“Kenapa nama ayahku ada di akta kelahiran Andi?”
Suara itu keluar dari mulutku seperti bisikan, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan mendadak terasa sunyi.
Andi tidak bergerak.
Ibu Siti yang tadi masih tersenyum penuh kemenangan kini kehilangan warna di wajahnya. Matanya bergerak cepat dari akta di tanganku ke wajah Andi.
“Kasih sini kertasnya,” katanya.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku.”
“Maya, dengarkan dulu,” ujar Andi.
“Dengar apa?”

Aku menatap laki-laki yang sudah empat tahun kupanggil suami itu. “Bahwa namamu ternyata ada di akta kelahiran bersama nama ayahku? Bahwa ibumu sengaja menyuruhmu mendekatiku? Atau bahwa kalian ingin mengambil tanah warisan ayahku?”
Andi membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar.
Untuk pertama kalinya, diamnya tidak lagi terlihat seperti kelemahan.
Diamnya tampak seperti pengakuan.
Aku menunduk kembali membaca akta itu. Tanggal lahir Andi terpaut enam tahun dariku. Nama ibunya benar, Siti Rahayu. Namun nama ayah yang tercantum adalah Santoso Wirawan.
Ayahku.
Kepalaku terasa berputar.
Kalau akta ini benar, berarti Andi adalah anak ayahku.
Berarti laki-laki yang kunikahi adalah…
Aku hampir muntah.
“Tidak,” kata Andi tiba-tiba. “Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku mengangkat kepala.
“Lalu seperti apa?”
Ibu Siti menerjang maju hendak merebut kertas itu, tetapi aku menghindar.
“Dokumen itu palsu!” bentaknya. “Ayahmu yang membuatnya!”
“Kenapa ayahku harus membuat akta kelahiran palsu atas nama anakmu?”
Ibu Siti terdiam.
Dari bawah terdengar suara musik dan tawa para tamu. Tidak seorang pun tahu bahwa beberapa meter di atas mereka, sebuah rahasia puluhan tahun sedang pecah.
Andi menutup pintu ruang penyimpanan.
“Tolong beri aku waktu menjelaskan.”
“Sekarang.”
Ia mengusap wajahnya.
“Aku baru tahu sebagian cerita ini dua tahun setelah kita menikah.”
Aku tertawa pendek, pahit.
“Dua tahun? Berarti dua tahun terakhir kamu tidur di sampingku sambil tahu semua ini?”
“Aku tidak tahu apakah akta itu asli.”
“Tapi kamu tahu ibumu mengincar tanahku.”
Andi terdiam lagi.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku benar-benar patah.
Bukan cinta.
Mungkin harga diriku.
Aku memasukkan akta itu ke balik bajuku, lalu meraih beberapa dokumen lain yang tercecer di lantai.
“Minggir.”
“Maya.”
“Minggir!”
Aku berteriak begitu keras hingga musik di bawah terasa berhenti sesaat.
Andi akhirnya membuka jalan.
Aku keluar dari ruangan, menuruni tangga, lalu berjalan melewati ruang tengah yang penuh tamu.
Semua kepala menoleh kepadaku.
Ibu Siti menyusul dari belakang.
“Maya! Kamu mau ke mana?”
Aku berhenti di tengah ruang tamu.
Di meja panjang terdapat semua makanan yang sejak pagi kumasak sendiri. Rendang yang kupotong dagingnya. Sambal goreng yang kubumbui. Ayam yang kugoreng satu per satu.
Orang-orang yang memakannya tadi tertawa saat melihatku duduk di dekat kandang anjing.
Aku menatap mereka.
“Tadi Ibu bilang makanan itu bukan untuk saya, kan?”
Wajah Ibu Siti menegang.
“Apa maksudmu?”
Aku mengambil satu piring kosong dari meja.
“Tidak ada.”
Kutaruh piring itu kembali.
“Saya cuma baru sadar, selama ini bukan saya yang tidak punya apa-apa.”
Aku menatap Andi yang berdiri di tangga.
“Saya hanya tinggal di tempat yang membuat saya percaya bahwa saya tidak punya apa-apa.”
Aku berjalan keluar.
Pak Joko masih berada dekat pos keamanan ketika aku melewati gerbang.
“Maya?”
“Pak, pengacara yang datang kemarin. Bapak punya nomor atau tahu namanya?”
Pak Joko tampak ragu, lalu merogoh sakunya.
“Dia kasih kartu nama ke saya kalau kamu pulang.”
Ia menyerahkan sebuah kartu kecil.
Nama yang tercetak di sana adalah Adrian Mahendra, S.H.
Aku menelepon nomor itu dengan tangan gemetar.
Pria di seberang hanya membutuhkan waktu beberapa detik setelah mendengar namaku.
“Ibu Maya Santoso?”
“Iya.”
“Saya sudah mencari Anda hampir tiga minggu.”
Aku menoleh ke rumah Andi.
Ibu Siti berdiri di balik pagar, memperhatikanku.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan tanah ayah saya?”
Adrian menarik napas.
“Lebih baik kita bertemu. Dan jangan menandatangani dokumen apa pun yang diberikan keluarga suami Anda.”
Dua jam kemudian aku duduk di sebuah kedai kopi di kawasan Cibubur bersama Adrian.
Aku masih mengenakan pakaian yang sama. Bahkan bau kandang anjing rasanya masih menempel di bajuku.
Adrian meletakkan sebuah map tebal di meja.
“Tanah ayah Anda bukan tanah biasa.”
Aku mengernyit.
“Nilainya memang naik?”
“Bukan cuma itu.”
Ia mengeluarkan peta.
Tanah seluas hampir dua hektare di pinggiran Bogor itu ternyata berbatasan langsung dengan lahan yang sedang dipersiapkan untuk proyek kawasan komersial besar. Sebuah perusahaan properti telah berusaha membelinya selama tiga tahun.
Nilai penawaran terakhir mencapai puluhan miliar rupiah.
Aku menatap angka di dokumen hingga beberapa kali.
“Ini tidak mungkin.”
“Yang lebih penting bukan nilainya.”
Adrian membuka dokumen berikutnya.
“Tiga bulan sebelum meninggal, ayah Anda membuat surat wasiat tambahan. Tanah itu diwariskan sepenuhnya kepada Anda.”
“Lalu kenapa keluarga Andi bisa menguasai sertifikatnya?”
“Karena seseorang membawa surat kuasa.”
Ia menggeser fotokopi surat kepadaku.
Tanda tangan di bagian bawah menyerupai tanda tanganku.
Tapi bukan milikku.
“Dipalsukan?”
“Kami menduga begitu.”
Aku langsung teringat beberapa bulan sebelumnya ketika Andi menyuruhku menandatangani beberapa lembar kosong dengan alasan untuk administrasi BPJS dan bank.
Perutku terasa dingin.
“Pak Adrian, ada satu hal lagi.”
Aku mengeluarkan akta kelahiran Andi.
Begitu melihatnya, ekspresi Adrian berubah.
“Dari mana Anda mendapatkan ini?”
“Di rumah suami saya.”
Ia membaca dengan teliti.
“Nama ayahnya ayah saya.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Kemudian ia membuka mapnya lagi.
“Ada sesuatu yang seharusnya saya tunjukkan kepada Anda setelah identitas Anda diverifikasi.”
Ia menyerahkan sebuah surat yang sudah menguning.
Tulisan tangan ayahku memenuhi halaman.
Maya, mungkin suatu hari orang akan membuatmu membenci ayah karena rahasia yang kusimpan. Tetapi ada hal yang harus kamu tahu. Siti pernah bekerja di perusahaan keluarga kita. Saat itu ia mengandung anak dari lelaki bernama Darmawan Pratama. Darmawan meninggalkannya sebelum anak itu lahir. Karena anak tersebut tidak dapat dibuatkan dokumen tertentu tanpa pengakuan ayah, aku membantu sebagai penjamin dan namaku dimasukkan sementara agar anak itu memperoleh identitas.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Andi bukan anak kandung ayahku.
Aku hampir kehilangan tenaga karena lega.
Namun surat itu belum selesai.
Beberapa tahun kemudian, aku mengetahui Siti menggunakan dokumen tersebut untuk mengklaim bahwa anaknya adalah ahli warisku. Ketika aku menolak, ia bersumpah suatu hari akan memperoleh bagian dari hartaku melalui anaknya.
Tanganku membeku.
Di bagian akhir tertulis sebuah kalimat.
Jika Andi kelak mendekati Maya, jangan salahkan anak itu sebelum mengetahui apakah dia datang karena kehendaknya sendiri atau karena ibunya.
Aku menutup mata.
Jadi Andi tidak sedarah denganku.
Tetapi pernikahan kami tetap diawali sebuah rencana.
Saat itu ponselku bergetar.
Andi menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Ia menelepon lagi.
Kemudian pesan masuk.
Maya, jangan pulang ke rumah. Ibu tahu kamu menemui pengacara. Dia sedang mencari sertifikat asli.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Pesan berikutnya muncul.
Sertifikat asli bukan di rumah. Aku yang menyembunyikannya.
Aku langsung menelepon.
“Andi, sertifikatnya di mana?”
Suara napasnya terdengar berat.
“Di kotak penyimpanan bank.”
“Kenapa?”
“Karena dua bulan lalu Ibu menyuruhku membawa sertifikat itu ke notaris untuk proses jual beli. Aku mulai curiga.”
“Kamu baru curiga setelah empat tahun melihat bagaimana dia memperlakukanku?”
Ia diam.
“Aku pengecut, Maya.”
Untuk pertama kalinya ia mengatakannya tanpa alasan.
“Aku selalu berpikir kalau aku diam, semuanya akan aman. Tapi setiap kali aku diam, kamu yang harus membayar harganya.”
Aku menggenggam telepon.
“Kenapa kamu menikah denganku?”
Jawabannya lama sekali.
“Awalnya karena Ibu.”
Hatiku jatuh.
“Tapi aku bahkan belum mengenalmu saat Ibu menunjukkan fotomu. Dia bilang ayahmu pernah menghancurkan hidup kami dan tanahmu adalah satu-satunya cara mendapatkan keadilan.”
“Dan kamu percaya?”
“Awalnya.”
“Lalu?”
“Aku jatuh cinta padamu.”
Aku tertawa getir.
“Cinta tidak membuat seseorang makan di samping kandang anjing, Andi.”
Tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara ia menangis pelan.
Malam itu aku tidak kembali ke rumah.
Aku menginap di rumah sahabat lama.
Keesokan paginya, Adrian membawaku ke bank. Dengan pendampingan hukum dan setelah identitas diverifikasi, kami mengetahui Andi memang menyimpan sertifikat asli di safe deposit box.
Namun saat keluar dari bank, tiga mobil berhenti di depan.
Ibu Siti turun bersama Tika dan dua orang pria.
“Kembalikan sertifikat itu!”
Orang-orang mulai memperhatikan.
Ibu Siti berjalan cepat ke arahku.
“Tanpa keluarga kami, kamu bukan siapa-siapa!”
Aku berdiri diam.
Untuk pertama kalinya aku tidak merasa takut kepadanya.
“Keluarga?”
Aku menatapnya.
“Sejak kapan keluarga memberi makan seseorang dari kaleng bekas di samping kandang anjing?”
Wajahnya memerah.
“Itu karena kamu tidak tahu diri!”
“Tidak.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Karena selama ini Ibu pikir saya tidak akan pernah berani bicara.”
Ternyata Pak Joko telah mengirim rekaman CCTV dari area belakang rumah. Kamera keamanan menangkap Ibu Siti membawa makanan dan menyuruhku duduk di dekat kandang. Rekaman itu juga menunjukkan Tika merekamku sambil tertawa.
Lebih penting lagi, Adrian sudah melaporkan dugaan pemalsuan surat kuasa dan percobaan pengalihan aset.
Ibu Siti menatap Andi yang tiba-tiba muncul dari mobil lain.
“Andi! Ambil sertifikat itu!”
Andi tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya, ia berdiri di sisiku.
“Cukup, Bu.”
Ibu Siti seperti tidak percaya.
“Kamu memilih perempuan itu?”
Andi memandang ibunya dengan mata merah.
“Tidak.”
Ia menoleh kepadaku.
“Saya akhirnya memilih berhenti menjadi anak yang membiarkan ibunya menghancurkan orang lain.”
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan dimulai.
Surat pelepasan hak terbukti belum pernah kutandatangani. Tanda tangan pada surat kuasa dinyatakan tidak sesuai dengan tanda tanganku. Semua proses penjualan tanah dihentikan.
Aku menggugat pembatalan beberapa dokumen dan mengajukan gugatan cerai.
Andi tidak menolak.
Pada hari sidang pertama, ia menemuiku di lorong pengadilan.
“Aku mengembalikan seluruh uang yang pernah Ibu ambil dari hasil warung atas namamu.”
Aku mengangguk.
“Makasih.”
“Maya.”
Aku berhenti.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Aku percaya.”
Wajahnya tampak terkejut.
“Tapi mencintai seseorang tidak selalu berarti kita pantas tetap berada dalam hidupnya.”
Aku pergi.
Enam bulan kemudian, tanah ayahku tidak kujual seluruhnya.
Sebagian memang kulepas kepada pengembang. Dengan uang itu aku membeli rumah kecil, membuka usaha katering, dan membangun dapur komunitas di Bogor.
Pada hari pembukaannya, Pak Joko datang bersama istrinya.
Adrian juga hadir.
Di depan dapur terdapat sebuah papan sederhana.
Tidak ada nama ayahku.
Tidak ada namaku.
Hanya sebuah kalimat.
Tidak seorang pun pantas merasa hina hanya karena sedang tidak punya tempat untuk pulang.
Sore itu seorang kurir datang membawa sebuah kotak.
Pengirimnya Andi.
Di dalamnya ada kaleng sarden tua yang pernah kugunakan untuk makan di belakang rumah.
Kaleng itu sudah dicuci bersih.
Di dalamnya tersimpan secarik kertas.
Aku menemukan ini di belakang pot setelah kamu pergi. Aku menyimpannya karena setiap kali melihatnya, aku ingat hari ketika aku gagal menjadi suamimu. Aku tidak meminta maaf supaya kamu kembali. Aku hanya ingin suatu hari nanti, kalau kamu melihat benda ini, kamu tidak lagi mengingat perempuan yang dipermalukan di samping kandang anjing. Ingatlah perempuan yang akhirnya berdiri dan pergi.
Aku memegang kaleng itu lama.
Kemudian aku berjalan ke dapur.
Aku tidak membuangnya.
Aku menaruhnya di rak paling atas.
Bukan sebagai kenangan tentang penghinaan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa hidupku pernah dipersempit menjadi satu kaleng nasi dingin, sebuah kandang anjing, dan keluarga yang terus mengatakan bahwa aku tidak memiliki apa-apa.
Padahal ternyata yang hilang dariku bukanlah harta.
Aku hanya terlalu lama menyerahkan hak kepada orang lain untuk menentukan harga diriku.
Dan hari ketika aku mengambilnya kembali bukanlah saat aku menemukan sertifikat bernilai puluhan miliar.
Melainkan saat aku akhirnya berani meninggalkan rumah itu tanpa meminta izin siapa pun.
