Malam berikutnya, pukul tujuh lewat dua belas menit, meja makan di rumahku sudah dipenuhi orang.
Om Hendra datang bersama istrinya. Nia duduk di sebelah Ibu dengan gaun baru berwarna krem, seolah dialah nyonya rumah. Dua sepupuku ikut hadir, begitu pula Tante Mira yang sejak dulu selalu ingin tahu urusan keluarga orang lain.
Hanya satu kursi yang kosong.
Kursi Alya.
Aku sengaja datang terlambat.
Ketika mobilku berhenti di halaman, Ibu langsung keluar menyambutku.

“Dimas? Kamu sudah pulang?”
Wajahnya berubah sesaat, tetapi segera kembali tersenyum.
“Kenapa tidak bilang Ibu?”
“Aku ingin memberi kejutan.”
Aku mencium tangannya seperti biasa.
Ibu tidak tahu bahwa selama dua puluh empat jam terakhir, aku sudah membaca hampir seluruh dokumen yang tersimpan di email lama.
Dan semakin banyak yang kubaca, semakin sulit bagiku memahami bagaimana aku bisa begitu buta selama bertahun-tahun.
Begitu masuk ke ruang makan, Nia langsung memelukku.
“Mas, akhirnya pulang juga.”
Aku hanya mengangguk.
Mataku melirik ke arah lorong belakang.
Alya tidak terlihat.
Kami mulai makan.
Sepuluh menit pertama dipenuhi percakapan biasa. Om Hendra bertanya tentang proyekku di Surabaya. Tante Mira membicarakan sekolah anaknya.
Lalu, seperti sudah direncanakan, Nia meletakkan sendoknya.
“Mas, sebenarnya ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Mbak Alya.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku menatapnya.
“Apa?”
Nia melirik Ibu.
Ibu menghela napas panjang, memainkan perannya dengan sempurna.
“Ibu sebenarnya tidak ingin membicarakan ini saat kamu baru pulang.”
“Bicarakan saja.”
Nia berdiri dan mengambil sebuah map dari meja kecil.
Dia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya ada salinan mutasi rekening, tagihan kartu kredit, dan beberapa bukti transfer.
“Selama Mas kerja keras,” katanya, “Mbak Alya hidup dari uang Mas. Belanja, perawatan, kirim uang ke keluarganya. Semuanya.”
Aku membaca lembar pertama.
Lalu kedua.
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena dokumen itu begitu ceroboh.
“Ini dari mana?”
Nia menjawab cepat, “Aku menemukannya di meja kerja.”
“Meja kerja siapa?”
Nia terdiam sesaat.
“Ya meja kerja Mas.”
Aku mengangguk.
“Menarik.”
Ibu mulai bicara.
“Dimas, Ibu cuma tidak ingin kamu dimanfaatkan. Sembilan tahun kamu menikah, tapi apa yang sebenarnya Alya berikan?”
Aku meletakkan map itu.
“Di mana Alya?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengulanginya.
“Di mana istriku?”
Ibu mendesah.
“Dia sedang istirahat.”
“Di kamar mana?”
Wajah Ibu mulai berubah.
Aku berdiri dan berjalan menuju lorong belakang.
Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki mengikutiku.
Aku berhenti di depan kamar kecil di belakang ruang cuci.
Kubuka pintunya.
Alya sedang duduk di kasur lipat.
Dia mengenakan blus sederhana dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat seadanya.
Ketika melihatku, matanya berkaca-kaca.
Namun dia tidak menangis.
“Mas.”
Aku melihat dua kardus di sampingnya.
Untuk pertama kalinya aku benar-benar masuk ke ruangan itu.
Panas.
Pengap.
Bahkan tidak ada jendela yang layak.
“Sudah berapa lama kamu tidur di sini?”
Alya menatap Ibu yang berdiri beberapa meter di belakangku.
“Dua minggu.”
Aku menoleh.
“Dua minggu?”
Ibu langsung menjawab.
“Dimas, jangan salah paham. Itu karena dia sendiri yang keras kepala.”
“Kamar kita sekarang dipakai Nia.”
“Nia sedang ada masalah dengan suaminya. Dia butuh tempat.”
“Jadi istriku dipindahkan ke kamar pembantu?”
“Jangan bicara seolah Ibu mengusirnya.”
Aku memandang Alya.
“Kartumu?”
Alya terdiam.
“Kenapa tidak bisa dipakai?”
Ibu memotong.
“Ibu yang blokir.”
Ruangan seketika sunyi.
“Kenapa?”
“Karena itu uang keluarga kita.”
Aku menatapnya lama.
Ibu melanjutkan dengan suara semakin tinggi.
“Selama kamu di Surabaya, dia beberapa kali mau mengambil uang. Ibu tidak tahu untuk apa. Jadi Ibu minta Nia menghubungi bank.”
Aku hampir tidak percaya.
“Bagaimana Nia bisa memblokir kartu atas nama Alya?”
Nia tampak gugup.
“Mas, itu kartu tambahan dari rekening keluarga.”
Alya akhirnya berdiri.
“Bukan.”
Semua mata tertuju kepadanya.
Alya berjalan keluar dari kamar kecil itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar tegas.
“Itu rekening atas nama saya.”
Nia pucat.
Alya menatapku.
“Mas, kita bicara di meja makan saja.”
Kami kembali ke ruang makan.
Alya duduk di kursi kosong di sebelahku.
Ibu langsung berkata, “Saya sudah bilang jangan keluar.”
Alya memandangnya tenang.
“Dan kemarin saya sudah meminta Ibu mengulang ucapan Ibu di depan Mas Dimas.”
Ibu tertawa sinis.
“Baik. Saya ulangi.”
Ia menunjuk sekeliling.
“Rumah ini dibeli Dimas. Perusahaan dibangun Dimas. Semua yang kamu nikmati berasal dari anak saya. Jangan karena menikah dengannya kamu merasa berhak atas harta keluarga ini.”
Alya mengangguk perlahan.
“Terima kasih.”
Lalu dia mengeluarkan ponselnya.
“Sekarang saya ingin menunjukkan sesuatu.”
Dia membuka sebuah dokumen.
Namun sebelum dia sempat berbicara, aku mengeluarkan laptop dari tas.
“Tidak perlu.”
Alya menoleh kepadaku.
Aku membuka email notaris yang kutemukan sehari sebelumnya.
“Semalam aku membaca ini.”
Wajah Alya berubah.
Aku membaca bagian terpentingnya.
Sebelas tahun lalu, Alya menanamkan modal sebesar Rp4,2 miliar ke perusahaan yang saat itu bahkan belum layak disebut perusahaan.
Dana itu bukan pinjaman.
Bukan hadiah.
Itu penyertaan modal.
Sebagai gantinya, Alya memperoleh kepemilikan saham sebesar 55 persen.
Sendok di tangan Tante Mira jatuh ke piring.
Om Hendra menatapku.
“Lima puluh lima persen?”
Aku mengangguk.
“Ya.”
Nia tertawa gugup.
“Mas, itu sebelas tahun lalu. Pasti sudah berubah.”
“Benar.”
Aku membuka dokumen berikutnya.
“Empat tahun lalu berubah.”
Aku menatap Alya.
“Menjadi 62 persen.”
Kali ini bahkan Ibu tidak langsung bereaksi.
Wajahnya kosong.
Aku sendiri baru mengetahui angka itu malam sebelumnya.
Selama bertahun-tahun, aku mengira struktur kepemilikan perusahaan kami hampir seimbang.
Aku mengelola bisnis. Aku tampil di depan investor. Namaku muncul di media.
Alya memilih berada di belakang layar.
Aku tidak pernah mempertanyakan kenapa.
Ternyata setelah beberapa kali perusahaan membutuhkan tambahan modal, Alya kembali memasukkan dana melalui perusahaan investasi miliknya.
Om Hendra menatap Alya.
“Jadi kamu pemegang saham mayoritas?”
Alya tersenyum tipis.
“Secara hukum, iya.”
Ibu tiba-tiba berdiri.
“Dari mana kamu punya uang sebanyak itu?”
Pertanyaan itu membuat Alya diam.
Aku juga ingin tahu jawabannya.
Sebelas tahun lalu, aku tahu Alya berasal dari keluarga berada.
Tetapi aku tidak pernah tahu seberapa besar aset yang sebenarnya dia miliki.
“Ayah saya meninggalkan beberapa aset sebelum meninggal,” jawab Alya. “Sebagian saya jual.”
Ibu menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Alya membuka dokumen lain.
“Tanah di Cikarang. Dua ruko di Kelapa Gading. Saham perusahaan logistik milik keluarga saya. Semuanya tercatat.”
Ibu duduk perlahan.
Tetapi kejutan belum selesai.
Aku mengeluarkan dokumen lain.
“Rumah ini juga menarik.”
Ibu langsung menatapku.
“Kenapa dengan rumah ini?”
“Memang dibeli atas namaku.”
Wajah Ibu sedikit lega.
“Tuh, kan?”
“Tapi uang pembeliannya berasal dari dividen perusahaan.”
“Ya, berarti uang kamu.”
“Bukan.”
Aku menatap Alya.
“Pada tahun rumah ini dibeli, pembagian dividen terbesar masuk ke Alya.”
Alya menutup mata sebentar.
Seolah dia sebenarnya tidak ingin percakapan ini terjadi.
Aku melanjutkan.
“Enam miliar dari harga rumah ini berasal dari bagian keuntungan Alya.”
Ibu membeku.
“Tidak.”
“Bukti transfernya ada.”
Aku memutar laptop ke arahnya.
“Dua miliar sisanya memang dari rekeningku.”
Tidak ada yang berbicara.
Lalu Nia tiba-tiba berdiri.
“Jadi sekarang semua mau menyalahkan kami?”
Aku menatapnya.
“Belum.”
Wajah Nia berubah.
“Apa maksud Mas?”
Aku mengambil map yang tadi diberikannya.
“Dokumen yang kamu tunjukkan ini palsu.”
“Jangan sembarangan menuduh.”
“Nomor rekeningnya benar. Nama Alya benar. Tapi transaksi yang kamu tandai sebagai pengeluaran pribadi bukan milik Alya.”
Aku mengeluarkan tiga lembar lain.
“Ini rekening perusahaan.”
Nia mundur setengah langkah.
“Dan yang lebih menarik, ada transfer Rp380 juta tiga bulan lalu.”
Ibu langsung melihat Nia.
Aku melanjutkan.
“Dikirim ke sebuah perusahaan bernama PT Nusa Karya Mandiri.”
Nia tidak menjawab.
“Perusahaan itu milik siapa?”
“Aku tidak tahu.”
“Direkturnya suamimu.”
Wajah Nia seketika pucat.
Ibu menoleh cepat.
“Nia?”
“Aku bisa jelaskan.”
Aku menahan amarah.
“Tiga bulan. Tujuh transfer. Total Rp1,7 miliar.”
Om Hendra berdiri.
“Nia, kamu mengambil uang perusahaan Dimas?”
Alya berkata pelan.
“Bukan perusahaan Dimas.”
Semua menoleh.
“Perusahaan kami.”
Kalimat sederhana itu terasa lebih tajam daripada bentakan.
Nia mulai menangis.
“Aku cuma pinjam. Bisnis Arga sedang bermasalah.”
“Dengan memalsukan persetujuan Alya?” tanyaku.
Nia menutup mulut.
Aku menatap Ibu.
“Ibu tahu?”
Ibu tidak menjawab.
Saat itulah aku mendapatkan jawabannya.
“Ibu tahu.”
“Dimas, dengarkan dulu.”
“Jadi semua ini dilakukan karena kalian takut Alya menemukan transfer itu?”
Nia menangis semakin keras.
Ibu memukul lantai dengan tongkatnya.
“Kami keluarga kamu!”
Aku terdiam.
Ibu menunjuk Alya.
“Dia orang luar!”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku akhirnya patah.
Aku menatap perempuan yang membesarkanku.
“Ibu tahu siapa yang membayar operasi lutut Ibu dua tahun lalu?”
Ibu terdiam.
“Perusahaan.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Aku membuka satu email terakhir.
“Rp620 juta. Dari rekening pribadi Alya.”
Wajah Ibu kehilangan warna.
Aku belum selesai.
“Rumah Nia waktu menikah?”
Nia menatapku.
“Uang muka Rp900 juta.”
Aku menggeser layar.
“Alya.”
“Biaya kuliah anak Om Hendra waktu perusahaan Om bangkrut?”
Om Hendra langsung menunduk.
“Rp300 juta.”
Aku menarik napas.
“Alya juga.”
Ruangan itu benar-benar sunyi.
Alya menggenggam tangannya sendiri di bawah meja.
Aku baru menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Selama bertahun-tahun, setiap kali keluargaku membutuhkan bantuan, Alya selalu mengatakan kepadaku bahwa uang itu berasal dari kami.
Dia tidak pernah mengatakan dari dirinya.
Tidak pernah meminta mereka berterima kasih.
Tidak pernah menggunakannya untuk mendapatkan penghormatan.
Dan keluarga yang selama bertahun-tahun hidup dengan bantuan perempuan itu justru memindahkannya ke kamar pembantu.
Aku menatap Alya.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Dia tersenyum kecil.
“Karena kalau aku bilang, bantuan itu berubah menjadi utang budi.”
Aku tidak mampu menjawab.
Ibu mulai menangis.
“Alya, Ibu tidak tahu.”
Alya menatapnya.
“Saya tahu.”
“Ibu benar-benar tidak tahu.”
“Justru itu masalahnya, Bu.”
Suara Alya tidak keras.
Tetapi setiap katanya terdengar jelas.
“Ibu tidak pernah bertanya.”
Ibu menunduk.
“Aku minta maaf.”
Alya menarik napas panjang.
“Saya bisa memaafkan Ibu karena mengira saya miskin.”
Semua orang diam.
“Saya bisa memaafkan Ibu karena menganggap saya bergantung pada Dimas.”
Dia menatap Nia.
“Tapi ada satu hal yang tidak bisa saya anggap sebagai salah paham.”
Alya mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
Dia meletakkannya di meja.
Aku mengenali logo firma hukum di sudutnya.
“Apa itu?” tanyaku.
“Laporan audit.”
Dadaku berdebar.
Alya membuka amplop itu.
“Tiga minggu lalu saya menemukan transfer pertama ke perusahaan suami Nia.”
Nia langsung berdiri.
“Mbak, tolong.”
“Saya diam karena ingin tahu siapa saja yang terlibat.”
Dia mengeluarkan beberapa dokumen.
“Ternyata bukan hanya tujuh transfer.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Dua tahun.”
Alya menatap Nia.
“Total Rp6,8 miliar.”
Wajah Nia seperti kehilangan darah.
Ibu hampir menjatuhkan tongkatnya.
Namun Alya belum selesai.
“Dan sebagian transfer menggunakan otorisasi digital atas nama Mas Dimas.”
Aku membeku.
“Aku tidak pernah menyetujuinya.”
“Aku tahu.”
Alya menatapku.
“Itulah sebabnya aku belum melapor ke polisi.”
Nia menangis.
Dia berlutut di samping kursi Alya.
“Mbak, aku akan kembalikan. Tolong jangan hancurkan keluargaku.”
Alya menatapnya lama.
Kemudian dia berkata sesuatu yang tidak kuduga.
“Aku tidak akan melaporkanmu malam ini.”
Nia mengangkat wajah.
“Benarkah?”
“Tapi besok pagi, kamu dan suamimu harus datang ke kantor auditor. Semua aset yang dibeli menggunakan uang itu akan dicatat. Kalian akan menandatangani perjanjian pengembalian.”
Nia mengangguk berkali-kali.
“Aku mau. Aku akan lakukan apa saja.”
Alya kemudian menoleh kepada Ibu.
“Dan mulai malam ini, tidak seorang pun boleh menggunakan rekening, kartu, atau aset perusahaan tanpa otorisasi resmi.”
Ibu diam.
Aku menggenggam tangan Alya.
“Ayo kita naik.”
Namun Alya tidak bergerak.
“Aku tidak akan tidur di kamar atas malam ini.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Dia melihat ke arah kamar kecil di belakang ruang cuci.
“Karena aku sudah menyewa apartemen.”
Jantungku serasa jatuh.
“Alya.”
“Aku tidak meninggalkanmu.”
Aku menatapnya bingung.
“Lalu?”
“Aku hanya perlu tahu satu hal.”
Dia menatap mataku.
“Kalau malam ini kamu tidak menemukan semua dokumen itu, apakah kamu tetap akan membelaku?”
Pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan daripada seluruh rahasia yang terbongkar malam itu.
Aku ingin langsung menjawab iya.
Namun kata itu tidak keluar.
Karena aku tidak yakin.
Dan Alya melihat keraguanku.
Dia tersenyum sedih.
“Itu sebabnya aku harus pergi sebentar.”
Dua minggu kemudian, Nia dan suaminya menandatangani perjanjian pengembalian dana. Mereka menjual dua mobil, sebuah rumah investasi, dan sebagian kepemilikan bisnis untuk menutup kerugian.
Ibu tidak pernah lagi menyebut Alya sebagai orang luar.
Tetapi hubungan mereka tidak langsung pulih.
Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan satu permintaan maaf.
Sedangkan aku mulai melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak lama.
Belajar mengenal istriku.
Bukan sebagai perempuan yang berdiri di belakang kesuksesanku.
Melainkan sebagai orang yang selama ini berdiri di sampingku, bahkan ketika aku terlalu sibuk untuk menyadarinya.
Tiga bulan kemudian, Alya akhirnya pulang.
Pagi pertama setelah kepulangannya, aku menemukan sebuah map di meja kerja.
Di dalamnya ada dokumen perubahan struktur perusahaan.
Aku membaca halaman pertama dan terkejut.
Alya memindahkan sebagian sahamnya.
Bukan kepadaku.
Bukan kepada keluarganya.
Dia membentuk yayasan pendidikan atas nama almarhum ayahnya dan menyerahkan 15 persen kepemilikan perusahaan untuk membiayai beasiswa anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Aku menemukan Alya di balkon.
“Kenapa tidak kamu simpan saja?”
Dia menatap taman.
“Karena uang seharusnya menunjukkan siapa kita ketika memilikinya, bukan menentukan siapa kita.”
Aku tersenyum.
Lalu teringat sesuatu.
“Ada satu hal yang masih belum aku mengerti.”
“Apa?”
“Kenapa malam itu kamu tahu aku sudah ada di dekat rumah?”
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Alya tertawa.
Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah notifikasi.
Aku membaca nama perangkat yang terhubung ke sistem rumah.
Dimas iPhone.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Wi-Fi?”
“Kamu lupa mematikan koneksi otomatis.”
Aku tertawa sambil menutup wajah.
Semua penyamaran, penerbangan rahasia, bersembunyi di balik tirai.
Hancur hanya karena Wi-Fi rumah.
Namun Alya kemudian berkata pelan.
“Sebenarnya aku senang kamu pulang lebih cepat.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena malam itu akhirnya kita semua tahu siapa yang benar-benar miskin.”
Aku mengernyit.
Alya menggenggam tanganku.
“Bukan orang yang tidak punya uang, Mas.”
Dia menatap ke dalam rumah, ke tempat keluargaku pernah duduk dan menilai harga seseorang berdasarkan siapa yang mereka kira membayar tagihan.
“Melainkan orang yang punya segalanya, tapi kehilangan rasa hormat kepada manusia lain.”
Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh laporan keuangan mana pun.
Selama bertahun-tahun aku mengira aku sedang membangun rumah untuk keluargaku.
Padahal Alya-lah yang menyediakan fondasinya.
Bukan hanya dengan uang Rp4,2 miliar.
Melainkan dengan kesabaran, harga diri, dan kebaikan yang tidak pernah ia jadikan alat untuk membuat siapa pun merasa berutang kepadanya.
Rumah delapan miliar itu masih berdiri sampai sekarang.
Perusahaanku juga terus berkembang.
Namun sejak malam itu, tidak ada lagi seorang pun di keluarga kami yang berani bertanya siapa pemilik rumah itu.
Karena kami akhirnya mengerti bahwa memiliki sebuah rumah dan pantas disebut keluarga adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
