“Jangan lanjutkan.”
Suara Raka terdengar berbeda.
Bukan lagi suara laki-laki yang beberapa menit lalu duduk dengan angkuh di samping perempuan pilihannya sambil meletakkan surat cerai di hadapanku.
Ada ketakutan di sana.
Aku menatapnya, lalu kembali melihat dokumen di layar ponselku.
“Kenapa?” tanyaku.
Raka tidak menjawab.
Di belakangnya, Maya berdiri dengan wajah tegang. Perempuan yang tadi memasuki rumahku seolah-olah ia akan segera menjadi nyonya baru di vila ini kini mulai menyadari bahwa banyak hal yang diceritakan Raka kepadanya mungkin tidak pernah benar.
Aku memperbesar bagian terakhir dokumen.
Nama yang sebelumnya tertutup lipatan hasil pemindaian akhirnya terlihat jelas.
Alya Prameswari.

Namaku sendiri.
Aku mengernyit.
Di bawahnya tertulis sebuah keterangan yang membuatku membaca ulang kalimat itu sampai tiga kali.
Pemegang manfaat akhir Prameswari Capital.
Tanganku membeku.
Aku menatap layar, lalu Pak Arman yang masih tersambung melalui telepon.
“Pak Arman, apa maksudnya ini?”
Suara lelaki itu terdengar tenang.
“Dana investasi yang memberikan modal awal kepada Wijaya Prima Holdings bukan sekadar milik keluarga Prameswari, Alya. Dana itu dibentuk oleh nenekmu untukmu.”
Aku kehilangan kata-kata.
Raka menunduk.
Delapan tahun lalu, sebelum menikah, aku bekerja di Singapura. Nenek selalu mengatakan bahwa ia menyimpan sebagian aset keluarga untuk masa depanku. Namun aku tidak pernah tahu bentuknya.
Saat aku memutuskan pulang ke Jakarta dan menikahi Raka, aku hanya ingin menjalani kehidupan sederhana bersamanya.
Saat itu Raka belum menjadi siapa-siapa.
Ia hanya memiliki sebuah kantor kecil dengan tiga karyawan dan sebuah proposal bisnis yang berkali-kali ditolak investor.
Aku masih ingat malam ketika ia pulang dengan wajah putus asa.
“Aku mungkin harus menyerah,” katanya.
Aku menggenggam tangannya.
“Coba sekali lagi.”
Beberapa minggu kemudian, Raka datang membawa kabar bahwa investor dari Singapura bersedia memberikan modal.
Dia memelukku begitu erat malam itu.
“Kita berhasil, Alya.”
Selama delapan tahun aku percaya keberhasilan itu miliknya.
Ternyata kata “kita” memiliki arti yang jauh lebih harfiah daripada yang pernah kubayangkan.
Aku menatap Raka.
“Kamu tahu?”
Dia diam.
“Raka, aku bertanya. Kamu tahu Prameswari Capital adalah milikku?”
“Aku bisa jelaskan.”
Jawaban itu sudah cukup.
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena vila.
Bukan karena perusahaan.
Bukan pula karena Maya.
Melainkan karena laki-laki yang tidur di sampingku selama delapan tahun mengetahui sebuah kebenaran tentang hidupku yang bahkan tidak kuketahui sendiri.
“Kapan kamu tahu?”
Raka menarik napas panjang.
“Sejak awal investasi.”
Maya menoleh tajam.
“Apa?”
Raka mengabaikannya.
“Alya, waktu itu aku benar-benar mencintaimu.”
Aku tertawa kecil.
Aneh sekali.
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan perselingkuhan.
“Waktu itu?”
Raka terdiam.
Pak Arman kemudian berkata dari telepon, “Masih ada bagian berikutnya.”
Aku menggulir dokumen.
Prameswari Capital memegang tiga puluh delapan persen saham Wijaya Prima Holdings melalui perusahaan kustodian di Singapura.
Namun ada klausul khusus.
Selama pernikahan kami berlangsung, hak suara atas saham tersebut didelegasikan kepada Raka.
Itulah sebabnya selama ini ia memiliki kendali hampir mutlak atas perusahaan.
Aku terus membaca.
Apabila pernikahan berakhir karena perceraian yang diajukan secara sepihak oleh Raka Wijaya, delegasi hak suara berakhir secara otomatis.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Raka pucat.
Sekarang aku mengerti.
Telepon yang diterimanya lima menit lalu bukan hanya mengenai vila.
Mungkin ia sudah menduga apa yang akan terjadi berikutnya.
“Jadi setelah surat cerai ini diproses…” kataku.
Pak Arman melanjutkan kalimatku.
“Hak suara saham itu kembali kepadamu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Maya menatap Raka seperti sedang melihat orang asing.
“Berarti Alya punya tiga puluh delapan persen perusahaanmu?”
Raka mengepalkan tangan.
“Diam, Maya.”
Namun Pak Arman belum selesai.
“Bukan hanya itu.”
Aku menunggu.
“Investor kedua terbesar memegang tujuh belas persen. Dan berdasarkan perjanjian lama, Prameswari Capital memiliki hak pembelian pertama jika pemegang saham tersebut melepas sahamnya.”
“Apa hubungannya dengan sekarang?”
“Pemegang saham itu mengirim pemberitahuan tiga hari lalu. Mereka ingin keluar.”
Aku menghitung cepat.
Tiga puluh delapan ditambah tujuh belas.
Lima puluh lima persen.
Aku memandang Raka.
Dia jelas sudah mengetahui pemberitahuan itu.
Itulah alasan sebenarnya wajahnya berubah.
“Makanya kamu ingin perceraian ini selesai cepat,” bisikku.
Raka mendekat.
“Alya, dengarkan aku.”
“Kamu tahu investor itu mau menjual saham?”
Dia tidak menjawab.
“Kamu tahu kalau aku mengetahui semuanya sebelum perceraian selesai, aku bisa mengambil kendali perusahaan?”
“Aku sedang melindungi perusahaan.”
“Dari siapa?”
Raka menatapku tepat di mata.
“Dari keluargamu.”
Aku hampir tertawa.
“Perusahaan itu berdiri menggunakan uang keluargaku.”
“Aku yang membesarkannya!”
Untuk pertama kalinya suaranya meninggi.
“Aku bekerja enam belas jam sehari. Aku mencari klien. Aku membangun jaringan. Aku yang membuat Wijaya Prima menjadi seperti sekarang. Bukan nenekmu. Bukan kamu.”
Aku mengangguk perlahan.
“Benar.”
Raka terdiam, seolah tidak menyangka aku akan mengakuinya.
“Kamu memang membangunnya,” lanjutku. “Aku tidak pernah menyangkal kerja kerasmu. Tapi membangun sesuatu dari modal orang lain tidak membuatmu berhak berbohong tentang siapa yang memberikan fondasinya.”
Maya mengambil tasnya.
“Aku mau pergi.”
Raka langsung menoleh.
“Maya.”
“Aku kira kamu memiliki rumah ini.”
“Maya, jangan mulai.”
“Aku juga kira perusahaan itu milikmu.”
“Ini tetap perusahaanku.”
Maya tertawa getir.
“Lalu apa lagi yang kamu bohongi?”
Raka mencengkeram lengannya.
“Jangan pergi.”
Aku memperhatikan mereka tanpa berkata apa-apa.
Akhirnya Maya melepaskan tangan Raka.
“Aku tidak mau menjadi bagian dari masalah kalian.”
Sebelum keluar, dia menatapku.
Untuk sesaat, ekspresinya bukan lagi penuh kemenangan.
Ada rasa malu.
“Aku tidak tahu soal semua ini.”
Aku menjawab pelan, “Sekarang kamu tahu.”
Pintu tertutup.
Raka berdiri sendirian.
Ironis.
Kurang dari satu jam lalu dia datang membawa perempuan lain untuk menunjukkan bahwa akulah orang yang akan ditinggalkan.
Sekarang justru semua orang meninggalkannya.
Aku kembali menuju kamar Nara.
Putraku sedang memasukkan robot kecil kesayangannya ke dalam tas.
“Bunda.”
Aku berjongkok.
“Ya?”
“Kita benar-benar pergi?”
Aku mengangguk.
“Untuk sementara.”
“Papa ikut?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau.
Aku menatap wajah anakku.
“Papa tetap di sini dulu.”
Nara tidak bertanya lagi.
Ia hanya memelukku.
Dari ambang pintu, Raka melihat kami.
Wajahnya berubah.
“Alya, jangan bawa dia ke Singapura.”
“Kamu sendiri tadi mengizinkan.”
“Aku sedang emosi.”
“Dan aku sedang memastikan Nara tidak berada di tengah kekacauan ini.”
Raka masuk.
“Aku ayahnya.”
“Aku tidak pernah mengatakan kamu bukan ayahnya.”
“Kalau begitu jangan hukum aku dengan mengambil anakku.”
Aku berdiri.
“Ini bukan hukuman.”
Untuk pertama kalinya sejak surat cerai itu diletakkan di meja, suaraku bergetar.
“Kamu boleh menghancurkan pernikahan kita, Raka. Tapi jangan membuat Nara menyaksikan ayahnya membawa perempuan lain ke rumah lalu mengusir ibunya dari kehidupan yang selama ini dia kira milik keluarganya.”
Raka menunduk.
Nara menggenggam tanganku lebih erat.
Malam itu aku tidak jadi langsung terbang ke Singapura.
Pak Arman menyarankan agar aku tetap di Jakarta karena keesokan paginya akan ada rapat darurat pemegang saham.
Aku membawa Nara ke apartemen milik sahabatku di kawasan Kuningan.
Pukul delapan pagi, sebuah mobil menjemputku.
Ketika memasuki ruang rapat Wijaya Prima Holdings, aku merasakan puluhan mata tertuju kepadaku.
Sebagian mengenalku hanya sebagai istri Raka.
Perempuan pendiam yang sesekali datang ke acara perusahaan.
Raka sudah duduk di ujung meja.
Di sampingnya ada pengacaranya.
Aku duduk berhadapan dengannya.
Pak Arman bergabung melalui konferensi video dari Singapura.
Sekretaris perusahaan membuka rapat.
Kemudian dokumen pertama ditampilkan.
Delegasi hak suara kepada Raka resmi ditangguhkan sampai status perceraian diselesaikan.
Dokumen kedua muncul.
Prameswari Capital menggunakan hak pembelian pertama atas tujuh belas persen saham yang dilepas investor lama.
Aku kini mengendalikan lima puluh lima persen hak suara.
Beberapa direktur saling berbisik.
Raka menatapku.
“Apa kamu akan memecatku?”
Aku tidak segera menjawab.
Mungkin itulah yang ia takutkan sepanjang malam.
Aku bisa melakukannya.
Aku bisa mengambil kursinya.
Mengeluarkannya dari gedung yang ia bangun.
Membuatnya merasakan kehilangan seperti yang kurasakan kemarin.
Namun saat itulah aku teringat sesuatu yang dikatakan nenekku bertahun-tahun lalu.
Orang yang memiliki kekuasaan sebenarnya terlihat bukan dari apa yang bisa ia ambil, melainkan dari apa yang memilih tidak ia hancurkan.
Aku menatap seluruh anggota dewan.
“Raka tetap menjabat sebagai direktur utama.”
Semua orang terdiam.
Raka sendiri tampak paling terkejut.
“Tapi mulai hari ini,” lanjutku, “semua transaksi di atas batas tertentu harus mendapat persetujuan dewan. Audit independen akan dilakukan. Dan tidak ada lagi aset perusahaan yang boleh diperlakukan sebagai milik pribadi siapa pun.”
Raka menatapku lama.
“Kenapa?”
Aku tahu apa yang ia maksud.
Kenapa aku tidak menghancurkannya?
“Karena perusahaan ini menghidupi ratusan keluarga. Aku tidak akan menghancurkan pekerjaan mereka hanya untuk membalas sakit hatiku.”
Aku berdiri.
“Tapi jangan salah mengerti. Pernikahan kita tetap selesai.”
Enam bulan kemudian perceraian kami resmi.
Vila itu kembali sepenuhnya ke keluarga Prameswari.
Namun aku tidak tinggal di sana.
Aku menjual hak pengembangannya dan menggunakan sebagian hasilnya untuk membangun yayasan pendidikan atas nama nenekku.
Wijaya Prima tetap berjalan.
Raka masih memimpin operasional perusahaan, tetapi kini setiap keputusan besar harus dipertanggungjawabkan.
Maya tidak pernah kembali.
Setidaknya bukan kepada Raka.
Suatu sore aku menjemput Nara setelah ia menghabiskan akhir pekan bersama ayahnya.
Raka mengantarnya sampai mobil.
Ia terlihat berbeda.
Lebih kurus.
Lebih tenang.
“Alya.”
Aku berhenti.
“Aku dulu pikir semua yang aku punya adalah hasil kerja kerasku sendiri.”
Aku menatapnya.
“Mungkin sebagian memang begitu.”
Dia tersenyum pahit.
“Tapi aku lupa siapa yang memberiku kesempatan untuk memulainya.”
Aku tidak menjawab.
Tidak semua penyesalan membutuhkan pengampunan.
Dan tidak semua pengampunan berarti harus kembali.
Saat mobil bergerak meninggalkan halaman, Nara yang duduk di sebelahku membuka tasnya.
“Bunda, Papa kasih ini.”
Ia menyerahkan sebuah amplop tua.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
Bukan dari Raka.
Tulisan itu milik nenekku.
Aku mengenalinya seketika.
Surat tersebut ditulis sembilan tahun lalu, beberapa bulan sebelum pernikahanku.
Alya, jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin sesuatu telah membuatmu mempertanyakan apa yang benar-benar kamu miliki.
Ingat satu hal.
Nenek tidak meninggalkan perusahaan atau tanah untuk membuatmu kaya.
Nenek meninggalkannya agar tidak ada siapa pun yang bisa membuatmu merasa tidak punya tempat untuk pulang.
Tanganku mulai gemetar.
Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat lagi.
Rumah bukanlah vila, saham, atau nama di sertifikat.
Rumah adalah keadaan ketika kamu tidak perlu mengecilkan dirimu sendiri agar seseorang bersedia membiarkanmu tinggal.
Aku memandang keluar jendela Jakarta yang mulai diterangi lampu malam.
Delapan tahun aku mengira vila besar itu adalah rumahku.
Ternyata bukan.
Rumahku sedang duduk di sampingku sambil memeluk robot kecilnya.
Aku menggenggam tangan Nara.
“Bunda kenapa menangis?”
Aku tersenyum dan menghapus air mata.
“Bunda baru menemukan sesuatu yang selama ini Bunda kira hilang.”
“Apa?”
Aku menatap bayanganku sendiri di kaca mobil.
“Diri Bunda sendiri.”
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak takut kehilangan apa pun lagi.
