Dan sejak malam itu, aku tidak berani memejamkan mata lagi.
Tanganku masih menggenggam kamera kecil itu ketika Bu Sari buru-buru menutup pintu kamar. Ia bahkan memutar kunci dari dalam, lalu menarik tirai sampai rapat.
“Bu, jelaskan semuanya sekarang.”
Bu Sari duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya gemetar.
“Ibu sudah curiga hampir dua bulan.”
“Dua bulan?”
Aku menahan napas.
“Jadi Ibu tahu ada kamera di kamar kami selama dua bulan dan tidak bilang apa-apa kepada saya?”
“Ibu tidak tahu pasti sebelumnya.”
“Lalu kenapa Ibu tidur di sini?”
Bu Sari menatap ke arah kotak kecil di atas lemari.
“Mencari bukti.”
Aku merasa kepalaku semakin berat.
Ia kemudian menceritakan sesuatu yang membuat semua sikap anehnya selama ini perlahan masuk akal.
Dua bulan lalu, saat aku pulang ke rumah orang tuaku di Bogor selama tiga hari, Bu Sari melihat Ardi membawa sebuah kotak kecil ke kamar kami. Awalnya ia tidak curiga. Namun malam berikutnya, ketika hendak mengambil pakaian yang dijemur di belakang rumah, ia melihat Ardi keluar dari kamar sambil memegang tangga lipat.

Beberapa minggu kemudian, Bu Sari menemukan kardus perangkat kamera mini di tempat sampah gudang.
“Ibu tanya Ardi,” katanya.
“Dia jawab apa?”
“Katanya untuk kamera keamanan di garasi.”
Aku memandang benda hitam di tanganku.
“Tapi ini ada di kamar tidur.”
Bu Sari mengangguk.
“Ada yang lebih buruk.”
Jantungku seperti berhenti sesaat.
“Apa?”
“Ibu pernah melihat dia membuka rekamannya.”
Aku tidak langsung memahami maksudnya.
“Kapan?”
“Sekitar tiga minggu lalu. Tengah malam. Ibu mau mengambil air. Ardi duduk di ruang kerja dengan laptop. Di layarnya ada kamar ini.”
Aku merasa mual.
“Kenapa Ibu tidak langsung memberi tahu saya?”
Wajah Bu Sari berubah penuh rasa bersalah.
“Karena dia anak Ibu.”
Jawaban itu terasa seperti tamparan.
Bu Sari menunduk.
“Ibu terus berharap Ibu salah. Ibu pikir mungkin ada alasan lain. Mungkin dia memasangnya karena takut maling, atau untuk alasan keamanan. Ibu terus mencari pembenaran karena seorang ibu selalu ingin percaya anaknya bukan orang jahat.”
“Dan sekarang?”
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Sekarang Ibu lebih takut kalau diam, Ibu justru membantu dia.”
Aku tidak tahu harus marah atau menangis.
Aku mengambil ponsel.
Bu Sari langsung berdiri.
“Jangan hubungi dia.”
“Saya mau tanya langsung.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kamera ini mungkin bukan satu-satunya.”
Kalimat itu membuatku membeku.
Kami memeriksa kamar.
Tidak ada kamera lain yang terlihat.
Lalu Bu Sari menunjuk jam digital di meja samping tempat tidur.
“Itu hadiah dari Ardi, kan?”
Aku mengangguk.
Hadiah ulang tahun enam bulan lalu.
Bu Sari mengambilnya.
Di bagian belakang terdapat lubang kecil yang selama ini kukira mikrofon.
Kami menyinarinya dengan senter ponsel.
Ada pantulan kaca.
Tanganku langsung dingin.
Kamera kedua.
Kami menemukan kamera ketiga di ruang ganti, tersembunyi di dalam adaptor pengisi daya.
Saat itulah aku benar-benar merasa rumah yang kutinggali selama tiga tahun bukan lagi rumah.
Setiap sudut mendadak terasa seperti mata.
Setiap benda menjadi mencurigakan.
Aku bahkan mulai memikirkan kamar mandi.
Bu Sari langsung memahami ekspresiku.
“Kita periksa.”
Untungnya kami tidak menemukan apa pun di sana.
Aku duduk di lantai kamar mandi dan akhirnya menangis.
Bukan hanya karena aku direkam.
Aku memikirkan berapa lama.
Berapa banyak.
Dan untuk apa?
Ardi adalah suamiku.
Orang yang tidur di sampingku setiap malam.
Orang yang selalu mengatakan hubungan harus dibangun dengan kepercayaan.
Namun diam-diam dia mengubah ruang paling pribadiku menjadi tempat pengawasan.
Bu Sari duduk di sebelahku.
“Maafkan Ibu.”
Aku tidak menjawab.
Sekitar pukul empat pagi, kami memasukkan ketiga perangkat ke dalam plastik terpisah. Bu Sari menyuruhku tidak mencabut kartu memori lain atau mengubah apa pun.
“Besok kita cari orang yang mengerti.”
“Polisi?”
“Belum.”
Aku menatapnya tajam.
“Ibu masih mau melindungi Ardi?”
“Bukan.”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar tegas.
“Kita harus tahu apa yang sebenarnya dia simpan. Kalau kita langsung menuduh tanpa memahami semuanya, dia bisa menghapus bukti dari jarak jauh.”
Aku terdiam.
Aku tidak pernah menyangka Bu Sari memahami hal seperti itu.
Seolah membaca pikiranku, dia berkata, “Almarhum bapaknya Ardi dulu teknisi elektronik. Ibu tidak sebodoh yang kalian kira.”
Pagi itu kami berpura-pura menjalani hari seperti biasa.
Ardi menelepon pukul sembilan.
“Kamu baru bangun?”
Aku memaksa suaraku terdengar normal.
“Iya.”
“Ibu?”
“Sedang menyiram tanaman.”
Dia diam.
Kemudian bertanya, “Tadi malam Ibu tidur sama kamu lagi?”
Aku menggenggam meja begitu keras.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya takut tidur sendiri.”
Hening.
Lalu Ardi tertawa kecil.
“Aneh-aneh saja.”
Aku hampir membentaknya.
Namun Bu Sari berdiri di depanku sambil menggeleng.
Ardi kemudian bertanya sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Kalian semalam pindah-pindah barang di kamar?”
Aku menatap Bu Sari.
Dia juga mendengarnya karena pengeras suara aktif.
“Kenapa memangnya?” tanyaku.
“Enggak. Cuma tanya.”
“Dari mana kamu tahu?”
Hening lagi.
Beberapa detik.
“Aku dengar suara waktu telepon kamu tadi malam.”
“Kita tidak teleponan tadi malam.”
Kesunyian di seberang berubah berat.
Kemudian Ardi tertawa.
“Oh iya. Mungkin aku salah ingat.”
Dia buru-buru menutup telepon.
Aku dan Bu Sari saling menatap.
Dia masih bisa melihat atau mendengar sesuatu dari rumah.
Kami langsung mematikan Wi-Fi.
Setelah itu Bu Sari menelepon seseorang bernama Pak Damar, teman lama mendiang suaminya yang bekerja di bidang sistem keamanan.
Ia datang sekitar satu jam kemudian.
Kami tidak menjelaskan terlalu banyak sebelum menunjukkan perangkat yang ditemukan.
Wajah Pak Damar langsung berubah serius.
“Jangan hidupkan lagi.”
Ia memeriksa kartu memori.
“Kamera seperti ini bisa menyimpan lokal sekaligus mengirim data lewat jaringan.”
“Bisa tahu dikirim ke mana?”
“Kalau perangkatnya belum di-reset, mungkin.”
Kami menggunakan laptop lama milik Bu Sari yang tidak terhubung dengan akun Ardi.
Setelah hampir satu jam, Pak Damar menemukan alamat server dan akun yang terhubung.
Nama pengguna itu membuatku semakin bingung.
Bukan nama Ardi.
Tetapi sebuah kombinasi huruf dan angka.
Di dalam penyimpanan terdapat puluhan folder.
Tanggalnya dimulai sebelas bulan lalu.
Aku menikah dengan Ardi tiga tahun lalu.
Artinya, pengawasan itu dimulai jauh setelah pernikahan kami.
Ada rekaman kamar tidur.
Ruang ganti.
Ruang keluarga.
Bahkan beberapa rekaman percakapanku dengan Bu Sari.
Aku merasa ingin muntah.
Namun kemudian Pak Damar menemukan folder lain.
Namanya hanya satu kata.
Maya.
Di dalamnya bukan video.
Melainkan foto-foto tangkapan layar.
Aku sedang menggunakan ponsel.
Membuka laptop.
Menulis sesuatu.
Bahkan ada foto kartu identitas dan beberapa dokumen kantor.
“Apa ini?” tanyaku.
Pak Damar tidak menjawab.
Ia membuka folder berikutnya.
Transfer.
Di sana terdapat beberapa file PDF.
Rekening bank.
Surat pengajuan pinjaman.
Dokumen kepemilikan usaha.
Dan fotokopi tanda tanganku.
Aku menatap satu dokumen cukup lama sebelum memahami apa yang kulihat.
Sebuah pengajuan kredit bernilai hampir dua miliar rupiah.
Atas namaku.
Tanda tangannya mirip sekali dengan tanda tanganku.
Tapi aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
“Bu…”
Suaraku bergetar.
Bu Sari menutup mulutnya.
Pak Damar berkata pelan, “Simpan semuanya. Jangan buka lebih banyak daripada yang diperlukan. Ini sudah bukan masalah rumah tangga biasa.”
Aku akhirnya menghubungi pengacara kenalan kakakku.
Setelah melihat beberapa dokumen, ia menyuruhku segera membuat salinan bukti dan melapor.
Namun sebelum kami sempat pergi, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Bu Sari melihat dari jendela.
Wajahnya langsung pucat.
“Ardi.”
Aku melihat jam.
Baru pukul dua siang.
Seharusnya dia masih di Surabaya sampai besok.
Pintu depan dibuka dari luar.
“Maya?”
Suara Ardi terdengar dari ruang tamu.
Tidak ada yang menjawab.
Langkah kakinya mendekat.
Kemudian ia muncul di depan pintu ruang kerja.
Tatapannya langsung jatuh ke tiga kamera di atas meja.
Wajahnya berubah.
“Kalian ngapain?”
Aku berdiri.
“Kamu pulang cepat.”
“Aku tanya kalian sedang apa.”
Bu Sari berdiri di depanku.
“Ardi.”
“Ibu diam dulu.”
Nada suaranya membuatku terkejut.
Belum pernah aku mendengar Ardi berbicara seperti itu kepada ibunya.
Ia menatap laptop.
“Kalian buka apa?”
Aku mengambil salah satu dokumen.
“Dua miliar.”
Ardi diam.
“Kamu pakai identitasku untuk mengajukan pinjaman?”
“Dengar dulu.”
“Dan kamera?”
“Maya, dengarkan aku.”
“Sebelas bulan kamu merekam saya?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan.”
Ardi menarik napas panjang.
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“Pinjaman itu bukan buat aku.”
Aku tertawa pendek karena tidak percaya.
“Tentu saja.”
“Buat Ibu.”
Bu Sari mendadak menoleh.
“Apa?”
Ardi menunjuk ibunya.
“Jangan pura-pura tidak tahu.”
Wajah Bu Sari kosong.
Ardi berjalan menuju lemari ruang kerja lalu mengeluarkan sebuah map biru dari bagian paling bawah.
Ia melemparkannya ke meja.
“Baca.”
Aku membuka map tersebut.
Di dalamnya ada surat rumah sakit, kuitansi, dan laporan pemeriksaan.
Nama pasiennya Sari Wulandari.
Bu Sari.
Diagnosis penyakit jantung.
Tanggalnya setahun lalu.
Aku menatapnya.
“Ibu sakit?”
Bu Sari duduk perlahan.
Ia tidak menjawab.
Ardi tertawa getir.
“Ibu butuh operasi. Biayanya besar. Dia menolak jual rumah peninggalan Bapak. Aku sedang terlilit utang bisnis. Bank tidak mau kasih aku kredit lagi.”
“Jadi kamu pakai nama Maya?” Bu Sari bertanya.
“Aku akan bayar!”
Ardi membentak.
Aku menatapnya tak percaya.
“Lalu kamera itu untuk apa?”
Ardi terdiam.
Dan justru diamnya itulah yang menjawab semuanya.
Pak Damar berdiri.
“Kalau memang hanya butuh tanda tangan, kenapa harus merekam kamar?”
Ardi menatapnya tajam.
“Ini urusan keluarga.”
“Jawab saya,” kataku.
Ardi akhirnya duduk.
“Aku butuh pola tanda tanganmu. PIN. Jawaban pertanyaan keamanan. Aku perlu tahu di mana kamu menyimpan dokumen.”
Aku hampir tidak percaya seseorang bisa mengucapkan itu seolah semuanya masuk akal.
“Kamu mengawasi saya untuk mencuri identitas saya.”
“Aku terdesak.”
“Dan rekaman kamar tidur?”
Ardi tidak menjawab.
Aku mengulang pertanyaan itu.
“Untuk apa rekaman kamar tidur?”
“Aku tidak pernah menyebarkannya.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
Aku bahkan belum menuduhnya menyebarkan.
Namun dia justru membela diri tentang hal itu.
Pak Damar segera mengambil laptop.
Aku mundur beberapa langkah dari Ardi.
“Kamu pernah mengirim rekamannya ke orang lain?”
“Tidak.”
“Kamu bohong.”
“Maya…”
“Jangan sentuh saya.”
Ardi maju.
Bu Sari langsung berdiri di antara kami.
“Cukup.”
Ardi menatap ibunya.
Semua kemarahan di wajahnya mendadak berubah menjadi sesuatu yang lain.
“Ibu membela dia?”
Bu Sari menatap putranya lama sekali.
“Ibu sedang membela apa yang benar.”
“Aku melakukan semuanya untuk Ibu!”
“Jangan.”
Suara Bu Sari pecah.
“Jangan jadikan penyakit Ibu alasan untuk kejahatanmu.”
Ardi membeku.
Bu Sari mengambil map medis itu dan merobeknya menjadi dua.
“Kamu tahu kenapa Ibu tidak mau operasi dengan uangmu?”
Ardi tidak menjawab.
“Karena Ibu sudah tahu dari mana uang itu berasal.”
Aku menoleh cepat.
Bu Sari menangis.
Ternyata dua bulan sebelumnya ia menemukan pemberitahuan pinjaman atas namaku yang terselip di tas Ardi.
Itulah alasan sebenarnya ia mulai mengawasi anaknya sendiri.
Bukan kamera.
Kamera hanyalah bagian yang ditemukan belakangan.
“Aku tidur di kamar Maya bukan karena takut suara dari belakang rumah,” katanya. “Aku takut Ardi sadar aku sedang mencari perangkat itu.”
Ardi menatap ibunya seolah baru pertama kali melihatnya sebagai orang asing.
Beberapa menit kemudian, pengacaraku datang bersama dua petugas yang sebelumnya sudah kami hubungi.
Ardi tidak melawan ketika diminta menjelaskan dokumen dan perangkat tersebut.
Namun sebelum dibawa pergi untuk pemeriksaan lebih lanjut, ia menoleh kepadaku.
“Kamu benar-benar mau menghancurkan keluarga kita gara-gara ini?”
Aku tidak menjawab.
Bu Sari yang menjawab.
“Keluarga ini tidak hancur karena Maya menemukan kamera.”
Ia menatap putranya.
“Keluarga ini hancur saat kamu memutuskan orang yang mencintaimu boleh kamu jadikan alat.”
Tiga bulan setelah malam itu, aku pindah dari rumah tersebut.
Proses hukum dan perceraian berjalan bersamaan.
Penyelidikan menemukan bahwa Ardi tidak pernah mengunggah rekaman pribadiku ke internet, tetapi ia memang menggunakan rekaman dan foto untuk memperoleh data pribadi serta memalsukan beberapa dokumen keuangan.
Utang yang sebenarnya ternyata jauh lebih besar daripada yang pernah ia ceritakan.
Bu Sari akhirnya menjual sebagian tanah peninggalan suaminya.
Bukan untuk menyelamatkan Ardi.
Ia menggunakan uang itu untuk pengobatannya sendiri.
Sebelum menjalani operasi, ia datang menemuiku.
Kami duduk di sebuah kedai kopi kecil dekat rumah sakit.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Bu Sari tidak menanyakan aku pergi ke mana, dengan siapa, atau kenapa ponselku berbunyi.
Ia hanya meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
Di dalamnya ada kunci rumah.
“Ini apa?”
“Rumah kecil Ibu di Bogor.”
Aku menggeleng.
“Saya tidak bisa menerima.”
“Bukan untuk kamu miliki.”
Ia tersenyum.
“Kalau suatu hari kamu butuh tempat untuk merasa aman, datanglah.”
Mataku panas.
Selama tiga tahun aku mengira perempuan di depanku terlalu suka mencampuri hidupku.
Aku mengira pertanyaannya adalah bentuk ketidakpercayaan.
Ternyata selama beberapa bulan terakhir, sebagian pertanyaan itu muncul karena ia sedang berusaha memahami kebohongan anaknya sendiri.
Sebelum kami berpisah, aku akhirnya menanyakan satu hal.
“Bu, malam pertama Ibu tidur di kamar saya, kenapa Ibu bertanya apakah Ardi benar-benar sayang kepada saya?”
Bu Sari terdiam cukup lama.
Kemudian ia menjawab.
“Karena malam itu Ibu sudah menemukan surat pinjaman.”
Ia menggenggam cangkirnya.
“Dan Ibu sedang mencoba memahami bagaimana seseorang bisa mengatakan cinta kepada istrinya, lalu diam-diam mencuri hidup istrinya sedikit demi sedikit.”
Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.
Dulu aku mengira pengkhianatan selalu datang dalam bentuk perselingkuhan, kebohongan besar, atau seseorang yang pergi meninggalkan kita.
Ternyata tidak selalu begitu.
Kadang pengkhianatan tinggal satu rumah dengan kita.
Mengucapkan selamat pagi.
Mengingatkan kita mengunci pintu dua kali.
Tidur di sisi ranjang yang sama.
Dan membuat kita merasa aman, sementara diam-diam ia memegang kunci untuk membuka seluruh hidup kita.
Sejak hari itu aku selalu mengunci pintu rumahku sendiri sebelum tidur.
Bukan dua kali seperti yang selalu diperintahkan Ardi.
Cukup sekali.
Karena akhirnya aku mengerti, sebanyak apa pun kunci yang kita pasang di pintu, semuanya tidak berarti jika orang yang seharusnya menjaga kita justru menjadi orang yang paling perlu kita waspadai.
