SAYA MENAHAN PENGHINAAN ANAK DAN MENANTU DI RUMAH SENDIRI—TAPI SAAT DIA SENGAJA MENGINJAK TANGAN SAYA, SAYA AMBIL WAJAN BESI DAN MENGHANCURKAN MOBIL MEWAH KESAYANGANNYA!

Bu Aminah melangkah perlahan menuju kompor. Tangannya yang baru saja diinjak Reza masih gemetar dan mulai membengkak. Beberapa jarinya memerah, tetapi rasa sakit itu seperti sudah tidak mampu menembus kemarahan yang memenuhi dadanya.

Di atas kompor tergantung sebuah wajan besi tua.

Wajan itu sudah ada sejak suaminya masih hidup. Berat, hitam, dan tebal. Bu Aminah meraih gagangnya dengan tangan kiri.

Reza mengerutkan kening.

“Memangnya Ibu mau apa?”

Bu Aminah tidak menjawab.

Citra malah tertawa.

“Paling mau masak. Memangnya dia berani apa?”

Bu Aminah berjalan melewati mereka.

Tanpa sepatah kata.

Dia membuka pintu belakang yang terhubung ke garasi.

Hujan masih turun deras. Air mengalir dari atap dan membasahi lantai halaman.

Di bawah kanopi garasi terparkir sebuah sedan mewah berwarna hitam mengilap milik Citra. Mobil yang selama berbulan-bulan selalu dibanggakan perempuan itu kepada teman-temannya.

Citra bahkan pernah melarang Bu Aminah menyentuh mobil tersebut karena takut meninggalkan bekas sidik jari.

Bu Aminah berhenti tepat di depannya.

Citra yang mengikuti dari belakang mendadak pucat.

“Bu?”

Bu Aminah mengangkat wajan.

BRAK!

Wajan besi menghantam kap depan mobil.

Citra menjerit.

“IBU GILA?!”

Bu Aminah mengangkatnya sekali lagi.

BRAK!

Lampu depan sebelah kanan pecah.

Reza berlari keluar.

“Ibu! Berhenti!”

Namun untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, suara anaknya tidak membuat Bu Aminah menurut.

BRAK!

Kaca spion terlepas dan jatuh ke lantai.

“ITU MOBIL CITRA!”

Bu Aminah berhenti.

Tubuhnya basah terkena tempias hujan. Napasnya terengah-engah.

Dia menatap Reza.

“Dan ini rumah Ibu.”

Reza membeku.

Bu Aminah menunjuk ke dalam rumah menggunakan wajan.

“Listrik yang kalian pakai setiap hari, Ibu yang bayar. Makanan yang kalian makan, Ibu yang beli. Kamar yang kalian tempati, milik Ibu. Bahkan garasi tempat mobil ini berdiri adalah milik Ibu.”

Citra berteriak histeris.

“Mobil itu harganya hampir satu miliar!”

Bu Aminah tersenyum tipis.

“Bagus.”

Citra terdiam.

“Berarti sekarang kamu tahu bagaimana rasanya melihat sesuatu yang kamu sayangi dirusak di depan mata.”

Bu Aminah mengangkat tangan kanannya yang membengkak.

“Karena anak yang Ibu sayangi selama puluhan tahun juga baru saja menghancurkan sesuatu di dalam diri Ibu.”

Reza kehilangan kesabaran.

Dia merampas wajan dari tangan ibunya lalu melemparkannya ke lantai.

“Cukup!”

Suara logam beradu dengan lantai terdengar keras.

“Kami tinggal di sini karena Ibu sendiri yang mengizinkan!”

“Benar.”

“Jadi jangan sekarang bertingkah seolah kami penjajah!”

Bu Aminah menatapnya lama.

Kemudian dia mengangguk.

“Kamu benar.”

Reza sedikit terkejut.

“Ibu memang mengizinkan kalian tinggal di sini.”

Bu Aminah berjalan kembali menuju dapur.

“Tapi mulai malam ini, izin itu Ibu cabut.”

Citra tertawa sinis.

“Mau mengusir kami?”

“Iya.”

“Rumah ini juga akan jadi milik Reza suatu hari nanti. Dia anak tunggal!”

Langkah Bu Aminah berhenti.

Dia menoleh.

“Siapa bilang?”

Untuk pertama kalinya, senyum Citra menghilang.

Malam itu mereka mengira kemarahan Bu Aminah hanya ledakan sesaat.

Reza bahkan mengatakan kepada istrinya agar tidak khawatir.

“Besok juga Ibu pasti minta maaf.”

Selama ini memang selalu begitu.

Setiap pertengkaran berakhir dengan Bu Aminah yang mengalah.

Namun keesokan paginya, pukul delapan tepat, bel rumah berbunyi.

Seorang pria berkemeja putih berdiri di depan pintu membawa tas dokumen.

Namanya Pak Harun, notaris keluarga yang dulu membantu almarhum suami Bu Aminah mengurus surat rumah.

Bu Aminah sudah menunggunya di ruang tamu.

Reza turun dari lantai dua dan melihat beberapa dokumen terbuka di meja.

“Ada apa ini?”

Bu Aminah tidak menjawab.

Pak Harun justru berkata dengan sopan, “Kami sedang mengurus perubahan beberapa dokumen aset milik Ibu Aminah.”

Citra langsung turun menyusul.

“Perubahan apa?”

Pak Harun memandang Bu Aminah terlebih dahulu, meminta izin.

Bu Aminah mengangguk.

“Rumah ini tetap sepenuhnya atas nama Ibu Aminah. Tidak pernah dialihkan kepada siapa pun.”

Reza tertawa kecil.

“Ya memang. Saya anaknya. Nanti juga diwariskan kepada saya.”

Pak Harun tidak ikut tertawa.

“Itu keputusan pemilik aset.”

Wajah Reza berubah.

Bu Aminah kemudian mengeluarkan sebuah map.

“Ibu mau jual rumah ini.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Apa?”

“Ibu sudah bicara dengan agen properti pagi tadi.”

Reza berdiri.

“Ibu tidak bisa seenaknya menjual rumah keluarga!”

“Kenapa tidak?”

“Ini rumah Ayah!”

“Dan ayahmu meninggalkannya atas nama Ibu.”

Reza membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Citra mendekati meja.

“Kalau rumah dijual, kami tinggal di mana?”

Bu Aminah menatapnya.

“Itu bukan urusan saya.”

Kata saya membuat Reza tersentak.

Ibunya tidak lagi menyebut dirinya Ibu.

Seolah ada jarak yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka.

Citra mulai panik.

“Mobil saya bagaimana? Ibu harus ganti rugi!”

“Silakan.”

Bu Aminah menunjuk ponselnya.

“Laporkan ke polisi.”

Citra tidak menyangka jawaban itu.

“Kalau kamu melapor, saya juga akan melaporkan penganiayaan yang dilakukan Reza kemarin. Kamera dapur merekam semuanya.”

Wajah Reza langsung pucat.

Dia lupa.

Beberapa tahun lalu, mereka memasang kamera keamanan di beberapa bagian rumah setelah pernah terjadi percobaan pencurian.

Termasuk dapur.

“Reza sengaja menginjak tangan saya. Rekamannya jelas.”

Bu Aminah mengangkat tangannya yang kini dibalut perban setelah diperiksa di klinik pagi tadi.

“Dokter juga sudah membuat laporan pemeriksaan.”

Citra perlahan mundur.

Untuk pertama kalinya, mereka sadar perempuan tua yang selama ini mereka anggap lemah sebenarnya hanya memilih untuk mengalah.

Dan sekarang dia berhenti memilih itu.

Tiga hari berikutnya menjadi hari paling kacau dalam kehidupan Reza dan Citra.

Bu Aminah memutus seluruh fasilitas yang selama ini dia bayarkan untuk mereka.

Kartu tambahan yang digunakan Reza untuk kebutuhan rumah dinonaktifkan.

Langganan internet premium yang dipakai Citra dihentikan.

Pembantu harian yang selama ini dibayar Bu Aminah diberi libur.

Semua kebutuhan pribadi mereka harus dibayar sendiri.

Barulah Bu Aminah menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Reza ternyata tidak sesukses yang selama ini dia ceritakan.

Suatu sore, seorang pria datang mencari Reza.

Bu Aminah membuka pintu.

“Pak Reza ada?”

“Belum pulang.”

Pria itu terlihat ragu.

“Kalau begitu, tolong sampaikan cicilan mobil istrinya sudah menunggak tiga bulan.”

Bu Aminah terdiam.

“Mobil hitam itu?”

“Iya.”

Ternyata sedan mewah yang selama ini dibanggakan Citra belum lunas.

Lebih buruk lagi, uang muka mobil tersebut berasal dari uang yang pernah dipinjam Reza dari Bu Aminah dengan alasan untuk investasi kantor.

Malam itu Bu Aminah menunggu anaknya pulang.

Begitu Reza masuk, sebuah bukti transfer sudah tergeletak di meja.

“Tiga ratus juta.”

Reza berhenti.

“Uang yang kamu bilang untuk investasi.”

Tidak ada jawaban.

“Ternyata untuk mobil Citra?”

Reza menghela napas.

“Bu, dengarkan dulu.”

“Berapa banyak kebohongan lagi?”

Citra turun dari tangga.

“Memangnya kenapa kalau uangnya dipakai untuk mobil? Reza juga akan mewarisi semuanya nanti.”

Bu Aminah menatap perempuan itu.

Akhirnya dia mengerti.

Selama ini bukan hanya Citra yang menganggapnya sebagai sumber uang.

Reza pun demikian.

Di mata anaknya, dia bukan lagi seorang ibu.

Dia hanyalah jembatan menuju warisan.

“Aku akan mengembalikannya,” kata Reza.

“Dengan apa?”

Reza diam.

Bu Aminah menatap wajah anaknya lama sekali.

Wajah itu masih sama dengan bocah kecil yang dahulu dia gendong ketika demam. Bocah yang setiap pagi mencium tangannya sebelum berangkat sekolah.

Entah kapan bocah itu menghilang.

Atau mungkin dia tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin Bu Aminah hanya terlalu sibuk mencintai hingga tidak melihat menjadi siapa anaknya setelah dewasa.

“Kalian punya waktu tujuh hari.”

Citra membelalak.

“Untuk apa?”

“Keluar dari rumah saya.”

Reza langsung berlutut.

Gerakannya begitu tiba-tiba hingga Bu Aminah terkejut.

“Bu.”

Suaranya berubah.

Tidak ada lagi kesombongan.

“Ibu jangan begini.”

Bu Aminah memandangnya.

“Aku salah.”

Reza memegang ujung bajunya.

“Aku benar-benar salah.”

Air matanya mulai jatuh.

Citra menatap suaminya dengan tidak percaya.

Namun Bu Aminah tidak langsung luluh seperti biasanya.

“Kalau kemarin Ibu tidak marah, apakah kamu akan mengatakan ini?”

Reza diam.

“Kalau rumah ini sudah atas namamu, apakah kamu akan tetap meminta maaf?”

Tidak ada jawaban.

Bu Aminah menarik bajunya perlahan dari genggaman Reza.

“Itulah jawabannya.”

Tujuh hari kemudian, Reza dan Citra benar-benar pergi.

Mobil mewah mereka sudah lebih dahulu ditarik perusahaan pembiayaan karena tunggakan.

Pemandangan itu justru membuat Bu Aminah tertawa kecil.

Ternyata dia tidak perlu menghancurkannya.

Utang mereka sendiri yang akhirnya mengambil mobil itu.

Rumah kemudian dipasarkan.

Namun ada sesuatu yang tidak diketahui Reza.

Bu Aminah sebenarnya tidak pernah berniat menjualnya.

Semua itu dilakukan untuk mengetahui satu hal.

Apakah anaknya akan kembali karena dirinya atau karena rumah tersebut.

Tiga bulan berlalu.

Tidak ada telepon.

Tidak ada kunjungan.

Tidak ada pertanyaan mengenai kesehatannya.

Yang datang justru beberapa pesan dari Reza yang selalu menanyakan hal serupa.

“Rumah sudah laku?”

“Berapa harga penawarannya?”

“Kalau dijual, bagian saya berapa?”

Setiap membaca pesan itu, Bu Aminah semakin yakin dengan keputusannya.

Hingga suatu malam, teleponnya berdering.

Reza.

Bu Aminah hampir tidak mengangkatnya.

Namun akhirnya dia menjawab.

Suara di seberang terdengar berbeda.

“Bu.”

“Ada apa?”

“Citra pergi.”

Bu Aminah terdiam.

“Dia meninggalkan aku setelah tahu utangku banyak.”

Reza tertawa getir.

“Lucu ya, Bu. Orang yang kubela sampai menyakiti Ibu ternyata pergi begitu aku tidak punya apa-apa.”

Bu Aminah tidak berkata apa pun.

“Aku tidak menelepon untuk minta pulang.”

Suara Reza bergetar.

“Aku cuma mau bilang… sekarang aku mengerti.”

Malam itu untuk pertama kalinya Reza meminta maaf tanpa membicarakan rumah, uang, atau warisan.

Bu Aminah tetap tidak memintanya pulang.

Memaafkan seseorang tidak berarti mengembalikan keadaan seperti semula.

Enam bulan kemudian, Bu Aminah benar-benar mengambil keputusan mengenai rumah tersebut.

Dia tidak menjualnya.

Sebagian bangunan direnovasi dan dijadikan rumah singgah kecil bagi perempuan lanjut usia yang hidup sendirian atau ditelantarkan keluarganya.

Pak Harun membantu membentuk yayasan yang mengelolanya.

Suatu pagi, ketika Bu Aminah sedang menyiram tanaman di halaman, sebuah sepeda motor tua berhenti di depan gerbang.

Reza turun.

Tubuhnya lebih kurus. Pakaiannya sederhana.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada jam mahal.

Dia membawa dua kantong bahan makanan.

“Ibu.”

Bu Aminah berdiri diam.

“Aku dengar sekarang rumah ini jadi tempat singgah.”

Bu Aminah mengangguk.

Reza mengangkat kantong belanjaannya.

“Aku tidak punya banyak. Cuma beras, telur, minyak, sama beberapa sayuran.”

Bu Aminah melihat barang-barang itu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, anaknya datang membawa sesuatu ke rumah, bukan mengambil sesuatu darinya.

“Taruh di dapur.”

Reza tersenyum kecil.

Saat berjalan melewati ibunya, pandangannya jatuh pada tangan kanan Bu Aminah.

Bekas cedera itu sudah hampir tidak terlihat.

Namun Reza berhenti.

Dia menunduk.

“Aku masih ingat hari itu.”

Bu Aminah tidak menjawab.

“Aku malu setiap mengingatnya.”

Reza kemudian masuk ke dapur.

Di dinding dekat kompor masih tergantung wajan besi tua yang sama.

Reza melihatnya dan tersenyum getir.

“Ibu masih simpan?”

“Tentu.”

“Kenapa?”

Bu Aminah mengambil wajan itu, mengelap sedikit debu di gagangnya, lalu menggantungkannya kembali.

“Bukan untuk menghancurkan mobil lagi.”

Reza menatapnya.

Bu Aminah tersenyum tipis.

“Untuk mengingatkan Ibu bahwa kasih sayang tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga dirinya.”

Reza menundukkan kepala.

Bu Aminah berjalan menuju halaman tempat beberapa penghuni rumah singgah sedang menikmati teh pagi.

Sebelum keluar, dia berhenti sejenak.

“Reza.”

Anaknya menoleh.

“Kalau mau makan siang, bantu Ibu potong sayur.”

Mata Reza memerah.

Hanya satu kalimat sederhana.

Bukan berarti semua kesalahannya telah dilupakan.

Bukan berarti luka mereka sembuh dalam sehari.

Tetapi untuk pertama kalinya, pintu yang tertutup itu terbuka sedikit.

Reza mengangguk.

“Iya, Bu.”

Bu Aminah melangkah keluar dengan tenang.

Dia akhirnya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Menjadi ibu bukan berarti harus menerima setiap luka dari anak sendiri.

Mencintai bukan berarti membiarkan diri diinjak.

Dan terkadang, untuk menyelamatkan seseorang yang kita cintai, kita harus berhenti menyelamatkannya dari akibat perbuatannya sendiri.

Di dapur, Reza mengambil pisau dan mulai memotong sayuran.

Di atas kepalanya, wajan besi tua itu tetap tergantung.

Bukan lagi sebagai senjata kemarahan.

Melainkan sebagai saksi hari ketika seorang ibu akhirnya berhenti menjadi korban dan seorang anak mulai belajar kembali bagaimana menjadi manusia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang