IBU MERTUAKU MEMFITNAHKU DI DEPAN SELURUH KELUARGA HINGGA SUAMIKU LANGSUNG MENJATUHKAN TALAK TANPA MEMERIKSA KEBENARANNYA—AKU TIDAK MEMOHON, HANYA MENANDATANGANI PERPISAHAN LALU MENARIK SEMUA DANA MILIKKU. TIGA HARI KEMUDIAN, SELURUH KELUARGA PANIK!

Nama yang tercetak di halaman terakhir itu membuat darahku seolah berhenti mengalir.

Selena Adinata.

Aku membacanya sekali lagi, berharap mataku salah.

Tidak.

Jika aku dan Raka bercerai, sebagian saham yang selama ini berada di bawah pengelolaan keluarga Wijaya akan dialihkan kepada Selena melalui sebuah perusahaan investasi bernama Adinata Capital.

Tanganku mencengkeram ponsel.

“Raka,” kataku pelan. “Kenapa nama Selena ada di sini?”

Di seberang telepon, Raka tidak menjawab.

Aku bisa mendengar napasnya.

Lalu suara Ratna terdengar dari kejauhan.

“Matikan teleponnya!”

Saat itulah aku tahu bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar transaksi palsu.

“Raka, kamu tahu soal perjanjian ini?”

“Alya, pulanglah. Kita bicara baik-baik.”

Aku tertawa kecil.

Tiga hari lalu, laki-laki itu menceraikanku di depan hampir dua puluh anggota keluarganya tanpa memberiku kesempatan membela diri.

Sekarang dia meminta bicara baik-baik.

“Jawab pertanyaanku.”

“Aku tidak tahu semuanya.”

“Berarti kamu tahu sebagian.”

Raka kembali diam.

Aku menutup telepon.

Pak Surya yang duduk di seberang meja menatapku serius.

“Ada sesuatu yang lebih aneh.”

Dia memutar laptop ke arahku.

“Adinata Capital baru didirikan empat bulan lalu. Modalnya kecil. Tidak punya kegiatan bisnis berarti. Tetapi perusahaan itu sudah menandatangani perjanjian untuk memperoleh saham bernilai puluhan miliar rupiah.”

“Siapa pemiliknya?”

“Secara resmi Selena.”

“Secara tidak resmi?”

Pak Surya membuka dokumen lain.

“Ada aliran dana awal dari rekening milik Ratna Wijaya.”

Aku bersandar di kursi.

Potongan-potongan teka-teki mulai tersusun.

Ratna menyetujui transaksi mencurigakan.

Rekening penerima dibuat menggunakan nama yang menyerupai namaku.

Kemudian dokumen transaksi itu digunakan untuk menuduhku mencuri.

Dua minggu sebelumnya, Ratna juga menandatangani perjanjian yang membuat Selena memperoleh keuntungan jika aku tersingkir.

Semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

“Tapi kenapa?” tanyaku. “Kenapa Ibu Raka melakukan semua ini?”

Pak Surya tidak langsung menjawab.

“Mungkin kita belum menemukan alasan sebenarnya.”

Sore itu aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Jangan percaya siapa pun di keluarga Wijaya. Termasuk Raka. Kalau ingin tahu kenapa Selena terlibat, datang ke kafe di Jalan Senopati pukul tujuh malam.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Pak Surya.

Dia langsung menggeleng.

“Jangan datang sendiri.”

“Aku akan datang.”

“Alya.”

“Aku sudah kehilangan pernikahanku karena sebuah kebohongan. Aku ingin tahu siapa yang membuatnya.”

Akhirnya Pak Surya setuju, dengan syarat sopirnya menungguku tidak jauh dari lokasi.

Pukul tujuh kurang lima menit aku tiba.

Kafe itu ramai. Musik pelan terdengar dari pengeras suara.

Aku memilih meja di sudut.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan masuk mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Aku mengenalnya.

Mira.

Asisten Selena di bagian keuangan.

Dia duduk di depanku dengan wajah pucat.

“Bu Alya, maaf.”

“Untuk apa?”

Mira menatap sekeliling sebelum mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Karena saya tahu sesuatu sejak dua minggu lalu, tapi saya takut bicara.”

Dia mendorong flashdisk itu kepadaku.

“Apa isinya?”

“Salinan surel dan dokumen yang diminta Bu Selena untuk saya hapus dari server kantor.”

Aku menatapnya tajam.

“Kenapa sekarang kamu memberikannya kepadaku?”

“Karena tadi pagi Bu Selena menyuruh bagian IT menghapus akun saya. Saya juga diminta menandatangani surat pengunduran diri.”

Tangannya gemetar.

“Saya sadar saya akan dijadikan kambing hitam kalau masalah ini terbongkar.”

Aku membawa flashdisk itu kepada Pak Surya malam itu juga.

Isinya lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Ada percakapan antara Selena dan Ratna.

Ada rancangan rekening.

Ada dokumen perubahan kepemilikan saham.

Dan ada satu surel yang membuatku duduk membeku hampir satu menit.

Ratna menulis kepada Selena tiga bulan sebelumnya.

Setelah Alya keluar, pastikan Raka tidak mengetahui sumber investasi Prameswari sampai pengalihan selesai.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Jadi Ratna tahu.

Selama ini dia tahu siapa yang sebenarnya menopang perusahaan anaknya.

Dia tahu keluargaku telah menanamkan modal.

Namun justru karena itulah aku harus disingkirkan.

Pak Surya membuka dokumen lain.

“Alya, lihat ini.”

Ternyata perusahaan Raka sedang mempersiapkan putaran investasi besar.

Jika berhasil, valuasinya akan meningkat drastis.

Saham yang akan dialihkan kepada Selena setelah perceraian bisa bernilai beberapa kali lipat.

“Mereka tidak cuma ingin menyingkirkanku,” kataku.

“Mereka ingin mengambil bagian yang terkait dengan investasimu sebelum nilainya melonjak,” jawab Pak Surya.

Keesokan paginya Raka datang ke apartemen tempatku tinggal sementara.

Wajahnya kusut.

“Alya.”

Aku tidak mempersilahkannya masuk.

“Katakan dari sana.”

“Aku baru tahu Ibu menyetujui transaksi itu.”

“Dan Selena?”

Raka terdiam.

Itu cukup.

“Kamu punya hubungan dengannya?”

“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Kalimat itu membuatku tersenyum pahit.

Biasanya, ketika seseorang mengatakan tidak seperti yang kamu pikirkan, kenyataannya justru lebih buruk.

“Jelaskan.”

Raka menunduk.

“Selena pernah menjadi pacarku sebelum aku mengenalmu.”

Aku terdiam.

“Tujuh tahun menikah dan kamu tidak pernah merasa perlu memberitahuku bahwa manajer keuanganmu adalah mantan pacarmu?”

“Ibu yang membawanya masuk dua tahun lalu. Aku pikir masa lalu sudah selesai.”

“Apakah kalian masih berhubungan?”

“Tidak.”

Aku menatap matanya.

“Jangan bohong lagi.”

Raka menghela napas panjang.

“Beberapa bulan terakhir Selena memang sering menghubungiku. Tapi soal pekerjaan.”

Aku mengambil ponsel dan memperlihatkan dokumen yang ditemukan Pak Surya.

“Kalau hanya pekerjaan, kenapa dia akan mendapatkan saham setelah kita bercerai?”

Wajah Raka berubah.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

“Tanda tanganmu ada.”

Raka mengambil ponselku.

Beberapa detik kemudian wajahnya memucat.

“Itu tanda tangan digital perusahaan.”

“Siapa yang punya akses?”

“Aku, Selena, dan Ibu.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan sungguhan di wajah Raka.

Bukan takut kehilangan aku.

Takut kehilangan perusahaan.

Dia mencoba memegang tanganku.

Aku mundur.

“Alya, bantu aku.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu terasa hampir lucu.

Tiga hari lalu, ketika aku meminta satu hari untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, dia bahkan tidak memberikannya.

Sekarang dia meminta bantuanku.

“Aku akan membantu menemukan kebenaran,” kataku. “Bukan menyelamatkan pernikahan kita.”

Raka menatapku lama.

“Aku salah.”

“Ya.”

“Aku seharusnya percaya padamu.”

“Bukan. Kamu tidak harus percaya begitu saja. Kamu hanya perlu memeriksa fakta sebelum mempermalukan istrimu di depan semua orang.”

Dia tidak mampu menjawab.

Siang harinya, masalah perusahaan semakin buruk.

Bank menahan pencairan fasilitas kredit karena jaminan pribadiku sudah tidak berlaku.

Beberapa pembayaran kepada pemasok harus ditunda.

Investor meminta klarifikasi.

Keluarga Wijaya panik.

Ratna meneleponku lebih dari dua puluh kali.

Aku tidak menjawab satu pun.

Sampai akhirnya dia mengirim pesan.

Datang ke rumah malam ini. Kita selesaikan sebagai keluarga.

Aku datang.

Bukan sendirian.

Pak Surya ikut bersamaku.

Ketika kami memasuki ruang keluarga rumah Wijaya, hampir semua orang yang hadir malam saat aku dituduh juga berada di sana.

Ratna duduk di tengah.

Selena berdiri tidak jauh darinya.

Raka berada di dekat jendela.

Begitu melihat Pak Surya, wajah Ratna langsung berubah.

“Kenapa membawa pengacara?”

Aku duduk.

“Karena terakhir kali saya datang sebagai keluarga, saya pulang sebagai pencuri.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku meletakkan salinan rekening di meja.

“Nomor rekening penerima bukan milik saya.”

Lalu dokumen kedua.

“Pemegang akses rekening adalah Selena.”

Dokumen ketiga.

“Transaksi disetujui oleh Ibu Ratna.”

Selena langsung menyela.

“Itu prosedur perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu jelaskan dokumen berikutnya.”

Pak Surya meletakkan perjanjian pengalihan saham.

Wajah Selena memucat.

Ratna masih berusaha tenang.

“Itu hanya rencana investasi.”

“Rencana investasi yang berlaku hanya jika saya dan Raka bercerai?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengeluarkan salinan surel dari flashdisk Mira.

Kali ini Ratna berdiri.

“Dari mana kamu mendapatkan itu?”

Aku tersenyum tipis.

“Berarti Ibu mengakui surel itu asli?”

Ratna sadar telah salah bicara.

Seluruh keluarga mulai berbisik.

Raka mengambil dokumen tersebut.

Semakin banyak yang dia baca, semakin pucat wajahnya.

“Ibu,” katanya akhirnya. “Kenapa?”

Ratna memandang anaknya.

“Kamu tidak mengerti.”

“Jelaskan.”

Ratna menunjukku.

“Sejak menikahi perempuan itu, perusahaan kita tidak pernah benar-benar menjadi milik keluarga Wijaya!”

Aku terdiam.

Akhirnya alasan sebenarnya keluar.

Ratna melanjutkan dengan suara meninggi.

“Modal ayahnya masuk ke perusahaanmu. Jaminannya ada di mana-mana. Kalau suatu hari Alya meninggalkanmu, keluarga kita bisa kehilangan semuanya.”

Aku menatapnya.

“Jadi Ibu menyingkirkan saya lebih dulu?”

“Aku melindungi anakku.”

“Dengan mencuri?”

Ratna membanting meja.

“Aku tidak mencuri!”

Pak Surya berbicara tenang.

“Memindahkan dana perusahaan ke rekening yang dikendalikan pihak tertentu lalu menggunakan transaksi itu untuk menciptakan tuduhan palsu bisa memiliki konsekuensi hukum serius.”

Selena tiba-tiba berkata,

“Jangan salahkan saya sendiri. Bu Ratna yang merencanakan semuanya.”

Ratna menoleh tajam.

“Kamu diam!”

“Kenapa saya harus diam? Ibu yang bilang kalau Alya keluar, saya akan mendapatkan saham dan Raka akhirnya akan kembali kepada saya.”

Raka membeku.

“Apa?”

Selena menatapnya.

“Ibumu tidak pernah menyukaiku dulu karena keluargaku tidak cukup kaya. Tapi setelah tahu Alya menguasai terlalu banyak jaminan perusahaan, dia berubah pikiran.”

Ratna berteriak,

“Selena!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Rahasia itu terbuka di depan keluarga yang sama yang tiga hari lalu menyaksikan aku dipermalukan.

Ironisnya, kali ini aku tidak merasa puas.

Aku hanya merasa lelah.

Raka berjalan mendekati ibunya.

“Jadi semua ini karena Ibu takut Alya punya pengaruh di perusahaan?”

Ratna menatap anaknya.

“Ibu melakukan ini untuk masa depanmu.”

Raka menggeleng.

“Tidak. Ibu melakukan ini karena ingin mengendalikan semuanya.”

Kemudian dia menoleh kepadaku.

“Alya, aku akan memperbaiki semuanya.”

Aku mengambil cincin yang dulu dia letakkan di meja saat menceraikanku. Entah kapan dia membawanya kembali, tetapi sekarang benda itu tergeletak di meja di antara kami.

Aku mendorongnya ke arah Raka.

“Tidak semua hal yang rusak harus diperbaiki.”

Matanya memerah.

“Tujuh tahun, Alya.”

“Justru karena tujuh tahun.”

Aku menatapnya.

“Setelah tujuh tahun, kamu masih memilih tuduhan orang lain daripada memberiku satu hari untuk membuktikan kebenaran.”

Raka menunduk.

Aku meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.

Beberapa minggu berikutnya, penyelidikan internal dilakukan.

Selena diberhentikan. Ratna dicopot dari seluruh kewenangan perusahaan sambil menunggu penyelesaian persoalan hukum terkait transaksi tersebut.

Raka menjual sebagian aset pribadinya untuk menutup kebutuhan kas jangka pendek.

Aku tidak menarik investasi utama keluargaku secara mendadak.

Bukan karena Raka.

Ada ratusan karyawan yang tidak bersalah dan menggantungkan hidup pada perusahaan itu.

Namun semua jaminan pribadiku tetap kuhentikan.

Hubungan bisnis keluarga Prameswari dengan Wijaya Group kemudian disusun ulang secara profesional, lengkap dengan batas kewenangan yang jelas.

Perceraianku dengan Raka akhirnya selesai beberapa bulan kemudian.

Aku pikir itulah akhir cerita.

Ternyata belum.

Suatu sore Pak Surya meneleponku.

“Alya, ada satu dokumen lama yang baru kami temukan di arsip ayahmu.”

Aku datang ke kantornya.

Dia memberikan sebuah map cokelat.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ayahku yang dibuat delapan tahun lalu, beberapa bulan sebelum aku menikah.

Untuk Alya.

Jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin kamu akhirnya mengetahui bahwa Ayah berinvestasi di perusahaan Raka.

Aku berhenti membaca.

Tanganku mulai gemetar.

Aku melanjutkan.

Ayah tidak melakukan ini karena keluarga Wijaya. Ayah melakukannya karena kamu pernah mengatakan bahwa Raka memiliki mimpi besar, tetapi tidak memiliki kesempatan yang cukup.

Aku menutup mulut.

Tiba-tiba aku teringat sebuah percakapan lama.

Saat masih berpacaran, aku pernah bercerita kepada Ayah bahwa Raka hampir kehilangan bisnisnya.

Aku tidak pernah meminta Ayah membantu.

Ternyata dia melakukannya diam-diam.

Baris terakhir membuat air mataku jatuh.

Jika suatu hari hubungan kalian berakhir, jangan gunakan uang ini untuk membalas siapa pun. Ambillah hanya yang menjadi hakmu. Karena kekayaan paling berharga yang Ayah ingin wariskan kepadamu bukan perusahaan, saham, atau uang, melainkan kemampuan untuk pergi ketika seseorang tidak lagi menghargai kepercayaanmu.

Aku duduk lama di ruangan Pak Surya.

Selama ini aku mengira tindakanku malam itu adalah bentuk keberanian.

Ternyata tanpa kusadari, aku hanya sedang menjalankan pelajaran terakhir dari Ayah.

Enam bulan kemudian, aku mendirikan perusahaan investasiku sendiri.

Aku merekrut beberapa orang dari tim lama Ayah dan mulai mendanai usaha kecil yang memiliki potensi tetapi kesulitan memperoleh modal.

Suatu pagi, sekretarisku masuk membawa sebuah amplop.

“Bu Alya, ada surat untuk Ibu.”

Tidak ada nama pengirim.

Namun aku mengenali tulisan tangannya.

Raka.

Aku membuka surat itu.

Hanya ada beberapa kalimat.

Aku kehilanganmu bukan karena kebohongan Ibuku. Aku kehilanganmu karena ketika diberi pilihan antara mencari kebenaran atau mempercayai prasangkaku, aku memilih yang kedua. Sekarang aku mengerti bahwa kepercayaan bukan berarti percaya tanpa bukti. Kepercayaan berarti bersedia mencari kebenaran sebelum menghukum seseorang.

Aku membaca surat itu sampai selesai.

Lalu melipatnya kembali.

Aku tidak menelepon Raka.

Tidak juga membalas.

Aku memasukkan surat itu ke laci meja dan berjalan menuju ruang rapat.

Di balik kaca besar kantorku, Jakarta bergerak seperti biasa.

Dulu aku mengira malam ketika Raka meletakkan cincin di atas meja adalah malam ketika aku kehilangan keluarga.

Sekarang aku mengerti sesuatu.

Malam itu aku memang kehilangan sebuah pernikahan.

Namun tiga hari kemudian, ketika seluruh keluarga Wijaya panik karena aku menarik semua yang sejak awal memang menjadi hakku, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang