Kalimat Surya membuat udara sore itu seolah berhenti bergerak.
Aku menatapnya, berusaha memahami apa yang baru saja kudengar.
“Orang yang menghancurkan hidup Bapak… berjalan bersama Aditya?”
Surya mengangguk pelan.
“Niken.”
Nama itu membuat tengkukku terasa dingin.
Aku menoleh ke arah jalan yang sudah kosong. Selama ini aku mengira Niken hanyalah perempuan yang masuk ke kehidupan Aditya dan menghancurkan rumah tanggaku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa kisahnya jauh lebih rumit.
“Siapa sebenarnya dia?”
Surya tidak langsung menjawab.
Dia memandang Dimas yang masih berdiri di belakangku.
“Lebih baik kita bicara di dalam.”

Aku ragu, tetapi akhirnya mengangguk.
Kami duduk di ruang depan. Dimas kubiarkan bermain di kamar, meskipun aku tahu anak itu mungkin sedang memasang telinga.
Surya memandangi keyboard elektronik di sudut ruangan.
“Rumah ini sudah lama tidak terdengar seperti rumah,” katanya.
Aku tidak menanggapi.
“Saya ingin tahu tentang Niken.”
Surya menarik napas panjang.
“Nama lengkapnya Niken Larasati. Delapan tahun lalu dia bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan saya. Melati, mantan istri saya, sangat mempercayainya.”
“Lalu?”
“Mereka memindahkan dana sedikit demi sedikit melalui perusahaan-perusahaan vendor yang ternyata hanya ada di atas kertas.”
Aku terdiam.
“Ketika saya mengetahuinya, uang dalam jumlah besar sudah hilang. Melati pergi ke luar negeri. Niken menghilang.”
“Kenapa mereka tidak ditangkap?”
“Melati meninggal dua tahun kemudian dalam kecelakaan di luar negeri. Sementara Niken menggunakan identitas dan jaringan berbeda. Sebagian bukti juga hilang dari kantor.”
Surya menundukkan wajah.
“Waktu itu kesehatan saya memburuk. Orang-orang di perusahaan mulai berebut kendali. Saya memilih mundur dari publik.”
Aku teringat catatan medis di dalam kapsul.
“Jadi Bapak bersembunyi?”
“Saya bertahan hidup.”
Jawaban itu begitu sederhana, tetapi aku bisa merasakan beratnya.
Aku kemudian teringat sesuatu.
“Kenapa Bapak berada di pengadilan pada hari perceraian saya?”
“Saya mendapat informasi bahwa Niken kembali menggunakan nama aslinya. Saya mengikutinya.”
“Dan melihat saya?”
“Saya melihat Aditya keluar bersama Niken. Beberapa menit sebelumnya, saya melihat kamu duduk sendirian sambil memegang surat keputusan pengadilan.”
Aku menatapnya tajam.
“Lalu Bapak mengikuti saya?”
“Tidak.”
“Lukisan-lukisan itu mengatakan sebaliknya.”
Surya terdiam.
Aku berdiri.
“Bapak melukis saya di pengadilan. Kemudian saya secara kebetulan mendapatkan rumah milik Bapak dengan harga murah. Setelah itu ada lukisan saya dan anak saya setiap hari. Bapak berharap saya percaya semua itu kebetulan?”
“Tidak.”
Jawabannya membuatku semakin waspada.
“Pak Bagus memang saya minta menawarkan rumah ini kepadamu.”
Aku membeku.
“Kenapa?”
“Karena saya melihat sesuatu yang saya kenal di wajahmu hari itu.”
“Apa?”
“Wajah seseorang yang baru sadar bahwa orang yang paling dipercayainya ternyata sudah merencanakan pengkhianatan jauh sebelum dia mengetahuinya.”
Aku tertawa hambar.
“Jadi Bapak kasihan?”
“Awalnya.”
“Lalu lukisan-lukisan itu?”
Surya menatap ke arah kebun.
“Saya tinggal di rumah kecil di lahan sebelah. Saya kadang datang ke studio melalui jalan belakang. Saya melukis karena itu satu-satunya hal yang membuat tangan saya berhenti gemetar.”
Ada rasa bersalah di wajahnya.
“Saya seharusnya meminta izin. Saya minta maaf.”
Aku tidak langsung memaafkannya.
Tetapi setidaknya untuk pertama kalinya, semua terasa sedikit masuk akal.
Tiga hari berikutnya berjalan tenang.
Terlalu tenang.
Aditya tidak datang lagi.
Surya juga tidak muncul.
Aku kembali mengajar piano, sementara Dimas kembali bermain di kebun.
Sampai suatu pagi, sebuah surat datang.
Surat panggilan terkait permohonan perubahan hak asuh.
Tanganku langsung dingin.
Aditya benar-benar melakukannya.
Dia menyatakan bahwa aku tidak memiliki tempat tinggal permanen, pendapatan tetap, dan lingkungan yang memadai untuk membesarkan Dimas.
Malam itu aku duduk sendirian di dapur sambil menatap surat tersebut.
Dimas muncul membawa segelas air.
“Papa mau ambil aku?”
Aku terkejut.
“Kamu baca surat Mama?”
Dia menggeleng.
“Aku dengar Mama telepon Tante Siska.”
Aku menarik kursi untuknya.
“Dimas mau tinggal sama siapa?”
Dia langsung memelukku.
Jawaban itu membuat air mataku hampir jatuh.
Keesokan paginya aku menemui pengacara bantuan hukum yang direkomendasikan temanku.
Dia membaca semua dokumen perceraian.
Semakin lama, dahinya semakin berkerut.
“Bu Rani, ada sesuatu yang aneh.”
“Apa?”
“Dokumen pengalihan aset yang Ibu tandatangani.”
Aku menahan napas.
“Tanda tangan Ibu memang ada, tetapi beberapa halaman tambahan tampaknya dimasukkan kemudian.”
Aku menatapnya.
“Artinya?”
“Kalau bisa dibuktikan, pengalihan aset itu dapat dipersoalkan.”
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, muncul sedikit harapan.
Namun harapan itu hanya bertahan sampai malam.
Ketika aku pulang, pintu belakang rumah terbuka.
Studio Surya berantakan.
Kapsul besi yang kusimpan di lemari juga hilang.
Aku langsung memanggil Dimas.
Tidak ada jawaban.
“Dimas!”
Aku berlari ke kamar.
Kosong.
Jantungku seperti berhenti.
Aku menelepon Aditya.
Dia menjawab setelah dering ketiga.
“Cari Dimas?”
“Dia di mana?”
“Tenang. Anak saya aman.”
“Bawa dia pulang!”
“Kamu sendiri yang membuktikan rumah itu tidak aman. Ada orang asing berkeliaran, ada bangunan terkunci, bahkan ada barang-barang mencurigakan.”
Aku menggenggam telepon begitu kuat hingga jariku sakit.
“Kamu masuk ke rumahku?”
“Rumah sewaanmu.”
Lalu telepon terputus.
Aku segera menghubungi polisi dan pengacaraku.
Belum sampai dua puluh menit, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Surya turun bersama Pak Bagus.
Wajah Surya lebih pucat dari biasanya.
“Dimas dibawa Aditya.”
“Saya tahu.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana Bapak tahu?”
“Karena orang saya mengikuti Aditya sejak dia datang kemari.”
Aku kehilangan kesabaran.
“Kalau begitu kenapa tidak dihentikan?”
“Karena Dimas pergi bersamanya tanpa paksaan. Aditya mengatakan kamu mengalami kecelakaan dan sedang berada di rumah sakit.”
Dadaku sesak.
Surya mengeluarkan ponselnya.
“Dia membawa Dimas ke rumah lama kalian.”
Aku segera menuju pintu.
Namun Surya menahan lenganku.
“Rani, dengarkan saya. Niken ada di sana.”
Aku berhenti.
“Niken kembali?”
“Dia tidak pernah benar-benar pergi.”
Surya menunjukkan beberapa foto.
Di salah satunya, Aditya bertemu Niken di sebuah kafe dua hari sebelumnya.
Foto lain memperlihatkan mereka bersama seorang pria yang tidak kukenal.
“Mereka sedang mencari sesuatu,” kata Surya.
“Kapsul itu?”
Surya mengangguk.
“Bukan buku catatan atau hasil pemeriksaan saya. Mereka mencari kunci kuningan.”
Aku teringat kunci yang pernah ditemukan Dimas.
“Untuk apa?”
Surya menatapku.
“Kunci itu membuka kotak penyimpanan di bank.”
Aku hampir tertawa karena semuanya terdengar seperti sesuatu dari film.
“Isinya uang?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Bukti transaksi lama. Dokumen asli perusahaan. Dan satu perangkat penyimpanan berisi salinan komunikasi Melati dengan Niken.”
Aku langsung memahami.
“Bukti kejahatan mereka.”
“Bukan hanya mereka.”
Surya menunjukkan foto Aditya.
“Nama mantan suamimu muncul dalam beberapa transaksi baru.”
Aku menatap foto itu lama.
Ternyata Aditya bukan sekadar korban Niken yang membawa kabur uangnya.
Dia terlibat lebih jauh.
Kami berangkat menuju rumah lama bersama polisi yang telah menerima laporan mengenai Dimas.
Saat tiba, pintu gerbang terbuka.
Aku langsung berlari masuk.
“Dimas!”
Suara langkah kecil terdengar dari lantai atas.
“Ma!”
Dimas berlari turun dan memelukku.
Aku hampir roboh karena lega.
Aditya muncul dari ruang kerja.
“Apa-apaan ini?”
Dua petugas masuk di belakang kami.
Wajah Aditya berubah.
“Ini rumah saya. Kalian tidak bisa sembarangan masuk.”
Salah satu petugas menjelaskan laporan yang kubuat.
Aditya mulai berdebat.
Saat itulah Niken keluar dari ruang kerja.
Dia membeku ketika melihat Surya.
Wajahnya kehilangan warna.
“Mas Surya?”
Surya menatapnya tanpa emosi.
“Sudah lama.”
Niken mundur.
“Aku bisa jelaskan.”
Surya tersenyum tipis.
“Delapan tahun ternyata belum cukup untuk menyiapkan penjelasan?”
Aditya memandang mereka bergantian.
“Kalian saling kenal?”
Niken tidak menjawab.
Aku melihat tas besar di atas meja.
Di sampingnya tergeletak kapsul besi.
Namun kunci kuningan tidak ada.
Aditya mendekatiku.
“Kuncinya di mana?”
Aku diam.
“Rani, jangan main-main.”
“Aku tidak punya.”
“Kamu bohong!”
Dia bergerak maju, tetapi petugas segera menghentikannya.
Tiba-tiba Dimas menarik tanganku.
“Ma.”
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Kunci kuningan.
Semua orang terdiam.
“Aku ambil waktu Papa masuk ke rumah kita,” katanya polos. “Aku takut Papa buang.”
Aditya menatap kunci itu.
Begitu pula Niken.
Tatapan mereka cukup menjelaskan segalanya.
Surya berjongkok di depan Dimas.
“Kamu sudah menjaga sesuatu yang sangat penting.”
Dimas menggeleng.
“Bukan.”
Dia memberikan kunci itu kepadaku.
“Aku cuma jaga barang Mama.”
Kalimat sederhana itu hampir menghancurkan pertahananku.
Beberapa minggu berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Dokumen dari kotak penyimpanan Surya membantu membuka kembali penyelidikan lama. Data di dalamnya juga menunjukkan pola transaksi yang menghubungkan perusahaan cangkang milik Niken dengan usaha Aditya.
Namun kejutan terbesar justru datang dari dokumen perceraianku sendiri.
Pengacara menemukan bahwa sebagian uang yang dipindahkan Aditya dari rekening kami masuk ke perusahaan yang dikendalikan oleh Niken.
Beberapa dokumen pengalihan aset juga diduga telah dimanipulasi setelah aku menandatanganinya.
Proses hukumnya tidak selesai dalam sehari.
Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba mengembalikan seluruh uangku.
Tetapi posisi Aditya dalam perkara hak asuh berubah drastis.
Dimas tetap bersamaku selama proses berjalan.
Aku kembali mengajar.
Dari dua murid menjadi lima.
Lalu sembilan.
Ruang depan mulai terlalu sempit ketika beberapa orang tua meminta kelas kelompok.
Suatu sore, Surya datang membawa map.
“Apa lagi ini?” tanyaku curiga.
Dia tertawa kecil.
“Kontrak.”
Aku langsung mengembalikannya.
“Saya tidak mau menerima rumah gratis.”
“Siapa bilang gratis?”
Aku membuka map.
Itu kontrak sewa lima tahun.
Harganya sama seperti yang kubayar sekarang.
Namun ada satu tambahan.
Aku mendapatkan hak menggunakan studio belakang sebagai ruang kelas musik.
“Kenapa?”
“Karena saya akan berhenti melukis di sana.”
Aku menatapnya.
“Bapak mau pergi?”
Surya mengangguk.
Dokter menyarankan pengobatan lanjutan di Singapura selama beberapa bulan.
Entah mengapa, kabar itu membuat dadaku terasa kosong.
Dimas yang mendengar percakapan kami langsung berlari keluar kamar.
“Om Surya pergi?”
“Cuma sementara.”
“Terus siapa yang lukis Mama diam-diam?”
Aku menatap Dimas.
Surya tertawa untuk pertama kalinya begitu lepas.
Enam bulan kemudian, hidup kami tidak berubah menjadi sempurna.
Tetapi berubah menjadi milik kami sendiri.
Aku membuka kelas musik kecil bernama Rumah Nada.
Muridku sudah lebih dari tiga puluh anak.
Kasus aset masih berjalan, sementara penyelidikan terhadap transaksi Aditya dan Niken terus berlanjut.
Aku tidak lagi menunggu hasilnya setiap hari.
Aku sudah terlalu lama membiarkan keputusan orang lain menentukan apakah hidupku boleh bergerak atau tidak.
Pada suatu Sabtu pagi, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Dimas berlari ke jendela.
“Ma! Om Surya!”
Aku keluar.
Surya tampak lebih sehat.
Tubuhnya masih kurus, tetapi wajahnya tidak sepucat dulu.
Dia membawa satu benda panjang yang dibungkus kain.
“Apa itu?”
“Utang.”
“Utang apa?”
Dia membawanya ke studio yang kini dipenuhi piano kecil, kursi, dan gambar-gambar murid.
Kemudian kain itu dibuka.
Sebuah lukisan.
Aku berdiri di kebun bersama Dimas.
Namun berbeda dari lukisan-lukisan sebelumnya, aku tidak sedang menunduk, tidak sedang sendirian, dan tidak sedang terlihat seperti seseorang yang baru kehilangan sesuatu.
Aku sedang tertawa.
Di belakang kami ada rumah tua itu.
Dan di pojok lukisan terdapat sebuah kapsul besi kecil yang setengah terkubur tanah.
Aku tersenyum.
“Bapak masih suka mengawasi orang rupanya.”
“Yang ini saya lukis dari foto.”
“Foto siapa?”
Surya menunjuk Dimas.
Anakku tersenyum bangga.
Aku menggeleng.
Lalu mataku menangkap tulisan kecil di bagian belakang kanvas.
Aku membalik lukisan itu.
Hanya ada satu kalimat.
Rumah bukanlah sesuatu yang berhasil kita pertahankan dari orang lain. Rumah adalah tempat kita akhirnya tidak takut kehilangan diri sendiri.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian aku menatap Surya.
“Buku catatan Bapak dulu ditanam karena apa?”
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama ingin kutanyakan.
Surya terdiam beberapa saat.
“Saya yang menguburnya.”
“Kenapa?”
“Saat dokter mengatakan kemungkinan terburuk, saya pikir saya tidak akan kembali ke rumah ini. Saya menyimpan hal-hal yang tidak ingin ditemukan Melati atau Niken.”
“Termasuk kunci.”
“Termasuk kunci.”
Aku mengangguk.
“Tapi ada satu hal yang masih tidak masuk akal.”
“Apa?”
“Kenapa Pak Bagus bisa menawarkan rumah ini kepada saya hanya dua hari setelah perceraian?”
Surya tidak menjawab.
Aku menatapnya semakin curiga.
Kemudian terdengar suara seseorang dari pintu depan.
“Karena saya yang menelepon Pak Bagus.”
Aku menoleh.
Seorang perempuan tua berdiri di sana.
Aku mengenalnya.
“Tante Siska?”
Dia tersenyum kikuk.
Kerabat jauh yang memberiku nomor Pak Bagus.
Aku memandang Surya, lalu Tante Siska.
“Kalian saling kenal?”
Surya mengangguk.
“Tiga puluh tahun.”
Tante Siska tertawa kecil.
“Dia adik sepupu saya.”
Aku benar-benar kehilangan kata-kata.
“Jadi semua ini direncanakan?”
“Rumahnya, iya,” jawab Tante Siska. “Kapsulnya tidak. Aditya datang juga tidak. Dimas menemukan kunci apalagi.”
Aku menatap mereka tidak percaya.
Surya menambahkan dengan tenang, “Saya melihatmu di pengadilan, lalu mengetahui dari Siska bahwa kamu adalah kerabatnya yang sedang mencari tempat tinggal. Saya menawarkan rumah ini tanpa mengatakan siapa saya.”
“Kenapa?”
Surya memandang Dimas yang sedang berdiri di depan lukisan.
“Karena dulu, ketika hidup saya runtuh, tidak ada seorang pun yang memberi saya tempat aman untuk memulai lagi.”
Dia menatapku.
“Saya pikir kali ini saya bisa menjadi orang itu untuk seseorang.”
Aku tidak tahu harus marah atau berterima kasih.
Mungkin keduanya.
Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Dimas mengangkat tangannya.
“Kalau semua rahasianya sudah selesai, kita makan belum?”
Kami bertiga tertawa.
Aku menatap rumah tua yang dahulu kuterima karena tidak punya pilihan lain.
Dulu aku datang ke sana dengan satu koper, keyboard tua, seorang anak kecil, dan ketakutan bahwa hidupku sudah berakhir.
Ternyata sesuatu yang kukira sebagai tempat pelarian justru menjadi awal.
Aditya pernah mengambil rumahku.
Mengambil tabunganku.
Mengambil kepercayaanku kepada orang lain.
Tetapi dia tidak pernah berhasil mengambil hal yang paling penting.
Kemampuanku untuk membangun semuanya kembali.
Dan anehnya, aku baru menyadari itu setelah anakku menggali tanah sedalam dua puluh sentimeter dan menemukan sebuah kapsul besi yang seharusnya tidak pernah kami temukan.
