AKU BERHASIL MENURUNKAN BERAT BADAN 87 KILOGRAM, LALU

“Arga, jawab aku. Kamu tahu Nadine merencanakan semua ini?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutku dengan suara lebih tenang daripada yang kubayangkan. Namun, jantungku berdegup begitu keras hingga aku hampir tidak mendengar suara musik dari dalam restoran.

Arga menatapku, kemudian beralih kepada Nadine yang masih menggenggam ponselnya.

“Aku tahu Nadine ingin mengadakan makan malam untuk mempertemukan kita,” jawabnya. “Tapi aku sama sekali nggak tahu dia berniat mempermalukanmu.”

Nadine langsung mengangkat wajah.

“Mas Arga, jangan pura-pura nggak tahu! Aku sudah cerita tentang Rani dari dulu!”

“Cerita apa?” tanyaku.

Nadine terdiam.

Arga mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah percakapan, lalu memperlihatkannya kepadaku.

Percakapan itu berasal dari Nadine, tiga minggu sebelumnya.

“Mas, aku dengar kamu pacaran sama sepupuku. Sebaiknya hati-hati. Rani punya kebiasaan menyembunyikan penampilannya. Aku nggak mau kamu kecewa.”

Arga membalas singkat.

“Aku mengenal Rani cukup baik. Terima kasih sudah mengingatkan.”

Namun, Nadine terus mengirim pesan.

Ada foto-foto lamaku ketika masih sekolah. Ada tangkapan layar komentar orang-orang yang mengejek tubuhku. Bahkan ada sebuah foto yang memperlihatkan aku sedang menangis setelah acara perpisahan SMA.

Aku mengenali foto terakhir itu.

Nadine sendiri yang mengambilnya.

Saat itu, aku bersembunyi di belakang aula setelah beberapa teman mengolok-olok gaun yang kukenakan.

Aku tidak pernah tahu foto tersebut masih disimpannya.

“Nadine, kenapa kamu menyimpan semua ini?” tanyaku.

Sepupuku menggigit bibir.

“Aku cuma mau Mas Arga tahu siapa kamu sebenarnya.”

“Siapa aku sebenarnya?”

Aku menatapnya lama.

“Perempuan dalam foto itu memang aku. Aku nggak pernah menyangkalnya.”

Nadine memalingkan wajah.

Arga kemudian memperlihatkan pesan terakhirnya kepada Nadine.

“Aku nggak peduli berapa berat badan Rani dulu. Aku hanya ingin kamu berhenti membicarakannya seperti dia melakukan sesuatu yang memalukan.”

Aku terdiam.

Selama ini, ketakutan terbesarku adalah Arga akan meninggalkanku ketika melihat penampilanku secara langsung.

Ternyata lelaki itu sudah mengetahui sebagian masa laluku bahkan sebelum aku berani mengirimkan foto.

“Mas, kenapa nggak pernah cerita?” tanyaku.

Arga menatapku lembut.

“Karena aku nggak mau kamu merasa harus menjelaskan tubuhmu kepadaku. Aku ingin kamu bercerita ketika sudah siap.”

Mataku mulai terasa panas.

Namun, sebelum aku sempat menjawab, Nadine tiba-tiba tertawa sinis.

“Hebat sekali. Sekarang kalian berdua mau bikin aku terlihat jahat?”

Aku menoleh.

“Nggak ada yang membuat kamu terlihat seperti apa pun, Nadine. Orang-orang tadi melihat sendiri apa yang kamu lakukan.”

“Jangan sok suci, Ran! Kamu juga sengaja menyembunyikan perubahan tubuhmu supaya semua orang kaget!”

Aku menarik napas panjang.

“Aku nggak menyembunyikan apa pun untuk menipu seseorang. Aku cuma nggak merasa wajib melaporkan perubahan tubuhku kepada orang yang selama bertahun-tahun menjadikannya bahan lelucon.”

Ruangan mendadak sunyi.

Siska, yang sejak tadi berdiri di dekat meja makan, perlahan menurunkan pandangannya.

“Aku kira kamu masih seperti dulu,” gumamnya.

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau aku masih memiliki berat badan yang sama, apa kalian merasa berhak mempermalukanku malam ini?”

Tidak ada jawaban.

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Karena aku tahu, masalah sebenarnya bukan apakah berat badanku sudah turun atau belum.

Masalahnya adalah mereka menganggap seseorang hanya pantas dihormati setelah penampilannya sesuai dengan standar mereka.

Arga menyentuh lenganku dengan hati-hati.

“Rani, kita nggak harus tetap di sini.”

Aku menatap pintu ruang makan yang masih terbuka.

Di dalamnya sudah tersedia makanan, dekorasi, dan sebuah kue bertuliskan selamat datang untuk Nadine.

Aku tiba-tiba merasa sangat lelah.

Bukan lelah karena menaiki empat lantai tangga.

Melainkan lelah menghadapi orang-orang yang terus mengukur nilai manusia dari ukuran tubuhnya.

“Aku mau pulang,” kataku.

Arga mengangguk.

Namun, tepat ketika kami hendak pergi, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun muncul dari arah lift barang.

Tante Ratih, ibu Nadine.

“Rani?”

Aku menoleh.

Wajah Tante Ratih langsung berubah ketika melihatku.

“Ya Allah, Rani! Kamu berubah sekali, Nak!”

Beliau segera memelukku.

Aku membalas pelukannya dengan canggung.

Tante Ratih kemudian memperhatikan wajahku.

“Kamu sehat, kan? Turunnya banyak sekali.”

Aku mengangguk.

“Alhamdulillah, Tante. Aku menjalani semuanya dengan pendampingan dokter dan ahli gizi.”

Beliau tersenyum lega.

Namun, senyum itu menghilang ketika melihat Nadine menangis di dekat pintu.

“Ada apa ini?”

Nadine langsung menghampiri ibunya.

“Ma, Rani bikin aku malu di depan teman-temanku!”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

Tante Ratih menatapku.

“Rani, sebenarnya ada apa?”

Aku tidak menjawab dengan amarah.

Aku hanya memperlihatkan tangkapan layar unggahan anonim yang kusimpan sejak kemarin, kemudian menjelaskan tentang siaran langsung yang baru saja dilakukan Nadine.

Semakin lama membaca, wajah Tante Ratih semakin pucat.

“Nadine,” katanya pelan, “ini benar kamu yang menulis?”

Nadine mulai menangis lagi.

“Aku cuma bercanda, Ma!”

Tante Ratih menutup mata.

“Bercanda dengan mempermalukan sepupumu di depan orang banyak?”

“Semua orang juga dulu bercanda begitu!”

“Dan itu tetap salah!”

Suara Tante Ratih meninggi.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku melihat seorang anggota keluarga benar-benar menegur Nadine atas perlakuannya kepadaku.

Namun, aku tidak merasakan kemenangan.

Aku hanya merasa sedih karena hal sesederhana itu baru terjadi setelah bertahun-tahun.

Tante Ratih mendekatiku.

“Rani, Tante minta maaf. Tante nggak tahu Nadine masih memperlakukan kamu seperti ini.”

Aku menggeleng perlahan.

“Tante nggak perlu bertanggung jawab atas semua pilihan Nadine. Tapi aku berharap setelah malam ini, nggak ada lagi yang menganggap ejekan soal tubuh sebagai candaan biasa.”

Beliau mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

Aku lalu berpamitan.

Arga mengantarku turun melalui tangga karena lift utama masih belum berfungsi.

Kami berjalan berdampingan tanpa banyak bicara.

Ketika tiba di lantai dasar, Arga berhenti.

“Rani, boleh aku tanya sesuatu?”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Kenapa selama ini kamu takut memperlihatkan dirimu kepadaku?”

Aku tersenyum pahit.

“Karena aku takut kamu cuma menyukai bayangan tentang diriku.”

Arga mengangguk pelan.

“Aku mengerti.”

Aku memandangi lantai.

“Aku tahu kedengarannya aneh. Berat badanku sudah berubah banyak, tapi setiap kali melihat kamera, aku masih teringat orang-orang yang menertawakanku.”

“Itu nggak aneh, Ran.”

Aku mengangkat wajah.

“Pengalaman buruk nggak otomatis hilang hanya karena keadaan sekarang berbeda,” lanjutnya.

Air mataku akhirnya jatuh.

Arga tidak langsung memelukku.

Dia hanya berdiri di sampingku, memberiku waktu menenangkan diri.

Kemudian dia berkata pelan.

“Kalau kamu mau, kita bisa mulai lagi. Kencan pertama yang benar-benar kita rencanakan berdua. Tanpa penonton, tanpa kejutan dari orang lain.”

Aku tertawa di sela tangis.

“Setelah enam belas bulan pacaran, kita baru mau kencan pertama?”

“Lebih baik terlambat daripada kencan pertamanya dijadikan tontonan.”

Aku mengangguk.

Malam itu, kami pergi ke sebuah warung makan kecil yang masih buka di kawasan Ciumbuleuit.

Tidak ada dekorasi mewah.

Tidak ada orang yang menunggu untuk merekam reaksiku.

Hanya dua porsi nasi goreng, teh hangat, dan percakapan yang terasa begitu alami.

Untuk pertama kalinya, aku duduk berhadapan dengan Arga tanpa layar ponsel memisahkan kami.

Dia ternyata lebih sering tersenyum daripada yang kubayangkan.

Dan dia punya kebiasaan lucu, selalu mengaduk minuman beberapa kali meskipun gulanya sudah larut.

“Apa?” tanyanya ketika melihatku tertawa.

“Nggak apa-apa. Ternyata kamu punya kebiasaan aneh.”

Arga tersenyum.

“Baru tahu?”

“Iya. Selama ini aku kira kamu sempurna.”

“Wah, ekspektasimu harus segera diturunkan.”

Kami tertawa bersama.

Namun, ketika makanan hampir habis, Arga tiba-tiba menjadi serius.

“Rani, ada satu hal yang perlu kamu tahu.”

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Apa?”

“Aku pernah bertemu Nadine sebelum dia berangkat ke Melbourne.”

Aku mengernyit.

“Waktu kuliah?”

“Bukan. Sekitar setahun lalu.”

Aku terdiam.

Arga menjelaskan bahwa Nadine pernah menghubunginya untuk meminta bantuan menyusun proposal beasiswa. Mereka bertemu di perpustakaan kampus bersama beberapa alumni.

Saat itu, Nadine sempat bercerita bahwa dia menyukai seseorang yang dikenalnya melalui komunitas akademik.

“Dia nggak menyebut nama orang itu,” kata Arga. “Aku juga nggak menganggapnya serius.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Beberapa minggu lalu, ketika dia tahu aku pacaran denganmu, dia mulai mengirim foto-foto lamamu.”

Aku mengangguk.

Bagian itu sudah kulihat.

Namun, Arga melanjutkan dengan nada berbeda.

“Dia juga bilang bahwa selama ini kamu menggunakan identitas orang lain.”

Aku membeku.

“Identitas orang lain?”

Arga mengeluarkan ponselnya.

Dia memperlihatkan sebuah pesan dari Nadine.

“Rani sebenarnya nggak pernah kuliah pascasarjana. Dia cuma memakai profil akademik milik temannya supaya terlihat pintar.”

Aku menatap layar itu tidak percaya.

“Dia mengatakan itu?”

Arga mengangguk.

“Aku langsung tahu itu nggak benar. Kita pernah mengerjakan proposal bersama. Aku tahu bagaimana kamu bekerja, bagaimana kamu berpikir, dan bagaimana kamu mempertanggungjawabkan tulisanmu.”

Aku menutup wajah dengan tangan.

Jadi Nadine tidak hanya mencoba mempermalukanku karena penampilan.

Dia juga berusaha merusak reputasi akademikku.

“Kenapa kamu nggak memberitahuku sejak awal?”

Arga terlihat menyesal.

“Aku pikir mengabaikannya sudah cukup. Ternyata aku salah. Seharusnya aku memberitahumu supaya kamu bisa melindungi dirimu.”

Aku terdiam cukup lama.

“Aku nggak mau ada lagi rahasia seperti ini di antara kita,” kataku.

Arga mengangguk.

“Aku setuju.”

Keesokan harinya, aku menghubungi pengelola komunitas akademik tempat aku mengenal Arga.

Aku meminta bantuan untuk melaporkan penyebaran informasi palsu yang mencatut identitas dan riwayat pendidikanku.

Aku juga menyimpan tangkapan layar unggahan Nadine, rekaman siaran yang dikirim seorang teman, dan seluruh pesan yang berkaitan dengan tuduhan tersebut.

Aku tidak ingin membalas dengan mempermalukan Nadine di internet.

Namun, aku juga tidak mau membiarkan kebohongan tentang diriku terus beredar.

Dua hari kemudian, akun anonim itu menghapus unggahannya.

Nadine juga mengirim pesan pribadi.

“Ran, aku minta maaf. Aku nggak nyangka semuanya jadi sebesar ini.”

Aku membaca pesan itu tanpa langsung membalas.

Beberapa menit kemudian, dia kembali menulis.

“Aku cuma iri sama kamu.”

Aku menatap layar.

Lalu sebuah pesan suara masuk.

Kali ini, suara Nadine terdengar berbeda.

Tidak ada tawa mengejek.

Tidak ada nada merendahkan.

“Aku selalu dianggap anak yang paling cantik dan paling berhasil dalam keluarga. Semua orang membandingkan kita. Waktu tahu kamu berubah dan punya pacar seperti Arga, aku merasa kehilangan sesuatu yang selama ini membuatku merasa lebih unggul.”

Aku mendengarkan sampai selesai.

Nadine terisak.

“Aku tahu ini kedengarannya jahat. Tapi aku benar-benar iri. Aku takut orang-orang nggak lagi menganggapku istimewa.”

Aku menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa semua ejekannya mungkin berasal dari rasa tidak aman yang selama ini dia sembunyikan.

Namun, memahami alasan seseorang menyakiti kita tidak berarti kita harus menerima perlakuannya.

Aku akhirnya membalas.

“Aku menerima permintaan maafmu, Nadine. Tapi aku butuh jarak. Aku harap kamu memperbaiki apa yang sudah kamu sebarkan, bukan hanya meminta maaf kepadaku.”

Nadine tidak langsung menjawab.

Seminggu kemudian, dia mengunggah permintaan maaf terbuka tanpa menyebut detail pribadiku lagi. Dia mengakui telah menyebarkan informasi palsu dan menggunakan penampilan seseorang sebagai bahan penghinaan.

Aku tidak tahu apakah semua orang mempercayainya.

Aku juga tidak tahu apakah Nadine benar-benar akan berubah.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bertanggung jawab mengurus perasaan sepupuku.

Sebulan kemudian, sebuah kabar mengejutkan datang dari kampus.

Proposal penelitianku terpilih mendapatkan pendanaan untuk program penelitian lanjutan.

Aku membaca surel pemberitahuan itu berulang kali.

Bukan karena tidak percaya.

Melainkan karena teringat masa ketika aku hampir menyerah setelah eksperimen pertamaku gagal.

Aku langsung menelepon Arga.

“Mas!”

“Ada apa, Ran?”

“Proposalnya lolos!”

Di seberang sana, Arga berseru kegirangan.

“Serius? Ya ampun, Rani! Aku tahu kamu bisa!”

Aku tertawa sampai menangis.

Malam itu, Arga datang membawa sebuah buket bunga matahari kecil dan sebuah kue sederhana.

Di atas kue tertulis kalimat yang membuatku tersenyum lebar.

“Untuk perempuan yang tidak pernah berhenti belajar.”

Aku menatapnya.

“Nggak ada tulisan selamat turun berat badan?”

Arga mengerutkan kening.

“Kenapa harus ada?”

Aku tertawa kecil.

“Karena kebanyakan orang selalu memulai percakapan denganku dengan membicarakan tubuhku.”

Arga mengangguk.

“Kalau begitu, hari ini kita rayakan pencapaian yang memang ingin kamu rayakan.”

Aku memeluknya erat.

Saat itu aku menyadari sesuatu yang selama ini sulit kupahami.

Perubahan terbesarku bukanlah angka di timbangan.

Bukan pula ukuran pakaian yang sekarang kukenakan.

Perubahan terbesarku adalah keberanian untuk membangun kehidupan tanpa terus-menerus meminta persetujuan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi tentang pengalaman mahasiswa menghadapi perundungan.

Awalnya, aku ragu.

Aku tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang tentang pengalaman pribadiku.

Namun, setelah mempertimbangkannya, aku memutuskan menerima.

Di hadapan puluhan peserta, aku menceritakan bagaimana dulu foto-fotoku disebarkan tanpa izin, bagaimana komentar tentang tubuh memengaruhi kepercayaan diriku, dan bagaimana aku belajar memulihkan hubungan dengan diriku sendiri.

Aku tidak menampilkan foto lama sebagai sesuatu yang memalukan.

Aku justru memperlihatkannya dengan bangga.

“Itu juga saya,” kataku kepada para peserta. “Perempuan dalam foto ini pernah merasa takut untuk keluar rumah. Tapi dia tetap belajar, tetap bekerja, dan tetap punya mimpi.”

Ruangan menjadi hening.

Aku melanjutkan.

“Jangan menunggu seseorang berubah penampilan sebelum memperlakukannya dengan hormat. Karena martabat seseorang tidak pernah ditentukan oleh ukuran tubuh.”

Setelah acara selesai, seorang mahasiswi menghampiriku.

Matanya berkaca-kaca.

“Kak, aku masih sering diejek karena badanku besar. Aku selalu merasa harus kurus dulu supaya orang mau menghargai aku.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kamu berhak dihargai sekarang. Bukan nanti setelah tubuhmu berubah.”

Mahasiswi itu menangis.

Aku memeluknya sebentar.

Dan dalam pelukan itu, aku seperti sedang memeluk diriku sendiri bertahun-tahun lalu.

Sore harinya, Arga menungguku di luar gedung.

Dia membawa dua gelas kopi.

“Gimana acaranya?”

Aku tersenyum.

“Lebih mengharukan daripada yang kubayangkan.”

Arga menyerahkan kopi kepadaku.

“Aku bangga sama kamu.”

Aku menatapnya.

“Karena aku berani bicara?”

“Karena kamu akhirnya melihat dirimu dengan cara yang selama ini kulihat.”

Aku tertawa kecil.

“Cara yang bagaimana?”

Arga tersenyum.

“Sebagai perempuan yang luar biasa keras kepala kalau sudah punya tujuan.”

Aku langsung menyikut lengannya.

“Mas!”

Dia tertawa.

Kami berjalan menuju parkiran sambil bergandengan tangan.

Di tengah perjalanan, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

Isinya hanya sebuah foto.

Foto lama diriku ketika masih SMA.

Namun, kali ini tidak ada komentar mengejek.

Tidak ada kalimat yang merendahkan.

Hanya satu pesan singkat.

“Aku tadi ikut diskusimu. Aku dulu salah satu orang yang pernah menertawakanmu. Hari ini aku datang untuk meminta maaf, tapi tidak berani mendekat. Terima kasih karena kamu mengingatkanku bahwa semua orang punya kesempatan berubah.”

Aku membaca pesan itu cukup lama.

Lalu aku menyimpan ponsel.

Arga menoleh.

“Ada apa?”

Aku tersenyum.

“Nggak apa-apa. Cuma ada seseorang dari masa lalu yang akhirnya belajar sesuatu.”

Arga menggenggam tanganku lebih erat.

“Dan kamu?”

Aku memandang langit sore Bandung yang mulai berubah keemasan.

“Aku juga belajar.”

“Belajar apa?”

Aku tersenyum.

“Bahwa aku nggak harus membuktikan apa pun kepada orang-orang yang dulu meremehkanku.”

Arga mengangguk.

Kami melanjutkan perjalanan.

Dulu, aku mengira hari ketika Nadine bertemu denganku akan menjadi pembuktian terbesar dalam hidupku.

Aku membayangkan bagaimana wajahnya berubah ketika melihat berat badanku turun 87 kilogram.

Aku membayangkan bagaimana orang-orang yang pernah mengejekku akan terdiam.

Namun, ternyata kebahagiaanku tidak datang dari keterkejutan mereka.

Kebahagiaanku datang ketika aku tidak lagi membutuhkan keterkejutan itu.

Aku tidak harus menjadi lebih kurus untuk pantas dicintai.

Aku tidak harus menjadi lebih cantik untuk dihargai.

Dan aku tidak harus menjadi lebih sukses untuk membuktikan bahwa ejekan mereka dulu salah.

Karena bahkan ketika tubuhku masih jauh lebih besar, aku tetap manusia yang memiliki perasaan, kemampuan, dan masa depan.

Jika suatu hari Nadine benar-benar berubah, aku berharap dia menemukan kebahagiaan tanpa harus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Tetapi aku tidak akan lagi mengecilkan diriku agar orang lain merasa lebih besar.

Malam itu, ketika Arga mengantarku pulang, dia bertanya apakah aku mau berfoto bersama.

Aku sempat terdiam.

Dulu, pertanyaan sederhana itu selalu membuatku panik.

Namun, kali ini aku mengangguk.

Kami berdiri di depan sebuah kedai kopi kecil.

Arga mengangkat ponselnya.

Aku tersenyum ke arah kamera.

Tidak ada usaha menyembunyikan wajah.

Tidak ada keinginan mencari sudut yang paling menguntungkan.

Hanya aku, berdiri di samping lelaki yang mencintaiku dengan segala cerita yang kubawa.

Setelah foto diambil, Arga memperlihatkan hasilnya.

“Bagus?”

Aku menatap layar sebentar.

Kemudian tersenyum.

“Bagus.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya apakah tubuhku terlihat terlalu besar.

Aku tidak meminta foto itu dihapus.

Aku bahkan mengunggahnya ke media sosial dengan sebuah kalimat sederhana.

“Aku bahagia menjadi diriku sendiri.”

Dan mungkin, itulah kemenangan terbesar yang selama ini kucari.

Bukan ketika Nadine kehilangan kata-kata saat melihatku.

Bukan ketika Arga memilih berdiri di sisiku.

Melainkan ketika aku akhirnya bisa melihat foto diriku sendiri tanpa merasa perlu meminta maaf karena telah menjadi aku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang