Pukul 01.43 dini hari, suara seorang anak perempuan berusia delapan tahun membuat operator layanan darurat 112 yang sedang bertugas malam itu seketika menegakkan tubuhnya.
“Bu… Ayah dan Ibu saya tidak bangun. Di rumah juga ada bau aneh.”
Suara itu kecil, gemetar, tetapi anehnya tidak disertai tangisan.
“Siapa namamu, Sayang?”
“Alya.”

“Sekarang kamu ada di mana?”
“Di depan kamar Ayah dan Ibu.”
Operator bernama Rina itu menahan napas. “Alya, dengarkan Ibu baik-baik. Jangan masuk ke kamar lagi. Turun ke bawah, buka pintu depan, lalu keluar dari rumah. Jangan bawa apa pun kecuali teleponmu.”
Alya terdiam beberapa detik.
“Boleh saya bawa boneka kelinci saya?”
Pertanyaan itu membuat dada Rina terasa sesak.
“Boleh. Ambil kalau ada di dekatmu. Setelah itu langsung keluar.”
Tujuh menit kemudian, sebuah mobil patroli berhenti di depan rumah dua lantai di pinggiran Kota Bandung.
Bripka Arif menjadi orang pertama yang melihat Alya.
Anak itu berdiri tanpa alas kaki di halaman, mengenakan piyama biru muda dan memeluk boneka kelinci putih yang sudah agak kusam. Matanya merah. Wajahnya pucat.
Namun ia tidak menangis.
“Ayah dan Ibumu di atas?” tanya Arif sambil berjongkok agar sejajar dengannya.
Alya mengangguk.
“Mereka tidak bergerak.”
Begitu mendekati pintu, Arif mencium bau yang membuat ekspresinya berubah.
Gas.
Ia segera menarik rekannya mundur dan meminta bantuan pemadam kebakaran serta ambulans.
Petugas yang kemudian memasuki rumah dengan perlengkapan pelindung menemukan pasangan suami istri, Bima dan Ratih, terbaring tidak sadarkan diri di kamar utama.
Napas keduanya sangat lemah.
Tidak ada luka, darah, atau tanda perkelahian.
Namun konsentrasi gas di lantai atas berada pada tingkat berbahaya.
Bima dan Ratih segera dievakuasi.
Ketika tandu yang membawa Ratih melewati halaman, Alya akhirnya bergerak. Ia berlari beberapa langkah sebelum dihentikan seorang petugas medis.
“Ibu!”
Tangannya terulur.
Ratih tidak merespons.
“Ibu akan sembuh, kan?”
Petugas medis itu tidak berani menjanjikan apa pun.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin.”
Ambulans melaju menuju rumah sakit.
Seharusnya malam itu berakhir sebagai kasus kebocoran gas rumah tangga.
Namun Arif merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Katup utama gas terbuka hampir penuh.
Ventilasi kamar Bima dan Ratih ditutup rapat dengan beberapa handuk.
Lebih aneh lagi, detektor gas di lorong ternyata tidak rusak karena usia.
Baterainya dilepas.
“Siapa yang melepas ini?” gumam Arif.
Rekannya menggeleng.
Penyelidikan dimulai sebelum matahari benar-benar terbit.
Alya dibawa ke kantor polisi untuk menunggu bibinya, Maya, yang sedang dalam perjalanan dari Cimahi. Selama menunggu, seorang polisi wanita menemani Alya.
Anak itu masih memeluk boneka kelincinya.
Ketika ditanya apa yang terjadi sebelum ia tidur, Alya mengatakan bahwa malam sebelumnya kedua orang tuanya sempat bertengkar.
“Bertengkar tentang apa?”
Alya menunduk.
“Uang.”
“Sering?”
Alya mengangguk pelan.
“Ayah akhir-akhir ini sering marah. Ada orang yang suka menelepon Ayah. Kadang malam-malam.”
“Orang siapa?”
“Saya tidak tahu. Tapi pernah ada orang datang ke rumah.”
Keterangan itu mengubah arah penyelidikan.
Polisi memeriksa ponsel Bima dan menemukan puluhan panggilan dari nomor tak dikenal selama tiga bulan terakhir.
Ada pula pesan-pesan ancaman.
Bayar sebelum Jumat.
Jangan kira keluargamu aman.
Kami tahu sekolah anakmu.
Utang Bima ternyata jauh lebih besar daripada yang diketahui Ratih.
Setahun sebelumnya, Bima kehilangan pekerjaannya sebagai manajer operasional sebuah perusahaan logistik. Ia tidak memberi tahu keluarga besarnya. Kepada Ratih, ia mengaku sedang mengambil cuti panjang sebelum pindah ke perusahaan lain.
Tabungan keluarga perlahan habis.
Bima kemudian mencoba menjalankan bisnis distribusi makanan beku bersama seorang teman lama bernama Dedi.
Bisnis itu gagal.
Modal pinjaman habis dalam lima bulan.
Bima mulai meminjam dari berbagai tempat untuk menutup cicilan sebelumnya.
Dari dua puluh juta menjadi lima puluh juta.
Kemudian seratus juta.
Pada akhirnya, total utangnya mendekati enam ratus juta rupiah.
Ratih baru mengetahui semuanya tiga minggu sebelum malam kejadian.
Pertengkaran mereka dimulai sejak saat itu.
Namun penyidik menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Di laptop Bima terdapat riwayat pencarian tentang keracunan karbon monoksida.
Cara kerja pemanas air gas.
Berapa lama seseorang kehilangan kesadaran akibat gas.
Apakah asuransi jiwa membayar kematian akibat kecelakaan rumah tangga.
Arif memandangi layar laptop itu cukup lama.
Semua bukti mengarah kepada Bima.
Seolah-olah seorang ayah yang terdesak utang memutuskan mengakhiri hidup bersama istrinya.
Namun ada satu masalah.
Alya.
Jika Bima memang merencanakan semuanya, mengapa putrinya dibiarkan tidur di kamar sebelah?
Jawabannya muncul dua hari kemudian.
Ratih sadar lebih dahulu.
Begitu membuka mata di ruang perawatan intensif, kata pertama yang keluar dari bibirnya adalah nama putrinya.
“Alya…”
Perawat segera memberi tahu bahwa Alya selamat dan berada bersama Maya.
Ratih menangis.
Beberapa jam kemudian, ketika kondisinya cukup stabil, polisi meminta keterangan singkat.
Arif duduk di samping tempat tidurnya.
“Bu Ratih, kami perlu mengetahui apa yang terjadi malam itu.”
Ratih terlihat bingung.
“Saya tidur.”
“Apakah Ibu menutup ventilasi kamar dengan handuk?”
“Tidak.”
“Suami Ibu?”
Ratih menatap Arif.
“Saya tidak tahu.”
“Apakah Ibu tahu suami Ibu memiliki utang hampir enam ratus juta?”
Air mata Ratih mulai mengalir.
“Saya baru tahu beberapa minggu lalu.”
Kemudian Ratih mengatakan sesuatu yang tidak terdapat dalam bukti digital mana pun.
Malam sebelum kejadian, Bima menerima telepon.
Setelah itu wajahnya pucat.
Ia mengatakan kepada Ratih bahwa semuanya akan selesai malam itu.
Ratih mengira Bima bermaksud menjual mobil mereka untuk membayar sebagian utang.
Sekitar pukul sebelas malam, Ratih tidur karena kelelahan.
“Apakah suami Ibu pernah berbicara tentang bunuh diri?”
“Tidak.”
“Apakah dia pernah mengatakan lebih baik kalian mati bersama?”
Ratih langsung menggeleng.
“Bima memang putus asa, Pak. Tapi dia sangat menyayangi Alya.”
Keesokan paginya, Bima sadar.
Keterangannya membuat kasus itu semakin membingungkan.
Ia mengaku tidak membuka katup gas.
Ia juga tidak menutup ventilasi.
Namun ia mengakui riwayat pencarian di laptop memang miliknya.
“Saya pernah berpikir untuk mati,” katanya dengan suara lemah.
Arif diam.
“Tapi saya tidak pernah berniat membawa istri atau anak saya.”
“Lalu kenapa mencari informasi tentang asuransi?”
Bima menutup wajahnya.
“Karena saya pikir kalau kematian saya terlihat seperti kecelakaan, Ratih dan Alya akan mendapatkan uang asuransi.”
Ia menangis.
“Tapi saya tidak jadi melakukannya.”
Penyidik belum sepenuhnya percaya.
Sampai rekaman kamera keamanan milik tetangga diperiksa.
Pukul 00.17, sekitar satu setengah jam sebelum Alya menelepon polisi, sebuah sepeda motor berhenti dua rumah dari kediaman Bima.
Seorang pria mengenakan jaket gelap turun dan berjalan menuju rumah.
Kamera tidak menangkap wajahnya dengan jelas.
Namun pada pukul 00.46, pria itu terlihat pergi.
Tidak ada tanda pintu depan dibobol.
Berarti orang tersebut masuk menggunakan akses yang tersedia.
Ketika Alya diperlihatkan potongan gambar pria itu tanpa memberikan identitas, anak tersebut berkata pelan,
“Itu Om Dedi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dedi adalah rekan bisnis Bima.
Pria yang selama ini disebut sebagai orang yang sama-sama kehilangan uang.
Polisi bergerak cepat.
Dedi ditangkap dua hari kemudian di sebuah apartemen sewaan di Jakarta Selatan.
Dari ponselnya, ditemukan percakapan dengan beberapa penagih utang ilegal.
Namun motif sebenarnya baru terungkap setelah polisi menemukan dokumen keuangan perusahaan lama mereka.
Ternyata sebagian besar uang pinjaman Bima tidak pernah benar-benar digunakan untuk bisnis.
Dedi telah mengalihkan ratusan juta rupiah ke rekening lain.
Ketika bisnis runtuh, semua pinjaman tercatat atas nama Bima.
Bima menjadi orang yang dikejar.
Sementara Dedi mencoba menghilang.
Masalah muncul ketika Bima mengetahui transaksi tersebut dan mengancam akan melapor ke polisi.
Malam itu Dedi datang dengan alasan ingin membicarakan penyelesaian utang.
Bima membukakan pintu.
Mereka berbicara di dapur.
Dedi menawarkan kesepakatan.
Bima harus menandatangani surat yang menyatakan seluruh kerugian merupakan tanggung jawabnya.
Bima menolak.
Pertengkaran terjadi.
Namun Dedi tidak menyerangnya secara langsung.
Ia pergi.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Bima.
Sebelum meninggalkan rumah, Dedi ternyata membuka katup gas dan memanfaatkan pemanas air yang sudah bermasalah untuk mempercepat penumpukan gas.
Ia juga menutup ventilasi kamar.
Baterai detektor gas dilepas.
Dedi tahu riwayat pencarian Bima karena beberapa minggu sebelumnya Bima pernah meminjamkan laptop kepadanya untuk mengakses dokumen bisnis.
Jika Bima dan Ratih meninggal, polisi hampir pasti akan menyimpulkan bahwa Bima melakukan bunuh diri karena terlilit utang.
Sebuah rencana yang nyaris sempurna.
Hanya ada satu hal yang tidak diperhitungkan Dedi.
Seorang anak berusia delapan tahun yang terbangun karena boneka kelincinya jatuh dari tempat tidur.
Saat Alya bangun untuk mengambil boneka itu, ia merasa kepalanya pusing.
Ia kemudian mendengar bunyi seperti desisan dari lantai bawah.
Alya berjalan ke kamar orang tuanya.
Ia mencoba membangunkan ibunya.
Tidak ada respons.
Ayahnya juga tidak bergerak.
Alya teringat sesuatu yang diajarkan gurunya di sekolah hanya dua bulan sebelumnya.
Jika ada keadaan darurat dan orang dewasa tidak bisa membantu, telepon 112.
Itulah yang ia lakukan.
Satu panggilan sederhana menyelamatkan dua nyawa dan menghancurkan sebuah rencana kejahatan.
Beberapa minggu kemudian, Bima dan Ratih akhirnya diperbolehkan pulang.
Namun rumah lama mereka tidak lagi terasa seperti rumah.
Mereka pindah sementara ke tempat Maya.
Bima harus menghadapi persoalan utangnya, proses hukum, serta rasa bersalah karena selama berbulan-bulan menyembunyikan semuanya dari keluarganya.
Suatu malam ia duduk bersama Alya di balkon.
“Ayah minta maaf.”
Alya yang sedang menggambar menoleh.
“Kenapa?”
“Karena Ayah membuat semuanya jadi sulit.”
Alya terdiam beberapa saat.
“Guru saya bilang kalau takut, kita harus cerita sama orang yang bisa membantu.”
Kalimat sederhana itu menghantam Bima lebih keras daripada semua pemeriksaan polisi.
Ia memeluk putrinya.
“Iya. Ayah seharusnya melakukan itu dari awal.”
Beberapa bulan kemudian, Dedi menjalani proses hukum atas percobaan pembunuhan, manipulasi keuangan, dan keterlibatannya dengan jaringan penagihan ilegal.
Bima bekerja sama dengan penyidik untuk membongkar aliran dana perusahaan mereka.
Sebagian utangnya berhasil dibuktikan berkaitan dengan transaksi yang dimanipulasi Dedi, meski Bima tetap harus bertanggung jawab atas keputusan-keputusan finansial yang memang dibuatnya sendiri.
Keluarga itu tidak kembali menjadi seperti sebelumnya.
Mereka justru berubah.
Ratih mulai mengambil alih pengelolaan keuangan keluarga secara terbuka.
Bima menerima pekerjaan baru dengan gaji lebih kecil dan menjalani konseling untuk mengatasi tekanan yang selama ini ia sembunyikan.
Dan Alya kembali ke sekolah.
Suatu pagi, beberapa bulan setelah kejadian, gurunya meminta seluruh murid menulis tentang orang paling berani yang mereka kenal.
Anak-anak lain menulis tentang polisi, tentara, dokter, atau tokoh pahlawan.
Alya hanya menulis beberapa kalimat.
Ketika gurunya membaca tulisan itu, ia terdiam.
Orang paling berani yang saya kenal adalah orang yang mau bilang kalau dia takut.
Dulu saya pikir Ayah saya tidak pernah takut.
Ternyata Ayah takut sekali sampai tidak berani cerita kepada siapa pun.
Malam itu saya juga takut.
Tapi saya menelepon seseorang.
Sekarang Ayah bilang kalau dia takut lagi, dia juga akan menelepon seseorang.
Di bagian bawah kertas, Alya menggambar sebuah rumah kecil.
Di depannya berdiri tiga orang bergandengan tangan.
Dan di samping mereka ada seekor kelinci bertelinga panjang.
Ketika Bima membaca tulisan itu di rumah, ia menangis.
Bukan karena malu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Alya menghampirinya dan memeluk lengannya.
“Ayah takut lagi?”
Bima tersenyum di antara air matanya.
“Sedikit.”
“Tidak apa-apa.”
Alya kemudian mengatakan kalimat yang tak pernah dilupakan Bima sepanjang hidupnya.
“Kalau begitu jangan diam.”
Malam ketika Alya menelepon 112 memang hampir merenggut keluarganya.
Namun pada akhirnya, yang menyelamatkan mereka bukan hanya ambulans, polisi, atau keberuntungan.
Melainkan keberanian seorang anak kecil untuk meminta pertolongan ketika orang-orang dewasa di sekelilingnya terlalu lama memilih memendam ketakutan sendirian.
