Adik Iparku Hanya Tahu Nail Art dan Menangisi Urusan Cinta—Sampai Hari Ia Datang ke

“Mobil hilang?” Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Keisya mengangguk, tetapi tidak meneruskan penjelasan. Sirene ambulans akhirnya terdengar. Ia langsung bergeser, memberi ruang kepada petugas medis.

“Mbak hamil,” katanya cepat. “Tadi mengeluh sakit perut. Kaki kirinya juga tidak bisa digerakkan.”

Aku mencengkeram tangannya ketika petugas memasang penyangga.

“Jangan pergi.”

“Aku ikut sampai rumah sakit.”

Di seberang jalan, Nadine mulai berbicara cepat kepada pria berjas yang datang bersama Keisya. Pria itu tidak membantahnya. Ia hanya meminta Nadine menunggu polisi dan menyerahkan ponselku.

Barulah benda itu kembali ke tanganku.

Layarnya retak. Ada sebelas panggilan tak terjawab dari Arga.

Aku tidak sanggup mengangkat panggilan berikutnya.

Di ambulans, Keisya duduk dekat kepalaku. Kukunya yang berhiaskan bunga kecil menekan ujung kursi sampai buku jarinya memutih.

“Kamu tahu aku di sana dari mana?”

“Siska, teman salonku, lewat persimpangan itu. Dia mengenali Mbak dan meneleponku.”

“Lalu pengacara itu?”

“Pak Adrian sedang bersama Tante Mira di kantor dekat sana. Aku menjemput mereka.”

Tante Mira adalah perempuan dari perusahaan asuransi tadi. Aku pernah bertemu dengannya saat makan keluarga, tetapi tidak tahu bahwa Keisya belakangan bekerja paruh waktu di kantornya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Keisya tersenyum tipis.

“Pernah, Mbak. Waktu makan malam bulan lalu.”

Aku teringat samar-samar. Ia menunjukkan kartu pegawai, lalu Arga bercanda bahwa akhirnya Keisya bisa membayar nail art sendiri. Semua orang tertawa. Termasuk aku.

Aku menutup mata, menahan malu yang datang bersamaan dengan rasa sakit.

Di rumah sakit, dokter segera memeriksaku. Menunggu hasil pemeriksaan terasa lebih menyiksa daripada perjalanan tadi. Aku terus memikirkan kotak kecil di dalam tas.

Ketika dokter mengatakan denyut jantung janin masih terdeteksi, tangisku pecah.

Keisya memeluk bahuku. Ia ikut menangis, tetapi cepat mengusap wajah ketika petugas membutuhkan keterangannya.

Kakiku mengalami patah tulang. Aku harus dirawat dan dipantau lebih lanjut.

Arga datang menjelang malam.

Kemejanya kusut, wajahnya pucat. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat kakiku sudah ditangani.

“Rania.”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

Ia mendekat, tetapi pandangannya jatuh pada hasil pemeriksaan di meja.

“Kamu hamil?”

“Aku baru tahu pagi tadi.”

Arga duduk perlahan. Kedua tangannya menutup wajah.

“Aku mau memberitahumu setelah makan malam,” kataku. “Sebelum Nadine menabrakku dengan mobilmu.”

Ia mengangkat kepala.

“Aku tidak meminjamkannya.”

“Kenapa dia memakai hoodie-mu?”

Arga terdiam terlalu lama.

Keisya yang sejak tadi berdiri dekat jendela berbalik.

“Mas, sekarang jangan pilih-pilih bagian cerita.”

Arga akhirnya mengaku. Selama beberapa bulan, ia kembali sering berhubungan dengan Nadine. Mula-mula membicarakan reuni, lalu keluhan tentang pekerjaan dan rumah tangga. Mereka beberapa kali bertemu tanpa memberitahuku.

Pagi itu, Nadine datang ke kantor meminta uang.

“Aku pernah membantunya bayar utang,” kata Arga. “Setelah itu dia terus meminta. Tadi aku menolak.”

“Lalu mobilnya?”

“Kuncinya ada di meja. Aku keluar menerima telepon. Waktu kembali, dia sudah pergi membawa mobil.”

Hoodie itu tertinggal di kursi belakang sejak perjalanan kami minggu lalu.

Arga memperlihatkan percakapannya dengan Nadine serta bukti laporan yang dibuat sebelum kecelakaan. Waktunya cocok.

Namun, kebenaran tentang mobil tidak menghapus kebohongan yang lain.

“Kamu menceritakan rumah tangga kita kepadanya?”

Arga menunduk.

Aku memalingkan wajah ke jendela.

Keesokan paginya, polisi datang meminta keterangan setelah dokter mengizinkan. Pak Adrian mendampingiku. Keisya menyerahkan flashdisk, lalu menjelaskan asal rekamannya.

Sebuah toko di persimpangan memiliki kamera yang menghadap jalan. Pemiliknya bersedia menyimpan rekaman asli dan memberikan salinan setelah Siska menjelaskan bahwa ada korban yang membutuhkan pertolongan.

Keisya tidak melakukan penyelidikan ajaib. Ia hanya menelepon, bertanya, dan memastikan orang yang tepat datang sebelum bukti hilang.

Rekaman menunjukkan skuterku berhenti sebelum melaju ketika lampu berubah. SUV Nadine masuk dari sisi kiri dan menghantamku. Potongan video yang disebarkannya memang tidak memperlihatkan kejadian secara utuh.

Kartu memori yang diserahkannya ternyata kosong.

Kartu aslinya kemudian ditemukan di dalam dompet kecil di mobil, bersama ponsel kedua. Dari rekaman lengkap, terdengar Nadine berbicara sesaat sebelum benturan.

“Kalau kamu tidak mau bantu, aku temui istrimu sekarang.”

Nama Arga disebut setelahnya.

Aku mendengarkan keterangan itu dengan tubuh dingin.

Nadine sedang mencari aku. Namun, apakah benturan itu disengaja atau terjadi karena ia tidak memperhatikan jalan tetap harus diperiksa. Untuk pertama kalinya, aku lega tidak ada orang yang memaksaku menerima kesimpulan cepat.

Yang jelas, setelah kecelakaan, ia memilih mengubah cerita daripada menolongku.

Beberapa hari kemudian, Keisya datang membawa pakaian bersih. Sebagian hiasan kukunya sudah patah.

“Sayang kukunya,” kataku lirih.

Ia melihat tangannya, lalu mengangkat bahu.

“Bisa dibikin lagi.”

Aku menggenggam jemarinya.

“Maaf selama ini aku sering menganggapmu tidak bisa apa-apa.”

Keisya terdiam, lalu tersenyum sedih.

“Aku memang banyak tidak bisanya, Mbak. Tapi kalau tidak tahu, aku bisa cari orang yang tahu.”

Kalimat itu tinggal lama di kepalaku.

Pemulihanku berjalan perlahan. Aku pindah sementara ke rumah orang tuaku. Arga datang sesuai waktu yang kami sepakati, membantu biaya perawatan dan menghadiri konseling ketika aku sudah cukup kuat.

Aku belum memutuskan masa depan pernikahan kami. Ia belajar menerima bahwa penyesalan tidak memberinya hak untuk buru-buru dimaafkan.

Kasus Nadine terus diproses dengan bukti rekaman, keterangan saksi, dan hasil pemeriksaan kendaraan.

Berbulan-bulan kemudian, ketika aku mulai berlatih berjalan dengan penyangga, Keisya menyodorkan sebuah kotak kecil.

Kotak yang kubeli pada pagi kecelakaan.

“Aku menyimpannya dari tas Mbak. Takut hilang.”

Di dalamnya masih ada hasil pemeriksaan pertama, sedikit terlipat, tetapi utuh.

Aku menangis sambil memeluknya.

Keisya menepuk punggungku, lalu berbisik, “Dulu aku bilang kalau Mas Arga bikin Mbak pergi, aku ikut Mbak.”

Aku tertawa di sela tangis.

“Sekarang kamu benar-benar ikut?”

Ia mengangkat tas besar di samping kursi.

“Sudah izin sama Ibu. Tapi kalau masak mi, nanti tetap bantu aku, ya.”

Kali ini, aku memeluknya lebih erat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang