Malam ketika semuanya terbongkar, hujan turun deras di Jakarta.
Arga pulang hampir pukul sebelas.
Aku sedang duduk di sofa sambil menonton televisi ketika suara mobilnya terdengar dari halaman. Luna yang sejak tadi tidur di sampingku tiba-tiba mengangkat kepala.
Telinganya tegak.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
“Aku pulang.”
Arga masuk sambil melepas sepatu. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya sedikit basah.
Namun Luna langsung berdiri.
Aku bahkan belum sempat memanggil namanya ketika kucing hitam itu berlari menuju Arga.
“Luna, jangan!”
Terlambat.
Luna melompat dan kedua kaki depannya mencengkeram jaket Arga.
“Eh! Turun!”
Arga mencoba menepisnya.
Anehnya, Luna semakin agresif.

Ia menggigit bagian saku kiri jaket itu dan menariknya kuat-kuat.
Kainnya robek.
Sesuatu jatuh ke lantai.
Ting.
Sebuah kunci.
Aku menatap benda kecil itu.
Bukan kunci mobil.
Bukan pula kunci rumah kami.
Pada gantungannya terdapat kartu plastik putih bertuliskan angka 1708.
Aku mengambilnya.
“Kunci apa ini?”
Arga membeku.
Hanya sepersekian detik.
Namun setelah tujuh tahun menjadi istrinya, aku tahu kapan suamiku sedang terkejut.
“Oh, itu.”
Ia tertawa kecil.
“Kunci apartemen teman kantor.”
“Kenapa ada di sakumu?”
“Dia titip.”
“Kenapa?”
Arga menghela napas.
“Nadira, aku capek. Jangan mulai interogasi tengah malam.”
Ia mengambil kunci itu dari tanganku, lalu berjalan menuju kamar.
Aku tidak mengejarnya.
Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun, aku tidak mempercayai jawabannya.
Keesokan paginya, setelah Arga berangkat, aku memeriksa jaket yang dipakainya semalam.
Saku kirinya robek akibat cakaran Luna.
Saat memasukkan tangan ke dalam lapisan kain, jariku menyentuh sesuatu.
Selembar kertas kecil terselip di antara lapisan jaket.
Aku menariknya.
Struk minimarket.
Lokasinya di sebuah kompleks apartemen di Kuningan.
Waktu transaksi pukul 22.14.
Tiga hari sebelumnya.
Malam itu Arga mengatakan kepadaku bahwa ia sedang lembur di kantor sampai hampir tengah malam.
Dadaku mulai sesak.
Aku membuka aplikasi peta dan mencari alamat tersebut.
Apartemen itu sekitar dua puluh menit dari kantor Arga.
Nomor 1708 terus terngiang di kepalaku.
Aku masih berusaha mencari alasan.
Mungkin benar apartemen temannya.
Mungkin ia hanya mampir.
Mungkin aku terlalu curiga.
Namun sore itu, Luna kembali memberiku petunjuk.
Ketika membersihkan sofa, aku menemukan sebuah benda kecil di bawah bantal tempat Arga biasa meletakkan jaket.
Sebuah pita rambut perempuan.
Warnanya krem.
Aku tidak pernah memakai pita seperti itu.
Malam berikutnya Arga kembali pulang larut.
Aku tidak bertanya apa pun.
Aku hanya tersenyum dan membuatkan teh seperti biasa.
Justru karena itulah ia tidak curiga.
Dua hari kemudian, Arga berkata ia harus lembur lagi.
“Ada presentasi untuk klien besok.”
Aku mengangguk.
“Hati-hati.”
Sekitar pukul tujuh malam, aku memesan taksi online dan pergi ke apartemen yang tercetak pada struk.
Tanganku dingin sepanjang perjalanan.
Di lobi, aku duduk hampir empat puluh menit.
Lalu aku melihat mobil Arga masuk ke area parkir.
Aku merasa seluruh suara di sekitarku menghilang.
Beberapa menit kemudian, Arga muncul.
Ia tidak sendirian.
Seorang perempuan berjalan di sampingnya.
Usianya mungkin awal tiga puluhan.
Rambut panjang.
Blus putih.
Aku mengenali aroma parfumnya bahkan dari beberapa meter ketika mereka melewatiku.
Itulah aroma yang selama ini menempel di jaket Arga.
Perempuan itu tertawa sambil menggandeng lengannya.
Arga tidak menolak.
Mereka masuk ke lift.
Aku menunggu sampai pintunya tertutup.
Angka di atas lift berhenti di lantai tujuh belas.
Aku merasa mual.
Namun aku belum pulang.
Sekitar setengah jam kemudian, aku naik ke lantai tujuh belas.
Koridornya sepi.
Aku berjalan perlahan.
Aku berhenti.
Dari balik pintu terdengar suara perempuan.
Lalu suara Arga.
Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Namun berhenti.
Aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan jika pintu itu terbuka.
Menamparnya?
Berteriak?
Menangis?
Akhirnya aku hanya mengambil ponsel dan memotret nomor unit tersebut.
Kemudian aku pergi.
Malam itu aku tidur di kamar tamu.
Arga pulang pukul 00.37.
“Kenapa tidur di sini?”
“AC kamar utama terlalu dingin.”
Ia mempercayainya.
Ironis.
Selama bertahun-tahun aku mempercayai kebohongannya.
Kini satu kebohongan kecil dariku saja sudah cukup menipunya.
Keesokan harinya aku menemui seorang pengacara.
Namanya Maya, teman kuliahku yang sudah lama tidak kutemui.
Setelah mendengar ceritaku, Maya tidak langsung menyuruhku bercerai.
Ia hanya bertanya satu hal.
“Kamu mau mengetahui seluruh kebenarannya?”
Aku mengangguk.
“Tapi kamu harus siap kalau ternyata yang kamu temukan lebih buruk daripada perselingkuhan.”
Kalimat itu ternyata menjadi kenyataan.
Maya membantuku memeriksa dokumen keuangan yang secara hukum bisa kuakses sebagai pasangan.
Aku menemukan transfer rutin dalam jumlah besar.
Setiap bulan.
Penerimanya seorang perempuan bernama Selena Prameswari.
Nama itu kemudian kutemukan di media sosial.
Perempuan yang kulihat bersama Arga.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Transfer pertama dilakukan hampir empat tahun lalu.
Artinya hubungan itu jauh lebih lama daripada yang kubayangkan.
Lebih mengejutkan lagi, apartemen 1708 bukan milik Selena.
Unit itu dibeli atas nama Arga tiga tahun lalu.
Aku hampir tidak bisa bernapas ketika melihat nilai transaksinya.
Selama ini Arga selalu mengatakan kami belum mampu membeli rumah yang lebih besar.
Aku mengurangi pengeluaran.
Menunda mengganti mobil.
Bahkan menggunakan sebagian tabunganku untuk membantu biaya renovasi rumah orang tuanya.
Sementara itu ia diam-diam membeli apartemen.
Aku mencetak seluruh dokumen.
Namun aku belum menghadapinya.
Aku ingin tahu sampai sejauh mana kebohongan itu berjalan.
Kesempatan datang seminggu kemudian.
Arga mengatakan akan melakukan perjalanan dinas ke Bandung selama dua hari.
Pukul enam pagi ia berangkat membawa koper.
Pukul sembilan, aku menghubungi kantornya.
Bukan untuk menanyakan Arga.
Aku berpura-pura hendak mengirim dokumen.
Resepsionis menjawab dengan santai.
“Pak Arga hari ini cuti, Bu.”
Aku menutup telepon.
Siangnya aku kembali ke apartemen 1708.
Aku sudah tahu Arga pasti berada di sana.
Kali ini aku mengetuk.
Pintu terbuka.
Selena berdiri di depanku.
Wajahnya langsung pucat.
“Nadira?”
Aku terdiam.
Dia tahu namaku.
Dari belakang terdengar suara Arga.
“Siapa, Sayang?”
Arga muncul.
Saat melihatku, wajahnya berubah.
“Nadira?”
Aku menatapnya.
Tidak menangis.
Tidak berteriak.
Aku hanya berkata pelan.
“Jadi ini perjalanan dinasmu ke Bandung?”
Selena mundur.
Arga mencoba menarik tanganku.
“Aku bisa jelaskan.”
Aku menepisnya.
“Empat tahun, Arga.”
Ia diam.
“Empat tahun kamu mentransfer uang kepadanya.”
Selena tiba-tiba menatap Arga.
“Empat tahun?”
Aku menoleh kepadanya.
Ekspresinya terlihat benar-benar bingung.
“Apa maksudmu?”
Aku tertawa pahit.
“Jangan pura-pura.”
“Aku tidak pura-pura.”
Selena mengambil ponselnya.
“Arga bilang kalian sudah berpisah hampir lima tahun.”
Aku merasa seperti baru ditampar.
“Apa?”
Selena menatapku.
“Dia bilang kalian hanya belum resmi bercerai karena masalah keluarga.”
Arga langsung memotong.
“Selena, cukup.”
Namun perempuan itu justru semakin marah.
“Tidak. Kamu bilang Nadira tinggal di Surabaya.”
Aku menatap suamiku.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa bukan hanya aku yang dibohongi.
Selena membuka sebuah lemari.
Di dalamnya terdapat pakaian Arga.
Sepatu.
Jam tangan.
Bahkan foto mereka berdua.
Namun kemudian mataku tertuju pada sebuah meja kecil.
Ada foto seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun.
Aku membeku.
“Siapa anak itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menatap Arga.
“Siapa dia?”
Selena memeluk foto itu.
“Putri kami.”
Dunia seolah berhenti.
Tujuh tahun menikah.
Empat tahun dikhianati.
Dan ternyata suamiku memiliki anak dengan perempuan lain.
Aku tidak ingat bagaimana aku meninggalkan apartemen itu.
Aku hanya ingat Arga mengejarku sampai lift.
“Nadira, tunggu.”
Aku masuk.
Ia menahan pintu.
“Tolong dengarkan aku.”
“Lepaskan.”
“Aku salah.”
“Lepaskan pintunya.”
“Aku akan mengakhiri semuanya.”
Aku menatapnya.
“Yang akan berakhir adalah pernikahan kita.”
Wajahnya pucat.
“Nadira…”
Pintu lift tertutup.
Tiga hari kemudian, Arga menerima surat dari pengacaraku.
Malam itu ia pulang lebih cepat.
Aku sedang memasukkan pakaian ke koper ketika ia masuk ke kamar.
“Apa ini?”
Ia melempar surat gugatan ke tempat tidur.
“Kamu tahu apa itu.”
“Kamu serius?”
Aku berhenti melipat pakaian.
“Menurutmu aku bercanda?”
Arga mulai panik.
“Nadira, kita sudah tujuh tahun menikah.”
“Dan selama empat tahun kamu punya keluarga lain.”
“Aku akan meninggalkan Selena.”
Aku menatapnya.
“Kamu masih tidak mengerti.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Tidak.”
“Nadira, tolong.”
Lalu sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Arga berlutut.
Pria yang selama ini selalu merasa mampu mengendalikan keadaan itu menangis di depanku.
“Jangan cerai.”
Aku hanya menatapnya.
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat semuanya menjadi jelas.
“Kalau kita bercerai sekarang, aku bisa kehilangan perusahaan.”
Aku terdiam.
Bukan karena terharu.
Justru karena akhirnya aku memahami alasan sebenarnya.
Perusahaan tempat Arga bekerja bukan sepenuhnya miliknya.
Tujuh tahun lalu, ayahku memberikan modal besar ketika Arga baru merintis usaha.
Sebagai perlindungan, sebagian saham ditempatkan atas namaku.
Selama pernikahan kami baik-baik saja, aku tidak pernah ikut campur.
Aku bahkan hampir lupa saham itu ada.
Namun Arga tidak lupa.
Itulah sebabnya ia tidak pernah menceraikanku.
Bukan karena cinta.
Bukan karena keluarga.
Melainkan karena ia membutuhkan tanda tanganku dan kepemilikan sahamku.
“Jadi itu alasanmu?”
Arga menggeleng cepat.
“Bukan begitu.”
Aku tersenyum.
Aneh sekali.
Setelah mengetahui semuanya, aku justru tidak lagi ingin menangis.
“Aku selama ini bertanya-tanya kenapa kamu tidak memilih Selena kalau memang mencintainya.”
“Nadira…”
“Sekarang aku tahu jawabannya.”
Aku menutup koper.
“Kamu membutuhkan istri di rumah ini dan perempuan lain di apartemen itu.”
Arga memegang tanganku.
Aku melepaskannya.
Luna yang sejak tadi duduk di depan pintu tiba-tiba berjalan mendekat.
Ia menatap Arga.
Lalu mendesis.
Untuk pertama kalinya aku tertawa.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Aku tidak mengambil seluruh perusahaan seperti yang ditakutkan Arga.
Aku hanya mengambil bagian yang memang secara hukum menjadi hakku dan keluar dari kehidupannya.
Selena juga meninggalkannya.
Belakangan aku mengetahui bahwa setelah mengetahui seluruh kebohongan Arga, Selena memilih membawa putrinya dan memulai hidup baru.
Arga akhirnya kehilangan dua perempuan sekaligus.
Namun kejutan terakhir datang beberapa minggu setelah perceraian.
Saat membereskan barang-barang lama, aku menemukan jaket Arga yang dulu dicakar Luna.
Aku hampir membuangnya.
Namun Luna kembali mendekati jaket itu.
Ia mengendus saku kiri.
Lalu mengeong.
Aku baru menyadari sesuatu.
Di bagian dalam saku terdapat noda kecil berwarna putih.
Aku menciumnya.
Bukan parfum.
Baunya seperti makanan.
Aku teringat Luna selalu menyerang saku yang sama.
Karena penasaran, aku menghubungi Selena.
Awalnya percakapan kami canggung.
Namun ketika kutanyakan soal jaket itu, ia terdiam beberapa detik.
Kemudian tertawa kecil.
“Anakku suka kucing.”
Aku tidak mengerti.
Selena menjelaskan bahwa setiap kali Arga datang ke apartemen, putrinya sering memasukkan camilan kucing ke dalam saku jaket Arga karena ada seekor kucing liar yang biasa mereka beri makan di taman apartemen.
Aku memandang Luna.
Ternyata selama ini ia tidak sedang mencium parfum perempuan lain.
Ia tidak memiliki naluri ajaib untuk mendeteksi perselingkuhan.
Ia hanya mencium aroma camilan kucing yang tersisa di saku Arga.
Dan malam ketika kunci apartemen itu jatuh, Luna hanya sedang berusaha mengambil sesuatu yang ia kira makanan.
Aku duduk di lantai sambil tertawa dan menangis bersamaan.
Selama berbulan-bulan aku mengira Luna sedang mencoba memperingatkanku.
Padahal ia hanya menjadi seekor kucing.
Namun terkadang hidup memang seperti itu.
Kebenaran besar tidak selalu terbongkar karena penyelidikan hebat atau rencana sempurna.
Kadang ia muncul karena sebuah kebetulan kecil yang tidak bisa dikendalikan siapa pun.
Aku mengangkat Luna ke pangkuanku.
“Jadi selama ini kamu cuma mau makan?”
Luna mengeong pelan.
Aku mengusap kepalanya.
Di luar jendela, matahari pagi menyinari rumah yang kini hanya dihuni oleh kami berdua.
Aneh, rumah itu terasa jauh lebih luas setelah Arga pergi.
Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu juga terasa tenang.
Aku pernah berpikir kehilangan suami berarti kehilangan kehidupan yang telah kubangun selama tujuh tahun.
Ternyata aku salah.
Yang hilang hanyalah kebohongan yang selama ini kukira sebagai kehidupan.
Dan semuanya bermula dari seekor kucing hitam, saku jaket yang robek, dan sebuah kunci kecil bernomor 1708.
