Rahasia Mengerikan di Bawah Tempat Tidur Kami: Mimpi Buruk Selama Tiga Bulan yang Tersembunyi di Dalam Kasur

Aku memasukkan kedua tangan ke celah kasur.

Kemudian, dengan seluruh keberanian yang masih tersisa, aku menarik robekan itu hingga terbuka lebih lebar.

Busa tebal di dalamnya terbelah. Ada beberapa lapisan plastik hitam yang dibungkus sangat rapat dengan lakban. Cairan gelap yang tadi kulihat ternyata merembes dari salah satu sudut bungkusan itu.

Tanganku langsung berhenti.

Aku tahu aku seharusnya tidak menyentuhnya lagi.

Namun rasa takut yang selama tiga bulan kupendam telah berubah menjadi kebutuhan untuk mengetahui kebenaran.

Aku mengambil gunting dari meja rias dan memotong sedikit bagian plastik.

Begitu celah kecil terbuka, bau busuk yang jauh lebih kuat menerjang wajahku.

Aku hampir muntah lagi.

Lalu aku melihat sesuatu.

Kain.

Bukan.

Itu lengan kemeja.

Kemeja biru tua dengan garis putih tipis.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku mengenali kemeja itu.

Aku sendiri yang membelikannya untuk Reza pada ulang tahun pernikahan kami dua tahun lalu.

Aku menarik plastik itu sedikit lagi.

Sebuah tangan muncul dari dalamnya.

Kulitnya sudah berubah warna dan sebagian besar tubuh itu telah rusak karena pembusukan, tetapi di jari manisnya masih terpasang sebuah cincin perak.

Cincin dengan ukiran kecil di bagian dalam.

C dan R.

Clara dan Reza.

Aku terjatuh ke lantai.

Suara yang keluar dari mulutku bahkan tidak terdengar seperti jeritan. Aku mundur sampai punggungku membentur lemari.

Di dalam kasur tempat aku tidur selama tiga bulan…

ada mayat suamiku.

Kalimat itu berputar-putar di kepalaku.

Kalau orang di dalam kasur adalah Reza…

lalu siapa pria yang selama tiga bulan tidur di sampingku?

Tanganku langsung meraih ponsel.

Aku ingin menelepon polisi, tetapi sebelum sempat menekan nomor darurat, sebuah pikiran menghantamku.

Pria itu tahu aku berada di rumah sendirian.

Dia tahu jadwal harianku.

Dia tahu alamat rumah ini.

Dan jika perjalanan bisnis ke Yogyakarta itu hanyalah kebohongan…

Aku membuka aplikasi lokasi keluarga di ponsel.

Sejak menikah, aku dan Reza memang mengaktifkan fitur berbagi lokasi untuk keadaan darurat. Selama ini aku hampir tidak pernah memeriksanya.

Jariku gemetar saat membuka profil suamiku.

Lokasi terakhir muncul.

Aku menatap layar.

Bukan Yogyakarta.

Titik itu berada kurang dari empat kilometer dari rumah.

Aku langsung menelepon polisi.

Namaku, alamat rumah, dan kalimat “saya menemukan mayat di dalam kasur” keluar dari mulutku dengan terbata-bata.

Petugas di telepon memintaku segera keluar dari rumah dan menunggu di tempat aman.

Aku mengambil tas, kunci mobil, dan berlari menuju pintu depan.

Namun ketika melewati meja ruang tamu, mataku menangkap sesuatu.

Kunci mobil Reza.

Masih ada di sana.

Aku membeku.

Mobil yang kulihat meninggalkan rumah pagi tadi bukan mobilnya.

Aku terlalu fokus melihatnya pergi sampai tidak menyadari pelat nomornya berbeda.

Saat itulah terdengar suara.

Klik.

Pintu belakang terbuka.

Seluruh tubuhku menegang.

Aku berdiri di ruang tamu sambil memegang ponsel.

Langkah kaki terdengar dari arah dapur.

Pelan.

Berat.

Langkah yang selama tiga bulan terakhir kudengar setiap malam.

Kemudian seseorang muncul.

Reza.

Atau pria yang selama ini kupanggil Reza.

Ia masih mengenakan kemeja yang sama seperti pagi tadi, tetapi wajahnya kini tidak lagi terlihat tenang.

“Kenapa kamu belum pergi belanja?” tanyanya.

Aku tidak mampu menjawab.

Tatapannya turun ke tanganku yang memegang ponsel.

Kemudian ia melihat ke arah kamar tidur.

Wajahnya berubah.

“Clara.”

Aku mundur satu langkah.

“Siapa kamu?”

Ia diam.

“Siapa kamu sebenarnya?”

“Taruh ponselmu.”

“Reza ada di dalam kasur.”

Rahangnya mengeras.

“Taruh ponselnya, Clara.”

Aku mundur lagi.

“Jangan mendekat.”

Ia maju.

Aku langsung berlari menuju pintu depan.

Namun dia lebih cepat.

Tangannya meraih lenganku dan menarikku hingga aku hampir jatuh.

Aku berteriak sekuat tenaga.

“Lepaskan aku!”

“Diam!”

Suara itu berbeda.

Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi berusaha terdengar seperti Reza.

Aku menendang kakinya dan berhasil melepaskan diri. Aku berlari ke dapur, mengambil kursi, lalu mendorongnya ke arah pria itu.

Ia tersandung.

Aku segera mengunci diri di kamar mandi kecil dekat dapur.

Pria itu menghantam pintu.

“Clara! Buka!”

Aku menekan punggung ke pintu sambil menangis.

Operator polisi masih tersambung.

“Mereka sedang menuju ke sana,” suara perempuan di telepon berbisik. “Tetaplah di dalam ruangan. Jangan keluar.”

Benturan kedua membuat pintu bergetar.

“Clara!”

Benturan ketiga.

Kayu di sekitar gagang mulai retak.

Kemudian terdengar suara sirene dari kejauhan.

Benturan berhenti.

Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki berlari menuju belakang rumah.

Aku tidak berani keluar.

Tak lama kemudian suara keras terdengar dari halaman.

“Polisi! Berhenti!”

Disusul keributan.

Lalu sunyi.

Sekitar dua menit kemudian seseorang mengetuk pintu kamar mandi.

“Bu Clara, polisi. Anda aman sekarang.”

Aku membuka pintu dengan kaki gemetar.

Pria itu ditangkap di halaman belakang ketika mencoba memanjat pagar.

Namun apa yang ditemukan polisi setelahnya jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.

Namanya bukan Reza.

Namanya Arman Prasetyo.

Dan dia adalah saudara kembar identik suamiku.

Aku bahkan tidak tahu Reza mempunyai saudara kembar.

Malam itu, seorang penyidik bernama Pak Damar duduk di hadapanku di kantor polisi.

“Ada sesuatu yang harus kami jelaskan kepada Ibu,” katanya.

Aku memegang secangkir air yang bahkan tidak mampu kuminum.

“Kenapa Reza tidak pernah mengatakan bahwa dia punya saudara kembar?”

Pak Damar membuka sebuah berkas.

“Karena keluarga mereka memutus hubungan dengan Arman hampir lima belas tahun lalu.”

Arman dan Reza memang kembar identik, tetapi kehidupan mereka berkembang ke arah yang sangat berbeda.

Reza kuliah, membangun karier, lalu menikah denganku.

Sementara Arman terlibat berbagai kasus penipuan dan pemalsuan identitas.

Beberapa tahun sebelumnya, ia bahkan pernah menggunakan nama Reza untuk mengajukan pinjaman.

Sejak saat itu, Reza memutus seluruh hubungan dengannya.

“Lalu kecelakaan itu?”

“Tidak pernah terjadi.”

Menurut penyelidikan awal, tiga bulan lalu Arman menghubungi Reza dengan alasan ingin berdamai.

Mereka bertemu di sebuah rumah kosong milik keluarga mereka di pinggiran Jakarta.

Di sanalah Reza dibunuh.

Arman kemudian membuat cerita tentang kecelakaan untuk menjelaskan perubahan wajah, perilaku, tulisan tangan, dan kebiasaannya.

Perban di kepalanya membantu menyamarkan beberapa perbedaan kecil.

Cedera saraf digunakan sebagai alasan mengapa ia tiba-tiba memakai tangan kiri.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Tapi kenapa jasad Reza disembunyikan di rumah kami?”

“Itulah bagian yang belum kami pahami.”

Jawabannya baru ditemukan dua hari kemudian.

Ketika polisi membongkar kasur tersebut sepenuhnya, mereka menemukan sebuah kompartemen lain di bawah tubuh Reza.

Di sana tersimpan beberapa dokumen.

Polis asuransi.

Surat kepemilikan perusahaan.

Dokumen bank.

Dan salinan surat wasiat.

Arman ternyata tidak hanya ingin mengambil kehidupan Reza.

Ia ingin menjadi Reza.

Dengan kemiripan fisik mereka dan dokumen yang telah dipalsukan, Arman berencana mengambil alih aset kakaknya sedikit demi sedikit.

Namun ada masalah besar.

Aku.

Sebagian besar aset Reza akan berpindah kepadaku jika ia dinyatakan meninggal.

Karena itulah kematian Reza tidak boleh diketahui.

Arman harus mempertahankan identitas kakaknya sampai ia berhasil memindahkan aset-aset tersebut.

“Tapi kenapa dia menyimpan jasadnya di rumah?” tanyaku.

Pak Damar terdiam beberapa saat.

“Kami menemukan bukti bahwa Arman awalnya berencana memindahkan jasad itu. Kasur tersebut dibuat dengan rongga khusus agar tubuh korban bisa dibawa masuk ke rumah tanpa diketahui tetangga.”

Aku merinding.

“Jadi kasur itu…”

“Sudah berisi jasad suami Anda ketika dikirim.”

Aku merasa isi perutku kembali bergejolak.

Aku teringat hari ketika kasur itu datang.

Empat orang mengangkatnya dengan susah payah.

Aku bahkan sempat bercanda kepada Reza palsu.

“Kasurnya berat sekali. Memangnya di dalam ada orang?”

Dia tertawa saat itu.

Aku sekarang memahami mengapa tawanya terdengar begitu aneh.

“Kenapa tidak pernah dipindahkan?”

“Arman mulai takut. Ada kamera lingkungan dan penjaga malam. Membawa keluar kasur sebesar itu akan menimbulkan pertanyaan.”

Jadi dia membiarkan kakaknya membusuk di bawah tubuh kami.

Selama sembilan puluh malam.

Aku tidur hanya beberapa puluh sentimeter dari jasad suamiku.

Sementara pembunuhnya berbaring di sebelahku.

Namun penyelidikan belum selesai.

Polisi menemukan satu hal lain.

Sebuah ponsel kecil tersembunyi di bagian dasar kasur.

Ponsel milik Reza.

Baterainya sudah mati.

Setelah diperiksa tim forensik, beberapa rekaman suara berhasil dipulihkan.

Salah satunya direkam pada malam ketika Reza bertemu Arman.

Aku mendengarkan rekaman itu ditemani polisi.

Suara Reza terdengar jelas.

“Aku datang bukan karena percaya padamu, Man. Aku datang karena Ibu memintaku.”

Kemudian terdengar suara Arman.

“Kamu selalu dapat semuanya, Za.”

“Itu bukan salahku.”

“Perusahaan. Rumah. Clara.”

Ada jeda.

Lalu Reza berkata sesuatu yang membuatku menangis.

“Jangan pernah bawa Clara ke dalam masalah kita.”

Rekaman berhenti beberapa menit kemudian setelah suara pertengkaran.

Aku tidak sanggup mendengarkan sisanya.

Namun ada satu rekaman terakhir.

Dibuat beberapa jam sebelumnya.

Sepertinya Reza merekamnya karena mulai mencurigai sesuatu.

“Clara,” suaranya terdengar pelan, “kalau suatu hari aku pulang dan kamu merasa ada sesuatu yang berbeda, jangan abaikan perasaanmu.”

Aku menutup mulut agar tangisku tidak pecah.

“Aku tahu kamu selalu bilang aku terlalu curiga pada Arman. Mungkin kamu benar. Tapi kalau sesuatu terjadi, ingat satu hal.”

Suara Reza berhenti sebentar.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Aku tidak pernah minum kopi tanpa gula. Aku benci tidur menghadap pintu. Dan sejak SD, aku selalu menulis dengan tangan kanan.”

Aku menangis semakin keras.

Semua tanda itu sebenarnya sudah ada di depan mataku.

Selama tiga bulan, pria yang tinggal bersamaku selalu meminum kopi pahit.

Ia selalu tidur menghadap pintu.

Dan ia menggunakan tangan kiri.

Aku melihat semuanya.

Aku hanya memilih penjelasan yang membuatku merasa aman.

Enam bulan kemudian, aku menjual rumah itu.

Aku tidak pernah kembali setelah polisi selesai melakukan penyelidikan.

Arman akhirnya didakwa atas pembunuhan, pemalsuan identitas, penipuan, dan sejumlah tindak pidana lain yang ditemukan selama penyelidikan.

Aku pindah ke sebuah apartemen kecil di Bandung.

Tidak mewah.

Tidak luas.

Namun jendelanya besar dan setiap pagi cahaya matahari masuk memenuhi kamar.

Pada malam pertama di sana, aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring menatap langit-langit sambil mendengarkan suara kendaraan dari jalan.

Tidak ada bau.

Tidak ada langkah berat.

Tidak ada seseorang yang berpura-pura menjadi pria yang kucintai.

Aku memegang cincin pernikahanku.

Polisi mengembalikannya setelah pemeriksaan selesai.

Cincin milik Reza yang ditemukan bersama jasadnya kini kusimpan di sebuah kotak kecil di samping tempat tidur.

Untuk waktu yang lama aku menyalahkan diriku sendiri.

Bagaimana mungkin seorang istri tidak mengenali suaminya?

Namun kemudian aku memahami sesuatu.

Kita sering berpikir bahwa bahaya selalu datang dengan wajah asing.

Padahal terkadang, hal yang paling menakutkan justru datang dengan wajah yang sangat kita kenal.

Ia mengetahui nama kita.

Mengetahui rumah kita.

Bahkan mengetahui bagaimana orang yang kita cintai tersenyum.

Dan terkadang, satu-satunya hal yang mencoba menyelamatkan kita adalah perasaan kecil di dalam hati yang terus berbisik bahwa ada sesuatu yang salah.

Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi mengabaikan bisikan tersebut.

Karena selama tiga bulan, kebenaran sebenarnya berada tepat di bawah tubuhku.

Dan suamiku, bahkan setelah kematiannya, telah meninggalkan cukup banyak tanda agar suatu hari aku bisa menemukannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang