AKU MEMBUATKAN GIGI PALSU GRATIS UNTUK SEORANG PEMULUNG, TAPI MALAM ITU AKU MENEMUKAN NOMOR REKENING KLINIKKU TERUKIR DI KOIN PEMBAYARANNYA—REKENING YANG SAMA SEKALI TAK PERNAH KUKENAL.

Nama itu terpampang di layar komputer seperti sebuah vonis.

Drg. Ayu Prameswari.

Namaku sendiri.

Aku menatap nomor rekening berakhiran 7081 sampai mataku terasa perih. Selama delapan bulan, rekening yang tidak pernah kubuka itu telah menerima ratusan juta rupiah atas nama program gigi tiruan lansia. Lebih buruk lagi, dokumen-dokumennya menggunakan nomor izin praktik dan tanda tangan digitalku.

Aku langsung meraih ponsel.

“Lani, kamu masih di jalan?”

Beberapa detik sebelum panggilan tersambung, aku melihat sesuatu yang membuat jariku berhenti.

Riwayat login portal.

Setiap pengajuan tagihan memiliki alamat IP yang sama.

Aku menyalinnya, lalu memeriksa catatan jaringan klinik.

Alamat itu milik komputer meja administrasi.

Komputer Lani.

Pintu depan tiba-tiba berbunyi.

Aku menoleh.

Lani berdiri di sana.

“Dok belum pulang?”

Wajahnya biasa saja, tetapi pandangannya langsung jatuh ke token kuningan di tanganku.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihat perubahan itu.

Wajahnya memucat.

Aku menggenggam token lebih erat.

“Belum. Aku sedang memeriksa sesuatu.”

“Apa?”

Aku memutar layar laptop ke arahnya.

Tiga puluh delapan tagihan memenuhi layar.

“Program Senyum Lansia.”

Lani tidak menjawab.

“Kamu tahu soal ini?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku menunjuk nomor rekening.

“Rekening 7081 atas namaku. Kamu pernah melihatnya?”

“Tidak pernah.”

“Lalu kenapa semua tagihan ini dikirim dari komputer administrasi?”

Bibirnya terbuka, tetapi tak ada suara keluar.

Aku bangkit.

“Lani, aku tidak mau menuduhmu. Aku cuma mau tahu apa yang terjadi.”

Ia menunduk.

Kemudian, tanpa mengatakan apa pun, ia mengambil tasnya.

“Besok saja, Dok. Saya pusing.”

Ia berjalan cepat menuju pintu.

“Lani.”

Ia tidak berhenti.

Saat pintu tertutup, perasaan buruk merayapi dadaku.

Malam itu aku tidak pulang.

Aku memeriksa seluruh lemari arsip sampai hampir pukul dua pagi. Di belakang tumpukan formulir pasien lama, aku menemukan sebuah map cokelat yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Di dalamnya ada fotokopi KTP-ku.

NPWP.

Surat izin praktik.

Dan salinan tanda tanganku dalam berbagai ukuran.

Di bagian bawah map terdapat satu formulir pembukaan rekening bank.

Namaku tertulis sebagai pemilik.

Nomor rekeningnya berakhir 7081.

Namun foto pada formulir bukan fotoku.

Perempuan di foto itu mengenakan masker medis dan kacamata. Separuh wajahnya tertutup.

Nama petugas yang memverifikasi pembukaan rekening dicetak kecil di bagian bawah.

Rendra Mahardika.

Nama itu terasa familier.

Aku baru ingat beberapa menit kemudian.

Rendra adalah suami Lani.

Aku pernah bertemu dengannya saat acara ulang tahun klinik dua tahun lalu. Saat itu Lani memperkenalkannya sebagai pegawai bank.

Tanganku dingin.

Aku segera memotret semua dokumen, menyimpannya ke penyimpanan daring pribadiku, lalu membawa map itu pulang.

Keesokan paginya Lani tidak datang.

Pesanku hanya centang satu.

Teleponnya mati.

Aku memutuskan mencari Bu Marni.

Aku tahu ia biasa mengumpulkan barang bekas di sekitar Pasar Besar. Setelah hampir satu jam bertanya kepada pedagang, aku menemukannya sedang memilah botol plastik di sebuah gang.

“Bu Marni.”

Ia terkejut melihatku.

“Dokter? Giginya tidak apa-apa kok. Enak sekali dipakai.”

“Bukan soal giginya, Bu.”

Aku mengeluarkan token kuningan.

“Dari mana Ibu mendapatkan ini?”

Senyumnya menghilang.

“Oh, itu.”

“Siapa yang memberikannya?”

Bu Marni menunjuk ke sebuah bangunan kosong di seberang jalan.

“Dulu di situ.”

Menurut ceritanya, sekitar delapan bulan sebelumnya beberapa orang datang menawarkan program gigi palsu gratis untuk lansia. Mereka memasang spanduk Klinik Senyum Aruna, memotret para lansia, mencatat identitas, lalu membagikan token kuningan.

“Mereka bilang token itu bukti kami sudah terdaftar.”

“Apakah Ibu pernah mendapat gigi palsu?”

Bu Marni menggeleng.

“Kami disuruh datang tiga kali. Setiap datang cuma difoto. Terakhir katanya dananya belum cair.”

“Siapa yang mengurus?”

Ia berpikir.

“Ada perempuan muda. Rambutnya sebahu. Namanya…”

Jantungku berdegup.

“Lani?”

Bu Marni menatapku.

“Bukan.”

Aku terdiam.

“Namanya Siska.”

Nama itu asing bagiku.

Namun Bu Marni kemudian mengatakan sesuatu yang membuat semuanya semakin aneh.

“Bu Lani malah pernah datang marah-marah.”

“Apa?”

“Dia bilang program itu palsu. Dia menyuruh kami jangan kasih KTP lagi.”

Aku merasa seluruh dugaan yang kususun semalam runtuh.

Kalau Lani pelakunya, mengapa ia justru memperingatkan mereka?

“Bu masih ingat Siska?”

“Masih. Cantik. Pakai seragam klinik putih. Katanya adik Dokter.”

Aku tidak punya adik perempuan.

Aku kembali ke klinik dengan kepala penuh pertanyaan.

Begitu tiba, aku melihat surat merah penyitaan masih menempel di pintu.

Tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Utang Rp186 juta dan program Rp312 juta mungkin bukan dua masalah berbeda.

Seseorang sengaja membuat utang atas nama klinikku sekaligus menciptakan pemasukan palsu atas namaku.

Mereka sedang membangun sebuah bisnis bayangan menggunakan identitasku.

Aku mendatangi bank tempat rekening 7081 dibuka dengan membawa dokumen dan laporan dugaan pemalsuan identitas. Setelah perdebatan panjang, pihak bank tidak memberikan seluruh informasi, tetapi mereka mengonfirmasi satu hal penting.

Rekening tersebut dibuka secara langsung di sebuah cabang di Malang.

Aku bertanya tentang Rendra.

Wajah petugas berubah.

“Pak Rendra sudah tidak bekerja di sini.”

“Sejak kapan?”

“Enam bulan lalu.”

“Kenapa?”

Petugas itu diam.

Aku tidak mendapatkan jawaban.

Namun sore harinya, sebuah nomor tak dikenal meneleponku.

“Dokter Ayu?”

Suara laki-laki.

“Siapa?”

“Rendra.”

Aku langsung berdiri.

“Di mana Lani?”

“Aman.”

“Apa maksud Anda?”

Ia menarik napas panjang.

“Jangan laporkan apa pun sebelum kita bertemu. Kalau Dokter melapor sekarang, Lani yang akan masuk penjara.”

Kami bertemu di sebuah warung kopi kecil dekat terminal.

Rendra datang sendirian. Wajahnya jauh lebih kurus daripada yang kuingat.

Ia meletakkan sebuah flashdisk di meja.

“Saya yang membuka rekening 7081.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jadi Anda mengaku?”

“Saya memprosesnya.”

“Tanpa kehadiran saya.”

“Ya.”

“Dengan identitas saya.”

“Ya.”

Aku hampir berdiri untuk pergi.

Namun Rendra berkata, “Tapi uangnya bukan untuk saya.”

Ia mendorong flashdisk ke arahku.

“Semua ada di situ.”

Rendra bercerita bahwa delapan bulan lalu seseorang bernama Siska menghubunginya. Perempuan itu mengaku sebagai konsultan pengadaan kesehatan dan membawa dokumen lengkap klinikku, termasuk salinan KTP serta tanda tangan digital.

Rendra tahu prosedurnya bermasalah.

Tetapi saat itu ia terlilit utang.

Ia menerima Rp15 juta untuk meloloskan pembukaan rekening.

“Lalu saya sadar transaksi yang masuk terlalu besar. Saya tanya Siska. Dia mengancam akan melaporkan saya.”

“Lani tahu?”

“Setelah dua bulan.”

Itulah sebabnya Lani mendatangi para lansia.

Ia mencoba mencari bukti tanpa memberitahuku karena takut suaminya ikut dipenjara.

“Kenapa dia bilang dokumen hilang?”

Rendra menunduk.

“Karena dia panik. Dia ingin melindungi saya.”

Aku menatapnya dengan jijik sekaligus kecewa.

“Dengan membiarkan saya menanggung utang Rp186 juta?”

“Utang itu bukan dibuat Siska.”

Aku membeku.

“Apa?”

Rendra membuka laptopnya.

“Lihat tanggalnya.”

Kontrak pembelian alat senilai Rp186 juta dibuat tiga minggu setelah Lani mulai menyelidiki program palsu.

“Itu bukan transaksi pertama,” katanya. “Itu ancaman.”

Seseorang mengetahui Lani sedang mencari bukti, lalu membuat pembiayaan fiktif untuk menenggelamkan klinikku dalam utang.

“Siapa Siska?”

Rendra menatapku.

“Itu yang harus Dokter lihat sendiri.”

Aku membuka flashdisk.

Ada rekaman kamera keamanan bank pada hari rekening 7081 dibuka.

Seorang perempuan berkacamata dan bermasker duduk di meja Rendra.

Ia menandatangani dokumen.

Saat petugas meminta verifikasi wajah, ia membuka masker.

Darahku seakan berhenti mengalir.

Aku mengenalnya.

Namanya bukan Siska.

Namanya Mira Santoso.

Mantan partner bisnisku.

Empat tahun lalu, Mira dan aku mendirikan Klinik Senyum Aruna bersama. Namun setahun kemudian aku memutus kerja sama setelah menemukan bahwa ia beberapa kali menaikkan harga bahan medis dalam laporan keuangan.

Kami bertengkar hebat.

Mira pergi sambil mengatakan bahwa suatu hari aku akan menyesal mengambil klinik itu darinya.

Aku mengira itu hanya kemarahan.

Ternyata ia menunggu tiga tahun.

Aku membawa seluruh bukti ke polisi.

Penyelidikan bergerak cepat setelah bank membekukan rekening 7081.

Namun kejutan terbesar muncul dua hari kemudian.

Saldo rekening itu hampir kosong.

Dari Rp312 juta, tersisa kurang dari Rp4 juta.

Uang telah dipindahkan melalui puluhan transaksi kecil.

Salah satunya menuju perusahaan yang menjual kursi dental dan kompresor kepadaku.

Aku menatap penyidik.

“Jadi uang program lansia dipakai untuk membayar uang muka alat yang kemudian dibebankan sebagai utang klinikku?”

Ia mengangguk.

Skemanya mulai terlihat.

Mira menciptakan program palsu menggunakan nama klinikku, menerima dana, lalu memakai sebagian dana itu untuk membuat pembelian alat atas namaku. Setelah cicilan sengaja dihentikan, perusahaan pembiayaan datang menagih.

Jika klinikku tutup, aku akan terlihat seperti dokter yang menyelewengkan dana program lansia sekaligus gagal membayar utang.

Sementara Mira menghilang membawa sisa uang.

Namun ia membuat satu kesalahan kecil.

Token kuningan.

Setiap penerima program diberi kode yang terhubung dengan nomor rekening untuk memudahkan pencatatan internal.

SA-7081.

Dan Bu Marni membawanya kepadaku.

Mira ditangkap tiga minggu kemudian di Surabaya.

Rendra juga harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya. Lani datang ke klinik sehari setelah penangkapan.

Matanya bengkak.

“Saya minta maaf, Dok.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Saya seharusnya bilang dari awal.”

“Iya.”

“Saya takut Rendra dipenjara.”

Aku menatap perempuan yang sudah bekerja bersamaku hampir lima tahun itu.

“Aku bisa memahami kenapa kamu takut, Lan. Tapi rasa takutmu hampir membuat hidupku hancur.”

Air matanya jatuh.

“Aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja.”

Lani mengangguk.

Hari itu ia mengundurkan diri.

Aku tidak menahannya.

Empat bulan kemudian, kasusnya belum sepenuhnya selesai, tetapi pembiayaan Rp186 juta dinyatakan bermasalah karena terbukti menggunakan dokumen palsu. Nama klinikku mulai dipulihkan, dan sebagian dana program berhasil dilacak.

Suatu sore, ketika aku sedang membersihkan ruang perawatan, pintu terbuka.

Bu Marni masuk.

Kali ini ia tidak membawa kaleng biskuit.

Ia membawa dua bungkus sate.

“Saya janji dulu kalau sudah punya gigi, saya mau makan sate.”

Ia meletakkan satu bungkus di mejaku.

“Ini buat Dokter.”

Aku tertawa.

“Bu, nanti malah saya yang terus dapat bayaran.”

Bu Marni tersenyum lebar memperlihatkan gigi palsunya.

Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku.

Token kuningan.

“Ada satu lagi yang saya simpan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa Ibu tidak membuangnya?”

Bu Marni membalik token itu di telapak tangannya.

“Karena benda kecil ini hampir dibuang orang. Saya juga sering dianggap begitu.”

Aku terdiam.

Ia menyodorkannya kepadaku.

“Tapi ternyata sesuatu yang kelihatannya tidak berharga bisa menyelamatkan sesuatu yang besar.”

Aku menerima token itu.

Beberapa bulan kemudian, Klinik Senyum Aruna benar-benar menjalankan Program Senyum Lansia.

Kali ini programnya nyata.

Tidak ada foto palsu.

Tidak ada rekening tersembunyi.

Tidak ada token kuningan.

Bu Marni menjadi pasien pertama sekaligus orang yang paling rajin mengajak lansia lain datang.

Aku memasukkan token SA-7081 ke dalam bingkai kecil dan menggantungnya di dinding ruang kerjaku.

Di bawahnya kutulis satu kalimat.

Jangan pernah mengukur nilai seseorang dari apa yang mampu ia bayar.

Karena pada hari ketika aku merasa sedang menyelamatkan seorang perempuan tua dengan memberikan gigi palsu gratis, aku sama sekali tidak tahu bahwa justru pembayaran Rp47.500 dan sekeping koin miliknya yang sedang menyelamatkan seluruh hidupku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang