“Sudah terlambat.”
Suara Bude Ratih terdengar tenang dari layar ponsel, tetapi entah kenapa justru membuat tengkukku merinding.
Ujung gunting di tangannya masuk ke jahitan bagian dalam jaket hijau. Sekali tarik, benang itu terputus.
“Bude, jangan!”
Teriakanku terlambat.
Ratih merobek lapisan kain, lalu memasukkan dua jarinya ke dalam celah sempit itu. Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus plastik hitam.
Sebuah ponsel lama.
Wajahnya berubah.
Senyum tipis yang sejak tadi menghiasi bibirnya langsung menghilang.
Bagas merampas ponselku.

“Jangan sentuh apa pun! Kami ke sana sekarang!”
Ratih tidak menjawab. Matanya terpaku pada ponsel tua tersebut.
Lalu sambungan video terputus.
Aku dan Bagas saling menatap.
“Pulang,” kataku.
Bagas langsung berlari menuju motor.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Bude Ratih, kepalaku dipenuhi potongan-potongan kenangan yang tiba-tiba terasa berbeda.
Selama bertahun-tahun, Ratih selalu menjadi orang yang kami percaya.
Ketika Ayah meninggal dan Ibu memutuskan bekerja di Arab Saudi, akulah yang menangis paling keras. Saat itu usiaku baru empat belas tahun, sementara Bagas baru sebelas.
Ratih memeluk kami.
“Tenang. Selama ada Bude, kalian tidak akan sendirian.”
Dan ia menepati janjinya.
Setidaknya begitulah yang selama ini kami pikirkan.
Ratih mengurus pembayaran sekolah. Ia membeli beras, membayar listrik, membawa kami ke dokter ketika sakit. Bahkan ketika aku kuliah, ia yang menyerahkan uang semester kepadaku.
Setiap kali aku mengeluh karena Ibu jarang pulang, Ratih selalu membela adiknya.
“Ibumu bekerja keras. Jangan tambah bebannya.”
Namun setiap kali aku meminta sesuatu yang sedikit mahal, jawabannya berbeda.
“Kiriman ibumu tidak banyak, Nisa.”
Aku mempercayainya.
Bahkan beberapa kali aku marah kepada Ibu.
Aku pernah berkata melalui telepon bahwa semua ibu teman-temanku bisa tinggal bersama anak-anak mereka, sementara ibuku memilih bekerja ribuan kilometer jauhnya tetapi tetap tidak mampu memberi kami kehidupan yang lebih baik.
Ibu hanya diam.
Sekarang, setelah mendengar bahwa ia mengirim dua belas sampai lima belas juta rupiah setiap bulan, setiap kenangan itu terasa seperti tamparan.
Kami tiba di rumah Ratih sekitar dua puluh menit kemudian.
Mobil putihnya terparkir di depan.
Pintu pagar tidak terkunci.
“Bude!”
Bagas mendorong pintu rumah.
Ruang tamu kosong.
Kardus dari Arab Saudi masih tergeletak di lantai.
Pakaian Ibu berserakan di mana-mana.
Aku langsung mencari jaket hijau.
Ada di bawah meja.
Jahitannya sudah terbuka.
Ponselnya hilang.
“Bude!”
Tidak ada jawaban.
Bagas berlari menuju kamar belakang.
Aku memeriksa pakaian satu per satu. Saat itulah aku sadar hampir semua pakaian memiliki jahitan tambahan.
Aku mengambil blus bermotif bunga dan meraba bagian kerahnya.
Ada sesuatu yang keras.
Kurobek jahitannya dengan tangan.
Sebuah plastik kecil jatuh.
Di dalamnya ada gelang emas.
Tanganku gemetar.
“Bagas!”
Adikku kembali.
Ketika melihat gelang itu, wajahnya pucat.
Kami mulai memeriksa semuanya.
Di dalam celana jin ada dua keping emas kecil.
Di balik lapisan seragam kerja terdapat amplop berisi surat deposito.
Di dalam kaus kaki yang terlihat paling buruk justru tersimpan beberapa lembar dokumen yang dilapisi plastik.
Sertifikat tanah.
Nama pemiliknya membuatku terdiam.
Sulastri.
Nama Ibu.
Lokasinya hanya beberapa ratus meter di belakang rumah kami.
“Tanah belakang?” Bagas berbisik.
Aku mengangguk.
Ratih selama ini mengatakan tanah tersebut milik seorang pengusaha Jakarta.
Aku membuka dokumen berikutnya.
Bukti pembayaran.
Pembelian dilakukan tujuh tahun lalu.
Nilainya ratusan juta rupiah.
Pembayarannya berasal dari rekening Ibu.
Bagas duduk di lantai.
“Kak… sebenarnya berapa banyak yang Ibu kirim selama ini?”
Aku tidak mampu menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil.
Kami berlari keluar.
Mobil putih Ratih meninggalkan ujung jalan.
“Bude kabur!”
Bagas hendak mengejarnya, tetapi aku menahannya.
“Ponsel Ibu ada padanya. Kita tidak tahu dia mau ke mana.”
Aku segera menelepon Ibu.
Kali ini tersambung.
Begitu wajahnya muncul, aku langsung menunjukkan dokumen yang kami temukan.
“Ibu, Bude mengambil ponselnya.”
Wajah Ibu seketika pucat.
“Dia membuka jaket hijau?”
“Iya.”
Ibu memejamkan mata.
Beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun.
“Ibu, sebenarnya apa isi ponsel itu?”
“Ada rekaman.”
“Rekaman apa?”
Ibu menarik napas panjang.
“Percakapan Ibu dengan Bude Ratih selama bertahun-tahun. Bukti transfer. Foto rekening. Pesan suara. Semuanya.”
“Kenapa Ibu menyimpannya diam-diam?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Ibu menatapku lama.
“Karena tiga tahun lalu Ibu mulai curiga.”
Ternyata seorang teman Ibu yang pulang dari Arab Saudi pernah membantu memeriksa rumah kami. Ibu meminta orang itu memastikan renovasi yang katanya menghabiskan hampir dua ratus juta rupiah.
Namun rumah kami hampir tidak berubah.
Atap yang katanya diganti ternyata hanya ditambal.
Dapur yang menurut Ratih direnovasi dengan uang Ibu masih menggunakan keramik lama.
Lebih aneh lagi, tabungan pendidikan yang seharusnya atas nama aku dan Bagas tidak pernah ada.
“Ibu bertanya kepada Ratih,” katanya. “Dia bilang uangnya dipakai untuk kebutuhan kalian.”
“Kenapa Ibu tidak bilang kepada kami?”
“Karena kalian sangat dekat dengannya.”
Aku menunduk.
Ibu benar.
Kalau tiga tahun lalu Ibu menuduh Ratih mencuri, mungkin aku justru akan membela Bude.
Ratih ada di samping kami ketika sakit.
Ratih datang ke acara kelulusan.
Ratih yang terlihat hadir ketika Ibu tidak ada.
“Ibu ingin pulang dan menyelesaikan semuanya sendiri,” lanjutnya. “Tapi kontrak kerja Ibu belum selesai. Jadi Ibu mulai mengumpulkan bukti.”
“Kenapa dikirim sekarang?”
Ibu terdiam.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuatku membeku.
“Ibu pulang minggu depan.”
Bagas mendekat ke layar.
“Serius, Bu?”
Ibu mengangguk.
“Untuk selamanya.”
Dadaku terasa sesak.
Seharusnya itu kabar bahagia.
Namun Ibu kemudian berkata, “Sebelum pulang, Ibu ingin semua yang tersisa sampai kepada kalian. Karena Ratih mulai tahu Ibu mencurigainya.”
Aku melihat kardus di lantai.
Sekarang aku mengerti mengapa Ibu menggunakan pakaian tua.
Tidak ada seorang pun yang akan mengira harta senilai miliaran rupiah disembunyikan di balik kain usang.
Termasuk kami sendiri.
“Ponsel itu harus ditemukan,” kata Ibu. “Bukan karena uang. Ada satu rekaman yang jauh lebih penting.”
“Rekaman apa?”
Ibu belum sempat menjawab.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Bagas mengintip dari jendela.
“Bude.”
Ratih masuk beberapa detik kemudian.
Wajahnya berbeda dari biasanya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan.
Ia membawa ponsel tua milik Ibu.
“Akhirnya,” katanya pelan. “Sepuluh tahun aku merawat kalian, ternyata kalian tetap memilih percaya kepada perempuan yang meninggalkan kalian.”
“Jangan bicara begitu tentang Ibu,” kata Bagas.
Ratih tertawa.
“Siapa yang datang ketika kalian sakit? Siapa yang membayar sekolah? Siapa yang memasak? Aku.”
“Dengan uang Ibu,” jawabku.
Ratih terdiam.
Aku mengangkat bukti transfer.
“Dua belas sampai lima belas juta setiap bulan. Belum termasuk uang renovasi dan pendidikan. Ke mana semuanya?”
Wajah Ratih mengeras.
“Kalian pikir membesarkan dua anak murah?”
“Dua anak tidak menghabiskan hampir dua miliar rupiah tanpa jejak.”
Ratih menatap layar ponselku. Ia sadar Ibu masih berada dalam panggilan video.
“Kamu memang selalu begitu, Lastri,” katanya. “Dari dulu merasa paling benar.”
Ibu tidak membalas kemarahannya.
“Taruh ponselnya, Mbak.”
Ratih menggenggam benda itu semakin erat.
“Kenapa? Takut rahasiamu terbuka?”
Aku menoleh ke layar.
Ekspresi Ibu berubah.
“Rahasia apa?”
Ratih tersenyum.
“Jadi mereka belum tahu?”
“Cukup, Mbak.”
Untuk pertama kalinya suara Ibu terdengar panik.
Ratih justru duduk di sofa.
“Kalian mau tahu kenapa ibumu bertahan sepuluh tahun di Arab Saudi?”
Aku dan Bagas diam.
“Bukan cuma karena uang.”
“Ibu, maksud Bude apa?”
Ibu tidak menjawab.
Ratih menyalakan ponsel tua itu.
“Bude tahu kata sandinya?” tanya Bagas.
“Aku tahu tanggal lahir adikku.”
Layar menyala.
Ratih membuka sebuah folder.
Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, terdengar suara Ibu dari ponselku.
“Putar rekaman bernama 17 Mei.”
Ratih membeku.
Senyumnya lenyap.
“Lastri.”
“Putar.”
Ratih berdiri.
Tangannya mulai gemetar.
Aku segera merebut ponsel tua itu.
Ia mencoba menahanku, tetapi Bagas berdiri di antara kami.
Aku menemukan folder rekaman.
17 Mei.
Aku menekan tombol putar.
Suara Ratih terdengar.
Awalnya samar.
Kemudian jelas.
“Aku cuma meminjam uangnya.”
Lalu suara Ibu.
“Delapan ratus juta bukan meminjam, Mbak.”
“Aku akan mengembalikannya.”
“Dari mana? Usaha kateringmu sudah tutup.”
Aku menatap Ratih.
Ia memalingkan wajah.
Rekaman berlanjut.
Kemudian terdengar kalimat yang membuat Bagas mengepalkan tangan.
“Kalau bukan karena aku, anak-anakmu sudah tahu soal utang ayah mereka.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ayah?
Ibu mulai menangis di layar.
Aku menekan jeda.
“Utang Ayah apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menyalakan rekaman kembali.
Suara Ibu terdengar.
“Jangan bawa almarhum suamiku.”
Ratih membalas.
“Dia memakai namaku untuk pinjaman itu. Setelah dia meninggal, siapa yang dikejar penagih? Aku. Uangmu kupakai menutup utangnya.”
Bagas menatap Ratih.
“Jadi uang Ibu dipakai membayar utang Ayah?”
“Sebagian,” jawab Ratih akhirnya.
“Sebagian?”
Ratih menunduk.
Ternyata setelah Ayah meninggal, ditemukan pinjaman usaha hampir empat ratus juta rupiah. Ayah menggunakan Ratih sebagai penjamin tanpa pernah memberi tahu Ibu.
Pada tahun-tahun pertama, Ratih memang menggunakan sebagian kiriman Ibu untuk melunasi utang itu.
Namun setelah utang selesai, ia tidak berhenti.
Ia sudah terbiasa menguasai uang Ibu.
Ia membuka usaha.
Membeli mobil.
Membayar cicilan rumah anaknya.
Dan ketika usahanya gagal, ia mengambil lebih banyak lagi.
“Kalian tidak mengerti,” katanya sambil menangis. “Aku juga berkorban untuk keluarga ini.”
“Kalau memang untuk keluarga, kenapa berbohong?” tanyaku.
Ratih tidak mampu menjawab.
Bagas mengambil ponsel tua itu dan membuka folder bukti transfer.
Ada ratusan foto.
Jumlahnya membuat kami terdiam.
Namun kemudian aku menemukan sebuah video.
Tanggalnya enam bulan lalu.
Dalam video itu, Ibu duduk di sebuah kamar sederhana di Arab Saudi.
“Ibu merekam ini kalau sesuatu terjadi sebelum Ibu pulang,” katanya.
Wajahnya tampak lelah.
“Ibu tahu kalian mungkin marah karena Ibu pergi terlalu lama. Ibu tidak meminta kalian memahami semua keputusan Ibu.”
Aku menahan napas.
“Ibu bertahan bukan karena lebih mencintai uang daripada kalian. Setelah Ayah meninggal, rumah hampir disita. Utangnya besar. Biaya sekolah kalian berjalan. Ibu tidak punya keterampilan selain bekerja.”
Air mataku mulai jatuh.
“Setiap kali kalian meminta Ibu pulang, Ibu hampir membeli tiket. Tapi Ibu selalu berpikir, satu tahun lagi. Satu tahun lagi supaya Nisa bisa kuliah. Satu tahun lagi supaya Bagas selesai sekolah. Sampai akhirnya sepuluh tahun berlalu.”
Aku tidak sanggup menonton.
Selama bertahun-tahun aku menganggap Ibu memilih pekerjaannya daripada kami.
Padahal setiap tahun yang ia habiskan jauh dari rumah justru untuk mempertahankan rumah yang kami tinggali.
Ratih terduduk.
“Aku memang mengambil uang itu,” katanya lirih. “Tapi aku akan mengembalikannya.”
“Bagaimana?” tanya Bagas.
Ratih mengusap wajah.
“Aku akan jual mobil. Rumah kontrakan. Apa pun.”
Ibu akhirnya berbicara.
“Aku tidak mengirim bukti itu untuk memasukkan Mbak ke penjara.”
Kami semua menatap layar.
“Aku mengirimnya supaya anak-anakku tahu kebenaran.”
Ratih menangis semakin keras.
“Tapi uang yang Mbak ambil tetap harus dikembalikan. Bukan untukku.”
“Lalu untuk siapa?”
“Untuk Nisa dan Bagas.”
Seminggu kemudian, aku berdiri di Bandara Soekarno-Hatta bersama Bagas.
Ketika pintu kedatangan internasional terbuka, seorang perempuan kecil dengan koper sederhana berjalan perlahan keluar.
Rambutnya lebih banyak putih daripada yang kulihat melalui layar.
Tangannya kasar.
Wajahnya penuh garis lelah.
Namun aku langsung mengenalinya.
“Ibu.”
Ia berhenti.
Bagas lebih dulu berlari.
Aku menyusul.
Untuk pertama kalinya setelah hampir sepuluh tahun, kami bertiga berpelukan tanpa layar ponsel di antara kami.
Aku menangis di bahunya.
“Maaf, Bu.”
Ibu mengusap rambutku.
“Untuk apa?”
“Paketnya.”
Ibu tertawa kecil di sela tangisnya.
“Untung belum jadi sampah.”
“Bukan cuma itu.”
Aku tidak sanggup melanjutkan.
Ibu seolah mengerti.
Ia memegang wajahku.
“Yang sudah lewat tidak perlu kita hidupkan setiap hari.”
Beberapa bulan kemudian, Ratih menjual mobil dan salah satu asetnya. Sebagian uang dikembalikan. Sisanya dibuat dalam perjanjian tertulis yang harus dibayar bertahap.
Hubungan kami tidak langsung pulih.
Kepercayaan ternyata jauh lebih sulit diperbaiki daripada jahitan pada jaket tua.
Namun Ibu tidak memutus hubungan dengannya.
“Kesalahan harus dipertanggungjawabkan,” kata Ibu, “tapi manusia tidak selalu harus dibuang bersama kesalahannya.”
Suatu sore, ketika kami membereskan kamar Ibu, aku menemukan kardus Arab Saudi itu masih disimpan di gudang.
Pakaian-pakaian lamanya sudah dicuci dan dilipat.
Aku mengambil jaket denim dengan siku tipis yang dulu pertama kali kuanggap tidak layak dipakai.
Di sakunya masih ada sesuatu.
Aku memasukkan tangan.
Sebuah amplop kecil.
Aku membukanya.
Tidak ada emas.
Tidak ada surat deposito.
Hanya dua lembar foto lama.
Foto pertama memperlihatkan aku dan Bagas ketika masih kecil, berdiri di depan rumah bersama Ayah.
Foto kedua memperlihatkan Ibu di Arab Saudi pada tahun pertamanya bekerja. Ia mengenakan seragam cokelat muda yang sama dengan pakaian yang hampir kami buang.
Di belakang foto ada tulisan tangan.
Untuk Nisa dan Bagas.
Kalau suatu hari kalian menemukan foto ini, mungkin Ibu sudah pulang.
Maaf karena Ibu melewatkan begitu banyak ulang tahun, kelulusan, dan hari-hari biasa bersama kalian.
Semua barang berharga yang Ibu simpan di pakaian ini bisa dicari lagi kalau hilang.
Emas bisa dibeli.
Tanah bisa dijual.
Uang bisa dikumpulkan.
Tapi waktu bersama kalian tidak bisa Ibu beli kembali.
Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.
Lalu aku membawa jaket itu ke ruang tengah.
Ibu sedang membuat teh.
“Bu.”
Ia menoleh.
Aku mengenakan jaket tua itu.
Lengannya sedikit kependekan dan modelnya sudah ketinggalan zaman.
Ibu tertawa.
“Kenapa dipakai? Jelek begitu.”
Aku menggeleng.
“Bagus, kok.”
Bagas keluar dari kamar dan langsung mengejek.
“Kak, serius mau pakai itu?”
Aku memasukkan tangan ke saku yang jahitannya sudah diperbaiki.
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku melihat Ibu.
Perempuan yang pernah kukira tidak membawa pulang apa-apa setelah sepuluh tahun bekerja ternyata telah membawa pulang sesuatu yang jauh lebih mahal daripada seluruh isi kardus itu.
Kebenaran.
Dan kesempatan bagi kami untuk menjadi keluarga lagi.
“Karena sekarang,” kataku, “aku baru tahu apa yang sebenarnya Ibu kirimkan kepada kita selama ini.”
