumit.

Lalu ia menunjuk salah satu bagian layar.

Yang ini sejak beberapa minggu terakhir ukurannya berubah dengan pola yang tidak sesuai dengan pertumbuhan janin.

Dimas menelan ludah.

Tumor?

Kami belum bisa memastikan.

Satu kata itu membuat wajah Rina seketika pucat.

Beberapa menit kemudian dr. Maya datang. Pemeriksaan dilakukan kembali dengan peralatan yang lebih detail. Ruangan yang sebelumnya hanya diisi suara mesin kini terasa semakin menyesakkan.

Hampir empat puluh menit kemudian, dr. Maya mematikan layar.

Bu Rina, kami menemukan sembilan janin dengan aktivitas jantung yang dapat kami identifikasi. Struktur kesepuluh tampaknya merupakan massa abnormal yang berada sangat dekat dengan salah satu plasenta.

Rina menutup mulut dengan kedua tangannya.

Jadi anak saya sembilan?

Kemungkinan besar begitu.

Dan benda itu?

Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut. Tetapi yang paling penting sekarang adalah keselamatan Ibu dan kesembilan bayi.

Malam itu Rina langsung dirawat.

Keesokan paginya, serangkaian pemeriksaan dilakukan. Tim dokter dari beberapa bidang dikumpulkan karena kondisi Rina sangat langka dan berisiko tinggi.

Hasil pencitraan yang lebih rinci akhirnya menunjukkan bahwa massa tersebut bukan janin. Jaringan itu memiliki pembuluh darah sendiri dan selama berbulan bulan ikut membesar seiring kehamilan.

Namun ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.

Sebagian aliran darah menuju massa itu tampaknya berasal dari pembuluh yang juga menyuplai salah satu janin.

Artinya, jika massa tersebut terus membesar, bukan hanya Rina yang berada dalam bahaya. Salah satu bayinya juga dapat kehilangan suplai darah.

Dimas duduk di samping ranjang istrinya sambil menunduk.

Beberapa bulan lalu mereka bahkan tidak tahu apakah bisa memiliki seorang anak.

Sekarang mereka harus berjuang mempertahankan sembilan sekaligus.

Rina memandang perutnya yang sangat besar.

Aku bahkan sudah memberi mereka nama dalam kepalaku.

Dimas menggenggam tangannya.

Sembilan atau sepuluh, mereka tetap anak anak kita.

Air mata Rina jatuh.

Aku takut.

Aku juga.

Jawaban itu membuat Rina menoleh.

Selama ini Dimas selalu berusaha terlihat kuat. Untuk pertama kalinya, laki laki itu mengakui ketakutannya.

Dimas tersenyum tipis.

Tapi takut bukan berarti kita berhenti berjuang.

Selama beberapa hari berikutnya, kondisi Rina dipantau hampir tanpa henti.

Setiap denyut jantung janin diperiksa. Tekanan darahnya terus diukur. Tim dokter bahkan menyiapkan rencana persalinan darurat apabila salah satu indikator memburuk.

Lalu, pada malam keempat, hal yang mereka khawatirkan terjadi.

Rina terbangun sekitar pukul dua dini hari karena rasa sakit hebat di perut sebelah kanan.

Ia menekan tombol panggil.

Belum sempat perawat masuk, monitor di samping ranjang mulai berbunyi.

Rina panik.

Sus, ada apa?

Dua perawat berlari masuk. Salah satunya memeriksa monitor sementara yang lain segera menghubungi dokter.

Beberapa menit kemudian dr. Arif datang bersama tim medis.

Salah satu denyut jantung janin menurun.

Rina mulai menangis.

Tolong anak saya, Dok.

Bu Rina, dengarkan saya. Kami akan melakukan yang terbaik.

Dimas yang baru saja tertidur di kursi lorong dipanggil masuk.

Ia menemukan istrinya dikelilingi dokter dan perawat.

Apa yang terjadi?

Dr. Arif menjelaskan singkat.

Massa itu mengalami perubahan. Ada kemungkinan terjadi perdarahan internal dan salah satu bayi mulai mengalami tekanan.

Apakah harus dilahirkan sekarang?

Kami tidak punya banyak pilihan.

Dimas memandang Rina.

Wajah istrinya basah oleh air mata.

Aku belum siap, Mas.

Dimas mendekat dan mencium keningnya.

Mereka juga mungkin belum siap. Tapi sekarang kita harus memberi mereka kesempatan.

Operasi caesar darurat diputuskan.

Berita mengenai kondisi Rina sebelumnya sudah membuat rumah sakit menyiapkan tim neonatal khusus. Sembilan inkubator ditempatkan di unit perawatan intensif neonatal. Dokter anak, ahli anestesi, perawat neonatal, dan tim bedah sudah bersiaga.

Menjelang pukul tiga pagi, Rina dibawa ke ruang operasi.

Lampu putih di langit langit bergerak melewati pandangannya ketika ranjang didorong menyusuri koridor.

Untuk pertama kalinya sejak mengetahui dirinya hamil, Rina tidak memikirkan berapa banyak popok yang harus dibeli atau bagaimana mereka akan membesarkan sembilan anak.

Ia hanya memikirkan satu hal.

Tolong biarkan mereka hidup.

Operasi dimulai.

Dimas menunggu di luar dengan kedua tangan gemetar.

Lima belas menit terasa seperti satu jam.

Kemudian pintu ruang operasi terbuka sebentar.

Seorang perawat keluar.

Bayi pertama sudah lahir.

Dimas berdiri.

Bagaimana kondisinya?

Kecil, tapi bernapas.

Dimas menutup wajahnya dan menangis.

Beberapa menit kemudian terdengar tangisan tipis dari balik pintu.

Lalu tangisan lain.

Kemudian satu lagi.

Satu per satu bayi Rina dilahirkan.

Bayi pertama perempuan.

Kedua laki laki.

Ketiga perempuan.

Keempat laki laki.

Kelima perempuan.

Keenam perempuan.

Ketujuh laki laki.

Kedelapan perempuan.

Namun ketika bayi kesembilan hendak dilahirkan, suasana di ruang operasi berubah.

Denyut jantungnya turun drastis.

Cepat, kata dr. Arif.

Tim bekerja tanpa berhenti.

Beberapa detik kemudian, bayi kesembilan berhasil dikeluarkan.

Tetapi tidak ada tangisan.

Rina yang masih sadar mendengar keheningan itu.

Kenapa dia tidak menangis?

Tidak ada yang menjawab.

Dok, anak saya kenapa?

Tim neonatal membawa bayi itu ke meja resusitasi.

Rina berusaha mengangkat kepala, tetapi tubuhnya terlalu lemah.

Tolong selamatkan dia.

Satu menit berlalu.

Kemudian dua menit.

Rina mulai menangis.

Lalu terdengar suara kecil.

Sangat pelan.

Seperti anak kucing.

Tetapi itu tangisan.

Seluruh tubuh Rina melemas.

Dia menangis, Dok?

Dr. Arif menatapnya dari balik masker.

Iya, Bu. Dia berjuang.

Namun operasi belum selesai.

Massa yang selama ini dianggap sebagai bayi kesepuluh masih harus diangkat.

Ketika dokter melihatnya secara langsung, mereka kembali dibuat terkejut.

Massa tersebut menempel pada jaringan plasenta dan memiliki pembuluh darah yang sangat besar. Bentuknya tidak menyerupai janin sama sekali.

Tim bedah bekerja hati hati karena kesalahan kecil dapat menyebabkan perdarahan hebat.

Hampir satu jam kemudian, massa berhasil diangkat.

Tetapi sebelum luka operasi ditutup, salah satu dokter menemukan sesuatu.

Ada jaringan keras di dalam massa tersebut.

Sampel dikirim untuk pemeriksaan patologi.

Operasi akhirnya selesai menjelang subuh.

Rina dipindahkan ke ruang pemulihan, sementara kesembilan bayinya dibawa ke NICU.

Beberapa jam kemudian Dimas masuk.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

Bagaimana mereka?

Sembilan sembilannya masih hidup.

Rina menutup mata sambil menangis lega.

Aku mau melihat mereka.

Nanti kalau kondisimu sudah stabil.

Dimas memperlihatkan foto dari ponselnya.

Sembilan bayi kecil terbaring di inkubator masing masing dengan berbagai selang dan sensor menempel pada tubuh mereka.

Rina menyentuh layar.

Mereka kecil sekali.

Tapi keras kepala seperti ibunya.

Rina tertawa kecil di antara air mata.

Hari hari berikutnya menjadi perjuangan baru.

Tidak semua bayi berada dalam kondisi yang sama. Dua di antaranya membutuhkan bantuan pernapasan lebih lama. Bayi kesembilan yang sempat tidak menangis harus dipantau secara intensif.

Rina sendiri membutuhkan transfusi darah karena kehilangan cukup banyak darah selama operasi.

Namun setiap hari membawa kemajuan kecil.

Satu bayi mulai bernapas tanpa bantuan.

Kemudian bayi lainnya.

Berat badan mereka perlahan bertambah.

Dimas hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit.

Ia belajar mencuci tangan dengan prosedur NICU, mengganti popok bayi prematur, dan menyentuh anak anaknya melalui lubang kecil pada inkubator.

Tetangga serta keluarga yang sebelumnya mempersiapkan kebutuhan untuk sepuluh bayi kini tetap mengirim bantuan.

Sembilan bayi saja sudah membuat ruang tamu rumah Rina nantinya terlihat seperti tempat penitipan anak kecil.

Namun satu pertanyaan belum terjawab.

Apa sebenarnya benda yang selama delapan bulan dianggap sebagai bayi kesepuluh?

Seminggu setelah operasi, dr. Arif datang membawa hasil pemeriksaan patologi.

Rina langsung tegang.

Dokter duduk di hadapan mereka.

Saya punya kabar baik terlebih dahulu. Massa itu tidak menunjukkan keganasan.

Dimas mengembuskan napas lega.

Lalu benda itu apa?

Dokter membuka hasil pemeriksaan.

Itu adalah teratoma plasenta, sebuah pertumbuhan jaringan yang sangat jarang. Di dalamnya ditemukan beberapa jenis jaringan tubuh, termasuk jaringan tulang rawan, lemak, dan rambut.

Rina merinding.

Rambut?

Dokter mengangguk.

Karena struktur dan aliran darahnya, terutama pada pemeriksaan awal ketika posisi janin sangat padat, massa tersebut dapat memberikan gambaran yang membingungkan.

Jadi selama ini benda itu tumbuh bersama anak anak saya?

Ya.

Rina memandang Dimas.

Mereka terdiam cukup lama.

Tetapi dr. Arif belum selesai.

Ada satu hal lagi yang menurut kami menarik.

Dimas mengerutkan kening.

Apa?

Dokter tersenyum.

Hasil pemeriksaan jaringan dan evaluasi seluruh catatan kehamilan menunjukkan bahwa massa itu tidak pernah menjadi janin. Jadi secara medis, Ibu Rina sebenarnya tidak pernah mengandung sepuluh bayi.

Rina tertawa kecil.

Jadi saya mengandung sembilan bayi dan satu penyusup?

Untuk pertama kalinya sejak berminggu minggu, dr. Arif ikut tertawa.

Bisa dibilang begitu.

Tiga bulan kemudian, pintu rumah Rina dan Dimas akhirnya dipenuhi suara tangisan.

Sembilan bayi mereka berhasil pulang.

Tidak bersamaan, tetapi satu demi satu.

Rumah kecil itu berubah total.

Di ruang tengah terdapat beberapa tempat tidur bayi. Botol susu memenuhi rak dapur. Jadwal menyusui ditempel di lemari es. Kakak, adik, orang tua, bahkan dua tetangga dekat bergantian membantu.

Tidur empat jam tanpa terbangun terasa seperti kemewahan.

Suatu malam, setelah semua bayi akhirnya tertidur, Rina duduk di sofa bersama Dimas.

Dimas memandang sembilan tempat tidur kecil di depan mereka.

Dulu aku hampir pingsan waktu dokter bilang sepuluh.

Rina tersenyum.

Sekarang?

Sekarang sembilan saja rasanya mau pingsan setiap hari.

Rina tertawa sambil menyandarkan kepala di bahunya.

Kemudian salah satu bayi menangis.

Disusul bayi kedua.

Lalu bayi ketiga.

Dimas menutup mata.

Aku baru saja ngomong apa?

Rina berdiri sambil tertawa.

Ayo, Ayah sembilan anak. Giliranmu.

Beberapa tahun kemudian, foto sembilan bersaudara itu masih terpajang di ruang keluarga.

Di sebelahnya terdapat sebuah foto USG lama.

Foto yang pernah membuat semua orang percaya bahwa ada sepuluh kehidupan kecil di dalam rahim Rina.

Ketika anak anak mereka mulai cukup besar untuk bertanya mengapa ada sepuluh bentuk di foto itu, Rina selalu menjawab sambil tersenyum.

Karena sebelum kalian lahir, ada sesuatu yang ikut tinggal bersama kalian dan membuat Ayah hampir pingsan dua kali.

Anak anak biasanya tertawa.

Namun bagi Rina, foto itu menyimpan makna yang jauh lebih dalam.

Ia mengingatkannya bahwa selama berbulan bulan ia mengukur kebahagiaan dengan angka.

Satu bayi.

Kemudian sepuluh.

Lalu sembilan.

Pada akhirnya ia menyadari bahwa keluarga tidak pernah ditentukan oleh angka yang muncul di layar USG.

Keluarga dibentuk oleh siapa yang tetap menggenggam tangan kita ketika angka, diagnosis, dan rencana hidup berubah dalam satu malam.

Dan dari semua kejutan yang pernah datang dalam kehidupan Rina dan Dimas, ternyata yang terbesar bukanlah kenyataan bahwa bayi kesepuluh tidak pernah ada.

Melainkan bahwa sembilan anak yang nyaris tidak mereka bayangkan bisa selamat, satu demi satu tumbuh sehat dan memenuhi rumah mereka dengan suara yang dahulu begitu lama mereka tunggu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang