“Laras masih hidup.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku menatap Ibu, berharap dia akan mengatakan bahwa aku salah dengar. Namun sorot matanya tidak menyisakan ruang untuk keraguan.
“Di mana dia?”
Ibu belum sempat menjawab ketika Bram bergerak cepat mendekati kami.
“Pak Rangga, jangan dengarkan Bu Mirah. Kondisinya sedang tidak stabil.”
Bayu langsung menghadangnya.
“Berhenti di situ.”
Bram menatapku. “Bapak Surya bisa menjelaskan semuanya.”
“Lima tahun aku percaya istriku sudah meninggal.” Suaraku bergetar menahan amarah. “Lima tahun aku mencari ibuku. Dan sekarang kau bilang Ayah bisa menjelaskan?”
Sirene ambulans semakin dekat.

Aku menggendong Ibu dan berjalan keluar dari gang. Raka mengikuti sambil terus menggenggam ujung jas Bayu.
Bram tidak berani menghentikan kami.
Namun sebelum pintu ambulans tertutup, dia berkata sesuatu yang membuatku menoleh.
“Kalau Bapak membawa Bu Mirah pergi, semuanya akan berubah.”
Aku menatapnya dingin.
“Memang itu yang kuinginkan.”
Di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi Ibu cukup lemah akibat dehidrasi dan benturan, tetapi tidak ada cedera yang mengancam nyawanya.
Aku menyewa satu lantai VIP dan menempatkan dua petugas keamanan di depan kamar.
Raka duduk di sofa sambil memegang sekotak susu cokelat yang diberikan perawat.
Aku duduk di hadapannya.
Untuk pertama kalinya aku benar-benar memperhatikan wajahnya.
Hidungnya.
Garis rahangnya.
Bahkan kebiasaannya mengerutkan dahi ketika gugup.
Dadaku semakin sesak.
“Raka.”
Dia menatapku.
“Siapa nama mamamu?”
Bibir kecilnya bergerak ragu.
“Laras.”
Aku memejamkan mata.
Satu kata itu menghancurkan sisa pertahananku.
“Laras apa?”
“Laras Prameswari.”
Aku berdiri dan berjalan menuju jendela.
Laras Prameswari.
Istriku.
Tidak ada lagi kemungkinan kebetulan.
“Sekarang Mama di mana?”
Raka menunduk.
“Di rumah besar.”
“Rumah siapa?”
“Kakek Surya.”
Aku berbalik cepat.
“Ayahku?”
Raka mengangguk.
“Nenek bilang jangan pernah bilang ke siapa-siapa.”
“Kenapa?”
“Karena Mama sakit.”
Aku mendekatinya.
“Sakit apa?”
Raka menggeleng.
“Aku nggak tahu. Mama sering tidur. Kadang bangun, terus lupa.”
Jantungku berdegup semakin keras.
Beberapa menit kemudian, Ibu terbangun.
Aku langsung duduk di samping ranjang.
“Ceritakan semuanya, Bu.”
Ibu memandang Raka.
“Bawa dia keluar dulu.”
Bayu membawa Raka ke ruang tunggu.
Begitu pintu tertutup, Ibu mulai berbicara.
Lima tahun lalu, Laras memang berada di dalam pesawat yang mengalami insiden.
Namun dia selamat.
Tubuhnya mengalami beberapa cedera, tetapi yang paling serius adalah trauma di kepala. Ketika sadar, ingatannya tidak utuh.
Saat itu Laras ternyata sedang hamil hampir dua bulan.
Aku merasa udara di kamar semakin berat.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Karena ayahmu tidak mengizinkan.”
Aku tertawa pendek karena tidak percaya.
“Ayah?”
“Surya tidak pernah menyukai Laras.”
Aku tahu itu.
Ayah menganggap Laras berasal dari keluarga biasa dan tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami.
Namun aku selalu mengira kebenciannya hanya sebatas penolakan.
“Setelah kecelakaan, ayahmu melihat kesempatan untuk memisahkan kalian selamanya.”
Menurut Ibu, perusahaan keluarga kami memiliki hubungan dengan yayasan yang mengelola rumah sakit tempat beberapa korban dirawat.
Ayah menggunakan koneksi itu untuk menyembunyikan fakta bahwa Laras selamat.
Informasi yang sampai kepadaku mengatakan Laras termasuk korban yang tidak berhasil diselamatkan.
Aku bahkan menerima sebuah peti tertutup.
Aku ingat hari pemakamannya.
Aku berdiri di bawah hujan selama hampir tiga jam.
Aku memeluk peti itu sambil menangis seperti orang kehilangan akal.
Ternyata perempuan yang kutangisi masih bernapas.
“Lalu Ibu?”
“Aku menemukan Laras sekitar enam bulan kemudian.”
Ibu mengetahui kebenaran secara tidak sengaja setelah mendengar percakapan Bram dengan ayahku.
Dia diam-diam mendatangi sebuah rumah di Bogor.
Di sanalah dia menemukan Laras.
Dan bayi laki-laki berusia beberapa minggu.
Raka.
“Aku mau membawanya kepadamu,” kata Ibu. “Tapi Surya tahu.”
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia mengancam akan mengambil Raka dan memasukkan Laras ke fasilitas perawatan tertutup. Aku tidak punya bukti apa pun. Semua dokumen berada di tangannya.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa Ibu tidak pergi ke polisi?”
“Aku mencoba.”
Ibu menatapku lama.
“Malam sebelum aku menghilang, aku sudah membuat janji dengan seorang penyidik.”
“Apa yang terjadi?”
“Bram datang lebih dulu.”
Menurut Ibu, ayahku memberinya dua pilihan.
Diam dan tinggal bersama Laras serta Raka di bawah pengawasan mereka, atau melawan dan kehilangan keduanya.
Ibu memilih tetap dekat dengan Laras.
Selama lima tahun, mereka beberapa kali dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain.
Bram ditugaskan mengawasi mereka.
Di depan orang luar, Bram mengaku sebagai ayah Raka agar tidak menimbulkan pertanyaan.
“Tapi kenapa tadi dia membuang Ibu di gang?”
Wajah Ibu berubah.
“Karena aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Bukti.”
Ibu menunjuk tas lusuh yang dibawa bersama barang-barangnya.
Aku mengambilnya.
Di dalamnya hanya ada pakaian, obat, dan sebuah buku doa.
“Tidak ada apa-apa.”
“Buka sampul belakang buku itu.”
Aku merobek lapisan tipis di balik sampul.
Sebuah kartu memori kecil jatuh ke telapak tanganku.
Ibu mengembuskan napas lega.
“Semua ada di situ.”
Bayu membawa laptop.
Aku memasukkan kartu memori itu.
Puluhan folder muncul.
Rekaman medis Laras.
Foto-foto dirinya setelah kecelakaan.
Dokumen kelahiran Raka.
Dan beberapa rekaman suara.
Tanganku gemetar ketika membuka salah satunya.
Suara Ayah terdengar jelas.
“Rangga harus percaya Laras sudah mati. Setelah beberapa tahun, dia akan menikah lagi dan semuanya selesai.”
Lalu suara Bram.
“Bagaimana dengan anaknya?”
“Pastikan anak itu tidak pernah bertemu Rangga.”
Aku menutup laptop.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membenci suara ayahku sendiri.
Teleponku berdering.
Nama Ayah muncul di layar.
Aku menjawab.
“Kamu di mana?” tanyanya.
“Rumah sakit.”
Hening.
“Kamu menemukan ibumu?”
“Ya.”
“Bawa dia pulang.”
“Tidak.”
Suara Ayah berubah dingin.
“Rangga, jangan membuat keputusan ketika sedang emosi.”
Aku hampir tertawa.
“Di mana Laras?”
Tidak ada jawaban.
“Aku tanya sekali lagi. Di mana istriku?”
“Datang ke rumah. Kita bicara.”
Telepon terputus.
Aku menatap Bayu.
“Siapkan mobil.”
Ibu langsung mencengkeram tanganku.
“Jangan pergi sendiri.”
“Aku tidak akan sendiri.”
Aku melihat kartu memori itu.
“Kali ini aku membawa kebenaran.”
Satu jam kemudian, aku tiba di rumah keluarga kami di Menteng.
Rumah yang sejak kecil selalu kuanggap sebagai tempat paling aman di dunia kini terlihat seperti bangunan asing.
Ayah menungguku di ruang kerja.
Anindya juga ada di sana.
Wajahnya bingung.
“Rangga, sebenarnya ada apa?”
Aku mengeluarkan kotak cincin dari saku dan meletakkannya di meja.
“Maaf, Anindya.”
Dia menatap kotak itu, lalu kepadaku.
“Aku tidak bisa menikahimu.”
Ayah berdiri.
“Jangan membuat keputusan bodoh.”
Aku menatapnya.
“Keputusan bodoh?”
Aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman dari kartu memori.
Wajah Ayah langsung berubah.
Anindya menutup mulutnya.
“Pak Surya…” bisiknya.
Ayah tidak menyangkal.
Dia hanya duduk perlahan.
“Aku melakukan semuanya untuk keluarga.”
“Dengan mengatakan istriku mati?”
“Kamu tidak tahu keadaan saat itu.”
“Laras sedang mengandung anakku!”
Ayah memukul meja.
“Justru karena itu!”
Ruangan langsung sunyi.
Ayah mengusap wajahnya.
“Setelah kecelakaan, dokter mengatakan kondisi mental Laras tidak stabil. Dia kehilangan sebagian ingatannya. Aku tidak mau hidupmu hancur karena harus merawat perempuan yang mungkin tidak akan pernah pulih.”
“Itu hidupku. Bukan hidup Ayah.”
“Aku menyelamatkan masa depanmu.”
“Tidak. Ayah mencuri lima tahun hidupku.”
Aku mendekatinya.
“Di mana Laras?”
Ayah diam.
Aku mengangkat ponsel.
“Semua rekaman ini sudah dikirim ke pengacaraku. Kalau dalam lima menit Ayah tidak memberitahuku, aku pergi ke polisi.”
Akhirnya Ayah menyerah.
Laras berada di sebuah rumah di Sentul.
Kami berangkat malam itu juga.
Hujan kembali turun ketika mobil memasuki halaman rumah dua lantai yang tersembunyi di balik pepohonan.
Bram sudah berada di sana.
Kali ini dia tidak mencoba menghalangiku.
Dia hanya menyerahkan sebuah kunci.
“Saya minta maaf, Pak.”
Aku tidak menjawab.
Aku membuka pintu.
Rumah itu sunyi.
Kemudian terdengar suara piano dari lantai atas.
Melodi sederhana.
Aku mengenalnya.
Lagu yang selalu dimainkan Laras ketika kami baru menikah.
Kakiku terasa lemas.
Aku menaiki tangga.
Pintu sebuah kamar terbuka.
Seorang perempuan duduk di depan piano.
Rambutnya lebih pendek.
Tubuhnya lebih kurus.
Namun aku mengenal bahunya.
Cara jarinya menyentuh tuts.
Cara kepalanya sedikit miring ketika mendengarkan nada.
“Laras.”
Musik berhenti.
Perempuan itu perlahan menoleh.
Matanya bertemu denganku.
Lima tahun kerinduan, kemarahan, dan kehilangan seolah berkumpul dalam satu detik.
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Laras berdiri.
Dia menatapku lama.
Lalu berbisik,
“Rangga?”
Aku menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak peduli siapa yang melihat.
Aku berjalan mendekatinya.
Namun Laras mundur satu langkah.
“Jangan.”
Aku berhenti.
Dia memegang kepalanya.
“Aku sering melihat wajahmu dalam mimpi.”
“Aku suamimu.”
Air matanya jatuh.
“Aku tahu.”
Aku membeku.
“Kamu ingat?”
“Tidak semuanya.”
Laras membuka sebuah laci kecil.
Dia mengeluarkan puluhan lembar kertas.
Semuanya berisi gambar wajahku.
“Aku menggambar wajah ini setiap kali aku takut lupa lagi.”
Aku menutup mulut, menahan tangis.
Saat itulah suara langkah kecil terdengar dari tangga.
“Mama!”
Raka berlari masuk.
Laras langsung berlutut dan memeluknya.
“Nak, kamu ke mana? Mama cari dari tadi.”
Raka menunjukku dengan wajah cerah.
“Aku ketemu Papa.”
Laras menatapku.
Aku tidak tahu apakah aku pantas mendekati mereka.
Namun Raka justru menggenggam tanganku dan tangan Laras, lalu menyatukannya.
“Sekarang kita bisa pulang bertiga, kan?”
Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab tanpa menangis.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan resmi dimulai.
Ayah mengakui keterlibatannya dalam pemalsuan informasi dan penyembunyian Laras. Bram memilih bekerja sama dan memberikan kesaksian lengkap.
Aku tidak pernah memaafkan apa yang mereka lakukan.
Namun hukuman terbesar bagi Ayah bukan ketika dia kehilangan jabatan di perusahaan.
Melainkan ketika Raka bertanya kepadanya suatu hari,
“Kakek, kenapa Kakek bikin Papa kehilangan ulang tahunku lima kali?”
Ayah tidak mampu menjawab.
Laras menjalani terapi intensif.
Ingatan lamanya kembali sedikit demi sedikit.
Ada hari ketika dia mengingat pernikahan kami.
Ada hari ketika dia lupa makanan kesukaanku.
Aku belajar untuk tidak memaksanya menjadi Laras yang dulu.
Aku hanya ingin mengenal Laras yang sekarang.
Suatu sore, hampir setahun setelah aku menemukannya, kami bertiga berjalan melewati kawasan SCBD.
Raka tiba-tiba berhenti di depan gang tempat semuanya bermula.
“Papa.”
“Kenapa?”
Dia menunjuk ujung jas yang kupakai.
“Ingat waktu aku tarik jas Papa?”
Aku tersenyum.
“Papa nggak mungkin lupa.”
Raka tertawa.
Laras menggenggam tanganku.
Lalu Raka mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Sebenarnya waktu itu Nenek yang suruh aku cari Papa.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Nenek pernah tunjukin foto Papa. Nenek bilang kalau suatu hari terjadi sesuatu, aku harus cari laki-laki di foto itu.”
Aku langsung menoleh kepada Ibu yang berjalan beberapa langkah di belakang kami.
Ibu hanya tersenyum.
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Pertemuan kami hari itu bukan sepenuhnya kebetulan.
Ibu sudah merencanakannya.
Dia sengaja membawa Raka mendekati gedung tempatku biasa bekerja karena tahu pengawasan terhadapnya semakin ketat.
Ketika Bram menyadari rencananya dan menyeret Ibu pergi, Raka berhasil melarikan diri.
Dan dari ribuan orang yang berjalan di pusat Jakarta sore itu, anak berusia lima tahun tersebut mengenaliku hanya dari sebuah foto lama.
Aku berjongkok di depan Raka.
“Jadi sejak awal kamu tahu aku siapa?”
Raka mengangguk polos.
“Nenek bilang Papa mungkin nggak kenal aku.”
Dia memeluk leherku.
“Tapi aku pasti kenal Papa.”
Aku memejamkan mata dan memeluknya erat.
Selama lima tahun, aku mengira hidup telah mengambil istri dan ibuku sekaligus.
Ternyata yang direnggut dariku bukan mereka.
Melainkan waktu.
Dan waktu memang tidak bisa dikembalikan.
Aku tidak bisa menyaksikan langkah pertama Raka.
Tidak bisa mendengar kata pertamanya.
Tidak bisa berada di samping Laras ketika dia melahirkan.
Tidak bisa menghapus lima tahun kesepian mereka.
Namun sore itu aku menyadari satu hal.
Kehilangan masa lalu tidak berarti kami harus kehilangan masa depan.
Aku berdiri sambil menggenggam tangan Laras dan Raka.
Lalu kami berjalan meninggalkan gang itu bersama-sama.
Kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kami lagi.
