Tanganku menyentuh lipatan terakhir foto itu. Entah kenapa, selembar kertas tua yang begitu ringan terasa seperti batu di antara jemariku.
Pak Darman tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di samping meja warung, menatapku dengan wajah yang sulit kubaca.
Perlahan, kubuka lipatan yang menutupi tulisan di belakang foto.
Ada tiga nama di sana.
Surya Prasetyo.

Sulastri Prasetyo.
Dan di bawah nama anak kecil yang berdiri di antara mereka tertulis satu nama yang sama sekali tidak kukenal.
Bima Prasetyo.
Aku mengangkat kepala.
“Siapa Bima?”
Pak Darman menarik kursi dan duduk.
“Adik ayahmu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Ayah tidak punya adik.”
“Itu yang kamu tahu.”
Suasana warung mendadak terasa lebih dingin. Dua orang yang sejak tadi duduk di dekat etalase bahkan tidak lagi berbicara.
Aku kembali melihat foto itu.
Ayah tampak masih sangat muda, mungkin berusia dua puluh tahun. Bu Sulastri berdiri di sebelahnya. Anak kecil bernama Bima berada di tengah sambil memegang tangan mereka.
“Kalau ini adik Ayah, sekarang dia di mana?”
Pak Darman tidak langsung menjawab.
“Lanjutkan membaca suratnya.”
Tanganku kembali membuka lembaran tua itu.
Tulisan Bu Sulastri mulai sedikit memudar, tetapi masih bisa kubaca.
Surya pergi bukan karena membenci keluarga ini. Dia pergi karena ingin menyelamatkan adiknya.
Aku berhenti.
Jantungku berdetak semakin keras.
Surat itu menceritakan kejadian lebih dari tiga puluh tahun lalu.
Saat itu keluarga Prasetyo bukan keluarga berada. Kakekku meninggal ketika Ayah masih muda, meninggalkan utang cukup besar. Bu Sulastri membesarkan Surya dan Bima seorang diri dengan menjual hasil kebun.
Ketika Bima berusia tujuh tahun, ia jatuh sakit.
Biaya pengobatannya jauh di luar kemampuan keluarga.
Ayah yang saat itu baru berusia dua puluh tahun memutuskan merantau ke Jakarta. Sebelum pergi, ia berjanji kepada ibunya.
“Aku akan pulang membawa uang. Jangan serahkan Bima kepada siapa pun.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
“Menyerahkan?”
Pak Darman menghela napas.
“Waktu itu ada keluarga kaya dari kota yang menawarkan membiayai pengobatan Bima. Syaratnya mereka ingin mengangkatnya sebagai anak.”
Aku langsung mengerti.
“Tapi Ayah menolak.”
“Surya sangat menolak.”
Menurut surat itu, Ayah pergi dengan membawa hampir semua uang yang tersisa untuk mencari pekerjaan.
Namun keadaan Bima memburuk hanya beberapa minggu kemudian.
Bu Sulastri akhirnya mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
Ia menyerahkan Bima kepada keluarga tersebut.
Sebagai gantinya, seluruh biaya pengobatan ditanggung.
Bima selamat.
Tetapi ketika Ayah pulang beberapa bulan kemudian, adiknya sudah tidak ada.
Ayah marah besar.
Ia menuduh ibunya menjual Bima.
Malam itu mereka bertengkar hebat.
Itulah malam terakhir Ayah tinggal di desa.
Aku menelan ludah.
Tiba-tiba banyak hal tentang Ayah terasa masuk akal.
Ayah tidak pernah membicarakan masa kecilnya.
Setiap kali aku bertanya tentang nenek, jawabannya selalu pendek.
“Nenekmu sudah meninggal.”
Tidak pernah lebih dari itu.
Aku melanjutkan surat.
Ada satu kalimat yang membuat tanganku kembali gemetar.
Aku tidak pernah menjual Bima. Aku menyelamatkannya. Tetapi Surya pergi sebelum aku sempat memberitahukan satu hal penting.
Di bawahnya tertulis nama sebuah keluarga.
Keluarga Santoso.
Aku refleks menatap Pak Darman.
Dia tersenyum pahit.
“Keluargaku.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Bapak yang mengambil adik Ayah?”
“Bukan aku.”
Pak Darman menunjuk dirinya sendiri.
“Ayahku.”
Kepalaku terasa penuh.
Pak Darman menjelaskan bahwa ayahnya dahulu memiliki usaha batik di Yogyakarta. Ia dan istrinya tidak memiliki anak. Ketika mendengar kondisi Bima, mereka menawarkan pertolongan.
Namun ternyata mereka tidak pernah benar-benar berniat memutus hubungan Bima dengan keluarga kandungnya.
Bu Sulastri boleh mengunjunginya.
Bahkan ketika Bima dewasa, mereka sudah berencana mempertemukannya kembali dengan Surya.
“Tapi ayahmu menghilang,” kata Pak Darman.
“Bu Sulastri tidak tahu Surya pergi ke mana. Surat-surat yang dikirim selalu kembali.”
Aku menatap telepon di tanganku.
Sambungan dengan Ayah ternyata masih aktif.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
“Ayah dengar semuanya?”
Beberapa detik kemudian terdengar suara napas.
Lalu suara Ayah yang sangat pelan.
“Dengar.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar suara Ayah bergetar.
“Kenapa Ayah tidak pernah pulang?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Lama sekali ia tidak menjawab.
“Ayah malu.”
Satu kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa sesak.
“Ayah bekerja di Jakarta. Awalnya cuma ingin beberapa bulan. Tapi setelah setahun, Ayah masih belum punya apa-apa. Dua tahun kemudian juga sama. Ayah selalu bilang akan pulang kalau sudah berhasil.”
Ia berhenti.
“Lalu semakin lama Ayah pergi, semakin berat rasanya untuk kembali.”
Aku memejamkan mata.
Tiga puluh tahun ternyata bisa bermula dari satu keputusan untuk menunda pulang.
Aku bertanya, “Ayah tahu Nenek sudah meninggal?”
“Tahu.”
“Kapan terakhir Ayah bertemu Nenek?”
Suara Ayah nyaris seperti bisikan.
“Malam kami bertengkar itu.”
Aku tidak tahu harus marah atau kasihan.
Mungkin keduanya.
Pak Darman kemudian mengambil kunci dari kotak.
“Ini dititipkan Bu Sulastri kepadaku beberapa hari sebelum meninggal.”
“Kunci apa?”
“Gudang kecil di belakang makam.”
Kami meninggalkan warung ketika langit sudah gelap.
Aku mendorong motor pelan mengikuti Pak Darman menuju pemakaman.
Anehnya, jalan yang kulewati sore tadi terasa berbeda.
Tidak ada rumah.
Tidak ada halaman.
Tidak ada pohon mangga.
Yang ada hanya tanah kosong dan deretan nisan.
Aku berdiri di depan makam Sulastri Prasetyo.
Tadi sore, aku yakin betul dipan kayu berada tidak jauh dari tempat ini.
Pak Darman membawa senter dan mengajakku menuju bangunan kecil di ujung pemakaman.
Kuncinya masih cocok.
Pintu kayu terbuka dengan bunyi berderit.
Di dalam hanya ada beberapa barang lama.
Sebuah lemari.
Kotak pakaian.
Dan sebuah meja kecil.
Pak Darman membuka lemari.
Di dalamnya tersimpan puluhan surat.
Semuanya ditujukan kepada Surya Prasetyo.
Tidak satu pun pernah terkirim.
Aku mengambil salah satunya.
Surya, pulanglah. Ibu tidak marah.
Surat lain berbunyi:
Bima sudah sehat. Dia sering bertanya tentang Kakaknya.
Tanganku gemetar saat membuka surat berikutnya.
Surya, kalau kamu belum bisa memaafkan Ibu, tidak apa-apa. Tapi pulanglah sekali saja supaya Ibu tahu kamu masih hidup.
Aku tidak sanggup melanjutkan.
Dari telepon terdengar suara Ayah menangis.
Bukan tangisan keras.
Hanya suara seseorang yang selama puluhan tahun menahan sesuatu dan akhirnya tidak mampu lagi.
Lalu Pak Darman berkata, “Masih ada satu hal yang belum kamu tahu.”
Ia membuka laci meja.
Di dalamnya ada sebuah amplop yang jauh lebih baru.
Tanggalnya hanya tujuh tahun lalu.
Pengirimnya tertulis Bima Prasetyo.
Aku menatap Pak Darman.
“Berarti Bima masih hidup?”
Pak Darman mengangguk.
“Masih.”
“Di mana?”
Ia menatapku beberapa detik.
“Yogyakarta.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Selama ini dia ada di sini?”
“Tidak. Dia tinggal di Surabaya cukup lama. Tujuh tahun lalu dia kembali.”
“Kenapa tidak mencari Ayah?”
“Dia mencari.”
Pak Darman menunjukkan beberapa lembar kertas berisi alamat lama dan nomor telepon.
“Tapi Surya sudah pindah beberapa kali. Sampai akhirnya kami kehilangan jejak.”
Aku langsung berkata kepada Ayah, “Datang ke sini.”
Ayah diam.
“Sekarang.”
“Raka…”
“Sudah tiga puluh tahun, Yah.”
Aku menatap makam di depanku.
“Kalau ditunda lagi, mau sampai kapan?”
Ayah tidak menjawab.
Telepon kemudian terputus.
Aku mengira ia menolak.
Malam itu aku tidur di rumah Pak Darman.
Namun sebenarnya aku hampir tidak tidur sama sekali.
Sekitar pukul lima pagi, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Aku keluar.
Ayah berdiri di sana.
Bajunya kusut. Wajahnya pucat.
Ia ternyata mengendarai motor hampir sepanjang malam dari rumah kami.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku membawanya ke pemakaman.
Begitu melihat nama Sulastri Prasetyo, langkah Ayah berhenti.
Ia berdiri cukup lama.
Kemudian perlahan berjongkok.
Tangannya menyentuh nisan.
“Bu…”
Hanya satu kata.
Setelah itu Ayah menangis.
Aku menjauh beberapa langkah.
Ada penyesalan yang tidak membutuhkan saksi.
Sekitar satu jam kemudian Pak Darman datang.
“Ada seseorang yang ingin bertemu.”
Seorang pria berusia sekitar lima puluhan berjalan dari arah jalan desa.
Rambutnya sudah sebagian memutih.
Ia berhenti sekitar sepuluh meter dari Ayah.
Tidak ada yang bicara.
Ayah menatapnya.
Pria itu menatap Ayah.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dompet.
Foto lama.
Foto yang sama.
Surya.
Sulastri.
Bima.
Pria itu berkata pelan, “Mas Surya?”
Ayah menutup mulut dengan tangannya.
“Bima?”
Tiga puluh tahun jarak runtuh dalam satu detik.
Mereka berpelukan.
Tidak ada kalimat dramatis.
Tidak ada pertanyaan panjang.
Hanya dua lelaki dewasa yang menangis seperti anak-anak di depan makam ibu mereka.
Aku pikir misteri rumah itu selesai sampai di sana.
Ternyata belum.
Sebelum kami pulang, Bima melihat keranjang tempe di motorku.
“Tempe?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
Wajahnya berubah.
“Ibu dulu jual tempe.”
Aku membeku.
“Pak Darman bilang hasil kebun.”
“Memang. Tapi setelah aku pergi, Ibu mulai membuat tempe sendiri.”
Bima kemudian menunjuk sebuah tempat kosong di dekat makam.
“Dulu rumah Ibu berdiri di situ.”
Aku mengikuti arah jarinya.
“Di teras ada bangku kayu?”
Bima mengangguk.
“Pintunya hijau?”
Ia kembali mengangguk.
“Pohon mangga di sebelah kanan?”
Kali ini semua orang menatapku.
Aku menceritakan kejadian sore kemarin secara lengkap.
Tentang rumah.
Tentang segelas air.
Tentang nenek berbaju cokelat.
Tentang tahi lalat di pipi kirinya.
Dan tentang tiga kali bunyi lonceng.
Ayah tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menatap makam ibunya.
Bima terlihat sangat pucat.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia kemudian mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto.
Itu foto Bu Sulastri ketika sudah tua.
Bajunya cokelat.
Rambutnya disanggul rendah.
Dan di pipi kirinya ada tahi lalat kecil.
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
Tetapi kejutan terakhir justru datang dari Pak Darman.
“Raka, kamu bilang dia memberimu air?”
“Iya.”
“Gelasnya seperti apa?”
Aku mencoba mengingat.
“Gelas kaca. Ada gambar bunga merah kecil.”
Pak Darman langsung berjalan cepat menuju gudang.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sebuah kotak.
Dari dalam kotak itu ia mengeluarkan gelas kaca tua.
Ada gambar bunga merah kecil di sisinya.
Gelas itu sama persis.
Aku mundur selangkah.
Pak Darman berkata, “Barang-barang dari rumah Bu Sulastri disimpan di sini sejak rumahnya dibongkar.”
Aku melihat gelas itu.
Kemudian melihat makam.
“Berarti kemarin…”
Tidak ada yang menyelesaikan kalimatku.
Mungkin memang tidak perlu.
Sebelum pulang, aku berdiri sendirian di depan makam Bu Sulastri.
“Nek, kalau memang kemarin itu Nenek… terima kasih.”
Angin pagi bergerak pelan melewati rumpun bambu.
Tidak ada jawaban.
Aku tersenyum kecil dan berbalik.
Namun baru beberapa langkah, terdengar suara dari kejauhan.
Teng.
Aku berhenti.
Teng.
Ayah dan Bima ikut menoleh.
Teng.
Tiga kali.
Aku mencari asal suara itu.
Pak Darman menunjuk ke arah musala desa.
“Lonceng apa itu?”
Wajahnya bingung.
“Di desa ini tidak ada lonceng.”
Kami semua terdiam.
Kemudian Ayah tersenyum sambil menahan air mata.
Mungkin sebagian orang pulang karena menemukan jalan.
Sebagian lagi pulang karena seseorang menunggu.
Tetapi keluargaku membutuhkan sesuatu yang jauh lebih aneh.
Seorang cucu yang kelelahan.
Keranjang tempe yang belum habis terjual.
Sebuah rumah yang sudah tidak ada selama hampir dua puluh tahun.
Dan seorang ibu yang bahkan setelah meninggal masih menemukan cara untuk menepati satu janji terakhir.
Membawa anaknya pulang.
